
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
Pada pukul sembilan lewat sepuluh menit, Bu Mia yang merupakan wali kelas 3-C itu akhirnya datang. Beliau menggeser pintu lalu berlari kecil memasuki kelas. Ia berdiri di depan papan tulis dengan ekspresi wajah yang kelelahan.
"Hah... hah..." Nafasnya masih sedikit terengah-engah. Lalu ia menarik nafas dalam dan menghembuskan ya secara perlahan. Tak lama, Bu Mia membuka mulutnya. "Maaf, anak-anak! Ibu terlambat. Haduh... tadi sempat ada masalah sedikit di kantor."
Semua murid hanya mengangguk tanpa menjawab. Setelah melihat respon dari murid-muridnya, Bu Mia pun mendekati mejanya. Ia meletakan tasnya di atas meja, lalu mengeluarkan buku absen dari dalam tas.
"Eh? Itu kan... buku absen kelas 3-C? Kata Kak Rei... buku itu sudah dicuri orang lain. Tapi kok malah ada di tangan Bu Mia? Ini aneh." Pikir Dennis dalam hati. Ia sedikit terkejut saat melihat Buku absen kelasnya itu berada di tangan Bu Mia.
Bu Mia membuka buku absen itu. Ia akan memanggil nama murid-muridnya untuk mengisi data kehadiran di hari Senin ini. Ia memandang untuk memastikan kehadiran semua anak muridnya.
Saat dilihat, sepertinya semua kursi telah diduduki. Tapi... ternyata ada satu kursi lagi yang kosong di barisan ke 3. Setelah melihat tempat seseorang itu kosong, Bu Mia pun bertanya, "Emm... yang belum masuk di sini siapa, ya?"
Semuanya celingak-celinguk mencari orang yang dimaksud Bu Mia itu. Lalu tak lama mereka menggeleng. Mereka tidak tahu di mana anak yang masih belum datang itu.
Bu Mia menghembuskan nafas pelan, lalu kembali membuka absennya. "Baiklah kalau begitu. Kita tunggu murid yang terlambat itu, ya? Sekarang Ibu akan absen kalian satu–"
DUK!
Tiba-tiba terdengar suara benda yang membentur pintu. Seketika semua mata langsung tertuju pada pintu tersebut. Pintu kelas yang tak jauh berada di samping Bu Mia. Itu pintu depan kelas.
"Aduh..." Terdengar suara erangan seseorang dari depan pintu itu. Tak lama pintu pun terbuka. Dan terlihatlah seorang anak yang berdiri di depan pintu itu.
Anak di kelas 3-C. Dia berbadan agak gemuk, membawa tongkat untuk membantu pengelihatannya. Karena... anak yang terlambat itu bernama Nino Fernandez. Seorang anak muda yang memiliki kelainan fisik pada matanya. Matanya jadi rusak dan tidak dapat digunakan untuk melihat lagi karena suatu kejadian yang menimpanya.
Secara perlahan, Nino melangkah maju sambil terus menggerakkan tongkatnya ke depan. Lalu tak lama kemudian, Nino pun berhenti tepat di hadapan Bu Mia. Karena ia bisa merasakan keberadaan wali kelasnya itu.
Nino sedikit menunduk, lalu kembali mendongak. "Maaf sa–saya terlambat, Bu! Ta–tadi saya tersesat di lorong ke 4." Ucap Nino agak ragu.
Bu Mia tersenyum, lalu ia menyentuh pundak Nino dan berkata, "Tidak apa-apa. Sekarang duduklah. Kau datang di waktu yang tepat."
Nino mengangguk. Lalu ia berbalik badan dan kembali melangkahkan kakinya. Ia berusaha untuk mencari tempat duduknya.
Karena melihat Nino yang sedikit kesusahan dengan jalan yang ada di depannya, seorang anak yang bernama Arya Wiguna–Ketua kelas 3-C itu membantu Nino sampai ke tempat duduknya.
"Te–terima kasih... emm...."
"Aku Arya."
"Oh. Terima kasih, ya, Arya?" ucap Nino setelah ia duduk di tempatnya.
"Tidak masalah!" Arya kembali ke tempat duduknya yang berada di belakang Nino. Belakangnya Arya adalah tempat duduknya Rei.
__ADS_1
"Baiklah... sekarang apa semuanya sudah hadir?" tanya Bu Mia dengan nada tegas.
Semuanya mengangguk dan menjawab dengan serontak. "Sudah, Bu!"
"Baiklah kalau begitu, kita akan memulai homeroom hari ini." Ujar Bu Mia sambil menuliskan sesuatu di papan tulis.
Sebelum Bu Mia menyelesaikan tulisannya, tiba-tiba ada anak yang berdiri sambil mengacungkan tangannya. Ia berseru, "Ibu! Apakah kita tidak belajar hari ini?" Anak itu bertanya.
"Oh, Oliva, ya?" Bu Mia menghentikan pergerakannya dalam menulis, lalu menengok ke belakang. Kemudian Bu Mia menggeleng pelan. Ia menjawab, "Tidak. Hari ini Ibu hanya ingin memberitahu satu pengumuman saja dan Ibu akan memberikan jadwal bimbel pada kalian."
Anak perempuan yang bertanya itu bernama Oliva Livina. "Oh, baiklah. Maaf telah menyela." Ujar Oliva sebelum ia kembali duduk di tempatnya.
Bu Mia tersenyum. Lalu ia kembali menulis beberapa kata di papan tulis. Sebuah kalimat dengan 5 kata saja. Tulisan itu bertulis, "Ujian Akhir Semester Telah Tiba."
Sepertinya tulisan itu adalah judul untuk homeroom hari ini. Soalnya semua kata yang tertulis di papan tulis itu menggunakan huruf kapital semua pada awal kata. Kan biasanya gaya penulisan seperti itu biasa digunakan untuk menulis judul.
Setelah selesai menulis, Bu Mia meletakan spidol di atas meja lalu berbalik badan. Ia menepuk tangannya sekali, lalu berkata dengan nada keras. "Nah, anak-anak! Ujian akhir semester akan segera tiba! Apakah kalian sudah siap?"
Semua murid terdiam. Lalu mereka menjawab dengan cara menggeleng dan ada juga yang mengangguk senang. Tapi sebagian besar, semuanya malah menggelengkan kepala mereka.
"Wah. Sepertinya masih banyak yang belum siap, ya?" tanya Bu Mia.
Semuanya mengangguk ragu dengan tampang wajah yang terlihat sedikit tegang. Seolah mereka sudah tahu kalau Ujian yang akan mereka hadapi itu akan terlihat menyeramkan seperti yang mereka bayangkan.
"Ah, kalian tidak usah takut. Ujian yang kali ini agak mudah, kok." Ujar Bu Mia. "Ibu tahu karena Ibu sudah melihat soal ujiannya."
Semuanya membesarkan mata mereka. Lalu Bu Mia melanjutkan perkataanya. "Nah, maka dari itu, setiap sore sehabis kelas berakhir, kalian harus ikut bimbel. Karena Ibu akan memberikan sedikit bocoran soal dan ajaran lainnya untuk menambah ilmu kalian."
"Emm... kalau boleh semua soal, Bu! Hehe...."
"Ah, tidak boleh seperti itu. Nanti kalian yang keenakan."
"Tapi kan kalau kita sudah tahu soal itu, kita pasti akan mencari jawaban dan mengingat jawabannya. Jadi... saat ujiannya telah tiba, pasti akan mudah untuk menyelesaikannya dan mendapat nilai yang sempurna." Jelas anak laki-laki itu dengan santainya.
"Haduh... tetap tidak boleh! Ini Ujian. Sekarang duduk kembali!"
Lelaki yang bernama Ahmad itu tersentak setelah mendengar suara Bu Mia yang sedikit membentaknya di akhir kalimat. Lalu secara perlahan, ia kembali duduk di tempatnya.
"Nah, anak-anak, mari kita lanjutkan." Kali ini, Bu Mia memutuskan untuk duduk di tempatnya karena ia merasa kakinya agak sakit kalau berdiri terlalu lama di depan kelas.
"Seperti yang Ibu bilang tadi, hari ini kita hanya akan membahas soal bimbel. Nah, di bimbel setiap hari sore ini, Ibu akan menjelaskan dan mengulang semua materi yang sudah Ibu dan guru-guru lain berikan. Lalu setelah materi yang kita ulas selesai, Ibu akan memberikan soal-soal sesuai dengan materi hari ini. Hasil nilai dari soal yang ibu berikan, akan muncul di Mading baru di depan kelas kita." Jelas Bu Mia.
"Sekarang, apa ada yang ingin kalian tanyakan?" tanya Bu Mia.
Semua murid saling menengok dan membisikan sesuatu pada teman-teman di samping tempat duduk mereka. Lalu tak lama kemudian, salah satu anak perempuan bernama Cindy Auliani pun berdiri dan mengacungkan tangan. Ia ingin menanyakan sesuatu.
"Ibu, Ibu! Apakah ada hadiah untuk nilai yang tertinggi?" tanya Cindy dengan nada suara imutnya.
Bu Mia sedikit tertawa saat mendengar pertanyaan Cindy itu. "Ahaha... seseorang mendapatkan nilai tertinggi bukan karena mereka menginginkan hadiah. Tapi semuanya ingin mendapatkan ilmu untuk bisa berguna di masa yang akan datang. Dan ada juga yang menggunakan ilmu untuk membantu orang lain. Kita pastinya tidak mengharapkan hadiah, dong."
__ADS_1
"Oh iya, kah?" Cindy tersentak mendengarnya. "Emm... baiklah kalau begitu." Anak perempuan berambut cokelat dikuncir ke belakang itu kembali duduk di tempatnya. Lalu ia sedikit bergumam, "Kalau ada hadiah kan jadi makin semangat."
"Nah, sekarang apa ada yang ingin bertanya lagi?" tanya Bu Mia. Semuanya terdiam. "Hah, baiklah. Kalau tidak ada yang mau bertanya, Ibu akan tutup homeroom hari ini."
"E–eh! Tunggu dulu, Bu!" Seseorang baru saja menyela. Seorang anak perempuan lainnya yang memberanikan diri untuk bertanya pada guru yang ada di depannya.
"Ya? Fannie? Ada apa?" tanya Bu Mia lirih.
Seorang anak perempuan berambut pendek, berwajah imut dan cantik itu berdiri. Ia bernama Fannie Felixia. Seorang murid di kelas 3-C yang suka dijuluki Anak Kucing, karena ia selalu memakai bando dengan telinga kucing di kepalanya.
Fannie memulai pertanyaannya. "Ibu! Bimbel ada jadwalnya? Maksud saya, jadwal pelajarannya. Kayak seperti, hari ini kita akan belajar apa, lalu bimbel besok belajar apa, gitu?"
"Ooh... tentu saja ada. Nanti Ibu infokan di grup message, ya? Selalu periksa ponsel kalian!"
"Baik, Bu!" Semuanya menjawab.
"Lalu..." Eh, ternyata Fannie masih belum selesai. Ia kembali bertanya, "Ibu, apakah jadwal untuk ujian nanti sudah bisa diberikan?"
Bu Mia mengangguk. "Iya. Tapi... Ibu akan memberikannya saat hari Sabtu. Hari terakhir bimbel kita. Setelah Ibu memberikan jadwal pelajarannya, kalian jangan lupa pelajari dengan sungguh-sungguh, ya?"
"Baik, Bu!"
"Nah, karena sekarang semuanya sudah tidak ada yang bertanya lagi, Ibu akan tutup homeroom hari ini." Bu Mia membereskan barang-barangnya, lalu kembali berdiri dari tempat duduknya. "Sekian dari Ibu. Sekarang kalian memiliki hari yang bebas. Tapi... sore nanti sekitar pukul 4, kembali lagi ke kelas untuk bimbel, ya?"
"Baik, Bu!"
Bu Mia pergi meninggalkan kelas. Lalu setelah Bu Mia pergi, seketika kelas jadi berisik. Ada yang sedang mengobrol dengan teman mereka, ada juga yang pergi keluar kelas untuk pergi ke kantin dan ke kamar mereka, dan ada juga yang membersihkan kelas.
Dennis beranjak dari kursinya. Ia menghampiri Rei. Begitu juga dengan Mizuki dan Akihiro.
Saat di depan meja Rei, Akihiro langsung mengajak semua temannya untuk pergi ke kantin. "Hei, ayolah! Di kantin ada makanan yang enak, loh. Nanti keburu dihabisin sama anak lain! Ayolah kita pergi."
"Aku tidak mau." Rei menolak.
"Ah, ayolah! Dijamin kau pasti ketagihan, Rei. Ayo cepat!" Akihiro memaksa.
Rei pun akhirnya menuruti Akihiro. Akihiro terlihat sangat senang. Lalu mereka semua pergi keluar kelas untuk pergi ke kantin.
Saat mereka pergi, ada seseorang yang menatap kelompok Dennis dengan tajam. Seorang anak di kelas 3-C. Satu-satunya anak dengan tubuh yang besar. Siapa lagi kalau bukan si Adit.
"Bimbel nanti, aku akan mengalahkanmu, Rei! Namaku akan tercantum di rangking nomor satu di Mading!"
Bisakah Adit mengalahkan Rei?
*
*
*
__ADS_1
To be Continued-
Follow IG: @Pipit_otosaka8