Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 45– Rencana Dilaksanakan, part 3


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Kenapa Kak Rei tidak datang juga?" gumam Adel yang sudah merasa bosan menunggu di depan lorong. Saat ini ia sedang melihat-lihat hasil kerajinan kayu yang diletakan di dalam rak yang tertutup dengan kaca.


Lalu tak lama kemudian, seseorang datang. Adel berbalik badan. Ia pikir yang datang itu adalah Rei. Tapi ternyata, orang itu adalah....


Rina!


"Hei, kau... sedang apa di sini?" tanya Rina di hadapan Adel.


Adel hanya terdiam. Lalu tak lama, Adel kembali mengeluarkan suaranya. Ia tertawa kecil, lalu melompat-lompat. "Oh! Kak Rin ada di sini, ya?"


"Eh? Memangnya kau sedang mencariku?"


"Iya."


"Untuk apa kau mencariku?"


"Aku disuruh sama Kak Dennis. Katanya dia pengen kamu temui dia di dekat turunan bukit itu. Katanya dia mau ajak jalan Kak Dennis di sana."


"Eh? Dennis ngajak jalan?!" Rina terkejut mendengarnya. Ia sedikit menunduk, lalu bergumam, "Tidak seperti biasanya,"


"Iya. Cepat tuh, aku nyari kakak dari tadi. Kasihan Kak Dennis nunggu terus di sana." Ujar Adel lagi.


Rina tersenyum dan mengangguk cepat. Setelah itu, tanpa berkata apa-apa lagi, Rina langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan Adel. Ia pergi keluar Villa.


Setelah melihat Rina pergi, Adel mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik dan mengirim pesan untuk kakaknya. Tugasnya saat ini telah selesai. Sekarang tinggal tugas yang lain.


Adel akan pergi ke kamar yang ditempati Mizuki dan Rasya untuk ikut dengan aksi mereka berdua.


****


TRING!


Dennis yang sedang memperhatikan pegunungan di dekat turunan bukit mendengar suara nada dering ponselnya yang berbunyi. Hanya sedetik saja.


Dennis tahu ada pesan masuk padanya. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu membukanya. Dennis melihat ada satu notifikasi message dari adiknya. Langsung saja ia membuka dan membacanya.


[ Kak Dennis, ada Rina yang akan mendatangi kakak. ]


Dennis menyeringai lalu mengetik balik untuk membalas pesan Adel itu. [ Terima kasih. Sekarang bantu Mizuki dan Rasya. ]


[ Baik kak ]


"Oh, halo, Dennis!"


Dennis tersenyum, lalu menutup ponselnya. Setelah itu ia berbalik badan, menghadap ke orang yang datang menyapanya itu. "Ya, Rina?" Dennis tersenyum manis sambil memejamkan matanya. "Aku senang kau mau datang,"


"Dennis apa kau benar-benar ingin mengajakku jalan-jalan?" tanya Rina malu sambil melipat tangannya ke belakang dan menggoyangkan tubuhnya.


"Iya, hehe..." Dennis melirik ke arah lain sambil menggaruk kepalanya. Ia tertawa kecil dengan pipi yang memerah. "Ta–tapi sebelum itu, aku ingin... kau memaafkan aku soal yang waktu itu."


"Emm... ah, itu tidak apa-apa. Aku juga menikmatinya." Rina mengangguk.

__ADS_1


"Oh, benarkah? Oke kalau begitu."


"Sekarang kita mau ke mana?"


"Kan... kau yang bilang kalau mau mengajakku jalan saat itu. Makanya sekarang, aku akan meladenimu. Kau mau ke mana, nih?" Dennis bertanya balik.


Rina tersenyum lebar. Ia senang sekali bisa dekat dan jalan-jalan bersama dengan Dennis. Dengan senang hati, Rina akan menunjukkan tempat yang bagus untuk Dennis lihat.


Tapi sebelum mereka jalan, tiba-tiba saja ada pesan masuk dari ponselnya. Dennis merasa getaran dari ponsel yang ia pegang itu.


Langsung saja Dennis membuka ponselnya. Ternyata ada satu notifikasi dari Mizuki. Dennis sedikit terheran. Padahal Mizuki tidak ada tugas untuk menghubunginya. Tapi karena penasaran, Dennis membuka pesan itu dan membacanya.


[ Dennis! Tolong Rei. Dia sedang berkelahi dengan orang yang membawa tembakan gitu. ]


TRING!


[ kalau kau ada tugas lain, kau bisa kirim seseorang untuk datang menolong Rei. ]


TRING!


[ Dennis! Cepatlah! ]


Tiga pesan dari Mizuki itu telah membuat Dennis terkejut. Dennis juga sedikit bingung. Padahal dia tidak meminta Rei untuk melawan siapapun. Tapi kenapa sekarang teman dekatnya itu sedang berkelahi dengan orang yang berbahaya. Sendirian pula.


Dan yang lebih parahnya lagi, lawan Rei itu adalah salah satu dari keluarga kanibal yang kejam. Ditambah lagi dengan senapan berbahaya yang dibawa lawannya.


"Apakah... Rei punya senjata juga untuk melawannya?" pikir Dennis dalam hati. "Ah, aku harus mengirim bantuan untuk Rei."


Dennis berpikir sejenak. Ia mencari nomor orang yang ingin ia hubungi di dalam kontaknya. Rina yang melihat wajah cemas Dennis pun bertanya, "Dennis, kau baik-baik saja?"


Dennis hanya mengangguk saja. Kedua jempol tangannya masih sibuk mengetik dengan cepat. Sepertinya Dennis sudah menemukan orang yang bisa membantu Rei. Saat ini ia sedang mengetik pesan untuk orang itu.


Rina mengangguk kaku. "I–iya, ayo!"


****


BRUK!


"Ah, aduh! Aku pikir, dengan mata satunya itu, dia tidak bisa menyerang. Tapi ternyata dia masih bisa menembak walau tembakannya selalu meleset." Batin Rei setelah ia terjatuh.


Ia baru saja dipukul dan didorong oleh lawannya yang lumayan tangguh. Kepala Rei telah dialiri darah segar dari luka di kepalanya. Luka itu ia dapat pukulan keras dari ujung senapan yang Kai pegang.


Kai dengan wajahnya yang terluka parah masih bisa hidup. Padahal, kepalanya telah terbelah dan tergores dengan benda tajam dari Akihiro yang tidak sengaja telah membunuhnya.


Semua mengira kalau Kai itu telah mati. Tapi ternyata dia masih hidup entah bagaimana. Mata kirinya telah hilang dan setengah wajahnya juga dipenuhi dengan darah. Membuat wajah Kai jadi menyeramkan.


Sebelum Kai kembali menyerang, Rei kembali bangkit. Ia memukul wajah hancur Kai dengan kuat, lalu menendang senjatanya sampai terlempar dari tangannya.


Setelah senjatanya yang tidak terisi peluru itu terjatuh, Rei memungutnya untuk dijadikan senjata pemukul yang ampuh untuk melumpuhkan lawannya.


Rei mengangkat senapan yang beratnya sampai 5kg itu. Walau berat, tapi Rei kuat untuk mengangkatnya.


Ia tidak akan menggunakan senapan itu untuk menembak Kai. Karena percuma saja. Senapan yang Rei pegang itu sudah kosong, tidak terisi dengan pelurunya. Tapi Rei akan menggunakan senapan itu untuk membalas pukulan yang telah ia terima di kepalanya.


Sekali lagi, sebelum Kai kembali berdiri, Rei menendang tubuhnya sekali. Tidak. Berkali-kali. Tidak hanya tubuhnya, tapi kepalanya juga. Sampai saat Rei berhenti dan mengangkat kakinya, ia melihat banyak darah yang telah tertempel di sepatunya.


Saat Rei melihatnya, ternyata darah itu berasal dari wajah Kai yang sudah hancur. Rei telah membuatnya tambah hancur. Tapi Rei tidak akan selesai sampai di situ. Kalau lawannya masih bisa bergerak, Rei tidak akan diam.


Untuk serangan terakhirnya, Rei akan menghancurkan wajah Kai sampai kerangkanya retak dan organ dalamnya keluar.

__ADS_1


Sementara Kai masih belum bergerak, Rei mengangkat bagian kaki senapannya. Lalu dengan cepat, Rei membenturkan kepala Kai dengan ujung senapan tersebut.


Sekali lagi darah bermuncratan. Membasahi rerumputan dan benda di sekelilingnya. Beberapa bercak daranya juga mengenai baju Rei. Lalu setelah pukulan ketiga kali, tangan Rei telah dipenuhi oleh darah.


Setelah pukulan kelima kali, Rei baru berhenti. Ia sudah menghancurkan tengkorak Kai sampai otak dan kedua matanya berhamburan keluar. Tapi Rei belum menghancurkan bagian hidung dan mulut, tulang pipi dan rahangnya. Sehingga Kai yang masih terlihat hidup itu menyeringai dengan mulutnya yang telah dipenuhi darah.


"Kau dan... teman-temanmu akan... mati di... sini... haha...."


Kai masih bisa berbicara walau suaranya terdengar serak dan tidak jelas. Mendengar perkataanya itu telah membuat Rei jadi geram. Ia mengerutkan keningnya dan melotot tajam menatap Kai. Seketika mata kuningnya membesar dan pada bagian iris matanya mengecil. Mata kucing Rei terbentuk kembali dan terlihat menyeramkan.


"Hentikan omonganmu itu!!" Rei membentak.


KRAK!


Rei kembali memukul wajah Kai dengan senapan yang ia pegang. Kali ini, Rei berhasil mematahkan rahang bawah Kai sehingga ia tidak bisa berbicara.


Tapi erangan suaranya masih terdengar. Seolah ia sedang tertawa. Rei merasa muak mendengarnya. Sekali lagi, Rei memukul tepat di hidung Kai. Lalu karena merasa belum puas, Rei terus memukulnya. Ia seperti sedang menumbuk bumbu dengan ulekan saat di dapur.


Rei masih terus memukul. Ia baru bisa dihentikan setelah ada orang lain yang memeluk pinggangnya, lalu menarik tubuhnya jauh-jauh dari Kai yang entah masih hidup atau tidak.


Tapi saat Rei menyingkir, terlihat kepala Kai telah menghilang. Yang tersisah hanya darah, daging kecil, organ kepala dan tengkoraknya yang telah hancur saja.


"Sudah hentikan, Rei." Seseorang yang menarik tubuhnya itu berbisik lembut padanya. Rei pun berhenti memberontak, lalu menoleh ke belakang. Ia melihat ada Adit yang memiliki tubuh sedikit lebih tinggi dari Rei.


Dan ada seorang lagi yang ia kenal datang menghampirinya. Dia adalah Zainal. Mereka berdua dikirim untuk membantu Rei. Tapi ternyata, Rei bisa mengatasi bahayanya sendiri.


"Ikh! Menjijikkan." Gumam Zainal setelah ia melihat kondisi mayat Kai yang diketahui ternyata sudah meninggal.


Karena merasa jijik, Zainal pun berjalan menghampiri Rei dan Adit. "Hei, apa kau yang sudah membunuhnya?" tanya Zainal heran.


"Iya. Hanya dengan senapan ini?" Adit merebut senjata pemukul Rei. "Tanpa peluru dan berat pula."


Rei membuang muka lalu menjawab. "Kalau aku membunuhnya memangnya kenapa? Dia ingin membunuhku duluan soalnya."


"Ah, kau hebat sekali, Rei!" Zainal terlihat senang. "Dengan satu musuh kita yang sudah meninggal, kita bisa kabur dari sini dengan mudah!"


"Huh, tapi cukup melelahkan juga." Rei mengeluh lalu menyentuh kepalanya yang terluka. Darah yang keluar dari kepalanya itu telah mengering.


"Aku akan membawamu kembali ke kamar," Ujar Adit sambil menahan tubuh Rei agar tidak tumbang. Tapi tak lama kemudian, Rei tiba-tiba saja Rei kehilangan keseimbangan dalam berdiri. Dengan cepat, Adit menahan tubuhnya lalu mengangkat dan menggendong Rei di depan dengan kedua tangannya.


"Adit, turunkan aku." Rei yang masih tersadar itu meminta. Padahal dia sudah terlihat tidak memiliki energi lagi. Melihat keadaannya, Rei sudah tidak bisa berjalan lagi. Tubuhnya penuh luka dan dia harus istirahat sejenak.


"La–lalu tugasku apa?" tanya Zainal.


"Kau... temui Mizuki dan bantu dia di dalam... Villa...." Jawab Rei lemas.


Zainal mengangguk cepat. Setelah itu, mereka bertiga pergi meninggalkan lapangan dan tubuh Kai yang sudah tidak bernyawa.


Saat kembali ke pintu belakang Villa, Rei meminta Zainal untuk masuk lewat sana dan bertemu dengan Mizuki. Zainal menurut. Setelah itu, Adit kembali melangkahkan kakinya untuk membawa Rei kembali ke kamarnya.


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2