
"Khu~ khu~ Karena semuanya sudah datang, bagaimana kalau kita mulai permainannya?"
"Hei setan! Di mana kamu?!" teriak Akihiro.
"Akihiro tidak usah teriak-teriak juga! Lihat itu Diana di sana dia." Rei menunjuk ke arah tempat Diana berada. Tepat di depan kaca jendela di lantai dua, gadis itu hanya menopang dagu sambil senyum-senyum sendiri.
"Kau yang di atas sana! Kalau berani, ayo turun ke sini sekarang juga!" Rei membentak.
Diana membesarkan matanya karena tersentak. Lalu ia membalas teriakan Rei, "Aku tidak bisa!"
"Kenapa tidak?"
"Nanti..." Diana mengeluarkan tangannya keluar jendela. Ia menggenggam sesuatu yang besar di tangannya itu. Ternyata yang ia pegang itu adalah tubuh manusia yang masih hidup!
Diana menggenggam dan mencengkram kepala orang itu. Dan dengan santainya, Diana malah mengeluarkan tubuh manusia itu keluar jendela.
"Nanti aku tidak bisa membunuh orang ini!" Diana berteriak dengan tertawa jahatnya.
Seketika semuanya terkejut saat Diana mengeluarkan tubuh korbannya yang malang itu.
"Shany!" Akihiro berteriak dan langsung berlari ke arah tempatnya Diana berada. Dari bawah, ia akan menangkap anak malang itu jika Diana menjatuhkan tubuhnya. Sepertinya, Akihiro mengenal anak itu.
"Lepaskan aku! Sakiiitt! Aaaa-! Lepaskan!" Korban yang ada di tangan Diana itu berusaha untuk melepaskan dirinya. Karena anak yang Akihiro panggil dengan nama Shany itu merasa kesakitan karena rambutnya yang ditarik oleh Diana.
"Diana! Lepaskan dia!" Akihiro membentak.
"Oh, jangan lah~ Nanti kalau di lepas dia bisa jatuh, dong!"
"Bodo amat! Kalau dia jatuh aku yang akan menangkapnya sekarang!"
"Oh, jadi kamu mau dia jatuh, ya?"
Shany menggeleng ketakutan. Ia tidak mau dirinya dijatuhkan begitu saja dari lantai 2 gedung itu. Di bawah sana, Akihiro tersenyum pada Shany lalu mengangguk. Ia benar-benar akan menangkap temannya itu.
"Akihiro?" Shany bergumam. Lalu ia kembali membentak Diana. "Lepaskan aku cewek sialan! Akh! Akh! Lepaskan tangan kotormu itu!"
"Ooh? Mau dilepas, ya? Hmm... baiklah!"
"Tenang Shany! Akan aku tangkap kau!" Akihiro mengangkat tangannya dan membukanya lebar-lebar. Jika temannya itu jatuh, maka dengan cepat dan tepat, Akihiro akan menangkapnya.
"Oke~ Tangkap dia, ya? Selamat tinggal! Semoga kau mendarat dengan aman." Diana semakin melonggarkan genggamannya secara perlahan.
Di bawah sana Akihiro sudah siap untuk menyelamatkan teman gadisnya itu. Tapi sebelum Shany jatuh, tiba-tiba ada seseorang yang mendorong Akihiro dengan kuat sampai dirinya terdorong jauh.
"Dadah~" Diana melepaskan genggamannya. Lalu si gadis bernama Shany itu pun terjatuh dari atas jendela di lantai dua. Shany berharap, si Akihiro bisa menyelamatkannya. Tapi saat dia melirik ke bawah, ia terkejut karena dirinya tidak melihat Akihiro.
BRUK!
Akihiro kembali terbangun sambil memegang kepalanya. Lalu ia pun terkejut karena melihat teman perempuannya telah dijatuhkan begitu saja dari atas lantai dua. Gadis itu tidak mati, tapi hanya saja ia merasa kesakitan karena kakinya patah.
Tidak hanya melihat temannya yang jatuh itu saja, tak jauh di hadapannya itu, Akihiro melihat ada sosok seseorang yang ia kenal. Seorang lelaki seumurannya yang memiliki rambut coklat seperti dirinya. Memakai kemeja berwarna merah yang sudah dipenuhi oleh bercak darah. Tak salah lagi, dia adalah Dennis!
__ADS_1
Tapi ada yang telah membuat Akihiro terkejut dengan kehadiran Dennis itu. Dennis yang ia kenal sekarang ini telah berubah menjadi sosok yang menyeramkan. Wajahnya pucat dan matanya berubah menjadi warna hitam gelap keseluruhan. Di tangannya, Dennis menggenggam pisau daging yang sudah penuh dengan bercak darah.
Apakah pisau yang Dennis genggaman itu bekas membunuh orang?
"Dennis! Apa yang telah terjadi padamu?" tanya Akihiro lirih padanya.
"..." Dennis tidak menjawab. Ia hanya diam saja sedari tadi sambil menatap dengan tampang biasanya dan juga mata hitam gelapnya. Dengan mata itu, Dennis jadi terlihat seperti manusia yang tidak memiliki bola mata sama sekali.
"Dennis!" Akihiro membentak. Lalu ia pun kembali berdiri dan langsung menghampiri temannya itu. Akihiro menggoyangkan tubuh Dennis dan sesekali menamparnya juga.
"Dennis! Dennis! Sadar bodoh! Hei!"
"Khu~ khu~ percuma saja kau bicara padanya. Dia sekarang hanya menurut padaku saja, tau! Dan kau itu bukan temannya lagi." Ujar Diana dari tempatnya yang tidak berubah. Ia masih saja berdiri di depan jendela sambil menopang dagu.
"Diana! Apa yang sudah kamu lakukan pada anak saya?!" Ibunya Dennis pun datang. Beliau meneriaki Diana.
"Waah~ Ada Ibunya Dennis juga? Aku sudah lama tidak bertemu dengan anda. Apa kabar, Bu?"
"Jangan pura-pura baik kamu sama saya! Turun sekarang juga dan kembalikan anak saya seperti semula!"
"Aduh~ Ibu ini. Siapa yang pura-pura baik, sih? Kan aku itu masih harus menghormati orang yang lebih tua dong. Makanya aku bicara yang lembut pada Ibu."
"Jika kamu menghormati orang tua, sekarang nurut pada kata saya! Ayo turun kamu sini! Turun kamu! Kalau tidak saya panggil polisi, ya?!"
"Haduh... Ibu-ibu yang satu ini bawel amat, sih!" Gumam Diana sambil menggelengkan kepalanya. Lalu ia kembali mendongak dan menatap Ibunya Dennis dengan mata merahnya itu.
"Baik-baik aku akan turun. Tapi sebelum itu... Dennis sayang~ Ayo serang orang yang ada di dekatmu!"
"Mati kalian..." Ujar Dennis dengan suara yang agak disamarkan.
"Ibu pergilah ke tempat yang aman! Biar aku saja yang urus si Dennis!" pinta Akihiro pada Ibunya Dennis.
"Tapi anak saya...."
"Ibu tenang saja. Biar aku yang urus. Cepat Ibu pergi! Akh!"
Tiba-tiba Dennis mengayunkan pisaunya lagi. Akihiro menahan serangannya itu dengan menggenggam erat tangan Dennis yang memegang pisaunya.
"Sadar Dennis! Kau sedang dikendalikan. Dan tadi barusan saja kau menyerang Ibumu sendiri. Woy!" Akihiro berteriak sambil tetap bertahan untuk menahan tangannya Dennis itu agar tidak menusuk tubuhnya.
"Graaaaaa!!" Dennis semakin mendorong pisaunya. Akihiro terkejut karena ia tidak kuat lagi. Dennis yang sekarang memiliki tenaga yang lebih kuat dari biasanya. Akihiro tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
Jika dia lengah sedikit, maka pisau itu bisa langsung menusuk dadanya. Dennis mendorong Akihiro dan juga pisaunya itu. Sampai akhirnya Akihiro kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Dennis menduduki tubuh Akihiro.
Untung saja pisaunya masih bisa ditahan Akihiro. Tapi ia tidak akan bisa menahannya lebih lama lagi. Mata pisau itu semakin mendekat ke dada Akihiro.
"Denniiiis! Hentikan ini!" Akihiro berteriak. Lalu kakinya ia angkat dan berusaha untuk memukul tu ih Dennis dengan kakinya. Tapi sayang, Akihiro tidak sampai.
"Tidak boleh seperti ini! Aku harus bertindak juga." Rei akhirnya mulai bertindak. Lalu ia menengok ke arah Mizuki.
"Hei, Zuki! Sekarang kau bantu anak yang terluka itu. Aku akan membantu Akihiro. Dan sisahnya tetap di sini menjaga Ibunya Dennis."
__ADS_1
Semuanya mengangguk paham. Lalu setelah itu, Rei langsung berlari ke arah Akihiro dan Dennis. Saat ia sudah dekat, Rei pun melompat dan langsung menendang kepala Dennis sampai ia terlempar jauh.
Akihiro menghembuskan nafas lega. Ia senang Rei bisa datang dan membantu dirinya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Rei sambil mengulurkan tangan untuk membantu Akihiro berdiri kembali.
Akihiro mengangguk sambil tersenyum. Lalu ia menggenggam tangan Rei dan kembali berdiri. "Kau cepat samperin si gadis sialan itu! Aku akan menghadapi si Dennis di sini! Akan kubuat dia tidak bisa memainkan pisau itu lagi. Cepat kau pergi! Selamatkan semuanya!" perintah Rei.
Akihiro mengangguk paham. Lalu ia langsung berlari menghampiri Yuni dan yang lainnya. Di sana sudah ada Mizuki yang berhasil membantu anak bernama Shany itu.
Akihiro senang temannya baik-baik saja. Lalu karena satu anak sudah berada di tempat yang aman, Akihiro pun mengajak Mizuki untuk ikut dengannya pergi ke lantai dua.
"Eh? Ikut denganmu? Lalu bagaimana dengan anak ini? Aku harus mengobati kakinya yang terluka." Mizuki ternyata menolak ajakan Akihiro.
Ibu Dennis memegang pundak Mizuki lalu mengelusnya. "Tidak apa, Zuki. Kamu ikut dengan Akihiro sekarang. Biar Ibu dengan yang lainnya akan merawat anak ini. Cepat selamatkan yang lain!"
"Eh? Tidak apa nih?"
"Iya. Ayo sana. Keselamatan temanmu harus diutamakan!"
"Baiklah! Ayo Dian!"
"Ya!"
"Matte Onee-chan!" Sebelum Mizuki pergi, tiba-tiba Sachiko menyeru kakaknya.
Mizuki menengok ke arah adiknya memanggil. "Ada apa, Sachiko-chan?" Mizuki menyahut dengan bahasa Jepangnya.
"Onee-chan mau ke mana?"
"Kakak ingin pergi sebentar. Kau di sini saja, ya? Jangan ke mana-mana. Tetaplah bersama mereka!" setelah mengatakan itu, Mizuki pun langsung berlari mengikuti Akihiro. Mereka berdua langsung pergi menaiki tangga menuju lantai dua. Langsung saja mereka akan menemui Diana di atas sana.
****
Dennis kembali bangkit lagi. Ia mengambil pisaunya, lalu berdiri menghadap ke arah Rei dengan tatapan mata hitamnya. "Kaaauu!"
"Iya! Ini aku, Dennis. Sekarang kau mau apa?"
"Akan kubunuh, kaaau!" Dennis kembali berlari sambil mengangkat pisaunya itu.
Di tempatnya berdiri, Rei sudah siap untuk meladeni makhluk berbahaya yang sudah merasuki teman baiknya itu. "Baiklah! Maju kalau kau bisa!"
Dan sekarang, pertarungan antara Rei dengan Dennis pun dimulai!
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1