Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 53– Rencana


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Ta–tatapannya... kenapa... kenapa dia menatapku seperti itu?!" batin Dennis sedikit takut dengan tampang menyeramkan dari wajah Davin itu.


“Kenapa kau diam saja? Apa... Kau tidak memiliki rencana?” tanya Davin lagi. Dennis tersentak. Ia masih belum bisa menjawab. Di dalam hati, ia selalu bergumam-gumam.


“Apa rencanaku, ya? Apa, ya? Apa?”


“Fotosintesis.”


Dennis menyentakan matanya. Ia ingat dengan perkataan si gadis misterius itu. Ia membisikan sesuatu, yaitu kata “Fotosintesis”. Dennis penasaran dengan maksud dari fotosintesis itu apa?


“Kak Davin, aku punya rencana.” Ujar Dennis pelan. Mendengar perkataan Dennis itu, Davin pun tersenyum lebar dengan mata sipitnya. Lalu ia mengambil kembali senjata yang ia jatuhkan, setelah itu ia merangkul tubuh Dennis. “Rencanamu pasti hebat, kan? Sekarang apa yang harus kami lakukan?” tanya Davin.


“Hmm... Untuk pertama kali, bagaimana kalau kita terus berjalan maju saja sampai ke depan terowongan. Siapa tahu saja kita menemukan sesuatu.” Jelas Dennis. Setelah itu, Davin melepaskan rangkulannya. Ia berjalan pelan ke arah teman-teman sekelompoknya sambil menyiapkan senjatanya.


“Baiklah. Kau yang memimpin jalan, Dennis!” suruh Davin sambil menodongkan senjatanya ke arah Dennis. Sontak Dennis pun terkejut dan langsung mengangkat kedua tangannya. “E–eh, ka... Kak Davin! Ke–kenapa kau mengarahkan senjatamu padaku?”


Davin kembali menurunkan senjatanya dan tersenyum manis. “Haha... Tenang saja. Aku tidak mau ngapain-ngapain, kok! Nah sekarang, ayo kita lanjut jalan saja!” Davin mengarahkan tangannya ke depan. Ia membiarkan kelompoknya Dennis untuk jalan duluan di depan.


Dennis mengangguk. Lalu setelah itu, ia pun kembali menggerakkan kakinya untuk terus melangkah sampai ke ujung terowongan maut ini yang merupakan sarang dari beberapa tumbuhan mematikan.


Semuanya mengeluarkan ponsel mereka dan menyalakan lampunya untuk memberikan penerangan pada terowongan yang mereka lewati ini.


Rei berjalan agak cepat ke depan, sampai akhirnya ia berdiri di samping Dennis. Rei mendekatkan wajahnya ke Dennis dan berbisik, “Dennis. Kau tenang saja. Aku... akan melindungimu.”


“Eh? Melindungiku? Memangnya kenapa, kak?” tanya Dennis heran.

__ADS_1


“Hanya untuk berjaga-jaga. Siapa tahu saja ada bahaya di depan sana. Dan... aku juga merasa agak curiga dengan anak-anak dari kelas 3-A itu.”


Dennis tidak menjawab. Tapi ia mengerti dengan perkataan Rei itu. Sekali lagi, Dennis berpikir di dalam hatinya. “Kelas 3-A itu kelompoknya Kak Davin, ya? Memang sih... Kalau aku perhatian, tampang mereka memang agak menyeramkan dan juga mencurigakan. Aku hanya harus berhati-hati agar tidak terlalu membebani Kak Rei juga. Aku tidak ingin dia mengorbankan dirinya hanya untuk melindungi diriku!”


Sudah lama mereka berjalan, tapi masih belum menemukan cahaya yang merupakan jalan keluar dari terowongan itu. “Dennis! Di depan sana agak berhati-hatilah. Karena....”


“E–eh?! Apa itu?” Adel tiba-tiba menunjuk ke depan. Ia melihat sesuatu yang telah membuat dirinya jadi ketakutan. Semuanya juga bisa melihatnya. Mereka terkejut dan sebagian besar dari anak perempuan yang ada di dekat Dennis berteriak ketakutan. Karena mereka melihat beberapa mayat manusia yang terlihat masih utuh. Hanya saja, tubuh mereka sudah mulai membusuk.


Beberapa ada yang terjebak di sebuah tanaman melingkar dengan getah perekat di setiap daunnya. Mayat-mayat itu terjebak dan tidak bisa bergerak jika terkena getah yang super lengket. Ada juga yang menjebak tubuh mereka dalam mahkota bunga dan mengeluarkan gas beracun yang mematikan. Intinya, setelah semua tanaman itu menjebak mangasanya, mereka akan langsung memakan korban yang telah tumbuhan itu bunuh!


Ethan menundukkan kepala. Ia menggeram dan berkata, “Mereka semua adalah teman-teman yang sudah mendahului kita. Mereka mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan kita.”


Semuanya pun ikut menundukkan kepala untuk berduka. Ethan melanjutkan perkataanya, “Aku lihat sendiri. Mereka semua telah banyak membantu kita dengan cara merelakan tubuh mereka untuk dimakan tanaman itu. Dengan begitu, semua tanaman yang telah mendapatkan makanan, mereka tidak akan mencari makanan lainnya.”


“Dengan kata lain, semua tumbuhan yang telah mendapatkan mangsa mereka akan langsung merasa kenyang. Dan sebagian juga, ada yang membutuhkan proses lebih lama dalam mencerna tubuh manusia.” Dennis menimpali. Ia berdiri tepat di samping Ethan. Ethan yang terkejut dengan kehadiran Dennis itu pun menjawab cepat, “I–iya begitulah!”


“Jika mereka sudah mendapatkan makanan, berarti mereka tidak akan selera dengan daging kita. Dan mereka juga tidak akan mengincar kita lagi, dong?” pikir Davin. Ethan dan Dennis mengangguk. Semuanya paham.


“Jadi sekarang... apakah kita sudah 100% aman untuk melewati jalan di depan sana?” tanya Rei pada semuanya. Mereka melirik ke arah Rei, lalu menundukkan kepala untuk berpikir sejenak.


“Dan juga... kita masih belum tahu di mana keberadaan si tanaman merambat yang suka menghisap energi hidup kita ini.” Nashira menimpali. Semuanya tersentak. Mereka akhirnya teringat dengan tanaman yang dimaksud Nashira itu.


Benar juga! Tanaman merambat itu suka tumbuh di mana saja. Jika mereka terkena tanaman itu bisa gawat jadinya!


“Sekarang... bagaimana?” tanya Ethan pada semuanya. Sebagian menggeleng, dan yang lainnya malah diam. Ethan meneleng, lalu melirik ke arah Dennis. “Den, katanya kau punya rencana?” tanya Ethan pada Dennis.


Dennis tersentak dan langsung menengok ke arah Ethan. Ia menjawab cepat, “A–aku kan sudah bilang, kalau aku memiliki rencana. Hanya saja, rencanaku ini memerlukan kerja sama yang penuh!”


Ethan mengangguk pelan. “Baiklah... Ayo kita bersama-sama berjuang untuk keluar dari tempat ini. Sekarang, beritahu aku bagaimana rencanamu dan apa saja yang harus kita semua lakukan?”


“Aku ingin mengatakannya. Tapi...” Dennis menunduk. Ia tidak berani untuk memberitahu rencananya itu. Ethan meneleng. “Eh, tapi?”


Dennis mengangguk pelan. “Tapi... dalam rencana ini, aku belum yakin 100% kalau kita akan berhasil keluar. Karena... setelah rencana ini berhasil, bakal ada satu korban yang tidak akan bisa keluar dari tempat ini.”

__ADS_1


Seketika semuanya terkejut dengan penjelasan Dennis. Teman sekelas Davin yang berdiri di samping Davin itu merasa kesal karena perkataan Dennis yang ia anggap tidak berguna. “Percuma kau mengatakannya! Bodoh! Itu bukan rencana terbaik kalau salah satu dari kita tidak akan ada yang bisa keluar!” bentaknya.


Dennis terkejut saat temannya Davin itu membentak dirinya. Davin mengelus pundak temannya itu untuk menenangkannya. “Hei, bisakah kau diam dulu? Tenanglah sedikit!”


Temannya itu terdiam. Ia mengangguk, lalu kembali ke tempatnya. Rei jadi merasa kesal saat temannya Davin itu membentak Dennis. Ia akan mencoba untuk membela Dennis dan memberikan pendapatnya tentang rencana Dennis itu.


“Kalian semua, jangan main asal sela, dong! Memikirkan suatu rencana itu sulit. Dan kalian semua hanya bisa menonton dan komentar saja! Pikirkan Dennis. Dia sedari tadi berusaha untuk menyelamatkan kita. Dia sudah susah payah memikirkan rencana untuk membebaskan kita dan sekarang dengan enaknya kalian malah menghujat dan tidak setuju dengan rencananya itu?! Yang bodoh itu kalian! Memangnya kalian bisa membuat rencana lain yang lebih hebat dari Dennis, hah?!”


Setelah teguran keras dari Rei itu, seketika semuanya pun terdiam dan tidak ada seorang pun yang berani menjawab. Hanya dengan tegasan dari Rei saja sudah membuat mereka jadi takut.


Rei menghembuskan nafas berat. Lalu ia melirik ke arah Dennis. “Untuk rencanamu itu, kita usahakan semoga tidak ada korban, ya? Dan sekarang... beritahu pada semuanya apa rencanamu yang sebenarnya itu.”


Dennis terdiam. Ia masih takut dengan semua orang yang telah menatapnya dengan tatapan menyeramkan. Ia takut kalau semua orang tidak ada yang menyukai rencananya itu.


Dennis menggeleng pelan dan menjawab, “Maaf kak Rei, aku tidak bisa mengatakannya. Aku takut.”


Semuanya terkejut. Mereka mengandalkan rencana dari Dennis. Tapi sayang, Dennis sendiri tidak ingin memberitahu rencananya itu pada semua orang. Rei mendekatinya. Ia mengelus kepala Dennis dan berkata dengan nada lirih. “Jangan takut. Kau tahu? Aku akan selalu ada untuk melindungimu. Jadi sekarang... tolong bantu kami semua untuk keluar dari tempat ini. Karena... hanya dirimu saja yang bisa menyelamatkan kami semua. Ini kesempatanmu untuk menolong banyak orang.”


Mendengar perkataan Rei, Dennis jadi tersipu. Ia pun teringat dengan janjinya kalau suatu hari, ia akan bisa membuat dirinya berguna. “Kak Rei benar. Aku tidak boleh takut karena ada kak Rei yang melindungiku. Tapi... sekarang adalah waktuku untuk membalas kebaikan kak Rei padaku. Aku... yang akan melindungi dirinya dengan rencanaku ini.”


Dennis kembali mendongak dan menatap semua teman-temannya. Ia tersenyum dan menjawab, “Aku akan memberitahukan rencanaku. Dan... akan aku usahakan, supaya rencana ini tidak akan memakan korban lainnya dan kita semua akan bisa keluar dari sini dengan selamat.”


Semuanya tersenyum senang. Mereka suka dengan perkataan Dennis itu. Sekarang, semuanya akan mengikuti apa yang sudah Dennis tugaskan untuk semua temannya. “Sekarang, apa rencanamu, Dennis?” tanya Ethan.


Dennis tersenyum pada semuanya dan menjawab, “Rencanaku adalah... Fotosintesis!”


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2