
Author note: Cerita ini tentu tidak nyata. Walau ada sebagian adegan diambil dari kisah nyata. Kisah ini, hanya untuk menemani malam kalian saja, jadi....
Selamat membaca!!
****
Halo... semuanya selamat malam dan selamat beristirahat... hah... tapi untukku saat ini belum bisa sepenuhnya beristirahat. Aku tadi habis jalan-jalan bersama Cahya karena malam Minggu.
Aku pikir, setelah aku pulang malam, aku bisa langsung tidur di kamar. Tapi ternyata aku masih ada janji dengan kalian. Jadi sekarang, kalian jangan tidur dulu, ya?
Dengarin ceritaku ini dulu. Sepertinya di sini... aku masih ada beberapa lembar cerita horror terakhir yang belum aku bacakan. Cerita ini tentang kejadian disaat kencan. Kebetulan karena malam Minggu, di mana semua orang akan keluar rumah untuk bersenang-senang.
Karena berbagai alasan yang ku ketahui, malam Minggu adalah malam yang bebas untuk semua orang. Mereka bebas mau ke mana saja, mau kencan, mau berlibur bersama keluarga dalam waktu lama. Dan malam Minggu juga termasuk malam untuk mereka beristirahat dari aktivitas yang sibuk.
Singkatnya, malam hari waktunya bersenang-senang, paginya waktunya mereka beristirahat dengan bebas karena hari Minggu. Hehe... begitulah....
Rei: "Dennis, tertawamu terdengar tidak ikhlas. Nada bicaramu juga terdengar lemah sekali. Wajahmu pucat dan kau juga memiliki sedikit mata panda. Apa kau baik-baik saja?"
Iya aku baik-baik saja, hehe... tenang saja lah! Setelah menyelesaikan ini, aku pasti bisa tidur dengan tenang. Kebetulan besok juga hari Minggu ini, hehe....
Rei: "Oke. Terserah kamu saja. Tapi... senyum lah sedikit, ya?"
Oke. Jangan cemaskan aku!
Baiklah, kita mulai saja sekarang. Kalian dengarkan baik-baik, ya? Aku akan menceritakan sebuah cerita yang mungkin akan membuat kalian tidak berani untuk melanggar sebuah aturan.
"Jalan Tol"
Hari Sabtu, pada sore harinya, beberapa remaja akan pergi ke Bandung dengan menggunakan mobil. Remaja-remaja itu beranggota 5 orang. Dua orang duduk di kursi depan, dan tiga orang sisahnya duduk di belakang. Ada 3 orang laki-laki dan ada 2 orang perempuan. Salah satu dari mereka ada yang sudah berpacaran.
Perjalanan mereka dari Purwakarta dan saat ini mereka ingin ke Bandung untuk liburan ke suatu tempat hiburan. Mereka baru berangkat tadi sore. Dan saat ini, sudah menjelang malam. Sungguh perjalanan yang sangat jauh untuk beberapa remaja itu. Mereka juga harus melewati jalan tol yang dikenal angker dan jarang orang lewati.
Tapi mereka semua tidak mempercayai cerita-cerita yang terdengar menyeramkan itu. Dengan tenang, mereka mengemudikan mobilnya masuk ke dalam jalan Tol Cipularang yang katanya sepanjang 58 km.
Kelima remaja itu sedang bercanda-canda di dalam mobil. Mereka bernama Radith, Alisya, Raihan, Nana dan Hafis. Mereka adalah sahabat baik.
Salah satu dari mereka memliki hobi membaca berita dan cerita horor. Orang itu adalah Nana. Seorang gadis berambut pendek dan berkacamata. Saat ini saja dia sedang membaca artikel di ponselnya.
Lalu tak lama kemudian, disaat semuanya sedang mengobrol, Nana tiba-tiba saja menunjukkan layar ponselnya pada teman di samping tempat duduknya.
"Hei, apa kalian tahu tentang ini?" tanya Nana sambil menunjukkan ponselnya. "Katanya kalau kita sedang melewati jalan panjang seperti ini, harus klakson sebanyak tiga kali. Atau bisa saja kita melempar uang logam dan puntung rokok agar bisa selamat sampai tujuan."
"Heeh? Kau masih percaya sama yang begituan?" Raihan terlihat tidak mempedulikannya. "Kita selama ini aman-aman saja, kok! Buktinya saja kita kan sudah sering jalan-jalan jauh seperti ini. Jadi jangan khawatir, lah~"
"Iya. Kau jangan terlalu percaya sama yang kek begituan ngapa." Hafis yang duduk di samping Raihan juga ikut menimpali.
"Tapi..." Nana menurunkan ponselnya, lalu menggenggamnya erat di depan dada. "Tapi apa kalian tahu kalau jalan tol ini amat angker. Kebanyakan orang bilang begitu."
"Angker hanya karena sering terjadi kecelakaan?" tanya Radith lirih. Ia lah orang yang sedang mengemudikan mobilnya saat ini. Dan orang yang duduk di sampingnya itu adalah pacarnya sendiri—Alisya.
Alisya menoleh ke belakang dan berujar pelan pada Nana. "Nana, kita ini sekarang ingin berlibur bersama dan bukan ingin mendengar cerita horormu untuk saat ini. Jadi kau diam saja, ya? Aku akan menyalakan musik untuk kita bersenang-senang agar suasananya tidak sepi."
Nana menundukkan kepalanya. Kemudian ia melirik ke jendela mobil yang ada di sampingnya. Ia melihat malam hari semakin gelap di tol itu. Sementara saat ini ia dengan teman-temannya baru masuk ke dalam jalan tersebut. Ia harap tidak ada hal buruk yang terjadi.
Sudah setengah jam perjalanan mereka di tol itu dan sampai sekarang mereka baru sampai di KM ke 47. Semuanya tetap tenang. Walau hanya ada beberapa mobil saja yang lewat di jalan itu. Tidak banyak. Suasananya juga sepi karena semakin lama, semakin jarang kendaraan lain yang lewat.
Tapi saat jam 10 malam, mereka tiba di KM 89. Saat di sanalah, Nana mulai merasa tidak enak. Lalu tak lama kemudian, salah satu dari temannya meminta Radith untuk menepi di pinggir jalan karena ia ingin buang air kecil di suatu tempat.
"Bro, berhenti dulu, ya?" Raihan yang memintanya.
"Eh, ada apa memangnya?" Radith bertanya tanpa menoleh ke lawan bicaranya.
"Aku... ini... biasa lah! Udah kebelet."
__ADS_1
"Hah, oke." Radith menurut. Ia menepikan mobilnya seperti yang Raihan minta.
"Hei, kenapa harus turun? Kenapa tidak kau buang saja di dalam sini?" Hafis meledeknya, setelah itu ia menunjukkan sebuah botol kosong pada Raihan.
Raihan pun mengerti maksudnya apa itu. Tapi Raihan tidak ingin melakukannya. Ia pun membentak geram pada Hafis. "Kau ini! Aku mana mungkin mau melakukannya di depan gadis!" Kemudian ia membuka pintu mobil dan segera keluar.
"Eeeeh... gak mau aku temani?!" Hafis berteriak.
"Tidak usah!"
Hafis akan menunggu temannya kembali. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka akan sabar menunggu. Lagipula, Raihan ini sepertinya hanya buang air kecil saja. Pasti tidak lama.
Na... Na... Nah! Benar, kan? Dia tidak bakal lama!
Hanya memerlukan waktu satuan menit saja untuk menunggu Raihan. Lelaki itu akhirnya kembali. Semuanya sedikit terkejut karena Raihan kembali terlalu cepat. Tapi mereka menganggap kalau Raihan pasti memilih tempat yang dekat agar lebih cepat.
"Bro, kau sudah kembali. Sekarang ayo masuk!" Hafis menyapanya dengan lembut. Tapi Raihan hanya diam saja. Pandangannya terlihat tanpa ekspresi dan ia selalu menunduk.
"Eh? Rai sudah kembali? Sekarang ayo jalan!" Radith kembali menyalakan mobilnya. Lalu Hafis meminta Raihan untuk masuk duluan. Karena sebelumnya dia kan duduk di tengah.
Setelah Raihan masuk, disusul lah dengan Hafis. Setelah kedua lelaki itu kembali memasuki mobil, Hafis pun kembali menutup pintu mobilnya. Dan Radith pun kembali menjalankan mobilnya. Sampai akhirnya mereka semua memasuki wilayah yang kebanyakan orang bilang berbahaya.
Yaitu jalan dari KM 90 sampai KM 100.
Radith mengetahui kalau banyak kecelakaan yang terjadi di KM tersebut. Maka dari itu, ia sedikit memelankan laju mobilnya. Ia mementingkan keselamatan. Yang penting bisa sampai di tujuan.
"Kok perasaanku benar-benar tidak enak ya saat ini?" Itu kata batin Nana yang mulai mencemaskan keadaan sekitarnya. Kemudian, matanya diam-diam melirik ke teman di sampingnya. Si Raihan yang sedari tadi di saja. Tidak seperti sebelumnya.
Tatapannya membuat Nana jadi merinding. Ia jadi tidak ingin melihat Raihan lagi. Ia pun memalingkan wajahnya ke arah jendela saja. Tapi saat ia melirik ke jendela, Nana melihat ada seseorang yang berdiri di pinggir jalan.
Karena Radith menjalankan mobilnya dengan perlahan, membuat Nana jadi bisa melihat jelas orang yang sedang berdiri tersebut. Ia pun terkejut. Karena sosoknya berjubah putih dengan rambut panjang yang sedang berdiri di pinggir jalan.
Karena takut, dengan cepat Nana tidak ingin menatap keluar jendela lagi. Ia hanya menutup kedua matanya dengan tangan saja.
Namun saat ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu, ia terlihat terkejut. Karena... yang meneleponnya itu adalah si Raihan. Sedangkan, Raihan sendiri tidak memegang apapun di tangannya.
Lalu secara perlahan dan dengan berani, Hafis mencoba untuk menjawab telepon dari Raihan itu. "Ha–ha–halo?" Nada bicaranya terdengar kaku dan tangannya gemetar ketakutan.
[ Woy, Lu pada jahat banget dah! Kenapa aku ditinggalin?! Pada gak ada akhlak banget! ] Itu nada bicaranya Raihan. Dia mengoceh di dalam telepon itu.
"Eh? Kamu bukannya sudah masuk mobil, ya?"
[ Masuk ke mana, sih?! Ah elah! Aku ditinggalin. Sumpah deh! Balik lagi sini lu pada! ]
"Tunggu! Kalau Raihan ada di tempat tadi... lalu siapa yang ada di sampingku saat ini?"
Secara perlahan, Hafis memberanikan diri untuk menoleh ke sampingnya. Ia melihat sosok yang menyerupai Raihan itu masih duduk tenang di sampingnya.
Tapi setelah Hafis menengok, tak lama kemudian tiba-tiba saja sosok Raihan itu juga ikut menengok dan menatapnya dengan mata merah menyala. Wajah pucat dan penuh darah. Kepalanya sedikit retak dan bagian organ dalamnya sedikit terlihat.
Melihat sosok yang menakutkan itu tepat di depannya, Hafis pun berteriak ketakutan. Lalu tak lama kemudian, tiba-tiba saja tubuhnya melemah dan langsung pingsan di tempat. Kepalanya menyandar di jendela.
Mendengar teriakan Hafis tadi, seketika semuanya pun ikut terkejut. Nana kembali membuka matanya dan Alisya menengok ke belakang untuk memeriksa. Sedangkan Radith masih fokus dengan jalannya. Tapi sesekali ia juga melirik ke belakang.
"Ha–Hafis!!" Alisya juga ikut berteriak setelah melihat Hafis dalam keadaan tak sadarkan diri di kursi belakang.
Nana juga menoleh ke arah Hafis. Ia sedikit terkejut karena Raihan yang sebelumnya itu telah menghilang. Kursi di tengah jadi kosong. "Eh! Raihan ke mana sekarang?!"
"Apa?! Bukannya tadi dia ada di belakang bersama kalian, ya?" tegas Radith. "Dan itu si Hafis kenapa bisa pingsan?!"
"A–aku tidak tahu!" Alisya jadi ikut takut. Kemudian ia menunjuk ke arah Nana yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. "Nana! Kau kan bersama mereka berdua dari tadi! Itu Raihan ke mana dan Hafis kenapa bisa kek begitu?"
"Ja–jangan tanya aku!" Nana berteriak. "Aku tidak tahu apa-apa, beneran!"
__ADS_1
"Kita harus bagaimana?! Raihan tidak ada, Radith! Dia menghilang!"
"Cih!" Ia yang akan bicara dengan Nana sekarang. Dengan tangan yang masih memegang kemudi, Raihan menoleh ke belakang. Ia sendiri yang akan bicara lembut dengan Nana yang merupakan salah satunya saksi di bangku belakang.
"Nana, kamu ini kenapa? Apa kau tahu sesuatu tentang hal ini?!"
"Ah, sungguh aku tidak tahu. Tapi kalau menurutku... sepertinya kita digganggu oleh makhluk penunggu jalan ini, deh!" jawab Nana pelan. Ia sedikit menunduk, lalu kembali mendongak dengan cepat dan memasang wajah kesal.
"Kan sudah aku bilang dari tadi! Kita harus mengikuti aturan yang ada di dalam internet. Kita tidak meminta izin untuk masuk ke dalam jalan ini." Nana membentak. "Kalian juga tidak pernah mempercayai aku! Sekarang kita semua kena masalahnya!"
"Eh, kalau begitu apa yang harus kita lakukan?"
"Hmm... sebaiknya sebelum terlambat, kita harus–Eh! Hati-hati di depan itu!!" Nana tiba-tiba berteriak dan menunjuk ke depan.
Dengan cepat, Radith pun kembali menoleh ke jalan di depannya dan mengendalikan kemudi. Jalan di depannya ia melihat ada kaki berbulu yang terlihat amat besar dan hitam. Dengan cepat, Radith pun menginjak rem mobilnya untuk berhenti. Tapi karena tidak sempat, akhirnya mobil mereka menabrak kaki besar tersebut.
Semuanya jadi ketakutan karena sosok yang super besar itu tidak bisa terlihat kepala bahkan badannya dari dalam mobil. Intinya benar-benar besar. Monster berbulu yang menyeramkan.
Pada awalnya, monster itu ingin menginjak mobil yang menabrak kakinya. Tapi sebelum itu, Nana sempat bergerak maju ke kursi depan. Dengan tangan kanannya, ia langsung menekan klakson mobil sebanyak tiga kali. Ia akan mengikuti syarat masuk jalan angker yang sebelumnya pernah ia lihat di internet.
Dan pada akhirnya... karena monster raksasa itu ketakutan dengan suara klakson mobil, monster itu pun berjalan masuk ke dalam hutan dan menghilang.
Semuanya menghembuskan napas lega karena bahaya di depan mereka telah menghilang. Sekarang kembali ke suasana yang sepi dan gelap.
Mereka berempat akan melanjutkan perjalanan. Tapi sebelum Radith kembali menjalankan mobilnya, mereka sempat mendengar suara mobil polisi yang datang menghampiri.
Mobil polisi tersebut menepi di depan mobil Radith. Kemudian dari dalam mobil polisi itu keluar salah satu dari kelompok remaja dalam mobil. Yaitu Raihan.
Tentu semuanya sangat senang. Mereka dapat bertemu kembali dengan temannya dalam keadaan baik-baik saja.
Saat Raihan menceritakan, ternyata dia sempat menelpon bantuan dari pos polisi yang sebelumnya berjaga di depan jalan. Untungnya para polisi masih ada yang berjaga. Para remaja itu pun tertolong dan mereka diantar pak polisi sampai depan jalan tol dengan selamat.
Nah, begitulah kejadiannya dan akibat jika mereka tidak mendengarkan temannya satu sama lain.
Kalau menurutku... sifat si Nana ini hanya ingin menasihati. Bukan berarti dia anak yang sok tahu. Dan jika kalian melihat ada aturan dari suatu daerah, tolong ditaatilah.
Jika ada peringatan yang melarang kita melakukan suatu hal, tentu akan membuat kita jadi penasaran. Sebenarnya apa yang akan terjadi jika kita melanggarnya? Seperti itulah jenis penasaran kita.
Dilanggar boleh saja, hehe... tapi tanggung sendiri resikonya. Seperti yang dialami oleh kelima remaja tadi. Menurutku, mereka itu anak-anak yang beruntung. Karena mereka terbebas dari bahaya.
Haduh... aku capek bacain ini... tapi sekarang semuanya sudah berakhir, hehe....
Rei: "Aku matiin kameranya sekarang, ya? Kalian semua, Dennis harus istirahat sekarang."
Ah, aku baik-baik saja Kak Rei! Besok juga hari Minggu. Hehe... aku bisa tidur dengan puas. Dan ngomong-ngomong... sekarang sudah jam berapa, ya?
Rei: "Entahlah. Tapi untuk kalian semua, terimakasih sudah mengikuti beberapa cerita horor kami ini, ya?"
Iya. Makasih banyak. Sampai jumpa!
Salam dari keluarga Chika... walau Chika nya sudah tidak ada, jadi gak papa lah....
Selamat menunaikan ibadah puasa, untuk yang menjalankan^^ Semoga lancar dan tidak ada yang bolong tahun ini, ya?
Jaga kesehatan kalian semua, dan ini pertemuan terakhir kita! Dadah~
*
*
*
Extra 3~ End
__ADS_1