
Judul seri 4 baru: "Seven Days"
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :) Jangan lupa like+komentar kalian tentang novel ini, ya? Karena author juga masih butuh kritik dari kalian^^ Mohon maaf juga jika ceritanya kurang jelas :)
*
*
*
Episode sebelumnya–
Dennis dan teman-temannya sampai di sekolah karena dipanggil oleh Bu Mia. Saat membuka gerbang, mereka melihat ada beberapa wajah baru di sekolahnya. Beautiful Death High School telah kedatangan banyak murid baru sepertinya. Sekolah kembali terisi dengan murid-murid yang ceria. Sekolah yang aman dan sehat kembali berjalan seperti semula. Tidak ada bahaya yang mengancam lagi, dan rumor-rumor keangkeran tentang sekolah itu sudah tidak ada. Dennis berharap, ia bisa mendapat teman baru dari para murid baru yang datang ke sekolahnya....
****
Pukul 10–
Dennis dan teman-temannya sudah berkumpul di kelas 3-C. Semuanya sudah datang. Mereka saling menyapa dan mengobrol bersama. Sesekali, mereka juga bercanda dan... ada pula yang dengan baik hatinya mereka mau memberikan bunga untuk teman-teman mereka yang sudah meninggal.
Foto-foto semua murid kelas 3-C yang sudah tiada, dipajang di depan kelas di atas meja. Ditata rapih foto itu. Dihiasi bunga Bakung yang diletakan di dalam vas berisi air yang diletakan di atas meja dan di setiap sisi diberikan lilin. Begitu juga dengan kelas-kelas yang lain. Semuanya telah mengikhlaskan kepergian teman-teman mereka. Mereka harap, arwah mereka yang sudah meninggal bisa tenang di alam lain. Karena setelah sekolah diperiksa polisi, mereka menemukan beberapa mayat murid kelas yang meninggal yang dikubur secara asal. Maka dari itu, semua mayat tersebut dipindahkan ke pemakaman umum dan mendapatkan tempat yang lebih layak.
Tapi di mata Yuni, ia melihat semua anak yang terpajang di foto kematian itu muncul di tempat duduknya masing-masing. Mereka terdiam dengan wajah pucat. Duduk tenang di kursinya, sambil menatap bunga-bunga yang menghiasi meja duduk mereka.
Ada juga yang iseng memainkan bunga-bunga yang ada di meja. Mereka menggoyangkan, lalu menjatuhkannya ke lantai. Yang menyadari bunga itu terjatuh hanya Dennis saja. Ia mengembalikan bunga itu ke atas meja, lalu kembali ke tempat duduknya.
Tak lama setelah itu, Bu Mia pun datang ke kelas 3-C. Beliau berdiri di depan kelas setelah ia menaruh tasnya di atas meja guru.
"Selamat pagi, anak-anak!" sapanya dengan lembut. Semuanya menyahut. "Pagi!"
"Ibu!" Ethan mengacungkan tangan. "Kenapa kita dikumpulkan di sini?" tanyanya.
Ibu Mia tersenyum, lalu menjawab, "Ibu ada kabar baik untuk kalian."
Ia melebarkan matanya. Sambil mengisi spidol dengan tintanya, Bu Mia akan menjelaskan sesuatu. "Apa kalian tahu? Sekolah kita ini sudah berkembang semakin baik semenjak semua orang tahu kalau sekolah kita ini adalah sekolah yang memiliki murid terbanyak yang selamat dalam Ujian kematian."
"Oh, benarkah, Bu?" Semua bertanya serontak.
"Iya! Sekarang sekolah kita sudah terjamin keselamatannya. Lingkungan jadi lebih rapih dan indah. Gedung dan fasilitasnya juga baru. Kamar-kamar yang semakin banyak di gedung 1. Dan... di Map online, sekolah kita sudah masuk, loh!"
Semuanya ikut senang mendengarnya. Mereka suka dengan model baru di sekolah mereka. Tidak lagi kotor dan terlihat menyeramkan. Lebih rapih dan indah dengan banyaknya taman di lingkungan sekolah. Banyak guru, dan warga sekolah lainnya yang bekerja untuk menjaga sekolah ini tetap aman. Pastinya akan sangat menyenangkan bagi murid baru yang mendaftar di sekolah itu.
"Ah, Ibu! Apakah anak-anak yang ada di luar itu adalah murid baru di sini?" tanya Akihiro.
__ADS_1
Bu Mia mengangguk. "Iya. Ini sebuah keajaiban. Banyak yang sudah mendaftar di sekolah ini. Kita akan mendapat lebih banyak teman baru!"
"Yeay!!"
"Pasti akan menyenangkan, ya?"
"Seruuu... sekaliii!"
Semuanya bersorak senang. Seketika kelas 3-C menjadi berisik dan mengundang perhatian pada anak-anak luar yang sedang berkeliling sekolah. Beberapa murid perempuan yang tidak dikenal, mengintip lewat jendela di samping Rei. Karena merasa terganggu, Rei pun menutup gorden jendelanya karena ia pikir, para perempuan itu akan berisik dan mengganggu. Rei menduga seperti itu setelah ia mendengar bisikan dari anak perempuan di luar jendelanya. Lagi-lagi bisikan pujian lagi untuk Rei tentang tampang wajahnya yang dibilang cowok cool.
"Sekarang ini anak-anak baru itu sedang diajak guru lain untuk berkeliling sekolah agar mereka bisa terbiasa dengan lingkungannya sebelum mereka mulai belajar di sini." Lanjut Bu Mia. Semuanya mengangguk paham.
"Ibu! Sekarang kita mau ngapain?" tanya Arya.
"Nah! Ini yang ingin ibu beritahu," Setelah selesai dengan spidolnya yang sudah terisi dengan tinta dan dapat digunakan kembali, Bu Mia pun menulis di papan tulis. Dia menulis, "Study Tour".
"Seperti yang Ibu tulis di sini, sekarang sekolah ini akan mengadakan Study Tour untuk kalian. Semuanya pasti senang, kan?"
"Eh? Ini beneran, Bu?"
"Kereeen! Kita akan pergi jalan-jalan!"
"Yang jauh dong, Bu! Ya? Ya?"
Semuanya terlihat senang sekali mendengar acara Study Tour untuk mereka itu. Bu Mia tertawa kecil, lalu beliau meminta semuanya untuk diam dulu. Setelah kelas menjadi sunyi kembali, Bu Mia akan menjelaskan lagi.
"Kemana, Bu? Ke mana?" Semuanya yang merasa penasaran sekaligus senang itu pun bertanya dengan nada cepat dan tidak sabaran.
"Kita akan ke Bogor! Kita menginap si sebuah Vila kecil-kecilan selama 7 hari di sana. Cukup waktu yang banyak, kan? Dan akan menyenangkan juga. Ditambah dengan pemandangan yang indah di atas perbukitan. Udaranya yang sejuk akan menambah kenyamanan kita. Juga... di depan Villa itu ada kolam renangnya, loh!" Jelas Bu Mia.
"Apa Ibu pernah ke sana?" tanya Dennis.
"Ibu sudah lihat Villa-nya. Cukup bagus dan luas juga di bagian aula. Murah, bagus, kamar yang banyak dan tempatnya juga tidak terlalu jauh. Kita akan bersenang-senang bersama di sana."
Semuanya mengangguk. Lalu beberapa anak kembali berbicara dengan teman sebangku mereka tentang perjalanan Study Tour yang akan mereka ikuti itu. Dennis juga merasa senang. Akhirnya ia bisa jalan-jalan bersama dengan teman-teman sekelasnya. Pasti akan sangat menyenangkan! Seminggu penuh yang penuh dengan kebahagiaan.
"Hmm... baru pertama kali ini sekolah mengadakan Study Tour." Rei yang ada di samping Dennis pun bergumam. Dennis menoleh ke arahnya dan membalas gumaman Rei itu. "Eh? Apa sebelumnya tidak pernah?"
"Tidak."
"Ooh... kalau di sekolahku, saat kelulusan SMP itu, aku Study Tour ke Malaysia." Ujar Dennis. Ia hanya memberitahu, bukan bermaksud untuk pamer.
"Whooaa?! Ke Malaysia? Yang benar saja, kau, Dennis!" Akihiro terkejut mendengarnya. "Jadi kau sudah pergi ke luar negeri? Berarti naik pesawat, dong!"
"I–iya begitu. Hanya 1 hari perjalanan saja. Agak lama karena penerbangannya terhenti semenjak ada badai yang muncul di pas... Kalimantan deh. Ah, aku lupa. Tapi walaupun ada bahaya, kami bisa selamat sampai tujuan dan bersenang-senang di sana." Jelas Dennis.
__ADS_1
"Kau ternyata sudah banyak pengalamannya, ya, Dennis?" Adit tiba-tiba menegur Dennis dan bertanya.
"Iya... entahlah. Haha...."
"Nah, itu saja yang ingin Ibu sampaikan kepada kalian." Bu Mia berujar lagi. Akihiro menoleh ke arah Bu Mia. Ia berpikir sejenak, lalu bertanya, "Ibu! Kapan kami akan pergi?"
"Ah, ibu lupa memberitahu tentang itu." Bu Mia tertawa kecil. Ia akan memberitahunya. "Kita berangkat hari Senin, ya? Jadi... sekarang ini kalian boleh kembali ke rumah masing-masing. Siapkan barang bawaan kalian, ya?"
"Apa saja yang harus dibawa, Bu?"
"Akan ibu catat. Apa kalian membawa pensil dan kertas?"
Sebagian besar anak menggeleng. Mereka tidak membawa tas dan perlengkapan lainnya sama sekali. Bu Mia jadi bingung mau bagaimana caranya. Ia ingin murid-muridnya membawa barang yang akan berguna di sana. Tapi bagaimana caranya. Jika tidak dicatat, mereka tidak akan ingat, karena sangat banyak.
"Ibu. Bagaimana kalau di message saja. Beritahu kami apa saja yang harus dibawa, lewat message di ponsel." Usul Rei. Semuanya mengangguk. Begitu juga dengan Bu Mia. Beliau menepuk tangan sekali, lalu meneleng. "Kata Rei itu bagus. Baiklah, Ibu akan mengirimkannya di grup."
"Grup mana, Bu? Apa anak lainnya punya grup Kelas 3-C juga?" tanya Ethan.
"Eh, iya juga. Masa Ibu mau menghubungi kalian satu-satu? Capek, deh~"
"Saya akan membuat Grup khusus untuk Study Tour ini saja, Bu Mia!" Akihiro mengacungkan tangan. "Grup itu hanya berisi kita-kita saja."
"Wah~ Ide bagus, Dian. Kamu boleh membuatnya. Ingat, ya? Jangan ada yang tidak masuk, oke?"
"Siap, Bu! Haha..." Akihiro mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik sesuatu. Setelah ia selesai dengan ketikannya, Akihiro melirik ke semua teman sekelasnya. "Langsung saja kubuat. Nah! Siapa saja yang ingin aku masukan ke Grup?"
Semuanya menjawab. Tentu saja mereka semua ingin dimasukan ke dalam grup. Jika tidak, mereka tidak akan mendapatkan informasi tentang Study Tour itu.
****
Setelah selesai pengumumannya, Bu Mia pun pergi ke luar kelas. Beliau akan melanjutkan mengurus pendaftaran murid baru. Sementara beberapa anak yang ada di kelas 3-C, diperbolehkan pulang.
Tapi sebelum pulang, Dennis dan teman-temannya ingin kembali ke kamar mereka. Khusunya untuk Rei, Yuni dan Akihiro. Mereka ingin membawa baju mereka pulang. Untung saja mereka membawa tas yang tidak berisi apa-apa.
Setelah selesai dengan perlengkapan mereka, Dennis dan teman-temannya pun pergi keluar dari gedung 1 dan berjalan menuju tengah lapangan dan mendekati gerbang sekolah. Sudah tidak terlihat anak-anak baru lagi. Mungkin mereka sudah selesai mendaftar dan pulang.
Nah! Sekarang... saatnya Dennis dan teman-temannya kembali pulang juga ke rumahnya masing-masing!
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8