Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 27– Dennis VS Rina


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Eh... Kakaknya... Cahya?"


Gadis yang datang itu langsung terkejut setelah mendengar Dennis bergumam. Lalu dengan cepat, ia menutup pintu gubuk dengan rapat dang menguncinya dari dalam. Setelah itu, secara perlahan Rina menoleh ke belakang. Menatap Dennis sekilas, lalu kembali menatap pintu yang ada di depannya.


"Ja–jadi... ternak malam ini adalah... Dennis?!" Ia bergumam dalam hatinya. "Dia benar-benar Dennis bukan, sih?"


Untuk memastikan, Rina kembali menoleh ke belakang. Dennis menatapnya dengan bingung. Rina tersenyum kepada Dennis, lalu dengan cepat ia kembali membalikan kepalanya. Membenturkan kepalanya itu beberapa kali.


Ia tertawa sendiri, lalu kembali bergumam, "A–aku tidak percaya kalau si manis Dennis yang tertangkap! Ini berita bagus, kan? Haha... malam ini aku bisa bersenang-senang dengannya jika dia mau."


"Ah, kau kakaknya Cahya itu, kan?" Dennis memanggilnya. Seketika Rina pun tersentak, lalu berbalik badan dengan cepat. Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga sambil memberitahu namanya. "Sebenarnya namaku Rina."


"Oh jadi kau Rina, ya?" Dennis mengangguk pelan. Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Jadi hanya bisa mengangkat kepala saja untuk berbicara pada Rina yang berdiri di depan kakinya itu. "Rina. Bisakah kau melepaskan aku dari sini? Aku mohon!"


"Eh?" Rina terkejut mendengarnya. Lalu dengan ragu ia menggeleng dan menjawab, "Aku tidak diperintahkan untuk melepaskanmu. Karena kamu adalah makanan untuk kami."


"Eh? Makanan?! Kami?" Dennis terkejut mendengarnya.


Rina mengangguk. "I–iya. Aku tidak bisa memberitahu banyak. Tapi tujuanku ke sini untuk... memotong jari tengahmu. Karena ada orang lain yang menyuruhku untuk melakukannya."


"Ja–jari tengah?!" Dennis jadi merasa ketakutan. Ia memberontak untuk melepaskan diri. Dennis tidak ingin jarinya dipotong seperti korban yang lainnya. Ia tidak mau. Ia masih menyayangi anggota tubuhnya. Dennis tidak ingin kehilangan salah satunya.


Rina berjalan mendekati Dennis. Ia mengambil satu golok yang diletakan dia atas papan yang tertempel di dinding kayu, lalu menggenggam erat pergelangan tangan kiri Dennis. "Maaf, Dennis. Aku menginginkanmu. Jari-jari manusia itu sangat berharga. Karena dari darah yang keluar, terdapat rasa yang sangat nikmat. Dari kami menghisap darah di jari manusia, kami dapat mengetahui seberapa enaknya daging mereka."


"Tu–tunggu, Rina! Itu berarti... kau itu adalah kanibal!" Dennis berteriak membentak Rina. Tangan kanannya masih terus berusaha untuk melepaskan diri, sampai akhirnya Dennis berhasil melonggarkan tali ikatan yang melilit tubuhnya.


"Iyaaaa! Karena daging manusia itu enak sekali!" Rina berteriak membalas bentakan Dennis. Kepalanya mendekat ke wajah Dennis, lalu menjilati pipi Dennis. Tangan kirinya melepaskan tangan Dennis, lalu menyentuh tengkuk Dennis. Mengangkatnya dengan paksa, lalu berbisik, "Tapi sebelum aku memulainya, aku ingin kau bermain denganku dulu."


"Eh, tu– Ngh...."


Rina mengecup dan memainkannya dengan lembut. Dennis langsung memanas. Ia semakin memberontak untuk melepaskan wajahnya dari Rina. Tapi tidak mudah.


Tak lama, Rina kembali mengangkat wajahnya, lalu menjilat bibir bawahnya yang habis digigit Dennis. "Manis~ Tapi... masih kurang."

__ADS_1


Rina kembali mendekatkan wajahnya lalu melakukannya lagi karena ia merasa belum puas. Dennis terkejut. Ia berusaha untuk menolak, tapi Rina selalu memaksa. Dengan tubuhnya yang masih belum bisa digerakkan, Dennis tidak bisa berbuat apa-apa selama Rina memainkan bibirnya.


"Ya ampun! Kumohon hentikan ini. Aku tidak tahan. Aku sudah pernah mengalaminya. Kenapa hal ini selalu diambil oleh wanita yang tidak benar?!" batin Dennis. Ia benar-benar tidak menikmati apa yang telah Rina lakukan terhadapnya. Karena merasa sudah muak dan kesal, Dennis pun menggerakkan rahangnya dan menggigit lidah Rina. Seketika Rina pun langsung mengangkat kepalanya.


"Dennis! Kau tega sekali. Sakit tau." Rina mengeluarkan lidahnya, lalu menyentuhnya dengan lembut agar tidak sakit lagi.


"Kau bodoh, Rina! Berhenti melakukan itu padaku!" Dennis membentak kesal.


Rina tersenyum, lalu menyipitkan matanya, "Padahal lagi enak. Baiklah kalau kau tidak mau tidak apa. Aku langsung mulai saja dengan tugasku." Rina kembali memungut golok yang ia jatuhkan tadi, lalu menggenggam tangan kiri Dennis.


"Eh, Rina! Tu–tunggu! Apa yang kau lakukan?!"


"Aku mau memotong jarimu, hehe..." Rina tertawa. Lalu ia mengangkat tangan yang memegang golok. "Maaf, Dennis. Aku tidak punya pilihan lain."


"Maaf, ya?" Rina tersenyum. Ternyata Rina benar-benar berniat untuk menjatuhkan mata pisau golok itu tepat di atas jari Dennis. Tapi sebelum golok itu menyentuh jari Dennis, tiba-tiba saja tangan Dennis yang satunya lagi berhasil menahan pergerakan tangan Rina.


Rina tidak percaya Dennis bisa terlepas dari ikatannya. Benar-benar terlepas. Rina menjatuhkan goloknya, dan sebelum jatuh ke tanah, mata pisaunya sempat menggores kulit jari tangan Dennis. Dennis hanya mendesis, merasa sedikit perih.


Lalu setelah itu, dengan tangan kirinya yang sudah terbebas, Dennis langsung memukul wajah Rina sampai ia terjatuh. Rina terduduk di tanah sambil memegang hidungnya yang sedikit mengeluarkan darah.


Setelah Rina jatuh, Dennis langsung bangun, menyingkirkan tali dari atas tubuhnya, lalu turun dari atas meja. Ia berhasil melarikan diri keluar dari gubuk sebelum Rina bangun.


"De–Dennis! Berhenti kau!" Rina berteriak pada Dennis yang sudah berlari meninggalkan dirinya. Karena tidak ingin kalah dari seorang laki-laki yang umurnya lebih muda darinya, Rina akan mengejar Dennis dan menangkapnya lagi.


Dennis terkejut saat ada Peluru Bius yang berbentuk seperti Dart tiba-tiba saja melesat melewati selangkanya. Dennis memungut Dart itu, lalu menoleh ke belakang. "Ah, tidak. Dia ternyata membawa senjata. Aku tidak boleh sampai kena peluru seperti ini."


"Tapi... aku juga tidak boleh lari. Aku tidak bisa membawa sifat asli Rina yang seperti itu ke depan Villa."


Dennis berbalik badan. Ia akan menghadapi Rina di depan gubuk dengan lingkungan yang sedikit luas. Dennis juga akan membuat Rina tidak berdaya dengan menusuknya menggunakan Dart yang Dennis pegang di tangannya. "Pokoknya, aku harus singkirkan wanita ini terlebih dahulu. Dia berbahaya. Aku tidak boleh sampai terkena pelurunya. Bagaimanapun caranya aku harus bisa menusuknya dengan peluru yang meleset tadi."


"Nah, Dennis sayang~ Berhenti di sana, ya? Jangan bergerak. Kau ternak yang lepas, seharusnya ku tangkap dan ku masukan kembali ke dalam kandang." Rina menghentikan langkahnya. Ia sudah menyiapkan senjatanya dan langsung membibik tepat ke dada Dennis yang berdiri tak jauh dari tempatnya.


"Siapa yang kau panggil ternak? Memangnya aku binatang, apa?" Dennis membalas dengan menggerutu kesal. Dibalik badannya, ia sudah siap dengan peluru Dart yang ia pegang.


"Setelah tembakan yang ini meleset, Rina pastinya akan mengisi pelurunya kembali. Membutuhkan waktu banyak untuk ia mengambil peluru, lalu memasukannya lagi ke dalam senjatanya. Kesempatan itu akan aku gunakan untuk menyerangnya."


"Tapi untuk saat ini... aku tidak boleh sampai kena tembakannya." Dennis berdiam diri di tempatnya. Tapi ia tetap bersiap, jika peluru itu diluncurkan maka Dennis akan segera menghindar. Untung matanya masih tajam.


"Nah, gitu dong~ Ternak yang manis... diam, ya?" Rina terlihat senang. Ia kembali membibik ke arah Dennis, lalu menekan pelatuknya dan seketika peluru di dalamnya langsung melesat dengan cepat. Dennis bisa melihat pergerakannya.


Karena Rina mengincar dada Dennis, maka untuk menghindar Dennis hanya harus mengesampingkan tubuhnya saja. Ternyata berhasil. Rina terkejut saat pelurunya tidak berhasil mengenai Dennis. Lalu dengan cepat, Rina kembali mengambil peluru lainnya yang ia letakan di dalam kantung. Ternyata tinggal 2 peluru lagi yang tersisah.

__ADS_1


"Ini kesempatanku!" Dennis tidak akan membuang banyak waktunya lagi. Ia berlari mendekati Rina dengan tangan kanan yang masih ia sembunyikan di belakang tubuhnya. "Ingat, Dennis! Pertama, jatuhkan tubuh lawanmu, lalu tusuk dia di bagian anggota tubuh yang fatal. Seperti lehernya!"


"Si–sial! Ber–berhenti, kau Dennis! Jangan dekati aku!" Rina jadi panik sendiri karena ia tidak sempat mengisi ulang senjatanya. Sementara Dennis sudah melompat ke arahnya, lalu mengayunkan kakinya. Dan langsung menendang kepala Rina sampai terjatuh!


"Jatuhkan lawanmu dengan menyerang bagian tubuh yang penting. Lalu usahakan untuk tidak membuatnya terbangun lagi."


Dennis ingat jelas dengan buku yang pernah ia baca untuk menyerang orang asing yang berani macam-macam dengannya. Dengan mempelajari bela diri, Dennis jadi tahu caranya untuk menyerang orang.


Setelah Rina terjatuh, Dennis langsung menindih tubuh lawannya itu tepat di perut. "Ini saatnya." Dennis mengeluarkan Dart yang ia pegang sedari tadi, lalu dengan cepat ia langsung mengayunkan Dart itu untuk menusuk leher Rina.


Tapi dengan tangan kanan, Rina masih sempat menahan tangan Dennis. Ia memberontak, tapi Dennis tetap menahan tubuh gadis itu dengan kedua kakinya. Tangan kirinya menggenggam dan menahan tangan kanannya Rina. Lalu tangan kanannya itu yang akan menusuk Rina dengan Peluru Bius agar bisa melumpuhkan lawannya dengan seketika.


"Berhenti, Dennis! Apa kau mau membunuhku?!" Rina berteriak ketakutan. Dennis memasang wajah menyeramkan. Poninya menutupi setengah wajahnya, dan menatap sinis pada Rina yang ada di hadapannya. "Aku tidak akan membunuhmu. Tapi untuk kali ini, aku akan membuatmu tidak bisa mengejar diriku lagi."


Dennis kembali mendorong tangannya dengan kuat agar ia bisa langsung menusuk Rina. Tapi ternyata Rina masih belum menyerah. Walau tenaganya tidak kuat untuk menahan Dennis, tapi Rina tetap akan mencegah Dennis untuk menusuknya dengan peluru itu.


"Hentikan, itu Dennis!"


"Tidak akan! Jika dibiarkan, bukan hanya aku saja, tapi kau juga akan membunuh teman-temanku nanti!"


"Jadi sekarang... tidurlah kau!" Dennis mendorongnya lagi lebih kuat. Rina tidak bisa menahan tangan Dennis lebih lama. Sampai akhirnya ia pun menyerah dan menjatuhkan tangannya ke samping tubuhnya. Dennis berhasil menusuk leher Rina dengan Dart yang akan membuatnya tertidur. Tapi ternyata....


***!


Rina juga berhasil menusuk Dennis tepat di betisnya. Dennis terkejut. Lalu dengan cepat, ia langsung mencabut Dart yang menancap di kakinya, lalu menjauh dari Rina.


Ternyata saat Rina menjatuhkan tangannya, secara diam-diam ia merogoh saku celananya dan mengambil satu Dart lainnya yang masih tersisah. "Aku... tidak akan membiarkan... kau... pergi dengan mudah... sayang...."


Rina sudah tidak bergerak. Tapi Dennis masih bisa menahannya karena obat bius yang masuk ke dalam tubuhnya hanya sekejap saja karena setelah Dart itu menancap di kakinya, Dennis langsung mencabutnya dengan cepat.


Ia hanya merasa pusing sedikit saja. Tapi untuk beberapa menit saja setelah Dennis terdiam, ia berhasil memulihkan kembali tubuhnya dan pandangannya yang mulai rabun. Dennis berhasil terjaga. Ia menggeleng pelan, lalu kembali mendongak. Melirik ke arah Rina yang sudah tidur.


Dennis kembali berdiri, lalu berjalan menghampiri Rina. "Aku... tidak akan membunuhmu. Tapi aku akan membuatmu supaya tidak bisa bangun lagi."


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2