
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
BUK!
BUK!
"Enyahlah kau! Lepaskan kakiku!!" Dennis membentak sambil menendang kepala Risa berkali-kali. Tapi tetap saja Risa tidak ingin melepaskan Dennis.
Wajahnya sudah terluka akibat hantaman keras dari alas sepatu Dennis. Tapi hanya dengan begitu saja tidak dapat membuat dirinya kesakitan. Manusia sepertinya harus dibuat luka lebih parah lagi.
"Ah, sial! Satu-satunya cara adalah dengan melepas sepatuku!" batin Dennis.
Ia membalikkan tubuhnya. Walau agak sulit, tapi Dennis berhasil melakukannya. Dia tidak lagi dengan posisi tengkurap. Ia akan melepas sepatunya saja. Jadi biarkan Rina menarik sepatu Dennis daripada kakinya.
Tapi saat Dennis ingin meraih tali sepatunya, tiba-tiba saja Rina menggenggam pergelangan tangan Dennis dengan paksa, lalu mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Dennis.
"Sayang~ Kita mati bersama, yuk!" Rina mengeluarkan senyumnya yang menyeramkan itu lagi. Kemudian dengan cepat, Rina mendorong Dennis sampai tergeletak ke belakang.
Rina duduk di atas perut Dennis, menahan satu tangannya lalu dengan tangan yang satunya lagi, Rina mendekatkannya ke leher Dennis dan langsung mencekiknya.
Dari awal, Dennis sudah menduga kalau Rina pasti akan berbuat seperti itu padanya. Dia sudah memulai rencana untuk membunuh Rina di tempat. Walau agak beresiko seperti saat ini.
Dengan tangan yang yang masih terbebas, Dennis akan menggunakannya untuk mengambil benda tajam yang ada di kantung belakang celananya. Dennis baru ingat kalau sebelum ia pergi dengan Rina, dirinya sempat membawa pisau kecil yang ia simpan di kantung celananya untuk berjaga-jaga jika Rina menyerang atau dirinya sedang dalam bahaya.
Dennis tahu kalau pisau kecil itu tidak mungkin bisa untuk membunuh Rina. Tapi setidaknya, ia bisa membuat Rina kesakitan terlebih dahulu. Ia akan melakukannya walau dirinya masih merasa kasihan pada Rina jika melihat wanita itu menggeliat kesakitan dan tidak berdaya.
"Biasanya... untuk mati dengan cara dicekik seperti ini, seseorang memerlukan waktu 20 detik untuk bisa menahan napasnya yang tersendat. Sebelum waktunya habis, aku harus bisa melepaskan tangan Rina ini terlebih dahulu." Batin Dennis sambil mengarahkan tangannya sampai bisa menyentuh saku celananya.
Tapi ternyata tidak mudah juga. Ada paha Rina yang besar dan mulus menghalanginya.
Dennis tidak ingin menyentuh tubuh Rina karena takut Rina menyadari rencananya itu. Jadi terpaksa, Dennis harus menyelipkan tangannya ke celah yang ada di dekat paha Rina.
Tapi... saat tak sengaja Dennis sempat menyentuh paha Rina, seketika saja Dennis merasakan cekikikan Rina sepertinya melemah. Lalu tak lama kemudian, Rina mengeluarkan suara yang terdengar sangat mengganggu bagi Dennis.
"Ahhh... Dennis... jangan sentuh bagian itu...."
__ADS_1
"I–ini cewek apaan sih?!" Dennis menggerutu di dalam hati. Cekikikan Rina benar-benar melonggar setelah Dennis menyentuh pahanya.
Dennis mengedipkan matanya beberapa kali, lalu secara perlahan ia melirik ke wajah Rina. Dennis terkejut. Ekspresi Rina terlihat menjijikkan bagi Dennis. Dengan pipinya yang memerah dan lidahnya yang ia keluarkan, Dennis jadi tahu apa yang ingin dilakukan Rina.
"Ri–Rina... dia merasa terangsang saat aku menyentuh tubuhnya." Batin Dennis. "A–apa jika aku menyentuhnya lagi, dia akan melepaskanku? Ta–tapi jika aku lakukan... berarti aku telah melakukan pelecehan padanya."
Demi keselamatannya, Dennis akan menyentuh paha Rina lagi. Tapi kali ini, ia akan mengelusnya juga. "Ri–Rina maafkan aku. Ikh! Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini."
Dennis benar-benar melakukannya. Tapi dengan mata tertutup. Ia tidak ingin melihat ekspresi Rina yang lebih parah lainnya.
Secara perlahan Dennis mengelus paha lembut Rina beberapa kali. Lalu tak lama kemudian, Dennis merasakan tangan Rina secara perlahan melepaskan tangan dan lehernya. Lalu setelah itu, Dennis mendengar suara desahan yang terdengar mengganggu itu lagi.
"Ah... nghh... Dennis ... teruskan...."
"Eh, astaga! Apa-apaan nih cewek?!" Dennis menggerutu lagi di dalam hati. Perasaannya tidak enak. Ia menghentikan tangannya untuk mengelus paha Rina itu.
Yang penting sekarang, Rina telah melepaskannya dan Dennis bisa menggunakan kesempatan itu untuk segera bangun dan menyerang Rina. Tapi saat Dennis hendak ingin bangun, tiba-tiba saja Dennis merasa tangan Rina menyentuh dadanya dengan lembut. Setelah itu, ia mendengar suara Rina yang berbisik tepat di dekatnya.
"Dennis... apa... kau mau melakukannya?"
"Eh?!" Dennis terkejut. Dengan cepat ia langsung membuka matanya kembali. Ia melihat ekspresi wajah Rina yang semakin parah. Ditambah dengan tangan kiri Rina yang sudah membuka dua kancing bajunya.
Karena hal itu, langsung saja Dennis mendorong Rina jauh-jauh darinya dengan paksa. Ia mengeluarkan semua tenaganya untuk mendorong Rina dengan kasar sampai tubuh Rina terjatuh ke sampingnya.
Setelah itu, Dennis langsung terbangun dan kembali berdiri dengan cepat. Ia kembali memungut ponselnya, lalu mundur secara perlahan untuk menjauh dari Rina yang sudah mulai gila dengan hawa nafsunya.
"Tidak! Aku tidak ingin mataku ternodai untuk sekarang ini!" batin Dennis panik di dalam hati. "Tapi sekarang kesempatanku untuk bisa membunuhnya!"
Dennis mengambil pisau kecil dari belakang tubuhnya, lalu berlari menghampiri Rina yang masih tersungkur di tanah itu. Ia akan menyerang sekarang juga.
"Maafkan aku, Rina!"
JLEB!!
Dennis menusuk kepala Rina dan seketika darah bermuncratan keluar membasahi tangan Dennis. Rina hanya terdiam saja. Dia masih belum merasa kesakitan. Kalau begitu, Dennis akan terus menusuk kepalanya berkali-kali.
JLEB!
JLEB!!
ZRAAASSHH!!
__ADS_1
Tusukkan yang kelima itu tusukan terakhir. Dennis menusuk dahinya, lalu menggores wajahnya sampai kulitnya robek.
Setelah itu, Rina baru berteriak kesakitan. Dennis menghentikan serangannya. Ia tidak bisa melakukan kekerasan terhadap Rina lagi. Ia tidak tega melihatnya kesakitan.
Tapi karena ia sudah berjanji pada teman-temannya kalau dia akan membunuh Rina, maka terpaksa sekarang serangan terakhirnya.
Dennis menjatuhkan pisau kecilnya, lalu ia mengambil batu besar yang terletak di samping kolam. Dengan batu itu saja Dennis bisa membunuh Rina.
Ia mengambil batu itu, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Sekali lagi Dennis mengucapkan kata maaf pada Rina sebelum ia membunuhnya.
BUAK!!
BUK!!
BUK!!
"Akh! Sudahlah!" Dennis kembali berdiri. Ia menjatuhkan batu yang sudah berlumuran darah dari tangannya. Setelah itu, Dennis mundur ke belakang sambil memperhatikan keadaan Rina.
Kepalanya sudah retak dan organ dalamnya juga terlihat hampir keluar. Dennis tidak merasa mual melihat pemandangan seperti itu, tapi sekarang yang ia takuti, apakah Rina sudah mati atau masih hidup?
Dennis tidak berani mendekat dan menyerangnya lagi. Tapi keputusannya, ia menduga kalau Rina itu pasti belum mati. Karena Dennis belum memisahkan tulang leher Rina dari tubuhnya. Orang seperti Rina itu bisa mati jika kepalanya putus!
"Apa sekarang... aku hanya harus memotong lehernya saja, ya?" Dennis bergumam. Ia mengangkat tangan kanannya yang sedang memegang pisau kecil miliknya itu.
Tapi kalau hanya dengan pisau kecil, mana bisa memotong leher seseorang dengan sekali gesekkan. Akan butuh waktu lama dan mungkin saja pisau itu bisa jadi tumpul.
Sepertinya Dennis harus mencari benda tajam lainnya.
Ia akan pergi keluar gua sebentar. Tapi sebelum kakinya mulai melangkah, tiba-tiba saja seseorang datang dan masuk ke dalam gua. Dennis sangat terkejut dengan kehadiran orang yang tidak ia kenal itu.
Ada seorang kakek tua yang berdiri di depan gua. Menatap tajam ke arah Dennis dan di tangannya itu. Dia membawa sebuah golok!
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8
__ADS_1