
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
"Tapi... Adit masih belum menyerah untuk selalu menjadi murid terpintar di kelasnya. Mungkin untuk Ujian Akhir Semester ini, kau harus berhati-hati padanya."
"Eh, memangnya kenapa, kak?" tanya Dennis bingung.
"Karena... jika kau berhasil mengalahkannya, maka si Adit itu juga akan mencelakakan mu!"
"Eh? Mencelakakan? Sama seperti Kak Rei, dong? Memangnya kenapa, sih? Emangnya aku tidak boleh dapat nilai bagus, apa?!" bentak Dennis kesal.
"Hei tenang, dong. Si Adit itu tidak akan–"
"Jika dia berbuat macam-macam padamu, maka aku tidak akan tinggal diam." Rei menyela. Tiba-tiba sosoknya itu terlihat muncul kembali di depan pintu. "Aku... akan melindungimu, Dennis! Jadi berjuanglah untuk mendapat nilai yang terbaik."
Dennis mengangguk pelan. Lalu ia berdiri menghadap ke arah Rei. "Em... anu... Kak Rei? Kau tidak perlu berbuat seperti itu. Emm... aku akan baik-baik saja, kok!"
"Tetap saja, si Adit itu tidak akan berhenti untuk selalu meningkatkan nilainya. Apalagi bentar lagi mau diadakan Ujian Akhir Semester. Dia pasti akan berusaha keras. Dan jika dia gagal dari orang lain, maka dia akan sangat marah sekali." Jelas Rei.
"Tidak apa-apa. Kak Rei juga berusahalah! Kita menghadapi ujian ini kan bersama-sama nanti."
"Oh, oke baiklah." Rei mengangguk sambil memejamkan matanya. Lalu ia berbalik badan. "Tapi jika di memang berniat untuk mencelakakan teman terbaikku, awas saja! Orang itu akan aku patahkan langsung kaki dan tangannya sampai terpisah dari tubuhnya." Gumam Rei.
"E–eh tunggu dulu, Rei! Apa kau tidak mau melindungiku?" tanya Akihiro setelah ia berdiri.
Tanpa menengok ke belakang, Rei menajwab dengan nada dingin. "Tidak. Orang yang ingin kulindungi hanyalah anak pintar. Bukan seperti dirimu."
"Huwaaa! Rei jahat sekali padaku. Huhuhu..." Akihiro tiba-tiba saja merengek. Dennis akan menenangkan temannya yang satu itu. Sementara Rei sudah pergi ke kamarnya sedari tadi.
Lalu tak lama kemudian, Ibu Rei memanggil semuanya untuk segera masuk. Kembali ke dalam rumah karena hari semakin larut. Jika lama-lama diluar pada malam hari, nanti bisa sakit karena kena angin malam. Begitulah peringatan dari Ibunya Rei.
Semuanya menurut. Lalu Dennis dan Akihiro kembali ke dalam. Begitu juga dengan Yuni dan Adel yang sudah puas melihat bintang di langit. Oh iya, tak lupa juga Dennis kembali membawa beberapa buku absen yang ia pegang tadi kembali ke dalam rumah. Karena ia tidak mau buku absen itu hilang. Dan Dennis juga berharap, semoga hantu yang menginginkan buku absen itu tidak akan datang malam ini!
Setelah pintu rumah kembali ditutup, tiba-tiba saja muncul seseorang yang datang menghampiri rumah Rei. Orang yang misterius. Karena gelap, jadi tubuh orang itu hanya terlihat bagian matanya saja dan juga bentuk tubuhnya.
Lagi-lagi orang misterius yang suka datang tiba-tiba itu selalu saja memiliki bentuk tubuh yang terlihat bulat, gemuk, gendut, deh!
Orang itu bersembunyi di samping rumah Rei. Lalu ia mendekati sebuah jendela yang masih ada penerangan. "Malam ini juga, Buku absen itu harus ada di tanganku. Aku harus mendapatkannya. Karena waktuku tidak banyak lagi." Gumam orang itu.
Eh? Dia mau mengambil Buku absen yang dipegang Dennis tadi? Tapi untuk apa?
****
Malam, pukul 12–
__ADS_1
Semuanya sudah tertidur. Para anak laki-laki tidur di kamarnya Rei. Sedangkan Yuni dan Adel berada di kamar Lino. Dennis tidur di atas tempat tidurnya Rei, sedangkan Akihiro... pastinya selalu di bawah.
Saat ini, di atas tempat tidurnya Rei hanya ada Dennis. Lalu di mana Rei berada?
Rei sedang berada di dapur. Seluruh rumah telah dimatikan lampunya. Ruangan yang masih terang hanya di dapur, tempat Rei berada saat ini.
Ia sedang duduk di depan meja makan sambil menggenggam segelas air di tangannya yang ia letakan di atas meja. Rei sengaja ingin menatap di dapur untuk sementara karena ia tidak bisa tidur di kamarnya. Jadi dengan cara bengong, berdiam diri di dapur dalam suasana yang sudah sunyi, adalah cara Rei untuk membuat dirinya jadi mengantuk.
Palingan di dalam keadaan yang sunyi di dapur itu, sesekali Rei sempat melihat ada embak Kunti yang numpang lewat di depannya. Rei melihat beberapa hantu lainnya yang merupakan penghuni rumahnya itu. Tapi... karena sudah terbiasa dengan kemunculan mereka, Rei hanya terdiam saja tanpa ekspresi. Ia tidak mempedulikan semua hantu-hantu yang berusaha untuk menakutinya itu.
Sangking lamanya ia berdiam diri di dapur, lama kelamaan, Rei mulai merasa matanya jadi berat. Dengan posisi yang sama seperti sebelumnya, Rei selalu mengerjap agar matanya tidak tertutup. Tapi pada akhirnya, ia pun menyerah. Rei akan pergi ke kamarnya untuk tidur. Tapi sebelum itu, ia meminum susu dingin yang ada di gelasnya itu. Lalu setelah itu, Rei pun beranjak dari tempatnya.
Saat sampai di depan kamarnya, Rei akan memutar kenop pintunya, tapi sebelum itu tiba-tiba saja terdengar suara benda jatuh dari dalam kamarnya. "Eh? Suara apa itu?" gumam Rei sambil membuka pintunya secara perlahan, lalu mengintip ke dalam.
Di dalam kamarnya sudah gelap. Tapi Rei melihat ada cahaya bulan yang menembus masuk lewat kaca jendela yang terbuka. Rei sedikit tersentak, lalu berpikir sejenak. "Loh? Tadi bukannya jendela itu sudah ditutup, ya? Kok tiba-tiba bisa terbuka?"
Dengan cepat, Rei melangkahkan kakinya. Tanpa suara hentakan kaki. Ia mendekati jendela itu. Memeriksa sebentar, lalu kembali bergumam, "Oh iya, tadi kan belum aku kunci. Mungkin hanya tertiup angin."
Rei mengeluarkan kepalanya lewat jendela untuk melihat keadaan di luar rumahnya itu lewat jendela. Rei celingak-celinguk memperhatikan sekitar. Ternyata masih aman. Tapi setelah Rei menengok ke arah kanannya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seseorang yang sedang berdiri di sampingnya itu.
Orang itu juga terkejut saat melihat Rei. Lalu dengan cepat, orang itu pun langsung berlari begitu saja. Rei menegur orang itu, lalu ia mengeluarkan tubuhnya lewat jendela untuk mengejar orang yang telah ia curigai itu.
Rei hampir bisa menyusul orang itu. Karena orang misterius itu memiliki tubuh yang gemuk, jadi kemungkinan besar, ia tidak akan bisa berlari dengan cepat.
Rei mengulurkan tangannya sambil terus mengejar orang itu. Saat ini, Rei sudah hampir dekat dengan orang itu. Ia akan menjambak rambutnya. Hampir dapat, dan....
Ah! Ternyata tidak berhasil. Karena tiba-tiba saja orang itu berbelok ke arah Kanan. Rei sedikit tersenyum. Karena ia tahu, arah kanan itu akan membawa orang itu ke teras depan rumah Rei. Dengan begitu, orang itu tidak akan bisa ke mana-mana karena di sekitar teras itu telah dipasang pagar-pagar dengan beling dan duri di atasnya. Kali ini, Rei pasti bisa menjebak orang itu.
"Nah! Sekarang aku bisa menangkapmu. Berbalik badan lah dan tunjukan rupamu! Cepat!" Rei membentak setelah ia datang dan dapat menemukan orang yang sedang ia kejar itu.
Tanpa berbalik badan, Orang itu bertanya, "Untuk apa aku menunjukan wajahku?" Orang itu tertawa kecil dan kembali berkata, "Kan aku tidak ingin identitasku diketahui oleh orang lain."
"Jangan banyak bicara!" Rei membentaknya lagi. Lalu secara perlahan, ia menghampiri orang itu dengan hati-hati. "Cepat tunjukan wajahmu, atau aku akan berteriak dan memanggil warga desa lainnya untuk menghajarmu!"
"Hmm... mau berteriak, ya? Tapi... bagaimana kalau aku hancurkan dulu tenggorokanmu itu? Apakah setelah ku hancurkan, kau masih bis berteriak?"
Rei tersentak. Ia pun menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya untuk mendekati orang misterius itu. "A–apa maksudmu itu? Apa kau benar-benar ingin aku berteriak, hah?!" Rei membentak lagi.
"Kau membentakku saja sudah membuatku jadi pusing. Suaramu terlalu keras. Aku takut nanti akan ada yang mendengar suaramu itu!" Orang itu membentak, lalu ia menengok ke belakang secara perlahan. Lalu secara mendadak, tiba-tiba saja orang itu mengayunkan pisaunya ke belakang.
Rei terkejut. Untung dia menyadari kalau akan ada benda tajam yang melayang ke arahnya. Jadi dengan cepat, Rei pun menghindar. "A–apa yang kau lakukan?!"
"Kan sekarang kau sudah bisa melihat wajahku, kan? Aku memang cukup tampan untuk seorang lelaki gemuk, haha... benar, kan? Reizal Alfathir?" Saat mengucapkan nama Rei itu, orang gemuk pun mengeluarkan senyum sinisnya.
Rei membesarkan matanya. "Tu–tunggu! Bagaimana kau bisa tahu namaku?!" tanya Rei.
"Tentu saja aku tahu. Kan aku sudah memiliki Buku Absen ini di tanganku." Orang gemuk membuka buku absen kelas 3-C, lalu memperlihatkan isi buku itu pada Rei. Orang gemuk menunjuk ke arah foto Rei yang terpajang di dalam Buku Absen itu.
"Eh?! Itu kan buku absen yang ada di... tunggu! Apa kau yang mengambilnya dari kamarku?!"
__ADS_1
"Oh... iya~ Maaf, ya? Aku lupa untuk izin memasuki kamarmu itu. Tapi untunglah, aku sudah mendapatkan buku ini."
"Untuk apa kau mencuri buku itu?"
"Aku tidak mencuri, aku hanya meminjamnya sebentar. Setelah pekerjaanku yang menyenangkan itu selesai, nanti aku balikin lagi padamu."
"Tidak akan! Kau pasti ingin berbuat jahat pada teman-temanku, ya? Makanya kau mengambil Buku Absen itu untuk mengetahui nama-nama mereka?"
"Ho'oh! Itu kau tahu. Kan dengan buku absen ini, aku bisa berkenalan dengan semua anak di sekolahmu. Lagi pula, buku absen ini agak unik, ya? Di setiap nama anak pasti ada foto mereka. Aku jadi bisa lebih mengenal mereka, dong~"
"Cish! Aku tahu niatmu itu jahat pastinya! Sekarang, kau tidak akan kubiarkan pergi dengan buku absen itu!" Rei membentak. Lalu setelah itu, ia menghampiri orang gemuk itu dengan cepat dan langsung memukulnya.
Tapi ternyata serangan Rei tidak bisa menjatuhkan orang itu. "Hah? Jadi aku tidak boleh pergi, nih?"
GREP! BUAK!
Orang itu menggenggam tangan Rei, lalu mendendang perutnya sampai Rei terjatuh ke lantai. Rei kembali bangkit lagi. "Kau... tidak boleh mengetahui nama-nama teman-temanku!" bentak Rei. Lalu ia mengayunkan pukulannya lagi pada orang gemuk di depannya itu.
Tapi ternyata, serangan Rei berhasil ditangkis. Orang itu menggenggam pergelangan tangan Rei, lalu memutarnya. Rei merasakan nyeri di lengannya itu. Ia akan melepaskan tangannya dari genggaman lawan yang ada di depannya. Tapi ternyata sangat sulit. Untuk orang yang memiliki badan gemuk itu, ternyata dia lebih kuat dari Rei.
"Hah? Tidak boleh kenalan, ya? Tapi sayang... sebagian besar dari kelasmu, aku sudah kenal semua, loh~" Orang itu berkata dengan santai sambil menggenggam tangan Rei semakin kuat. Lalu dengan cepat, ia membalikan tubuh Rei dan langsung menahan kedua tangan Rei ke belakang hanya dengan tangan kirinya.
Lalu orang itu menjatuhkan buku absen itu ke lantai. Tangan kanannya merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sesuatu. Sebuah senjata pengejut bertenaga listrik yang biasa disebut dengan Stun Gun. Senjata kecil itu ia dekatkan pada leher Rei.
"Sekarang, kau tidak akan bisa menangkapku. Dan aku beharap, keesokan harinya semoga kau melupakan aku dan... selamat berjuang untuk Ujian Akhir Semester di sekolahmu." Bisik Orang gemuk. Ia semakin mendekatkan Stun Gun itu ke arah Rei. Rei sendiri tidak bisa bergerak, apalagi melepaskan dirinya dari orang gemuk yang telah menahannya itu.
"Anak kecil seharusnya sudah tidur malam ini. Khu khu~ Selamat malam!"
*BZZZTT!
BRUK*!
****
Walaupun aku tidak bisa menghentikan orang jahat itu malam ini, tapi mungkin di lain waktu, aku bisa mengalahkannya.
Dan sekarang ini... aku ingat jelas dengan wajahnya. Aku tidak akan melupakan orang itu!
Jika dia memang berniat ingin membunuh teman-temanku, maka tidak akan aku biarkan. Aku akan membunuhnya terlebih dahulu!
Orang itu pasti tidak akan jauh dariku....
Tolong jangan remehkan aku, GENDUT!!
*
*
*
__ADS_1
To be Continued-
Follow IG: @Pipit_otosaka8