Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 43–Melawan si Rubah Kecil


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


[ Rubah itulah yang akan membunuh kalian semua! Jadi... untuk Ujian pertama ini, tidak akan ada yang bisa selamat! ]


"Aku sudah lama menunggu sedari tadi! Dan sekarang... perutku lapar! Biarkan aku memakan daging kalian semua!" Rubah kecil, eh! Bukan! Rubah itu sudah menjadi besar. Dengan tubuh manusia dan tiga ekor besarnya itu, dia telah menjadi makhluk yang sangat berbahaya. Lebih bahaya dibanding dengan ukuran sebelumnya.


Seketika, semua orang langsung berteriak ketakutan. Mereka berlari berhamburan untuk mencari jalan keluar dari ruangan yang mengerikan itu. Rei dan Akihiro juga berlari menjauh dari rubah yang sudah mengamuk itu.


"Siaal! Kenapa rubah itu malah menjadi besar dan bertambah kuat, sih?!" Akihiro menggerutu kesal sambil terus berlari. "Kita ini kan manusia biasa! Masa ingin melawan rubah itu? Ini bukan adegan di buku komik, tahu!"


"Akihiro tenang dulu!" Rei menyela. "Kita pasti bisa mengalahkannya. Karena setiap makhluk kuat itu pasti memiliki kelemahan!"


"Memangnya kau tahu kelemahan si rubah itu?!"


"Makanya kita cari dulu! Aku juga tidak tahu!"


"Ah, bodoh! Kalau begini kita tidak akan bisa menang melawannya." Akihiro terus berteriak geram ke arah Rei. "Kita mungkin masih bisa menyelamatkan diri kita. Tapi hanya untuk sementara! Kita di sini hanya menunggu ajal menjemput kita. Dan... kita juga diperlihatkan pemandangan tidak enak seperti ini!"


Ia mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah si rubah aneh yang sedang sibuk berburu mangsanya. Semua orang di sana satu per satu dimakani oleh si rubah secara perlahan. Keadaan benar-benar kacau dan seketika ruangan itu jadi penuh dengan ketakutan dan darah yang membasahi setiap dinding berbatu.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan, Rei!" Akihiro kembali membentak. "Lihat! Dalam sekejap, semua orang di sini akan mati!"


"Hiro! Jangan berkata seperti itu, dong pada Rei!" Mizuki datang dan langsung membentak Akihiro. Ia mendorong tubuh Akihiro untuk menjauh dari Rei.


"Apa, Zuki? Kau juga pasti tidak tahu caranya untuk mengalahkan rubah itu, kan?"


"Iya! Tapi kita harus memikirkan sesuatu!"


"Ikh! Apa yang bisa kita pikirkan dalam keadaan seperti ini?!"


Semuanya terdiam. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain menundukkan kepala dan berdiam diri menjadi seperti patung. Sementara, teriakan tersebar di mana-mana. Rubah itu sedang sibuk membunuh semuanya. Dan manusia yang ada di ruangan itu hampir habis dan yang tersisah hanya kelompoknya Rei saja. Bahkan sedari tadi, Danti dan Lany juga entah berada di mana.


"Kalian tidak boleh menyerah."


Semuanya kembali membuka mata dan mendongak cepat. Pandangan mata langsung mengarah ke Dennis yang sedang terduduk di depan layar soal yang kosong.


"Kak Rei benar! Masih ada cara untuk mengalahkan rubah itu!" Dennis membentak. Ia berusaha untuk berdiri agar dirinya bisa menghampiri teman-temannya. Tapi sayang, kakinya masih terasa sakit. Dan saat ini, Dennis hanya bisa duduk berdiam diri di sana.


"Apa maksudmu, Dennis?" tanya Akihiro dengan nada dingin.


"Aku... punya cara untuk mengalahkan rubah itu!"

__ADS_1


Seketika semuanya terkejut. Mereka langsung menghampiri Dennis. "Kak Dennis tahu?" tanya Adel dengan suara lembutnya.


"Iya." Dennis mengangguk. "Tapi... rencanaku memerlukan kerja sama yang berat. Aku harap, semuanya bisa membantuku." Dennis tersenyum pada teman-temannya. Semuanya mengangguk paham. Lalu Akihiro mengarahkan tangannya ke depan Dennis untuk membantunya berdiri.


Setelah Dennis menggenggam tangan Akihiro, Akihiro langsung menarik tangan Dennis dan membantunya berdiri. Lalu setelah berdiri, Akihiro akan membantu Dennis untuk menahan keseimbangannya juga dalam berdiri tegak.


"Sekarang, apa rencanamu, jagoan?" tanya Akihiro sambil tersenyum dingin pada Dennis.


"Seperti ini. Apa kalian tahu? Rubah itu adalah makhluk yang menyenangkan. Berwajah mungil dengan rambutnya yang halus dan berwarna jingga. Rubah itu sebenarnya hewan yang sangat lembut dan baik hati. Hanya karena dirinya merupakan hewan karnivora, telah membuatnya menjadi ganas akan daging jika dirinya sedang kelaparan." Dennis menjelaskan. Tapi sebelum Dennis kembali melanjutkan, tiba-tiba saja Yuni menyela, "Bisa kau jelaskan langsung ke inti rencanamu?"


Dennis tersentak. Ia tertawa kecil, lalu mengubah topik pembicaraanya. "Begini. Rubah itu juga hewan yang suka diajak bercanda. Jadi... rencanaku, bagaimana kalau kita ajak si rubah itu untuk bermain?"


Seketika semuanya terkejut. "Hah?! Mengajak rubah ganas itu untuk bermain? Kau gila?! Bagaimana caranya? Dia bukan tipe rubah seperti hewan imut pada umumnya, loh!" Mizuki membentak Dennis.


"Rencana kakak gak lucu tahu!" Adel juga ikut membentak.


Dennis terdiam dengan wajah yang sedikit memerah karena malu. Ia merasa kalau semua teman-temannya itu tidak akan menyukai rencananya. Tapi ternyata... Yuni dan Rei menyetujui rencana itu.


"Bisa juga tuh." Gumam Rei sambil berpikir. "Kita bisa mengajak main si rubah polos itu."


"Rencana yang hebat." Yuni memuji. Seketika mood Dennis kembali senang. Ia tersenyum lebar dan menatap tak percaya pada Rei dan Yuni karena mereka berdua telah menyetujui rencananya itu.


"Reeei?! Kau juga?!"


"Kenapa Mizuki?" Rei melirik ke arah teman perempuannya itu. "Kan kalau belum dicoba, kita belum tahu hasilnya."


"Tapi... bagaimana caranya kita mengajak main si rubah itu? Pakai benda apa untuk menarik perhatiannya?" tanya Mizuki.


Semuanya tertawa kecil sambil menatap Adel. Mereka tidak menjawab. Semuanya menganggap kalau yang dikatakan Adel tidak mungkin bisa dilakukan. Tapi karena semuanya menghargai pendapat Adel, jadi mereka hanya menjawab, "Iya. Iya" saja.


"Tapi Adel, tidak mungkin kita mendapatkan bola di tempat seperti ini." Ujar Dennis.


"Tentu saja ada!"


Semuanya melirik ke belakang Dennis dan Akihiro. Karena di belakang mereka berdua ada si Rashino dan Nashira yang sedang berdiri di pojokan. Rashino sedang memotret sesuatu. Sementara Nashira memberitahu sesuatu pada teman-temannya tentang benda yang ia temukan itu.


"Kita bisa menggunakan ini sebagai mainan bola untuk si rubah itu!" ujar Nashira sambil menunjuk ke arah benda yang ia temukan. Seketika semuanya terkejut. Karena benda yang ditunjukan Nashira itu adalah... Kepala Manusia!


"Ka–kau yakin akan menggunakan itu?" tanya Dennis ragu.


"Iya. Lihat! Kami sudah mengumpulkan semua kepala yang kami temukan di tempat ini."


"Oh. Jadi sedari tadi kalian menghilang karena sibuk untuk mencari kepala-kepala ini?" tanya Rei.


"Memangnya kalian tidak... merasa takut dan jijik? Kepala-kepala itu terlihat mengerikan!" tanya Mizuki sambil menutup mulutnya. Ia menahan sesuatu yang ingin keluar dari perutnya yang sedikit mual itu.


Rashino dan Nashira menggeleng. "Tidak. Karena kami sudah sering melihat yang beginian." Ujar mereka berdua kompak.

__ADS_1


"Lalu sekarang apa? Apa yang akan kalian lakukan dengan kepala ini?" tanya Dennis. Akihiro membantu Dennis untuk melangkah ke depan sedikit.


"Baginilah rencananya!"


Nashira akan memberitahu cara untuk mengalahkan rubah itu. Ia akan membisikan rencananya itu. Semuanya mendekati Nashira dan saling berbisik.


Lalu beberapa menit kemudian, semuanya kembali menjauh. Lalu mereka berbalik badan dan terkejut. Karena seluruh ruangan itu benar-benar sudah kosong dan sisahnya hanya darah yang menggenang dan potongan tubuh manusia di mana-mana.


"A–a–apakah rubah itu telah memakan semua orang di sini?!" Adel jadi panik. Ia tidak kuat melihatnya.


Rubah itu sedang sibuk dengan mangsa terakhirnya. Ia sedang memakan seorang anak perempuan. Lalu setelah si rubah berhasil mencabut kepala si perempuan itu, tiba-tiba saja Adel berteriak ketakutan dan langsung memeluk kakaknya.


Lalu setelah Adel, Akihiro juga ikut berteriak. Bukan teriakan ketakutan, tapi teriakan untuk menegur si rubah itu. "HEI RUBAH PINK SIALAN!"


Si rubah menghentikan mulutnya yang sedang mengunyah daging. Lalu secara perlahan, ia menengok ke belakang. "Tadi... kau yang memanggilku?"


"Iya! Memangnya kenapa?! Gak boleh?"


Si rubah menelan makanannya. Lalu ia kembali berdiri tegak seperti seorang manusia biasa. Rubah itu mengerutkan keningnya, lalu meneleng sambil tersenyum. "Apakah aku imut?" Rubah itu bertanya.


"Ingat, Dian. Sesuai rencana." Bisik Rei.


"Ah! iya, iya. Aku tahu, kok!"


Akihiro kembali menatap tajam ke arah rubah itu. Lalu Akihiro mengeluarkan seringai di bibirnya. Ia menjawab, "Kau itu rubah yang bodoh! Udah jelek, kotor, dekil, buluk, gak bagus intinya! Kejam, jahat dan payah!"


"A–apa kau bilang?!"


"Tuh, kan! Udah jelek, tuli lagi. Masa aku teriak seperti itu kau tidak bisa mendengarnya. Rubah bodoh! Bisanya hanya memakan daging anak kecil!"


"A–APAAA?!"


"Kak Dian... sepertinya kau terlalu berlebihan, deh!" gumam Dennis.


"Kau ingin meledekku, hah?! MAAATII SAJA KAU!"


"Heh! Coba bunuh aku kalau bisa!" Akihiro mulai bersiap di posisinya semenjak si rubah itu berlari menghampirinya. Semuanya langsung menjauh dari Akihiro. Mereka pergi ke sudut ruangan itu.


"Sekarang... aku akan menjadi orang yang berguna dan bisa melindungi teman-temanku!" batin Akihiro dengan penuh percaya diri. "Dalam situasi seperti ini... aku tidak boleh membebani teman-temanku seperti kejadian yang dulu lagi! Tidak akan!"


"Aku... seorang diri saja pasti bisa mengalahkan rubah jelek ini!"


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2