Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 88– Pergi Jalan-jalan, part 3


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Ada anak kecil yang tersesat, ya? Ikut sama Abang, yuk! Hehehe...." Kedua orang asing itu memiliki ciri-ciri tubuh yang besar intinya. Yang satu kepalanya gundul dan memakai kalung rantai di lehernya. Lalu yang satunya lagi, memiliki rambut, tapi agak tipis dan terlihat ia memiliki otot yang lebih besar. Panggil mereka dengan sebutan, si Pak Botak dan Pak Kekar saja.


"Abang siapa? Kok panggil aku anak kecil, sih?! Aku ini udah SMA tau!" bentak Adel. Ia terdengar marah, tapi ekspresinya tidak menunjukan wajah marah. Malah nambah terlihat imut.


"Eh, kok udah SMA masih kelihatan kecil saja, haha...."


"Anda ini siapa, ya? Apa ada urusan dengan kami?" tanya Yuni dingin. Ia menatap tajam kedua orang asing yang ada di hadapannya itu.


"Hei, yang satu ini sepertinya agak sok, deh, haha..." Pak Kekar berbisik pada teman sebelahnya. Temannya itu tertawa, lalu berkata, "Iya, kau benar! Sepertinya kita harus hati-hati dengan anak yang ini, deh!"


"Seharusnya begitu." Yuni berujar. Seketika kedua orang asing itu berhenti tertawa setelah mendengar perkataan Yuni. "Seharusnya kalian takut." Lanjut Yuni setelah Pak Botak dan Pak Kekar berhenti tertawa.


"Hah? Haha... takut sama anak kecil?! Yang benar saja!" Mereka berdua tertawa lagi. Sepertinya mereka terlalu meremehkan kedua anak yang ada di hadapan mereka itu. Orang asing itu tidak tahu kalau Adel dan Yuni telah mengalami banyak pengalaman yang lebih mengerikan dibanding bertemu dengan kedua orang aneh itu.


Saat Pak Botak dan Pak Kekar tertawa, ini kesempatan Yuni untuk meminta bantuan. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik beberapa nomor darurat di ponselnya tanpa melihat ke layarnya. Tenang, Yuni sudah hapal ketikan yang tersedia di ponselnya itu. Ia hanya tinggal mengetik nomor dan bukan huruf. Jadi agak mudah.


Adel melirik ke tangan Yuni yang sedang memegang ponsel. Ia mengangguk paham dan berusaha untuk tutup mulut. Ternyata Yuni menghubungi Rei.


TUT!


Ponselnya menghubungkan langsung ke ponsel Rei. Sekarang hanya tinggal menunggu Rei mengangkatnya saja. Tapi saat telepon sudah bertulis "menghubungkan", tiba-tiba saja ponsel Yuni berbunyi "Tuuut... Tuuut...". Yuni terkejut. Ia lupa mematikan suara dering ponselnya.


"Eh? Bunyi apa itu?" Kedua orang asing itu berhenti tertawa. Ternyata mereka bisa mendengar suara ponsel Yuni. "Hei! Apa yang kau sembunyikan dibalik badanmu, anak kecil?!" Pak Kekar membentak, lalu dengan cepat ia langsung mengarahkan tangannya ke arah Yuni untuk mengecek tangan Yuni yang ia sembunyikan.


Tapi sebelum itu, Adel sempat panik dan ketakutan. Lalu ia berteriak keras dengan suaranya yang nyaring. Seketika semua orang yang ada di dalam toko boneka itu langsung menengok ke arah Adel. Adel tahu kalau beberapa orang sedang memperhatikan dirinya. Ini kesempatan dia untuk menyelamatkan diri.


"TOLONG! TOLOOONG! ORANG ITU JAHAT! MEREKA JAHAAAAT! KYAAAAA!!"


"Woy! Mau ngapain kalian di sini?!" Setelah Adel berteriak minta tolong, tiba-tiba satpam penjaga yang ada di dalam toko itu pun meneriaki kedua orang asing yang ada di depan Adel dan Yuni. Beberapa satpam lainnya langsung berlari menghampiri Pak Botak dan Pak Kekar. Kedua orang itu terkejut, dan langsung berlari keluar dari toko.


"Adek tidak apa-apa?" tanya salah satu satpam di toko itu. Adel dan Yuni mengangguk. Satpam itu juga mengangguk setelah ia mengetahui keadaan Adel dan Yuni. Lalu setelah itu, ia berlari mengejar kedua orang asing yang ingin mengganggu Adel dan Yuni tadi.


Lalu tak lama setelah satpam itu pergi, ponsel Yuni akhirnya terhubung langsung oleh Rei. Rei mengangkat telepon dari Yuni itu. [ Halo, ada apa? ]


"Kak Rei ada di mana sekarang?" tanya Yuni. Lalu setelah Yuni, Adel juga ikut bicara dengan suara yang keras. "Kakak di mana? Adel takut!"


[ Eh? Apa kalian tersesat? ]


"Bukan itu! Tadi ada om-om jahat yang mau gangguin Adel sama Yuni gitu. Mereka gak asik orangnya, kak!" Adel menjawab. Yuni akan diam dan membiarkan Adel saja yang berbicara di ponselnya.


[ Oh tidak! Aku akan ke tempat kalian. Kalian di mana sekarang?! ]


"Kami ada di toko boneka."


[ Kalian bertahanlah! Aku dan Dennis akan datang untuk menyelamatkan kalian! Jangan takut, ya? ]


"Eh? Tapi kami sudah selamat, kak. Tadi Adel teriak, terus ada pak Satpam yang nolong Adel sama Yuni."


[ Oh begitu. ] Terdengar suara Rei menghembuskan nafas lega, bergumam sejenak, lalu kembali berbicara, [ Kalian jangan ke mana-mana. Aku akan tetap menjemput kalian. ]


[ Iya! Adel tenang di sana, ya? Kakak akan menjemputmu. Kalian harus jalan bersama kakak saja agar lebih aman. ] Itu suara Dennis yang tiba-tiba muncul.

__ADS_1


"Ah, Kak Dennis... Adel takut."


[ Iya makanya jangan ke mana-mana. Kakak akan datang ke sana, oke! ]


"I–iya, kak!"


[ Bagus. Sekarang kakak akan langsung jalan. ]


TUT!


Telepon diakhiri dari ponselnya Rei. Adel mengembalikan ponsel Yuni. "Kak Dennis dan Kak Rei akan datang. Jadi kita di sini saja, ya, Yuni?"


Yuni hanya mengangguk. Sekarang, sambil menunggu Dennis dan Rei datang, Adel dan Yuni bermain boneka di sana agar tidak bosan.


*****


Sekarang beralih ke Rashino dan Nashira. Saat ini mereka sedang berada di dalam toko yang menjual berbagai macam ponsel yang keren. Anggap saja itu toko Konter HP. Tapi lebih besar dan jenis HP-nya juga lebih banyak.


Sebagian besar HP yang dijual di sana berjenis HP lipat yang biasa mereka pakai. Karena hampir semua orang memakai ponsel lipat, dibanding dengan layar sentuh. Kalau yang suka memakai layar sentuh itu hanya orang berkepentingan saja, seperti pemerintah dan anggota tertinggi lainnya. Kalau rakyat biasa tetap memakai ponsel lipat. Karena kalau ponsel layar sentuh juga terbilang cukup mahal untuk harganya.


"Emm... Nashira, ngomong-ngomong kita ngapain ya ke sini?" tanya Rashino kaku. Nashira yang sedang memerhatikan beberapa ponsel di dalam lemari kaca pun tersentak dan langsung menengok ke arah Rashino. Ia tertawa kecil, "Oh iya, yah... haha... padahal kita gak beli, loh."


"Aahh... tapi ponsel-ponsel di sana bagus-bagus semua. Untuk nonton video di YOtub pasti seru. Dan kadang kalau ponsel baru, pasti lebih cepat internetnya. Gak lemot." Ujar Rashino. Ia masih saja memandangi beberapa godaan yang ada di depannya itu. Beberapa ponsel-ponsel bagus dan model terbaru adalah godaan terbesar bagi si kembar. Mereka sangat menggemari ponsel bagus.


Apalagi saat... mereka melihat ponsel lipat model terbaru. Ponsel aneh tapi canggih. Ponsel itu berjenis layar sentuh. Tapi pada bagian layar, ponselnya bisa dilipat seperti ponsel lipat pada umumnya. Hanya saja, yang dilipat itu adalah layarnya. Pameran ponsel terbaru itu telah membuat si kembar jadi ingin memiliki ponsel baru itu. Sampai-sampai mereka membuka isi dompetnya dan yang terlihat hanya beberapa uang receh saja.


"Jangan dilihat, Nashira... kita ini kaum-kaum miskin." Keluh Rashino. Nashira mengangguk, lalu dengan tangan kirinya ia menepuk pundak Rashino halus. "Yang sabar, ya kakak beda lima menitku. Ini ujian. Jadi mohon bersabar."


Rashino mengangguk lemas. Lalu setelah itu, mereka pun pergi dari toko Konter agar tidak melihat godaan yang telah mengganggu mereka itu.


"Sekarang kita mau lihat apa lagi, ya?" tanya Rashino.


"Ah... banyak juga yang ingin kau kunjungi. Sekarang ayo kita coba salah satunya. Bagaimana kalau kita cek lantai 3 saja?"


"Oke. Kita lihat di atas sana ada apa aja. Tapi saat menaiki eskalatornya bantuin aku, ya?"


"Iya, iya. Tenang saja."


****


"Sekarang apa yang harus aku lakukan agar Mizuki mau mengizinkan aku?" pikir Akihiro dalam hati. Ia ternyata masih terjebak di dalam toko kosmetik bersama dengan Mizuki. "Hmm... apa seperti ini saja, ya? Hehe...."


Sepertinya Akihiro punya ide yang hebat.


"Eh, Zuki! Coba lihat di sana ada apa?" Akihiro menunjuk ke langit-langit toko itu. Mizuki mendongak dan melirik ke arah tangan Akihiro menunjuk. Mizuki terdiam, lalu menggeleng. "Aku tidak melihat apa-apa."


"Eh, emang gak ada apa-apa di sana, haha!" Akihiro tertawa. Ternyata ia ingin membuat Mizuki kesal agar ia bisa diusir oleh Mizuki untuk menjauh dari dirinya. Dengan begitu, setelah ia bebas dari toko kosmetik itu, Akihiro bisa pergi ke toko lain yang ia inginkan.


"Kau mempermainkan ku, ya, Dian sialan!" Mizuki membentak kesal. Lalu dengan cepat, ia menendang dengkul Akihiro dan berbalik badan. Akihiro hanya tertawa, padahal ia juga menahan sakit karena dengkulnya ditendang itu.


Ini baru permulaan, sekarang Akihiro akan terus membuat Mizuki kesal padanya. Bukan berarti sampai Mizuki membenci Akihiro.


Akihiro tersenyum miring, lalu berlari kecil menghampiri Mizuki lagi. Ia menyentuh kedua pundak Mizuki lalu menunjuk ke arah rak yang menjual berbagai macam sepatu. "Hei lihat itu, Mizuki. Di sana ada baju, gak?"


"Emm... tidak ada." Mizuki menggeleng.


Akihiro tertawa lagi, lalu secepatnya langsung menjauh dari Mizuki. "Siapa yang bilang ada?Udah tau itu rak sepatu, mana ada bajunya, ahahah...!"


"Diaaannn! Kau itu, ya?!"

__ADS_1


"Ini sedikit menyenangkan juga. Aku akan terus membuatnya marah seperti itu agar di tidak ingin dekat denganku lagi, haha..." Akihiro akan melaksanakan aksinya lagi. Ia kembali mendekati Mizuki, lalu menunjuk ke arah sepatu yang dikenakan Mizuki.


"Hei, Mizuki, kok sepatumu warna pink, ya? Kok... kok bentuknya kelihatan seperti sepatu?"


"Ah, apaan sih, Dian! Diam ngapa. Kamu mau ngelawak tali tidak lucu, tahu!" Mizuki membentak Lalu kembali berbalik badan dan meninggalkan Akihiro. Tapi Akihiro masih tetap melakukan tindakannya itu. Ia tetap akan menggoda Mizuki sampai Mizuki kesal dengannya.


"Eh, Mizuki, kita bisa membeli duit, ga?"


"Mizuki, Mizuki, kok lampunya bisa terang, ya? Kenapa bercahaya? Bukankah itu keren?"


"Mizuki! lihat! Bajunya bergerak sendiri saat kena kipas angin! Iiihh.... horror banget, ya ampun!"


"Mizuki, kenapa... kenapa... tempat ini banyak baju cantik sama makeup, ya? Padahal nama toko ini, Toko Kosmetik."


"Mizuki, kau kok punya dua mata, dua tangan dan dua kaki, sih?"


"Mizuki...."


"Mizuki...."


"Mizuki...."


*


*


*


"AAAAARRGH!" Mizuki tiba-tiba saja berteriak kesal. Lalu ia berbalik badan dan menatap tajam ke arah Akihiro dengan ekspresi marah. "Dian bodoh! Keluar lu dari sini! Tinggalin aku sendiri aja! Kau terlalu berisik!" Mizuki membentak.


Akihiro tersenyum senang karena rencananya telah berhasil. Tapi untuk yang terakhir sebelum ia pergi, Akihiro akan bertanya sekali lagi, "Mizuki... kenapa wajahmu kelihatan marah beg–"


"Urusai!! Keluar kamu!" Mizuki menyela, lalu mendorong Akihiro sampai ia ingin keluar dari toko kosmetik dan pergi menjauhi Mizuki. Akihiro bergumam, "Yes!" saat dirinya sedang didorong oleh Mizuki.


"Oke, aku akan keluar. Jika kau membutuhkan aku lagi, aku ada di toko buku itu, ya?" ujar Akihiro sebelum ia pergi. Mizuki membuang muka lalu menjawab, "Huh! Aku tidak akan dekat denganmu lagi. Nyebelin habisnya!"


"Haha... baiklah kalau begitu, bye~ Aku ke toko yang di sebelah sana, ya?"


"Berisik!" Mizuki kembali masuk ke dalam toko yang ia sukai. Kalau begitu, Akihiro akan pergi ke toko yang ingin ia tuju. Toko itu sudah terlihat di matanya. Jadi letaknya agak dekat. Akihiro berlari kecil menuju ke toko buku.


Lalu setelah Akihiro pergi, di dalam toko, Mizuki mengeluarkan ponselnya, lalu membisukan seluruh notifikasi di ponselnya itu. "Huh! Akihiro tidak akan bisa menelpon ku kalau aku tidak mendengar nada deringnya. Dia nyebelin banget hari ini."


Setelah Akihiro masuk ke dalam toko buku yang ia inginkan, Akihiro juga mengeluarkan ponselnya. Ia juga melakukan hal yang sama seperti Mizuki. Yaitu ikut membisukan nada dering miliknya agar ia tidak bisa mendengar seseorang menelpon dirinya. "Yosh! Aku yakin Mizuki akan membutuhkanku nanti. Dia yang bilang tidak ingin menemuiku lagi. Maka aku akan mengetesnya dengan cara mengabaikan telepon darinya, haha..."


Setelah selesai dengan ponselnya, Akihiro berlari kecil mendekati tempatnya buku komik. Ia senang sekali berada di tempat itu. Benar-benar surga kalau menurutnya. Banyak sekali rak dan komik yang tersedia di atas meja. Akihiro hanya tinggal memilih dan membacanya saja. Tapi sayang, karena beberapa komik ada yang masih dibungkus oleh plastik dan tidak boleh dibuka. Kalau begitu, ia akan membaca komik yang sudah terbuka kemasannya saja.


Ia berdiri di rak pertama buku komik sambil membaca komik yang ia temukan di depan rak tersebut. Tapi tak lama kemudian, ada seseorang yang menyentuh pundak Akihiro dan mengetuknya beberapa kali.


Akihiro menengok ke belakang dengan cepat. Ia takut kalau ada karyawan yang bekerja di toko buku itu akan menegurnya karena sudah membaca komik yang seharusnya ia beli terlebih dahulu. Tapi setelah Akihiro berbalik badan, ia terkejut karena yang ada di belakangnya itu adalah seorang gadis cantik yang ia kenal.


Siapa lagi kalau bukan Mizuki Hanashita. Gadis itu tiba-tiba datang ke toko buku. Akihiro tersenyum manis melihat gadis itu, lalu bergumam, "Pada akhirnya... kau akan datang menemuiku, kan? Kau tidak bisa jauh dariku, Mizuki."


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2