Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 22~ Kejadian Mengerikan (Resolusi End)


__ADS_3

"Ah! Kakak. Ya, yang sabar." Ujar Nashira lirih pada Akihiro.


Tapi, Akihiro hanya diam saja sambil terus menatapi mayat Lisa itu dengan raut muka yang tak percaya.


Selama ini, Lisa sudah mulai cukup dekat dengan Akihiro. Tapi, kenapa harus berakhir seperti ini?


"Kenapa harus seperti ini!" teriak Akihiro kesal. "Kenapa hanya aku saja yang diperlihatkan adegan seperti ini dari tadi?! Kenapa hanya aku yang kehilangan teman-teman ku?! Kenapa hanya aku?! Kenapa? Kenapa? Kenapaaaaaa!? UWAAAA!"


Akihiro membenturkan kepalanya ke dinding berkali-kali. Sampai akhirnya, Rashino pun mulai bertindak. Ia menarik Akihiro agar menjauh dari tembok itu. Setelah itu, Rashino pun menenangkan Akihiro.


Semuanya pun tahu, kalau kehilangan teman kesayangan itu memang berat. Apalagi, kalau ditinggalkan untuk selamanya. Dan yang lebih parah lagi, kematian sang teman itu terlihat langsung di mata kita. Rasanya sakit sekali!


****


"Risa, kenapa kau melakukan hal itu padaku?" Chika memelototkan matanya pada Bu Risa.


Bu Risa hanya terdiam. Ia merasa ketakutan. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya dan dirinya pun selalu merinding. "Tidak! Aku tidak membunuhmu!" Bu Risa berteriak ketakutan.


Yuni terkejut. Ia merasakan aura yang sangat mencekam di dekatnya. Hantu Chika itu mulai mengeluarkan asap hitamnya. Seluruh asap itu mengerumuni Chika. Lalu tak lama kemudian, asap itu pun menghilang. Semuanya terkejut saat melihat sosok perubahan Chika.


Sosok Chika itu jadi lebih menyeramkan. Wajahnya mirip seperti yang ada di Video yang Dennis tonton di ponselnya. Chika memiringkan kepalanya dan tersenyum kepada Bu Risa.


Lalu, Chika pun menanyakan hal yang sama lagi pada Bu Risa. "Kenapa kamu membunuhku?"


Mata Bu Risa mengeluarkan air mata. Ia pun menjawab. "Maafkan aku! Aku tak sengaja berbuat seperti itu. Aku hanya ingin menjadi temanmu saja! Pisau itu hanyalah untuk main-main saja."


"Main-main, ya? Jadi, kau mau menjadi temanku? Kenapa tidak bilang dari tadi?" Chika melayang ke udara. Lalu, ia pun tertawa seperti kuntilanak yang senang. Lalu, matanya kembali melirik ke Bu Risa. "Kalau kamu mau jadi temanku, tidak apa! Kita berteman sekarang! Kau akan menjadi temanku!"


Dennis dan yang lainnya terkejut. Arti dari ajakan Chika kepada Bu Risa untuk menjadi temannya itu adalah..., berarti Bu Risa akan....


"Tidak jadi! Aku tidak mau jadi temanmu lagi!" Bu Risa berlari ketakutan.


"Bu Risa!" Semuanya meneriaki beliau.

__ADS_1


Bu Risa berlari ke arah tangga menuju ke bawah. Tapi sayangnya, tangga itu sudah tidak ada. Bu Risa tidak bisa ke mana-mana.


Chika melayang ke arah Bu Risa. Lalu, ia pun menarik kaki Bu Risa. Wanita itu terjatuh. Kepalanya membentur pinggiran tangga. Setelah itu, Chika pun menarik Bu Risa dengan paksa dan menggesekkan tubuhnya di lantai kayu gedung itu. Akibat gesekkan itu, tubuh Bu Risa pun penuh dengan luka gores. Lantai kayu di sana mulai muncul tetesan darah.


Semuanya tidak tega melihat kejadian itu. Tapi, apa boleh buat, mereka tidak bisa membantu. Dennis terus menutup mata adiknya agar Adel tidak melihat kejadian mengerikan itu.


"AAAAAAKH! HENTIKAN! HENTIKAN! AAAA...." Bu Risa berteriak kesakitan. Chika memainkan tubuhnya seperti sedang bermain gerobak tarik saja. Lalu, setelah itu, Chika pun melempar tubuh Bu Risa ke luar jendela.


BUK!


Semuanya menghampiri jendela itu. Rei dan Dennis mengeluarkan kepala mereka dari jendela, lalu melirik ke bawah. Di bawah sana, ada Bu Risa yang sudah meninggal. Darah bercipraan ke mana-mana. Dan, posisi kematiannya seperti Chika yang Dennis lihat dalam bayangannya. Sepertinya, leher Bu Risa juga patah.


Dennis dan Rei sudah tidak kuat melihatnya. Lalu mereka pun kembali ke dalam. Di pertengahan ruangan itu, berdiri sosok Chika di sana. Sosoknya sudah kembali seperti semula. Yaitu sosok Chika yang cantik seperti saat dia masih hidup dulu.


"Pembunuhmu sudah kami temukan. Sekarang, pulanglah dan hilangkan kutukan di sekolah kami." Ujar Yuni pada Chika.


Chika pun menengok ke arah Yuni. Ia mengangguk dan tersenyum.


****


Akihiro sempat melihat bayangan itu lewat. Lalu, karena penasaran, Akihiro dan si kembar pergi mengejar bayangan itu.


Bayangan itu menuju ke gedung menara tua. Bayangan itu mendekati Chika yang ada di sana. Lalu, memasuki tubuh Chika. Lalu setelah itu, Chika pun melayang perlahan ke atas. "Terima kasih untuk bantuan kalian. Aku telah mendapatkan banyak teman. Dan sekarang, aku akan pergi dan tidak akan kembali lagi. Selamat tinggal!"


WUSSHH....


Seketika, Chika lenyap menjadi kumpulan asap yang perlahan menghilang. Semuanya menghembuskan nafas lega.


"Akhirnya...," Rei bergumam.


"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" tanya Mizuki.


"Membantu yang lainnya untuk membangkitkan kembali sekolah kita yang telah hancur!" jawab Rei.

__ADS_1


Setelah itu, tak lama kemudian, terdengar suara petir yang menggelegar. Lalu, seketika, turun hujan yang sangat lebat di luar sana. Semuanya senang sekali hujan turun. Mereka berharap, hujan bisa memadamkan api yang membakar sekolah mereka.


"Aku ingin merasakan hujan!" Mizuki berbalik badan lalu berlari ke arah tangga. Yang lainnya juga mengikuti Mizuki. Eh, tapi seketika langkah mereka terhenti. Karena tangga itu hilang, bagaimana mereka bisa turun?


TAP! TAP! TAP....


"HEI! KALIAAN!" teriak Akihiro. Itu dia! Akihiro datang dari depan pintu. Mereka bisa turun dengan bantuan Akihiro.


"Dian! Tangkap kami semua, ya?" teriak Rei.


"Baiklah!" Akihiro mengangguk. Lalu, ia pun menurunkan Nashira. Rashino akan menjaga Nashira. Lalu, Akihiro pun berjalan ke dekat tangga yang masih tersisah sedikit itu. Ia menaiki dua anak tangga, lalu mengulurkan kedua tangannya.


"Ayo! Aku tangkap."


"Baiklah, ayo semuanya!"


"Eh?! Tapi tidak semuanya..., uwaaaa!"


GUBRAK!


Semuanya malah melompat bersamaan ke arah Akihiro. Pada akhirnya, Akihiro tidak bisa menangkap mereka semua. Ia hanya berhasil menangkap Dennis. Tapi, pada ujungnya, semuanya pun terjatuh ke bawah dan meniban tubuh Akihiro.


"Aduh, sudah kubilang jangan semua! Sakiitt!" Akihiro mengusap-usap kepalanya. Mereka semua tertawa kecuali Rei dan Yuni. Lalu setelah itu, mereka semua kembali berdiri dan berjalan ke pintu depan. Mereka akan meninggalkan bangunan menara itu.


Di depan, sedang turun hujan deras. Mereka berlari ke tengah lapangan untuk melihat keadaan sekolah mereka.


"Fiuh! Untunglah...,"


Dennis dan teman-temannya menghembuskan nafas lega. Api yang membakar sekolah mereka itu telah padam dan masih banyak murid lain yang selamat dari kejadian hari ini. Sekarang, semua murid dan warga sekolah lainnya sedang berkumpul di tengah lapangan.


Masalah soal Chika sudah mereka atasi. Mulai sekarang, Chika sudah kembali ke tempat ia berada. Tenang dan tidak akan mengganggu lagi. Tapi, tetap saja, Dennis masih merasakan sesuatu yang tidak enak mengganggu pikirannya.


****

__ADS_1


To be continued- Eps 23 >>>>


__ADS_2