Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 36– Ponsel Rei


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Eh? Suara anak perempuan?" Dennis membisukan teleponnya, lalu berbisik pada Akihiro, Mizuki dan Natsuki.


"Perempuan? Apa kau mengenal suaranya?" tanya Akihiro.


"Se–sebentar." Dennis mematikan pembisuannya, lalu kembali berbicara, "Emm... aku Dennis. Kau siapa?"


[ Kau beneran Dennis?! ] tanya gadis itu lewat telepon. Suaranya agak resak dan akan sulit untuk Dennis mengenal siapa orang yang memiliki suara seperti itu.


"I–iya ini aku Dennis. Kalau kau siapa?"


[ Ah, syukurlah! Dennis aku... Kak Dennis! Kak Dennis! Ini Adel. Kakak! Kakak masih ingat dengan Adel? ] Suaranya berubah menjadi lebih lembut lagi. Dennis terkejut saat ia mendengar orang lainnya menyebutkan nama adiknya.


"Kau... Adel?" tanya Dennis ragu. Ia benar-benar tidak bisa mengenal suaranya. Mungkin karena sinyal. Untuk memeriksanya, Dennis menjauhkan ponselnya dari telinga, lalu melihat lambang sinyal di pojok atas ponselnya. "Ah ternyata benar... koneksinya agak buruk." Hanya ada 2 batang sinyal saja yang muncul.


[ Kak Dennis, aku senang bisa mendengar suaramu lagi! ] Lagi-lagi Dennis tidak mengenal suara orang yang berujar itu. Ia hanya menjawab, "Iya." Tapi ia percaya kalau ada adiknya juga di telepon itu. Hanya saja, ia masih belum mengenal suara orang yang satunya lagi.


"Ngomong-ngomong... selain Adel, tadi ada siapa lagi di sana?" tanya Dennis.


[ Oh, itu aku. Aku Cahya. Masa kau lupa denganku, Dennis! ] Ternyata Cahya. Dan pada akhir kalimatnya, ia sedikit membentak kesal karena Dennis tidak mengenal dirinya.


Dennis tersentak saat ia mengetahui orang yang telah membentaknya itu adalah Cahya. Wajahnya sedikit memerah, lalu mengucapkan maaf beberapa kali, ditambah dengan tingkahnya yang jadi aneh. "Ah, sekali lagi, maaf! Suaramu resak dan tidak jelas. Sinyal di ponselku sedang tidak baik."


[ Ah, sudahlah. Kau berlebihan, Dennis! ] Cahya tertawa.


"Eh, ngomong-ngomong kalian ada di mana sekarang?" tanya Dennis.


[ Kami di hutan! ]


[ Iya! Adel juga. Adel lagi bantuin Cahya mengambil kayu bakar! ]


"Ah, Adel juga? Em... tapi kenapa kalian melakukan pekerjaan itu?"


[ Ceritanya panjang. ] Cahya menjawab. [ Kami tidak bisa berbicara lama sekarang. Kami ingin pulang. ]


[ Iya! Kak Dennis jangan khawatir. Adel sama Kak Rei baik-baik saja, kok! ]


Dennis sampai lupa dengan Rei. Ia pikir, Rei juga pasti ada di sana. Tapi saat Dennis ingin menanyakan keberadaan Rei, tiba-tiba saja teleponnya mati. Bukan karena kehilangan sinyal, tapi karena baterainya habis. Dennis sudah tidak bisa menggunakan ponselnya lagi. Benar-benar sudah mati total!


"Yah... mati." Dennis mengeluh. Lalu melirik ke layar ponselnya yang gelap, dan membersihkan layarnya itu dengan sidik jempolnya.

__ADS_1


"Tadi itu siapa, Dennis?" tanya Akihiro.


"Ah, tadi Cahya dan Adel meneleponku." Jawab Dennis.


"Hmm?" Akihiro menggaruk kepalanya bingung. "Kenapa mereka menelpon lewat ponselnya Rei?"


"Ah, itu dia," Dennis tertawa kecil. "Aku tadi mau bertanya seperti itu, tapi karena baterai ponselku habis, jadi otomatis telepon diakhiri, deh!"


"Ah, dasar kau,"


"Oh iya, ngomong-ngomong sekarang apakah kita mau kembali ke Villa?" tanya Mizuki. Dennis mengangguk untuk mengiyakan. Tapi sebelum mereka pergi, Dennis ingin ketiga temannya itu berkumpul karena Dennis ingin memberitahu rencananya pada mereka saat sampai di Villa tadi. Salah satu rencananya adalah, jangan bersikap ceroboh. Tetap seperti biasa saja.


Setelah semuanya setuju dengan rencana Dennis, Dennis dan yang lainnya pergi berjalan meninggalkan gubuk. Mereka akan kembali ke Villa. Tapi tak lama setelah mereka pergi, di dalam gubuk tangan kakaknya Rina yang sudah meninggal, tiba-tiba saja bergerak dengan sendirinya. Apakah dia... masih hidup?


****


Di rumah Pak Raden–


"Kami pulang~"


"Selamat datang!"


Cahya dan Adel mengucapkan salam saat mereka sampai di teras depan rumah. Rei dan Rashino menyambut mereka berdua dengan lembut dan membiarkan Cahya dan Adel masuk.


"Ah, Kak Rano sudah sadar, ya?" tanya Adel senang sambil berlari kecil mendekati Rashino yang sedang duduk di pinggir kasur.


"Oh iya, Rashino maksudnya, hehe..." Adel tertawa kecil. Setelah itu, Rei bertanya pada Adel tentang keberadaan Cahya. Adel menjawab kalau Cahya sedang ada di dapur untuk memberikan kayu bakar yang mereka temukan pada Pak Raden.


"Oh iya, Kak Rei! Ini Adel ada sesuatu untuk Kak Rei!"


"Oh, apa itu?"


Adel mengangkat telunjuknya, lalu memasukannya ke dalam kantung roknya untuk mengambil sesuatu. Saat Adel mengeluarkan benda yang ingin ia berikan pada Rei, Rei pun terkejut sekaligus senang karena Adel memberikan benda yang terpenting untuknya. Yaitu ponselnya sendiri!


"Adel, darimana kau menemukan ini?" tanya Rei tidak percaya. Benda yang diberikan Adel itu benar-benar ponselnya sendiri yang hilang semenjak ia terjatuh ke jurang.


"Oh, tadi aku sama Cahya pergi ke tebing tanah itu. Tempat kita jatuh kemarin. Eh, tak jauh dari sana, aku menemukan ada ponsel Kak Rei, deh! Hehe..." Jelas Adel dengan senangnya.


"Oke. Terima kasih telah menemukannya." Ucap Rei tanpa ekspresi. Ia membuka ponselnya, lalu memeriksa aplikasi telepon. Di sana ada berkas tentang orang yang baru saja dihubungi. Saat dilihat, ternyata ada nomor Dennis diurutan paling pertama. Karena bingung, Rei pun bergumam, "Eh? Apa sebelumnya aku pernah menghubungi Dennis? Tapi di sini... tulisannya 5 menit yang lalu."


"Oh! Itu Adel sama Cahya yang menelpon Kak Dennis tadi saat di hutan, hehe..." Adel menjawab gumaman Rei.


"Eh? Kau bisa menelpon Dennis di dalam hutan?" tanya Rei tidak percaya.


"Iya! Tapi Adel hanya menelpon kakak sebentar saja. Karena tiba-tiba saja Kak Dennis mematikan teleponnya." Jelas Adel.


"Jadi begitu, ya?" Rei bergumam. Lalu ia menekan nomor telepon Dennis lagi untuk menghubunginya. Tapi saat Rei yang mencoba untuk menghubungi Dennis, ternyata ponsel Dennis tidak dapat dihubungi. Rei sedikit kecewa dan cemas dengan keadaan sahabatnya yang satu itu. Ia ingin bertemu dengan Dennis lagi. Tapi entah kapan waktunya.

__ADS_1


"Oh iya, Rei. Bukankah kita harus kembali ke Villa?" tanya Rashino.


"Energimu sudah terisi penuh? Jangan sampai kau pingsan di tengah jalan lagi." Balas Rei dengan nada menyindir.


Rashino menepuk punggung Rei, lalu tertawa. "Ah, Rei, kau ini! Tidak mungkin. Sekarang aku sudah kembali sehat, kok!"


"Baiklah kalau begitu... kita akan kembali." Rei berdiri dari tempat duduknya, lalu kembali bergumam, "Tapi kita tidak tahu jalan ke Villa. Aku juga tidak tahu kita berada di mana saat ini."


"Tempat ini berada di pojok pedesaan. Masih ada rumah lain yang tinggal dekat sini." Cahya yang menjawab. Gadis beda satu tahun dari Rei itu tiba-tiba saja muncul di depan pintu. Cahya berjalan mendekati Adel. "Jadi... kalian mau kembali ke Villa?"


"Seharusnya begitu. Karena teman-teman kami sedang dalam bahaya di sana." Jawab Rei. "Kami harus menyelamatkan mereka sebelum keluargamu membunuh mereka."


"Tapi Rei, tunggu dulu!" Rashino menyela. Ia turun dari tempat tidur lalu berdiri di hadapan Cahya. "Apakah kau masih berpihak pada keluarga itu?"


"Eh, apa?" Cahya terlihat terkejut. Rashino benar juga. Dia kan anak dari keluarga kanibal itu. Jika dia tahu rencana Rei, maka ia bisa saja mengkhianati Rei, Rashino dan Adel. Bahkan Dennis juga. Bisa-bisa semuanya jadi berantakan jika Cahya membocorkan semuanya pada keluarganya. Kesetiaan Cahya mungkin masih pada keluarga kanibal itu.


"Aku... aku tidak suka pada keluarga itu." Cahya bergumam kecil sambil menunduk. Lalu ia mendongak dengan cepat dan melanjutkan perkataannya. "Kalian bisa percaya padaku! Tapi jika tidak, tidak apa. Aku sudah berniat ingin membantu kalian juga untuk keluar dari Villa itu!"


"Eh? Yakin kau tidak suka pada mereka? Kau tidak akan membocorkan hal ini pada keluarga itu, kan?" tanya Rashino yang masih curiga dengan Cahya. Jadi bagaimana jawaban Cahya sekarang?


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8


___________________________


Aku mau promosikan novel punya kakak-kakak author hebat, nih^^


Nanti mampir ke punya mereka, ya:)


Petualangan Asa, genre: Fantasy-action


By: Cresh (Kak Mark nih :v Author papolit ea)



Bride, genre: Romantis


By: Mayn Urr Izqy


__ADS_1


__ADS_2