Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 27– Orang Tua Adel dan Dennis


__ADS_3

"Eh? Benarkah? Di mana dia sekarang?" tanya Rei pada hantu Chika itu.


"Dia kembali ke sekolah kalian." Hantu Chika menjawab dengan nada datar.


"Eh? Benarkah?"


"Kalian bisa langsung ke sana untuk mencarinya." Perlahan suara hantu Chika mulai memudar dan sosoknya juga hilang. Chika itu sudah pergi.


"Eh?! Tunggu dulu. Jangan pergi!" Rei berteriak sambil berlari menghampiri Hantu Chika. Tapi terlambat, Chika sudah menghilang entah ke mana dia.


"Haduh... padahal aku ingin bertanya tentang keberadaannya." Rei bergumam. Lalu ia menengok ke belakang. "Eh ayo kalian berdua! Kita harus cepat kembali ke sekolah sekarang juga!" tegas Rei.


Seketika Akihiro terkejut. Lalu ia berjalan cepat dan berhenti di samping Yuni. "Hah?! Langsung jalan gitu aja? Rei! Apa kau tidak tahu kalau dari letak kita saat ini ke sekolah itu lumayan jauh tau!" Akihiro mengomel.


"Lalu sekarang apa? Memangnya kita mau diam saja di sini? Tentu saja kita harus jalan sekarang juga agar bisa cepat sampai."


"Dengan jalan kaki gitu? Haduh... kalau masih ada kendaraan, kenapa kita tidak naik Bus saja? Masih mending dikasih mudah, kau malah maunya yang susah!"


"Oke kalau begitu, di mana kita bisa mendapatkan Bus itu?" tanya Rei sambil menaikan tengkuknya.


"Saat aku ke rumah si Dennis, aku melihat ada halte Bus tak jauh dari rumahnya. Sekarang ayo kita kembali ke rumahnya saja."


"Hah, terserah kau saja, deh! Ayolah kita tidak punya banyak waktu." Rei kembali berlari melewati kedua temannya. Lalu Akihiro dan Yuni mengikuti Rei dari belakang.


Sampai akhirnya, mereka keluar dari dalam hutan di Desa. "Nah, sekarang, di mana halte itu?" tanya Rei.


"Di pinggir jalan beraspal ini lah pastinya. Nah, rumah Dennis kan ada di jalan itu." Akihiro menunjuk ke kanannya dengan tangan kanan. Lalu ia mengarahkan tangan kanannya ke arah sebaliknya yaitu kiri. "Dan... halte itu berada tak jauh di sana. Kita lewat jalan ini saja."


Rei dan Yuni mengangguk paham. Lalu mereka berdua kembali melangkah mengikuti Akihiro dari belakang.


"Nah tuh benar, kan? Hehe... di sana ada halte ternyata, loh! Ayo kita menunggu Bus!" ajak Akihiro sambil berlari. Mereka bertiga menyebrang jalan dengan hati-hati untuk menuju ke halte Bus yang ditemukan Akihiro itu.


Setelah sampai di sana, mereka bertiga langsung duduk di kursi yang disediakan dekat halte. Nafas mereka masih terengah-engah karena kelelahan. Rei bersandar sambil memejamkan matanya, lalu dengan posisi seperti itu, ia bertanya, "Rei... kita mau naik Bus?"


Akihiro menjawab, "Tentu saja, Rei! Jika kita hanya jalan kaki saja bisa lama sampai di sekolah!"


"Tapi... memangnya kakak punya uang untuk naik Bus?" tanya Yuni dingin. Seketika Rei dan Akihiro terkejut saat mendengar pertanyaan Yuni itu.


"Oh iya!" Mereka berdua berteriak. "Kita kan tidak punya uaaaang!"


"Haduh... benar-benar merepotkan." Yuni bergumam sambil menggeleng. Lalu ia merogoh tas kecil yang ia gendong itu. Ia kembali mengeluarkan tangannya, dan memberikan sesuatu pada Rei. "Ini."


Rei tersentak sekaligus senang. "Wah! Ini uangmu? Terima kasih banyak." Ucap Rei dengan senyum kecilnya.

__ADS_1


"Woah! Kenapa kau tidak bilang dari tadi, Yuni?!" geram Akihiro.


"Kenapa? Mau marah? Ya sudah sini balikin uang aku." Yuni ingin merebut kembali uang yang telah dipegang Rei itu.


Tapi Rei tidak membiarkannya. Ia mengangkat tangannya yang menggenggam uang Yuni lebih tinggi dari Yuni. "Ah, jangan dong! Nanti kita gak punya ongkos buat ke sekolah!"


"Makanya gak usah bawel lagi!" Yuni membentak pelan, lalu kembali duduk di tempatnya. "Tapi saat sampai di sekolah nanti, gantiin uangku, ya?"


Rei dan Akihiro mengangguk. Lalu Akihiro menggerutu di dalam hatinya. "Nih anak gak ikhlas ternyata ngasih uangnya!"


Sekarang yang perlu mereka lakukan adalah menunggu Bus itu datang!


****


Sementara itu, di rumah Neneknya Dennis–


"Kakak! Kita harus bagaimana? Kedua orang tuaku sudah mulai mendekat. Nanti mereka bisa tahu keadaan dalam rumah ini yang sangat kacau!" Adel jadi panik dengan kedatangan kedua orang tuanya.


"Tenang, Del! Bagaimana kalau begini! Sekarang kamu pergi ke depan sana, tutup pintunya lagi, lalu kamu harus berusaha untuk tidak membiarkan orang tuamu masuk. Cari alasan apa, gitu? Sedangkan aku dengan Sachiko akan membereskan rumah ini." Usul Mizuki. Adel menyetujuinya. Lalu ia langsung menjalankan tugasnya.


"Aku bisa mengandalkan kakak." Ujar Adel.


Mizuki mengangguk. "Aku juga mengandalkan mu, Del!"


Adel berjalan cepat ke arah pintu depan. Lalu ia mulai menarik kenop pintunya dan membukanya. "Oke, Adel pergi dulu... Ah!?"


Ibunya juga terkejut saat melihat pintunya terbuka sendiri dan sosok Adel dibalik pintu itu. "Ah, Adel! Kamu mengejutkan Ibu, Nak." Ujar Ibunya pelan sambil mengelus dadanya.


Lalu ada kepala Ayahnya Adel yang mengintip lewat pundak Ibunya. Ayah Adel melambai kecil, lalu beliau menyapa, "Halo Adel ku sayang, Ayah di sini!"


"Ah, Ibu, Ayah... kalian... kenapa datang kemari?" tanya Adel gugup. Ia tidak membuka pintunya lebar-lebar. Adel hanya membuka pintunya sedikit saja untuk mengintip keluar.


"Kok bertanya begitu, sih? Bukannya kamu senang kalau Ibu mengunjungimu?" tanya Ibunya.


"I–iya Adel senang. Tapi...."


"Ah, ayolah! Buka pintunya. Ayah ingin masuk. Kamu tidak lihat kami kelelahan? Jalan di pedesaan itu sangat panas!" Ayahnya Adel mendorong pintu untuk membukanya. Tapi Adel malah mendorongnya juga dari dalam. Ia tidak membiarkan kedua orangtuanya masuk.


"Jangan masuk, Ayah!" Adel tiba-tiba membentak.


"Eh? Kamu kenapa, sayang?" tanya Ibunya lirih.


"Eh, jangan masuk dulu. Adel... em... rumahnya masih berantakan. Biar Adel bersihin dulu, ya?"

__ADS_1


"Tidak apa berantakan juga. Kan sudah lama tidak ditinggali semenjak Nenek meninggal. Sudahlah... kalau kamu mau membereskan rumah ini, lebih baik bersama Ibu saja, yuk!" Ibunya mendorong pintu itu.


"Jangan! Kalian masih lelah, kan? Lebih baik Adel saja." Adel malah semakin mendorong pintu itu.


"Adel! Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari kami?" tanya Ayahnya sedikit agak tegas.


Adel tersentak. Lalu ia menundukkan kepalanya. Ia menggeleng pelan dan tidak berani untuk menjawab jujur.


"Ah, kamu ini kenapa, sih? Ayo biarkan kami masuk." Tiba-tiba ayahnya Adel mendorong pintu itu dengan paksa. Adel terkejut karena ia tidak bisa menahan pintunya.


Pintu pun akhirnya terbuka. Kedua orang tuanya Adel masuk ke dalam. Mereka melirik ke sekitar dan sedikit terkejut. Lalu mata mereka melirik ke arah Mizuki dan Sachiko yang sedang berusaha untuk mendirikan lemari besar yang ada di tengah ruangan.


Seketika, Kedua orang tuanya Adel jadi membatu. Mereka tidak percaya dengan keadaan dalam rumah yang benar-benar sudah kacau balau.


Kursi tergeletak di mana-mana dan sebagiannya juga ada yang hancur. Jendela kaca pecah. Lemari pada jatuh. Benda-benda beling juga berjatuhan. Ada banyak debu juga dan langit-langit rumah seperti akan runtuh. Keadaan seperti itu... bukan dibilang berantakan lagi, tapi memang sudah menjadi rumah yang nyaris hancur.


"Eh, selamat siang mamahnya Adel, papahnya Adel juga!" Mizuki menyapa kedua orang tuanya Adel dengan senyum manisnya.


Tapi kedua orang tua Adel hanya diam saja. Mereka tidak membalas. Lalu Ibunya Adel menengok ke arah anaknya yang ada di sampingnya.


"Adel, apa yang sudah terjadi di sini?" tanya Ibunya dengan nada cemas. Beliau tidak terlihat marah, tapi ekspresi wajahnya menandakan kalau ia khawatir dengan keadaan anaknya.


Adel menundukkan kepalanya. Lalu kembali mendongak menatap Ibunya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia menjawab, "Ibu... jika aku cerita yang sejujurnya, Ibu pasti tidak akan percaya."


"Tidak apa-apa, Nak! Ceritakan saja pada Ibu. Kamu tidak perlu menangis. Sebenarnya ada apa di sini?"


"Hiks... tadi belum lama ada sesuatu yang aneh. Ada makhluk hitam yang datang ke sini dan menghancurkan semua barang-barang di sini Bu. Lalu makhluk itu... makhluk hitam itu... dia... dia sudah menculik kakak dan membawanya pergi! Huwaaa!" jelas Adel sambil terisak. Lalu setelah itu, ia memeluk Ibunya dengan tubuh yang gemetar.


Sebenarnya Adel merasa takut saat menjelaskan ceritanya itu pada Ibunya. Takut karena ia pikir Ibunya tidak akan percaya, dan saat hilangnya Dennis itu Adel takut kalau Ibunya akan sedih dan merasa lebih cemas.


Ibunya membalas pelukan Adel. Lalu ia pun berbisik, "Tidak apa-apa Adel! Tidak apa-apa. Kamu tenang saja. Ibu percaya, kok dengan ceritamu."


Adel tersentak lalu kembali mendongak, menatap ke wajah Ibunya. "Eh? Jadi Ibu percaya? Tapi... bagaimana dengan Kakak, Bu?"


"Hah, kakakmu... dia pasti bisa ditemukan. Karena Ibu tahu siapa yang telah menculik kakakmu itu."


Seketika, Adel dan Mizuki terkejut saat mendengar Ibunya Ad berkata seperti itu. "Eh? Jadi Ibu tahu?!" tanya Adel dan Mizuki tidak percaya.


"Iya. Pelakunya itu adalah... pacarnya Dennis sendiri."


*


*

__ADS_1


*


To be Continued-


__ADS_2