Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 20– Uji Nyali, part end


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Aku tahu caranya untuk membuat orang lain tahu posisiku saat ini! Aku akan segera ditemukan!"


Dennis kembali berdiri. Lalu ia mengangkat Kotak Kunang-kunang ke atas kepalanya. Membuka penutup kotak itu dan seketika, kunang-kunang yang ada di dalamnya keluar terbang ke atas langit. Dennis berharap dengan tanda Kunang-kunang itu bisa memberitahu orang lain tentang keberadaan dirinya.


"Kunang-kunang... kumohon bantu aku." Dennis berharap dalam hatinya. Sekarang yang harus ia lakukan adalah menunggu di tempatnya. Sekarang cahaya yang ada di dekatnya hanya ponselnya saja.


Dennis berjalan mengelilingi pohon besar yang ada di dekatnya itu untuk menghilangkan kebosanan. Tapi saat ia melirik ke arah lain, Dennis melihat ada cahaya yang muncul dibalik semak yang letaknya hanya beberapa meter saja dari tempatnya berdiri.


Karena penasaran, Dennis pun berjalan pelan menghampiri cahaya itu. Ia berpikir kalau ada seseorang yang datang di dekat sana. Atau bisa saja ia melihat lampu minyak yang artinya Dennis bisa selamat dengan bantuan lampu itu. Karena kata Bu Mia, "Lampu minyak tidak akan membiarkan orang lain tersesat di dalam hutan. Ikuti saja lampu lainnya sampai kau menemukan jalan keluar."


Dennis ingat sekali dengan perkataan gurunya itu. "Ya! Itu pasti lampu minyak. Aku akan selamat!"


Tapi setelah Dennis membuka semak yang menutupi cahaya itu, ia terkejut. Karena yang ia temukan bukanlah lampu minyak atau orang lain yang datang. Melainkan, di dataran rendah di bawah sana, Dennis menemukan ada sebuah gubuk tua dengan dua lampu minyak di depannya.


"Aku salah. Ternyata cahayanya dari rumah gubuk itu." Keluh Dennis. Ternyata ia tidak berhasil menemukan jalan keluar dari dalam hutan itu. Malah semakin masuk ke dalamnya sampai akhirnya ia menemukan sebuah gubuk di tengah hutan.


"Apakah ada orang di dalam sana?" gumam Dennis. Ia menyingkirkan semak dan tumbuhan kecil yang menghalangi, lalu berjalan pelan mendekati gubuk itu.


Tapi setelah ia melewati semak yang menghalang, Dennis jadi teringat sesuatu tentang gubuk atau rumah kecil yang pernah Cahya katakan padanya.


"Sosok hitam yang kalian lihat tadi itu adalah si hantu kanibal itu. Dia terlihat membawa karung, kan? Nah! Karung itulah yang ia gunakan untuk membawa potongan daging manusia. Dan katanya... tempat penyimpanan daging-daging itu berada di dalam rumah kecil yang terletak di dalam hutan."


"Eh?" Dennis menghentikan langkahnya lalu berpikir sejenak. "Apa jangan-jangan... rumah kecil yang dimaksud Cahya adalah... rumah ini?"


"Makanya setiap malam, hantu itu suka terlihat keluar masuk hutan."


"Ha–hantu hitam itu, ya?" Dennis juga jadi teringat dengan sosok hitam yang pernah ia lihat keluar masuk hutan sambil membawa karung. Dennis jadi merasa takut. "Mu–mungkin saja rumah itu adalah tempat tinggal si hantu. Di–di dalam rumah itu pasti... terdapat banyak daging manusia. Itu berarti... rumah kecil itu adalah rumah milik si hantu kanibal?!"


"A–aku sudah masuk ke dalam wilayahnya. Oh tidak!" Dennis mengurungkan niatnya untuk mendekati rumah itu. Tubuhnya gemetar ketakutan. Ia melangkah mundur ke belakang secara perlahan dan berharap tidak bertemu dengan hantu hitam itu di tempatnya saat ini.


Tapi saat Dennis menginjak semak pembatas yang baru saja ia lewati tadi, tiba-tiba saja tubuh Dennis tertarik dengan cepat ke belakang dan ada seseorang yang membekap mulutnya. Dennis berusaha untuk membebaskan diri. Untung saja tenaga orang yang ada di belakangnya itu terlalu lemah, jadi dengan sedikit memberontak saja bisa melepaskan dirinya dari bekapan orang di belakangnya itu.


Dennis kembali bernafas dengan tenang lalu berbalik badan. Posisi bersiap untuk menghadapi orang berbahaya di belakangnya itu. Tapi saat Dennis ingin memukul, tiba-tiba saja ada yang berteriak padanya untuk menghentikan ayunan tangannya itu.


"De–Dennis berhenti! Berhenti Dennis!"

__ADS_1


"Eh?" Dennis terkejut. Ia menghentikan pergerakannya, lalu melirik ke arah orang yang ada di depannya. Ternyata dia seorang perempuan bertubuh lebih pendek dari Dennis. "Eh? Cahya?"


"Dennis, di sini jangan berisik." Cahya berbisik. Lalu ia menarik tangan Dennis dan secepatnya pergi dari tempat itu. Dennis membiarkan tangannya ditarik gadis cantik di depannya itu.


Dengan wajah yang tersipu malu, Dennis bertanya, "Ke–kenapa kita harus lari dari tempat tadi?"


"Dennis ingat dengan ceritaku yang sebelumnya, kan?"


"Ah, iya! Memangnya ada apa?"


"Aku akan menceritakannya nanti! Sekarang pergi keluar bersama dengan yang lainnya."


"Eh? Yang lainnya?"


Dennis terheran. Ia melepaskan genggaman tangannya dari Cahya, lalu kembali berlari mengikuti gadis itu. Dennis ingin tahu apa yang ingin ditunjukan Cahya padanya.


Tak lama berlari menjauh dari rumah gubuk tadi, Cahya akhirnya bisa membawa Dennis sampai bertemu kembali dengan cahaya dari lampu minyak yang digantung di setiap pohon untuk digunakan sebagai tanda agar tidak tersesat.


Dennis senang sekali saat ia menemukan lampu minyaknya. Setelah menemukannya, Cahya kembali mengajak Dennis ke arah lain dan menemukan lampu minyak lainnya. Mereka berdua berlari terus mengikuti jejak lampu minyak sampai akhirnya....


"Dennis!"


Seseorang yang ia kenal memanggil namanya. Dennis melihat orang itu berdiri di tak jauh di depannya. Dennis berlari menghampiri Natsuki yang telah memanggil namanya itu. Ia berdiri di depan pintu keluar hutan.


"Kami semua senang. Ini berkat Cahya yang bisa menemukanmu lagi."


"Oh iya." Dennis teringat dengan bantuan Cahya. Ia berbalik badan dan menatap ke arah Cahya dengan senyum manisnya. Cahya juga membalas senyuman dari Dennis itu. Ia menggenggam kedua tangan Cahya lalu mengucapkan terima kasih karena telah membantunya keluar dari hutan yang menyeramkan itu.


"Sama-sama Dennis. Aku senang bisa membantumu." Jawab Cahya. Dennis suka dengan senyuman cantik dari Cahya itu. Dia benar-benar gadis yang sempurna. Saat ini, mereka berdua sedang saling bertatap muka dan senyum-senyum sendiri.


"Ehm," Seseorang berdeham. Ternyata itu Rei. Dia muncul dari balik tubuh Natsuki. Seketika Dennis dan Cahya pun saling berjauhan kembali. "Kalian berdua. Bukan saatnya untuk bermesraan di sini sekarang. Ayo! Semuanya telah menunggu di lapangan."


"Ah, baiklah!" Dennis tertawa lalu berlari menghampiri Rei. Setelah itu, Rei dan Dennis pergi keluar dari hutan. Natsuki juga mengajak Cahya untuk pergi berkumpul dengan yang lainnya.


"Kak Dennis! Aku sangat khawatir!" Adel berlari memeluk kakaknya. Dennis mengelus rambut adiknya, lalu berujar pelan, "Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."


"Dennis! Kau baik-baik saja?" Bu Mia berlari kecil ke arah Dennis. Ia menanyakan tentang keadaannya. Dennis mengangguk. "Aku baik-baik saja, Bu! Jangan khawatir."


Bu Mia menghela nafas lega. Ia bersyukur tidak ada anak-anak muridnya yang menghilang dan terluka. Ternyata semuanya telah berhasil mendapatkan Kotak Kunang-kunang dan keluar dari hutan dengan selamat. Walau sebagiannya masih ada yang trauma karena melihat hantu bohongan yang mereka lihat itu.


"Baiklah, semuanya ayo berkumpul dulu!" Bu Mia menepuk tangannya untuk memberi perhatian. Semua murid menurut. Mereka berkumpul di depan Bu Mia dan Pak Wija. Beberapa anak memegang Kotak Kunang-kunang yang mereka temukan.


"Sekarang, apakah semuanya mendapatkan Kotak Kunang-kunang itu?" tanya Bu Mia.

__ADS_1


Semuanya mengangguk lalu mengangkat Kotak Kunang-kunang yang mereka pegang agar Bu Mia bisa melihatnya. Tapi tidak untuk kelompoknya Dennis. Kelompoknya sendiri yang tidak berhasil membawa Kotak Kunang-kunangnya.


"Maaf, Kak Rei. Aku melepaskan Kunang-kunang itu," Ucap Dennis. Rei menggeleng, "Tidak apa-apa. Berkat Kunang-kunang itu juga, dirimu bisa ditemukan oleh Cahya. Aku melihat dua ekor Kunang-kunang terbang melewati wajahku."


"Oh, lalu setelah itu?"


"Em... entah dari mana, tiba-tiba saja Cahya muncul dan bilang kalau di hutan tidak pernah muncul kunang-kunang. Itu baru pertama kalinya dia lihat. Saat di situ, aku baru ingat kau yang membawa pergi Kotak Kunang-kunang yang kita temukan. Makanya aku langsung meminta Cahya untuk pergi mencarimu."


"Eh? Kenapa kakak menyuruh Cahya?" Dennis terkejut mendengarnya.


"Tenang Dennis. Aku emang ingin membantu Cahya ikut untuk mencarimu juga. Tapi... bapak-bapak yang menyebalkan itu melarang ku."


"Tapi... kenapa Cahya tetap pergi? Sendirian pula."


"Maaf, aku tidak tahu. Tadinya aku ingin melarangnya juga. Tapi dia sudah lari terlalu jauh. Aku tidak bisa mengejarnya." Penjelasan Rei pun diakhiri. Dennis mengerti sekarang. Tapi ia masih bingung dengan gubuk tua itu dan masih penasaran dengan cerita lainnya yang ingin Cahya ceritakan.


"Baiklah anak-anak! Sekarang masing-masing kelompok... silahkan berkumpul dan memegang Kotak Kunang-kunang yang kalian temukan." Perintah Bu Mia. Semuanya menurut. Mereka memegang Kotak Kunang-kunangnya.


"Sekarang kita lepaskan semua Kunang-kunang itu, ya? Setelah hitungan ketiga, kalian buka penutup kotaknya, oke?"


"Oke, Bu!"


"Baik. Satu... dua... tiga!"


Semuanya mulai membuka penutup kotak itu, lalu 3 ekor kunang-kunang dari masing-masing kotak dapat keluar dan terbang bebas di langit malam. Lapangan yang gelap bisa menjadi terang karena banyaknya Kunang-kunang yang muncul dan berterbangan di langit.


Kunang-kunang yang indah. Semuanya merasa senang sekali bisa melihat Kunang-kunang yang berkumpul membawa pelita di langit malam yang indah. Mereka suka sekali. Apalagi melihatnya di tengah luasnya lapangan berumput. Suasana malam yang terasa mencekam jadi terasa damai berkat Kunang-kunang.


Bu Mia menangkap beberapa kunang-kunang yang ia temukan di tempat lain selain di hutan. Beliau memutuskan untuk memasukan tiga kunang ke dalam kotak sesuai dengan jumlah kelompok yang ia tentukan juga.


Kunang-kunang itu adalah lambang untuk persahabatan di setiap kelompok yang ada. Berjumlah 3 ekor kunang-kunang. Masing-masing serangga itu membawa sifat damai dari masing-masing anak dalam kelompok.


Tapi kalau ketiga Kunang-kunang yang dibebaskan Dennis di dalam hutan, akan melambangkan sifat keberanian. Karena ketiga Kunang-kunang itu selalu bersama dan hidup di tempat baru mereka yang menyeramkan. Berkat Kunang-kunang juga Dennis bisa ditemukan kembali.


Saat ini, sambil bersantai dan melihat kunang-kunang yang berterbangan di langit di lapangan berumput, mereka semua melewati semalaman penuh untuk tidur di bawah langit malam dan melihat bintang yang berkelap-kelip. Uji Nyali diakhiri dengan kebahagiaan para murid....


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2