
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
[ Ya. Jadi anak bernama Reizal Alfathir, dari kelas 3-C, berhasil selamat dari duri-duri itu. Hebat juga dirimu. Tapi... apakah kau bisa bertahan di Ujian yang sebenarnya? Khu~ khu~ khu~ ]
Rei tersentak ketika namanya di sebut. Lalu secara perlahan, ia mencoba untuk berdiri sambil menggenggam erat bagian lengannya yang terluka itu. Ia masih saja berusaha untuk menahan darahnya agar tidak terus keluar.
"Kau lagi! Aku sudah tahu siapa kau itu!" Rei membentak. Semuanya langsung menoleh ke arah Rei.
Pak Bob mengeluarkan senyum seringainya dan berkata, [ Ternyata kau masih ingat denganku, anak kecil. Hehe... ternyata aku memang cukup terkenal. Makanya semua orang selalu mengingat wajahku. ]
"Aku tahu sekarang. Ternyata tujuanmu untuk mencuri buku absen dari rumahku itu hanya untuk mengetahui nama semua murid di sekolah ini, kan? Lalu... setelah kau mengetahui nama mereka, kau akan menuliskan nama mereka semua dalam perangkat komputermu yang akan kau gunakan untuk mengirim kami ke dalam dunia buatanmu yang berbahaya ini! Tujuanmu pasti hanya ingin membunuh kami, kan?" Rei menjelaskan. Semua murid jadi terkejut mendengarnya. Lalu mereka kembali melirik ke arah bunga Raflesia dengan layar melayangnya itu.
"A–apa maksud semua ini?"
"Hei kau yang ada di dalam bunga itu! Apa yang dikatakan Rei itu benar?!"
"Tolong katakan sesuatu!"
"Keluarkan kami dari sini!"
"Aku mau pulang ke rumah saja!"
"Berikan kami jalan keluarnya!"
Semua murid lagi-lagi mulai berisik. Hal itu telah membuat Pak Bob menjadi geram karena mendengar ocehan, kata kasar, keluhan dan rengekan mereka semua.
[ Kalian diamlah! Jalan keluar pasti akan ada jika kalian bisa menyelesaikan Ujian ini. Jika kalian bisa menyelesaikannya secara bijak dan hati-hati... maka dijamin kalian pasti bisa keluar dari dunia ini secara hidup-hidup! ]
"Tapi kenapa harus ujian seperti ini!"
"Tidak harus ada yang mati bisa, kan?"
"Hei, ini tidak manusiawi tahu!!"
[ Sudahlah! Tenang kalian semua. Jangan banyak protes! Kalian harus ingat ini. Aku yang mengendalikan dunia ini. Jika kalian berani macam-macam padaku, maka kalian semua bisa mati langsung sekarang juga! ]
Semuanya langsung terdiam setelah Pak Bob berkata seperti itu. Dennis dan teman-temannya juga ikut diam. Karena mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa jika dunia itu memang sudah benar-benar dikuasai oleh Bob.
"Cih! Manusia sialan itu!" Rei menggerutu. "Kenapa dia bisa ada di sekolah kita? Dan kenapa dia mengincar sekolah kita?!"
"Mungkin alasannya seperti ini, Rei!" Seketika Rei terkejut saat ia menoleh ke arah kirinya. Karena tiba-tiba saja ada Rashino dan Nashira yang muncul secara mendadak. Mereka menunjukan layar ponsel Rashino pada Rei.
"A–apa itu?" tanya Rei setelah ia melihat beberapa tulisan yang ada di dalam layar di ponsel Rashino itu.
"Ini berita yang kutemukan. Kau pasti tahu tentang Internet Terror yang sedang mengincar korban di sekolah, kan? Kan korbannya sudah banyak. Bahkan ada yang satu murid sekolah itu mati semua." Jelas Nashira. Rashino mengangguk setelah si Nashira selesai menjelaskan.
Rei juga mengangguk. Ia ternyata tahu berita tentang Terror Internet yang lagi viral itu. "Jadi... apa sekarang Terror Internet ini sedang menyerang sekolah kita. Dan... apakah pelaku dibalik semua kasus Terror Internet itu adalah orang yang sedang bicara lewat bunga itu?" tanya Rei pada Rashino dan Nashira setelah ia berpikir.
Si kembar menganggu. "Iya bisa saja begitu! Karena... kami sudah lama mencari pelaku dari Terror Internet itu. Dan ternyata... semua masalah ini adalah ulah dia! Si orang jahat yang berbicara lewat bunga itu." Jelas Nashira lagi. Rashino mengangguk.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan agar tidak berakhir seperti korban-korban yang telah meninggal itu?" tanya Mizuki cemas. Setelah itu, Dennis dan teman-temannya pun berkumpul bersama. Rei sepertinya punya rencana. Ia menjawab pertanyaan dan kecemasan Mizuki tadi.
"Cara untuk keluar dari dunia aneh ini adalah dengan cara memainkan semua permainan yang orang jahat itu berikan. Dengan hati-hati dan selalu bersama dalam menghadapinya." Jelas Rei. "Entah bagaimana bisa dia menyebut permainannya itu sebagai Ujian untuk para murid." Lanjutnya dengan nada dingin.
"Iya. Apa faedahnya, coba?" gerutu Akihiro. "Awas saja, sih! Kalau aku berhasil keluar dari dunia ini, aku akan menghancurkan orang itu!"
"Sepertinya tidak akan mudah." Gumam Rei membalas perkataan Akihiro yang telah menantang Bob itu.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Aku tahu orang itu. Bagaimana tampangnya dan juga kekuatannya. Dia memiliki tubuh yang besar dan kelincahannya dalam bertarung. Aku sudah pernah melawannya saat orang itu ingin mencuri buku absen dari rumahku."
"Oh! Apa orang yang kau maksud itu adalah si pencuri yang masuk ke kamarmu itu, ya, Kak Rei?" tanya Dennis.
Rei mengangguk. Ia melanjutkan, "Iya seperti itulah. Orang itu benar-benar lincah. Dia bisa menghindari serangan dariku. Tapi... aku masih belum tahu dengan kekuatan pertahanannya. Jika aku berhasil menyerangnya, apakah dia akan kesakitan atau tidak." Pikir Rei.
"Hmm... tapi yang penting, sekarang ini kita harus bisa keluar dari dunia ini bersama-sama! Ayo kita saling membantu dan melindungi!" Akihiro mengangkat tangannya. "Siapa yang setuju denganku?"
"Aku." Rei mengangguk.
"Aku juga!" Dennis mengacungkan tangan kecil.
"Adel juga setuju!" Adel juga sama seperti kakaknya. Hanya saja, setelah ia menjawab Akihiro si Adel melompat-lompat kegirangan.
"Boleh saja." Mizuki mengacungkan tangan sedada.
Yuni hanya mengangguk.
"Kami berdua juga akan ikut bersama dengan kalian!" Ternyata si Kembar juga ingin ikut dengan kelompoknya Akihiro.
Dan sekarang, kelompok Dennis bertambah 2 orang yaitu Rashino dan Nashira. Sekarang ini, mereka berjanji akan bisa keluar bersama-sama dari dunia itu dengan selamat.
[ Nah! Seperti yang aku janjikan. Sekarang... tidak ada waktunya untuk menunggu lagi. Di sini sudah pukul 9 pagi. ]
"Ah, benarkah?" Dennis tidak percaya kalau sudah pukul 9 pagi. Ia pun merogoh kantung celananya untuk mengambil ponsel miliknya. Setelah Dennis mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam kantung, Dennis pun membuka ponselnya itu. Ia melihat ke sudut atas layarnya. "Ternyata benar. Kenapa waktu cepat sekali berlalu?" gumam Dennis.
[ Baiklah! Sekarang waktunya untuk memulai orientasi kita. Pertama, aku akan mulai dari kelas yang terbawah. Yaitu kelas 1-A! ]
Ya. Dari kelas terbawah pastinya. Di layar terdapat beberapa nama dan gambar murid-murid kelas 1-A diurutkan berdasarkan nomor absen. Dan di sudut, intinya di samping nama murid tertulis jumlah rangking mereka. Rangking yang masih mereka pertahankan. Ternyata di kelas 1-A itu pemilik rangking 1 besar adalah seorang lelaki, kedua lelaki juga dan ketiga diambil oleh seorang anak perempuan.
Pada kelas 1-A itu kan sudah ada murid yang meninggal. Maka gambar dan nama murid itu pun dicoret silang oleh tinta merah.
Sekarang lanjut ke kelas lainnya!
Semuanya memperhatikan. Pak Bob tidak menjelaskan tentang pribadi murid-murid yang sudah terpampang di layar. Ia hanya menyebutkan rangkingnya saja dan kepintaran anak itu masing-masing. Sampai akhirnya... tiba juga ke kelas terakhir, yaitu kelas 3-C!
No. 1. Arya Wiguna (Ranking 10)
Ahmad (Rangking 17)
Maulan Aditia (Rangking 1)
Cindy Auliani (Rangking 9)
Dennis Efendy (Rangking 4)
Dian Syahputra (Rangking 7)
Ethan Rizwan (Rangking 8)
Ivan Fidlya (Rangking 3)
Kaniata Lania (Rangking 11)
Lily (Rangking 15)
Mizan Onillie (Rangking 13)
Mizuki Hanashita (Rangking 5)
Naila Billeana (Rangking 18)
Fannie Agustin (Rangking 6)
__ADS_1
Nino Fernandez (Rangking 20)
Oliva Livina (Rangking 12)
Putri Devianta (Rangking 14)
Reizal Alfathir (Rangking 2)
Revi Dinoraya (Rangking 16)
Rifky Azzabrar (Rangking 23)
Shinta Masshabella (Rangking 21)
Yoni (Rangking 22)
Zainal (Rangking 19)
[ Seperti yang kalian lihat di layar, ternyata urutan rangking pertama itu masih dipegang oleh Maulan Aditia! Dia ternyata anak terpintar di kelas kalian. ]
Posisi Adit saat ini ternyata berada tak jauh dari tempat Rei berdiri. Adit bisa melihat tempatnya Rei, tapi Rei sendiri tidak menyadari kehadiran Adit berada di mana saat ini.
Adit tersenyum sambil melirik Rei sinis. "Yes! Akhirnya aku bisa mengalahkanmu juga, Rei! Ini semua berkat Pak Bob!"
FLASHBACK~
"Bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan nilai yang bagus di bimbel nanti?" tanya Adit sambil memohon pada Pak Bob saat mereka masih berada di dalam ruang pengawas yang tersembunyi.
"Tenang saja. Kau tahu? Akulah yang membuat soal-soal bimbel itu untuk mereka. Untuk membantumu, aku akan memberikan semua bocoran soal agar kau bisa mengerjakannya dengan mudah!"
BACK~
"Ya! Dengan bocoran soal itu, akhirnya aku bisa juga mengalahkan Rei. Dan saat inilah kesempatanku untuk menghancurkan si Rei itu. Kalau perlu, langsung saja melenyapkan dia dari muka bumi ini. Aku juga bisa meminta bantuan pada Pak Bob lagi karena dia yang mengendalikan dunia ini. Dan mungkin saja jika aku meminta Rei untuk dibunuh, maka Pak Bob mungkin mau melakukannya. Karena dia sendiri juga benci pada Rei, kan?" pikir Adit dalam hati. Ia berharap rencananya itu bisa berhasil. "Khu~ khu~ Eh? Aku bisa tertawa seperti Pak Bob, haha.... Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin melihat wajah kesakitan dari Rei!"
[ Baiklah, baiklah! Karena sekarang semuanya sudah kusebutkan nama kalian masing-masing, bagaimana kalau saat ini juga kita memulai Ujiannya? ]
[ Tapi sebelum itu.... ]
TUING!
Sebuah kotak berwarna putih tiba-tiba saja muncul dan terlempar dari dalam bunga Raflesia Arnoldi. Kotak putih itu terlempar ke arah Rei. Mizuki yang berada dekat di samping Rei langsung menangkap kotak itu dan melihatnya.
"I–ini kotak obat P3K! Dengan adanya ini aku bisa menyembuhkan lukamu, Rei!" ujar Mizuki senang setelah ia mendapatkan kotak obat itu.
Rei mengangguk. Lalu ia memberikan lengannya yang terluka itu kepada Mizuki agar Mizuki bisa segera mengobati luka di lengan Rei itu.
Dengan obat luka dan perban, Mizuki bisa segera menyembuhkan Rei. Tapi tidak sampai 100%. Mizuki hanya bisa menghentikan pendarahan Rei saja untuk sementara, lalu diberi obat sedikit. Luka yang di dapat Rei itu seharusnya diberi obat khusus untuk menutupi seluruh lukanya tanpa berbekas.
[ Baiklah! Korban yang terluka sudah ditangani, kan? Aku sudah berbaik hati memberikan pengobatan untukmu, Rei. Karena aku tidak mau kau mati duluan sebelum melihat teman-temanmu menderita karena Ujian ini. ]
Rei terkejut mendengarnya. Ia mengerutkan keningnya dan menatap tajam ke arah bunga Raflesia itu. "Aku tidak akan membiarkan semua teman-temanku mati. Mereka akan aku lindungi pokoknya!"
[ Nah! Tanpa basa-basi lagi, sekarang juga kita mulai Ujiannya. ]
[ Ujian pertama adalah mata pelajaran Matematika! Sebelum mulai, dengarkan aku dan simaklah, bagaimana kalian bisa bertahan di Ujian pertama ini... khu~ khu~ ]
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @Pipit_otosaka8