Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 34– Rashino


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Dia pasti belum jauh! Akan aku kejar dia!" Rina kembali berdiri. Ia akan pergi ke arah lain. Tapi sebelum ia pergi, ayahnya sempat memanggilnya. Rina pun berlari menghampiri ayahnya. "Ada apa, Yah?"


"Ngomong-ngomong... apa kau lihat Kai dan Cahya? Dari kemarin mereka tidak terlihat." Tanya ayahnya dengan wajah cemas.


"Ah, mungkin Kak Kai masih pergi berburu. Aku yakin setelah dia kembali, pasti dia mendapatkan banyak makanan untuk kita." Jawab Rina dengan penuh semangat.


"Ooh... lalu kalau Cahya? Apa kau tahu dia ke mana?"


"Ah, aku tidak tahu kalau dia. Aku tidak mempedulikannya."


"Oh baiklah kalau begitu, kau cari mereka berdua, ya? Ayah ingin pergi menghibur ternak di Villa." Ayahnya kembali berbalik badan, lalu bergumam, "Sepertinya aku harus mendapatkan banyak daging dan darah sebelum hari ketujuh." Sebelum ia berjalan kembali.


Setelah ayahnya pergi menjauh, Rina bergumam kesal, "Huh! Kenapa aku yang harus mencari mereka itu? Merepotkan sekali! Aku tidak jadi mengejar anak yang tadi, deh." Rina mengeluh, lalu ia berjalan ke arah berlawanan dengan ayahnya. Jalan itu yang Rina ketahui untuk pergi ke Gubuk yang satunya lagi. Tempat ia pernah disekap oleh Dennis di sana.


"Ngomong-ngomong... siapa nama anak yang tadi, ya?" Rina bergumam sambil berjalan. Ia ternyata belum berkenalan dengan Rashino, dan Rashino sendiri tidak mengetahui nama gadis yang telah menangkapnya. Tapi sebenarnya... orang yang telah menangkap Rashino itu adalah Ibunya Rina saat beliau sedang jalan di hutan mencari korban juga. Tapi saat itu juga, ada Rina di sana. Ibunya juga lah yang telah melepaskan Rina dari gubuk. Tapi Rina sendiri tidak menceritakan tentang Dennis dan perlakuannya.


"Kau beruntung, Dennis. Aku tidak menceritakan soal perlakuanmu padaku saat di gubuk." Rina bergumam tentang Dennis kali ini. "Karena jika orang tuaku tahu tentang dirimu, maka Ayahku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu duluan."


"Karena dalam keluarga kami... ayahku adalah orang yang terkuat dan terkejam yang pernah kukenal."


****


"Ini... ada di mana, ya?" Rashino bergumam. Langkah kakinya sudah mulai kelelahan karena terus berjalan dan berlari sedari tadi. Ia takut kalau orang-orang pemilik Villa itu akan mengejarnya lalu menangkapnya lagi.


Ia juga merasa haus dan kelaparan. Sudah semalaman Rashino tidak makan. Jalannya sudah semakin sempoyongan, kepalanya pusing dan nyaris saja ingin jatuh pingsan. Tapi Rashino berusaha untuk menahannya dengan berhenti sejenak dan menopang tubuhnya pada pohon. Setelah keadaanya membaik, Rashino kembali berjalan.


Tapi untuk yang terakhir ini, ia tidak bisa menahan rasa sakit di kepalanya. Karena tidak ingin tumbang di hutan yang tidak ia ketahui, Rahsino memutuskan untuk duduk dan bersandar di pohon saja untuk membuat tubuhnya merasa lebih baik.


Ia mengatur nafasnya sejenak sambil memejamkan mata. Tak lama ia kembali membukanya, lalu melirik ke arah pohon besar lainnya yang ada jauh di hadapannya. Dibalik pohon itu, Rashino melihat ada sesuatu yang bergerak. Dengan cepat, Rashino menyentakan matanya untuk mengetahui benda apa yang bergerak itu.


Saat Rashino perhatikan, sesuatu yang bergerak itu seperti ekor ular atau reptil semacamnya. Dipikiran Rashino makhluk yang ia lihat itu adalah kadal atau ular. Karena penasaran, Rashino ingin mencaritahu sendiri. Siapa tahu saja makhluk itu bisa menjadi makanan untuknya. Karena disaat sedang kelaparan, manusia bisa memakan apa saja yang mereka lihat. Mau itu menjijikan atau tidak, yang penting mereka (manusia yang kelaparan) bisa bertahan hidup.


Rashino kembali berdiri secara perlahan, lalu melangkah ke depan. Tapi saat di langkah keempat, ia menginjak ranting kayu dan keluarlah suara "KREK" dari ranting tersebut.


Seketika setelah ranting yang Rashino injak itu berbunyi, tiba-tiba saja makhluk yang ada dibalik pohon itu menunjukkan rupanya. Rashino sedikit terkejut dan tanpa sengaja ia bergumam, "Popo?"


Rupa dari makhluk itu berbentuk seperti dinosaurus Tyrannosaurus gemuk berwarna hijau dengan mata hitam yang imut. Lebih mirip seperti boneka daripada dinosaurus asli.


Setelah melihat Rashino, makhluk itu pun pergi melarikan diri. Karena tidak ingin kehilangan, Rashino pun pergi berlari untuk mengejar makhluk itu. Tapi makhluk itu berlari cukup cepat dan ia memasuki salah satu semak dengan pepohonan yang rimbun.


Rashino tidak tahu apa yang ada dibalik semak itu. Tapi intinya ia tetap ingin mengikuti makhluk itu pergi. Tapi saat Rashino menginjakan kakinya dibalik semak, tiba-tiba saja ia terpeleset sesuatu dan terjatuh ke dalam jurang seperti ngarai gitu.


Tubuhnya membentur beberapa bebatuan, lalu mendarat dengan punggungnya. Untung tidak terlalu dalam, jadi Rashino masih bisa selamat. Hanya saja kesadarannya tidak bisa tertolong. Setelah Rashino terjatuh, ia langsung tak sadarkan diri.


Matanya sudah tertutup. Tapi dalam kegelapan, Rashino masih sempat mendengar langkah kaki seseorang yang datang menghampirinya. Ditambah dengan suara seorang anak gadis yang menegur dirinya.


****


Ayah... Ayah... sekarang kita mau ke mana? Kasih tahu Nino, dong!


Iya! Kasih tahu Nashira juga, dong!


I–iya... iya... sabar. Nanti ayah kasih tahu kalian. Tapi jangan ribut, dong....

__ADS_1


Anak-anak... kalian tenang, ya? Ayah akan memberikan kalian kejutan. Makanya tenang.


Ah, tidak mau! Nino penasaran banget. Nino pengen tahu. Pengen tahu banget. Ayo kasih tahu, ayah!


Aduh, Rashino... bonekamu menghalangi ayah menyetir, nih


Anak-anak... kalian jangan seperti ini. Katanya mau tenang saat duduk di depan. Ingat, loh! kalian duduk di depan berdua bisa sempit kalau kalian tidak bisa diam.


Habisnya ayah tidak mau memberitahu kami soal acara jalan-jalan kita.


Iya, ibu! Ini tidak adil. Masa kita saja yang tidak tahu


Oh anak-anak... nanti kalian juga akan mengetahuinya, kok!


Iya. Kan namanya juga kejutan. Jadi tidak boleh dikasih tahu, lah~


Nino, berikan Popo padaku! Kau sudah memegangnya terlalu lama!


Ehh... nanti dulu. Aku menyukainya. Kau kan punya robotmu. Main saja sana sendiri.


Gak mau! Maunya sama Popo


Anak-anak jangan ribut di dalam mobil, ya?


Kalian berdua tolong tenanglah....


GUBRAK!


Ah! Nashira! Bonekamu menghalangi ini! Awas!


A–Ayah! Awas kita melawan arah! Hentikan mobilnya!


Popo!


Popo!


UWAAAAAA!


CKIIIITT... GUBRAK!!!


*


*


*


"Ah! Awas!"


Rashino kembali membuka matanya, langsung bangun terduduk dengan cepat dan berteriak. Mengejutkan semua orang yang ada di sekitarnya yang sedang menunggu dirinya sadar kembali.


"Kau baik-baik saja, Rashino?"


Rashino menyentuh kepalanya, mengerutkan kening, lalu melirik ke orang yang ada di sampingnya. Ia terkejut karena orang itu adalah... Rei?


"Eh, Rei? Bagaimana kau...."


"Bisa ada di sini?" Rei menyela. "Aku sudah dari kemarin di sini. Sama sepertimu. Saat terbangun, tiba-tiba saja aku sudah berada di tempat tidur itu."


"Eh? Memangnya aku ada di mana?" tanya Rashino bingung dengan tempatnya saat ini. Sebelumnya yang ia ingat, ia sedang berjalan di dalam hutan. Ia tidak ingat dengan makhluk yang ia kejar dan bagaimana ia terjatuh tadi.


"Di rumah Pak Raden. Cahya yang menemukanmu 1 jam yang lalu." Jawab Rei. "Kau tidur cukup lama juga."

__ADS_1


"Ah, memangnya aku kenapa, ya?"


"Aku juga tidak tahu. Kan Cahya sendiri yang menemukanmu." Rei menjawab lagi. Lalu ia mengambil satu apel yang terletak di atas meja di samping tempat tidur. Ia mengupas kulitnya dengan pisau kecil. Setelah semua kulitnya bersih, Rei memberikan daging apel itu pada Rashino. "Ini makanlah. Aku tahu kau kelaparan."


Rashino menerima apel dari Rei lalu memakannya dengan lahap untuk mengganjal laparnya. Sambil menunggu Rashino menghabiskan satu apel, Rei juga mengambil apel lainnya dan mengupas kulitnya. "Ngomong-ngomong... kenapa kau bisa ada di hutan dan... kenapa kau menangis?" tanya Rei sambil mengupas apel lainnya yang akan ia makan.


"Eh? Menangis?"


"Iya. Selama kau tidur tadi, matamu mengeluarkan air mata. Apa yang kau cemaskan? Atau kau bermimpi buruk?"


Rashino terdiam. Ia ingat dengan mimpinya. Ia tidak menjawab, dan malah bergumam dalam hati, "Mimpi itu terulang lagi."


"Hei, kenapa diam? Apa jangan-jangan kau tidak tahu kenapa kau menangis?" tanya Rei mengejutkan Rashino.


Rashino masih tidak menjawab. Ia tidak ingin memberitahu Rei tentang mimpinya. Tapi Rashino malah bertanya balik pada Rei tentang pemilik rumah yang sekarang ini sedang ia tempati. "Ngomong-ngomong... Pak Raden itu siapa, ya?"


"Lah, dia malah nanya balik dan mengubah topik pembicaraannya." Rei bergumam dalam hati. Ia sedikit tersenyum, lalu kembali menghapus senyumnya lagi. Setelah selesai dengan apelnya, Rei memakan buah miliknya lalu menjawab Rashino. "Emm... dia kan pemilik rumah ini. Dia orang tua yang baik. Dia tinggal sendiri di sini."


Rashino mengangguk paham. Lalu ia kembali bertanya, "Kenapa kau bisa ada di sini juga?"


"Oh, aku dengan Adel jatuh ke jurang kemarin siang saat aku sedang menyelidiki gubuk yang ada di tengah hutan bersama dengan Dennis. Aku juga baru tersadar tadi subuh." Jelas Rei. "Kata Pak Raden aku harus banyak istirahat dulu. Jangan ke mana-mana karena saat ditemukan, aku penuh dengan luka. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa setelah diobati."


"Begitu... ya? Ah, tapi di mana Adel sekarang?" tanya Rashino lagi.


"Dia... sedang mencari kayu bakar bersama dengan Cahya. Kami harus membantu Pak Raden dalam pekerjaannya untuk membalas budi padanya karena dia sudah menyelamatkan aku dengan Adel."


"Begitu... Tapi... kenapa Cahya ada di sini juga?"


"Ah, kalau soal itu sebenarnya–"


"Oh, temanmu sudah sadar, ya?" Seseorang muncul dari depan pintu. Rashino sedikit terkejut dengan kehadirannya. Ternyata dia adalah Pak Raden yang dibilang Rei. Beliau seorang kakek tua yang masih terlihat sehat. Hanya tubuhnya saja yang mulai membungkuk sedikit. "Kau sudah mulai baikan sekarang?" Ia berjalan pelan mendekati Rei.


Rashino mengangguk, lalu menjawab dengan lembut. "Iya. I–ini berkat anda. Terima kasih banyak."


"Oh syukurlah kalau begitu..." Matanya agak sipit dan tertutupi oleh alis putih yang tebal. Wajahnya sedikit keriput dan rambutnya sudah beruban semua. pupil matanya melirik ke arah Rei lalu bertanya, "Kau juga sudah mulai baikan, Rei?"


Rei mengangguk. "Ah, iya! Terima kasih karena telah menolong saya dan teman saya itu."


"Baguslah kalau kalian berdua baik-baik saja. Saya ikut senang." Pak Raden tersenyum dengan bibir tebalnya. Ia tidak berjanggut dan tidak pula berkumis. Kulit keriputnya berwarna coklat muda dan sangat mulus.


"Ah, kalau begitu, saya akan membuatkan makanan untuk Rashino. Permisi," Rei berdiri dari atas kasur, lalu berjalan meninggalkan kamar.


Setelah Rei pergi, Pak Raden kembali melirik ke arah Rashino dan bertanya, "Oh, jadi kau namanya Rashino, ya? Nama yang bagus."


"Ah, iya terima kasih."


"Oh, ngomong-ngomong... kenapa kau bisa terluka? Cahya bilang, kau terjatuh dari atas tebing gitu."


Rashino tertawa kecil lalu menjawab, "Ah, saya tidak terlalu ingat. Tapi di hutan, saya berlari untuk mengindari kejaran dari keluarga kanibal yang punya Villa itu."


"Jadi kau mengenal mereka juga, ya?"


"Eh? Apa anda tahu sesuatu dari mereka?" Rashino terlihat terkejut.


"Iya. Mereka adalah keluarga pengasuh yang buruk untuk Cahya kecilku."


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2