
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
Semuanya pergi. Mereka kembali ke kamarnya masing-masing. Sekarang yang tersisah di kamar Dennis hanya tinggal dirinya, Rei dan Zainal saja. Tak lama mereka-mereka pergi, Davin dan Azra pun datang. Mereka kembali ke kamar.
Dennis, Rei dan Zainal langsung memberitahu berita yang sudah mereka rencanakan itu pada temannya yang baru datang tadi. Begitu juga dengan yang lainnya. Saat sampai di kamar, mereka menjelaskan soal keluarga kanibal yang berbahaya itu.
Bagi yang tidak sekamar dengan orang yang berdiskusi di kamar Dennis tadi, mereka akan menghubungi salah satu anak di kamar tersebut dan memberitahunya juga. Sampai akhirnya, dalam sekejap, semua orang pun mengetahui berita mengerikan itu.
Ternyata semuanya ingin ikut rencana Dennis karena mereka ingin saling membantu dan sama-sama ingin menyelamatkan diri juga sebelum jatuhnya korban lagi.
Rei memberitahu pengumuman di grup Study Tour. [ Untuk kalian yang tidak ingin ikut rencana melarikan diri, diharapkan untuk keluar dari grup sekarang juga! ]
Ketikan tegas Rei langsung dibalas dengan semua orang anggota grup. Mereka semua menjawab ingin ikuti rencana Dennis mau bagaimanapun caranya. Dennis dan Rei ikut senang.
Jadi sekarang, karena semuanya sudah tahu dan ingin ikut melarikan diri bersama, maka Dennis akan mempersiapkan kedua jempolnya dan otaknya untuk menjelaskan semua rencananya itu. Ia juga harus membagi tugas untuk beberapa anak yang memiliki kemampuan bertarung, berlari, anak yang pintar dan licik.
Tapi yang paling Dennis perlukan adalah teman-temannya yang paling bisa bertarung. Karena mereka-mereka itu akan melawan satu keluarga yang pandai membunuh.
Malam ini, mereka semua begadang dan terus memantau ponsel mereka masing-masing dan terus menyimak. Dennis akan mulai menjelaskan rencananya, karena besok... saatnya untuk beraksi!
****
Rencana pertama Dennis adalah, bersikap seperti biasa saja. Mencoba untuk tidak ada yang bertindak sendiri dan jangan sampai ada yang mencurigai mereka.
Pagi harinya, semua orang bangun seperti biasa. Kelompok satu, Dennis meminta beberapa anak perempuan seperti Adel, Mizuki dan Rasya yang pergi masuk ke dalam Villa untuk mencari Bu Mia. Tujuan pertama mereka adalah pergi mencari Ibu pemilik Villa dulu, setelah itu mereka harus bertanya tentang keberadaan Bu Mia. Setelah itu, hasilnya harus segera dilaporkan ke Dennis.
Pukul 9 pagi–
Beberapa anak ada yang bersenang-senang bersama seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi Adel, Mizuki dan Rasya mulai melakukan tugas pertama mereka.
Mereka bertiga akan mencari Bu Mia. Tapi jika bertemu dengan pemilik Villa, mereka juga harus tetap bertanya tentang keberadaan Bu Mia.
Sementara ada kelompok lain yang beranggota 5 orang, yaitu Putri, Rizky, Oliva, Shinta dan Mizan. Masing-masing anak akan memberitahukan tentang keluarga kanibal itu pada semua murid dari sekolah Adiwata secara diam-diam.
Sementara Cahya dan beberapa anak laki-laki yang telah dipilih Dennis semalam akan pergi ke belakang dapur untuk mengumpulkan senjata mereka. Kalau Cahya sendiri akan masuk ke dapur. Ternyata benar. Lagi-lagi ayahnya selalu duduk di bangku goyang kesukaannya dalam dapur.
Cahya tahu apa yang harus dilakukannya!
****
Di dalam Villa, Adel, Mizuki dan Rasya sedang mencari Bu Mia di kamar-kamar yang kosong. Saat mereka cari, mereka masih belum menemukan Bu Mia di manapun.
Tapi saat mereka sedang mencari di lorong kamar dekat dengan kebun belakang, di sana mereka dikejutkan dengan kehadiran Ibu Villa yang sedang bersih-bersih satu kamar di dekat sana.
Karena melihat anak-anak yang tidak diizinkan untuk masuk ke kamar tersebut, Ibu Villa itu bertanya maksud dan tujuan mereka bertiga datang. Dengan berani, Mizuki menjawab, "Kamu ingin mencari guru kami. Apa anda melihatnya?"
"Gurumu yang mana?" tanya Ibu Villa lagi. Matanya agak disipitkan.
"Ibu guru kami."
__ADS_1
"Ooh, Ibu itu," Ibu Villa mengangguk. "Ah, saya tidak tahu di mana dia."
"Oh, begitu. Baiklah, terima kasih, ya?" Mizuki sedikit membungkuk, lalu tersenyum. Setelah itu, Adel yang ada di paling belakang, akan pergi duluan keluar dari lorong. Lalu setelah keluar, Adel mengeluarkan ponselnya, mengetik beberapa kata untuk membuat laporan yang akan ia kirimkan pada kakaknya. Sementara Mizuki dan Rasya akan mencari topik lain untuk membuat Ibu Villa sibuk dengan obrolan mereka, sampai sebuah isyarat terdengar.
****
TRING!
[ Kakak, Ibu Villa itu bilang, katanya dia tidak tahu di mana Bu Mia. ]
Pesan itu telah masuk di ponsel Dennis dan Dennis pun membacanya. Dennis mengangguk, lalu menunjukkan pesan itu pada Rei. Setelah Rei melihatnya, sekarang saatnya untuk Rei melakukan tugasnya.
Rei mengeluarkan ponselnya, lalu menekan nomor telepon Bu Mia. Secepatnya, ia langsung menghubungi wali kelasnya. Rei sengaja diberi tugas seperti itu, karena hanya dia saja yang suka menelepon Bu Mia.
Sekarang setelah tulisannya berdering, Rei hanya tinggal menunggu hasilnya.
****
TRIIIING... TRIIIING... TRIIING.....
"Oh? Itu telepon Ibu berbunyi. Apa Ibu tidak mengangkatnya?" tanya Mizuki setelah ia mendengar nada dering ponsel lain dari salah satu kamar yang ada di lorong yang tidak pernah Mizuki masuki sebelumnya.
Ibu Villa itu terlihat terkejut. Lalu ia menggerutu dalam hati, "Sial! Apa telepon guru itu berbunyi?"
"Ibu kok diam?" tanya Rasya heran dengan Ibu Villa yang tidak menjawab pertanyaan Mizuki dari tadi.
"Ah, iya itu telepon Ibu berbunyi. Sa–saya angkat dulu, ya?" Ibu Villa itu berbalik badan, lalu ia pergi memasuki satu kamar yang terletak paling pojok lorong.
Setelah Ibu Villa itu pergi, Mizuki tersenyum. Ia menyenggol tangan Rasya yang ada di sampingnya sebagai isyarat lainnya kalau Rasya harus segera melakukan tugasnya.
PSYU!
***! Pelurunya berhasil mengenai Ibu Villa. Seketika, wanita gemuk itu langsung terjatuh di depan kamar yang akan ia tuju. Sudah tidak bergerak sama sekali, dan sekarang tinggal melaksanakan tugas mereka selanjutnya.
"Ini. Aku mendapatkan senjata bius ini dari si kakak tertua dari gubuk kemarin. Dan aku juga masih memiliki satu peluru sisah yang semoga saja masih bisa berfungsi. Setelah membuat wanita itu pingsan, segeralah bawa dan sembunyikan dia. Lalu usahakan jangan sampai ada suara berisik."
"Setelah selesai mengurus wanita itu, kalian berdua harus mencari suara nada dering ponsel Bu Mia itu. Sebelum nada deringnya mati, kalian harus mengangkatnya dan memberitahu Rei kalau kalian telah menyelesaikan tahap pertama. Setelah itu, nanti Rei akan pergi menghampiri kalian."
"Lakukan dengan cepat! Sedangkan Adel. Di depan lorong, kau yang akan menjadi pengawasnya. Jika ada Rina yang mendatangimu, segera bilang aku menunggunya di dekat turunan bukit. Kalau bukan Rina, segeralah lakukan sesuatu. Kalau orang itu menyuruhmu untuk pergi dari tempat itu, maka kau harus cepat pergi, Adel. Tapi jangan lupa! Berikan tanda bahaya pada Mizuki dan Rasya dengan ponselmu."
Itulah yang dikatakan Dennis. Semuanya berjalan lancar sejauh ini. Adel juga masih belum melihat siapapun orang mencurigakan yang datang. Intinya, target Adel yang harus ia lihat adalah Rina, Kai (Kakaknya Rina) dan Ayah Tertua. Jika salah satu dari mereka bertiga datang, maka Adel harus waspada.
Makanya saat ini, untuk menghindari kecurigaan dari mereka bertiga itu, Adel akan bersikap biasa saja. Saat ini di dekat lorong, ia sedang berpura-pura melihat-lihat lukisan dinding, vas bunga, dan benda lainnya yang ada di sana sambil menunggu kemunculan Rei dari pintu dekat kebun yang ada di dalam lorong.
Saat di dalam kamar pojok lorong, Mizuki dan Rasya berhasil mengikat Ibu Villa dengan selimut dan seprai kasur. Lalu meletakkan tubuhnya di dalam lemari besar untuk sementara.
Setelah selesai, Mizuki dan Rasya berusaha untuk mencari suara dari nada dering ponselnya Bu Mia yang terdengar dari dalam kamar itu.
Mizuki ternyata salah dengar. Ternyata suara nada dering itu ada di kamar sebelahnya lagi. Dengan cepat, Mizuki mencari ponsel itu.
Akhirnya ia dapat menemukannya. Tapi sebelum sempat mengangkatnya, nada dering ponsel itu tiba-tiba saja mati. Tapi tak lama kembali muncul lagi. Karena... Rei tidak akan berhenti menelpon sebelum Mizuki menjawabnya.
Sekarang saatnya. Mizuki langsung mengangkat telepon dari Rei lewat ponsel Bu Mia itu. "Rei! Aku sudah berhasil."
[ Baiklah. Sekarang aku akan datang menjemputmu. ]
__ADS_1
"Oke. Cepat, ya?"
[ Ya! ]
****
Cahya menghampiri ayahnya dengan sikap biasanya. Dia tersenyum pada ayahnya, lalu mencium pipi ayahnya seperti ia mencintainya. "Selamat pagi, ayah."
"Oh, pagi, pagi." Suara ayahnya terdengar lembut. Rashino yang mengintip dari jendela belakang bisa mendengar pembicaraan mereka. Saat Rashino melihatnya, ternyata sifat ayahnya itu bisa dibilang baik karena dari ekspresi wajahnya yang terlihat ramah.
"Ayah mau jalan-jalan gak hari ini?" tanya Cahya.
"Jalan ke mana?"
"Ayolah! Ikut Cahya, yuk! Cahya ada tempat bagus nih. Mau jalan sama ayah sekali-kali." Cahya menarik tangan ayahnya dan berhasil membuatnya berdiri dari kursi goyangnya. Cahya juga akan membuat ayahnya pergi dari tempatnya.
Tapi ternyata ayahnya itu menolak. Ia berkata, "Ayah harus ada di sini untuk menunggu kakakmu mendapatkan makanan untuk ayah."
"Tapi ayah kan bisa menunggu sambil kita jalan-jalan bersama. Daripada di sini kan bosan tau."
"Ah, iya juga."
"Nah, gitu dong! Sekarang ayo ikut Cahya, ayah!"
Ayahnya mengangguk. Cahya berhasil membujuk ayahnya itu. Setelah semuanya berjalan sesuai rencana, Natsuki, Akihiro dan Rashino akan bersiap. Mereka bersembunyi dulu, sampai Cahya dan ayahnya keluar dari dapur.
Setelah mereka berdua keluar dan menjauh, Natsuki, Akihiro dan Rashino langsung bergegas memasuki dapur yang telah kosong tanpa penjaga.
Di dalam sana, mereka bisa melihat dapur yang tersembunyi. Tapi untuk saat ini, tidak ada waktu untuk berlama-lama di sana. Mereka harus cepat mendapatkan senjata yang ampuh. Saat dilihat, semua pisaunya terlihat sangat tajam dan runcing. Pasti pisau yang khusus untuk memotong daging.
Akihiro mulai memilih senjatanya, sementara Natsuki akan membukakan karung yang telah ia bawa untuk membawa semua senjata yang mereka dapatkan. Sementara Rashino akan berjaga di balik pintu dapur untuk berjaga-jaga kalau ada orang yang datang.
Rashino juga meminta Akihiro untuk cepat dalam memilih senjata. Tapi tak lama setelah Rashino memberitahu Akihiro untuk cepat, tiba-tiba saja dia mendengar langkah kaki yang datang mendekat ke pintu dapur.
Dengan tongkat panjang yang dipegang Rashino, ia siap untuk memukul orang yang mendekat ke dapur itu. Ia menjauh dari pintu dan membiarkan orang di depan sana masuk agar Rashino lebih mudah menyerang.
Melihat Rashino mulai bergerak, Akihiro dan Natsuki bersembunyi dibalik meja besar yang ada di dalam dapur. Mereka akan bersembunyi sampai orang di depan sana berhasil dilumpuhkan oleh Rashino.
"Bersiaplah, kau!"
KRIIEETT....
pintu terbuka secara perlahan, lalu muncul kepala manusia yang mengintip dari balik pintu. Tanpa melihat orang itu, Rashino langsung memukul kepala orang itu. Setelah itu, seketika pintu terbuka lebar dan orang yang baru dipukul Rashino tadi dapat terlihat dengan jelas.
Setelah memukul orang itu, Rashino menghentikan pergerakannya. Ia terkejut karena orang yang baru saja ia pukul itu ternyata adalah....
"Rei! Ah, astaga!"
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8