
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
Dennis masih mencari Rei. Ia tidak tahu Rei pergi ke mana, karena dia hilang begitu saja tanpa jejak. Dennis juga tidak tahu kapan Rei pergi.
Ia berdiri di depan Villa dekat kolam renang. Matanya terus melirik. Ia tidak melihat Rei, tapi ia melihat ada anak-anak dari sekolah lain yang sedang berenang di kolam dekat Villa itu. Teman yang ia kenal hanya Putri dan Nadya saja yang ikut berenang bersama. Intinya kolam renang itu dipenuhi oleh banyak gadis dengan pakaian minim.
"Dennis! Dennis! Ayo sini... kita bermain bersama!" Salah satu orang memanggilnya. Dennis menggeleng dengan cepat karena ia tidak ingin berenang bersama para gadis. Dan yang lebih parahnya lagi, ia adalah cowok sendiri yang masuk ke kolam itu. Nanti semua orang yang melihatnya akan jadi salah paham pada Dennis.
"Ma–maaf! Aku tidak bisa sekarang." Dennis menjawab, lalu ia mundur ke belakang dengan cepat karena para gadis itu telah membuat kaki Dennis basah karena air yang mereka siramkan pada Dennis.
Dennis tidak ingin sampai tubuhnya kena basah juga. Jadi ia pun berlari menjauh dari kolam renang. Ia mendekati Mizuki yang sedang duduk di satu pondok kecil dengan teman-teman barunya. Di sana, Dennis menghela nafas sejenak, lalu bertanya, "Kak Zuki... apa kau lihat Kak Rei?"
"Oh, Rei? Tadi bukannya dia bersama denganmu?" Mizuki bertanya balik.
"Ah, entahlah. Aku kehilangan dia." Mizuki tidak bisa menjawab. Dennis terdiam, ia berpikir sejenak lalu bergumam, "Apa Kak Rei ada di kamar?"
"Nah! Coba saja kau cari ke kamarnya saja sana."
"Ah, iya! Kebetulan aku sekamar dengan Kak Rei."
"Hah... kenapa kalian selalu berdua mulu, sih?"
Dennis tertawa kecil. "Ah, aku juga tidak tahu. Baiklah kalau begitu, sampai jumpa!" Dennis melambai, lalu berlari ke arah jalan menuju ke kamarnya.
Setelah Dennis pergi, kedua teman baru Mizuki yang duduk di sampingnya itu pun berbisik, "Mizuki, kau beruntung sekali punya teman cowok yang keren-keren."
Mizuki terkejut mendengarnya. Ia tersenyum malu, lalu menjawab, "Ah... aku juga tidak tahu. Kebetulan saja kami sekelas dan sudah berteman lama."
"Iya, Mizuki! Kalau boleh tahu... temanmu yang namanya Rei itu... dia lebih keren tahu!"
"Iya. Aku jadi... suka padanya. Ahh... bagaimana kalau aku berpacaran dengannya, ya?"
"Ah, mengkhayal saja kau! Rei itu pastinya mau sama aku."
"Justru kau yang mengkhayal tau! Rei mana mau denganmu!"
"Dia juga tidak mungkin mau denganmu!"
Kedua teman Mizuki malah ribut sendiri. Melihat tingkah teman barunya, Mizuki hanya bisa tertawa. Lalu setelah puas tertawa, ia bergumam dalam hatinya. "Ternyata... yang suka pada Rei ada banyak, ya?"
Mizuki menunduk, lalu memasang wajah datarnya. "Tapi... sekarang ini, Rei sedang suka sama siapa? Cewek yang disukai Rei saat ini pasti sangat beruntung."
"Kan aku juga mau.... sama Rei."
****
__ADS_1
"Ah yang benar, kau?"
"Iya. Memang benar, kok!" Rei menjawab dengan nada datarnya. Saat ini ia sedang duduk di kasur yang ada di kamarnya. Ia sedang berbicara dengan Davin dan Zainal.
"Semua cowok pasti punya cewek yang mereka sukai! Tapi... kok Rei..." Zainal bergumam. Lalu Davin menyelanya, "Ah! Mungkin Rei bohong. Dia pasti punya cewek yang dia sukai kali."
"Tidak. Sudah kubilang. Aku tidak ada cewek yang aku sukai." Rei menggerutu. Ia membuang pandangannya dari kedua temannya, lalu menyandarkan tubuhnya di tumpukan bantal. Lalu setelah itu ia bergumam, "Aku tidak suka dengan anak perempuan."
Mendengar gumamannya Rei, seketika Zainal dan Davin pun langsung tertawa terbahak-bahak. Mereka masih tidak percaya dengan perkataan Rei yang bilang kalau dia tidak menyukai anak perempuan.
"Rei! Candamu sungguh menggelikan!"
"Haha... iya! Mana ada anak cowok yang tidak suka dengan cewek."
"Iya! Kan biasanya cowok itu yang paling nafsu sama ceweknya."
"Ah! Itu mah kamu kali!"
"Hehe...."
"Terserah kalau mereka tidak percaya." Rei menggerutu lagi di dalam hatinya. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dan kembali bergumam, "Mereka tidak mengerti.
"Kak Rei?" Dennis akhirnya datang. Nafasnya terdengar kecapekan. Lalu setelah itu, ia masuk ke dalam kamarnya sendiri. Duduk di pinggir tempat tidur yang ditempati Rei lalu menghembuskan nafas berat. "Huh! Kak Rei... kau ke mana saja? Aku mencarimu dari tadi, tahu!"
"Tadi kan aku sudah bilang ingin pergi. Tapi kau malah sibuk memotret." Jawab Rei.
"Oh begitu, kah? Haha... sepertinya aku yang salah. Habisnya... pemandangan yang kita lihat dari atas papan itu terlihat indah sekali, sih!"
"Oh... kalau begitu foto lagi saja di sana."
"Eh? Ada apa Dennis?" Pergerakan Dennis yang tiba-tiba telah mengejutkan Rei yang sedang membaca satu artikel di ponselnya.
Dennis tidak mengherankan tubuhnya. Ia tertawa kecil, lalu matanya melirik ke arah Rei. Ia menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Kak Rei. Hehe...."
Dennis melirik ke langit-langit kamar, lalu bergumam di dalam hatinya. "Tadi... kenapa ada Cahya saat aku memejamkan mataku, ya?"
"Ah sudahlah... jangan dipikirkan!" Dennis membalik tubuhnya. Tidur membelakangi Rei. "Tapi... sepertinya aku sedikit menyukai gadis itu. Dia baik dan orangnya menyenangkan walau kami baru mengenalnya tadi pagi."
"Hah... apakah yang dikatakan Rei itu benar?"
"Kau juga sedang masa pubertas, kan? Apa kau masih belum menemukan perempuan yang kau sukai?"
Dennis menggeleng cepat. Berusaha untuk menghilangkan kata-kata Rei yang muncul di benaknya. "Ah! Jadi masa pubertas? Apa jangan-jangan... perasaan ini adalah masa pubertas aku?"
"Kakak-kakak! Lihat apa yang aku bawa ini!" Azra tiba-tiba datang di depan pintu. Ia membawa satu nampan yang penuh dengan beberapa makanan ringan dan mie dalam kemasan cup. Ada 5 buah Mie Cup yang Azra bawakan untuk teman-teman sekamarnya.
Dennis turun dari tempat tidur untuk membantu Azra membawa makanannya. Sepertinya ia agak kesulitan. Setelah semua makanan itu diletakan di atas lantai di samping tempat tidur, mereka semua mengumpul. Mengelilingi makanan itu, lalu masing-masing orang ambil satu Mie Cup mereka.
"Azra, dari mana kau dapat semua ini?" tanya Dennis sebelum ia menyantap Mie miliknya.
"Ah, ini dari Bu Mia. Dia menyuruhku untuk membawakannya sebagai pengganjal perut untuk sementara. Karena makanan yang akan disediakan dari Villa ini akan datang nanti malam. Jadi sebelum makan malam tiba, kalian semua diberikan mie ini untuk makanan sementara." Jelas Azra.
__ADS_1
Semuanya mengangguk kecuali Davin. Lelaki itu terus menyeruput mie cup miliknya tanpa henti. Sepertinya anak itu sudah kelaparan dari tadi. Semuanya tertawa senang, lalu mereka juga memakan mie-nya masing-masing sampai habis.
****
Pukul 5 sore–
Semua pengunjung Villa sedang berkumpul bersama di depan dan di aula Villa. Mereka sedang mengobrol, bermain dan bersenang-senang bersama. Kalau Dennis dan teman-temannya sedang berenang di kolamnya.
Mizuki yang memakai baju renangnya terlihat sangat cantik dan sopan. Karena baju renangnya masih tertutup dan tidak terlalu terbuka seperti yang lainnya. Ia senang sekali bermain air. Apalagi dengan Adel. Tapi kalau Yuni... ia hanya duduk di pinggir kolam sambil mengayunkan kakinya yang sudah terendam air kolam setinggi betisnya. Sifatnya anteng sekali di pinggir kolam. Sepertinya Yuni juga belum ikutan menyebur seperti yang lainnya, karena tubuhnya masih kering. Tapi ia sudah memakai baju renangnya juga.
Setelah menyelam beberapa detik, Adel memunculkan kepalanya di atas air lalu melambai tinggi ke arah Yuni untuk mengajaknya bermain air bersama. Tapi Yuni hanya diam saja. Ia menggeleng pelan dan kembali menundukkan kepalanya.
"Loh? Yuni kenapa, ya?" Adel bergumam heran. Lalu ia berenang ke arah Yuni dan bertanya, "Yuni, Yuni. Kamu takut air, kah?"
Yuni melirikkan matanya ke arah Adel, lalu setelah itu ia menjatuhkan dirinya ke dalam air. Lalu setelah itu, kepalanya muncul di permukaan air. Ia menjawab, "Aku tidak takut air."
Adel jadi senang karena Yuni mau ikut bergabung untuk berenang bersama. "Nah gitu, dong! Sekarang kita bermain bersama, ya?"
Yuni mengangguk.
"Waah~ Mereka terlihat akrab sekali, ya?" Mizuki berbunga-bunga melihat keakraban Adel dan Yuni yang terlihat bahagia dan bersenang-senang bersama. Keimutan mereka juga mengundang banyak perhatian anak-anak perempuan lainnya.
Kalau Mizuki... saat Ia kembali memunculkan setengah tubuhnya di permukaan air, seketika para anak laki-laki yang melihat dirinya langsung terpesona. Mereka banyak memuji Mizuki dengan kecantikannya. Apalagi saat Mizuki mengayunkan rambutnya yang basah.
Kalau Rei... sudah pasti anak perempuan yang tergila-gila dengannya. Rei hanya memunculkan kepalanya saja di pojokan kolam renang. Bukan karena malu, tapi entah kenapa ia tidak ingin menunjukan tubuhnya di luar air.
Kalau Dennis, ia tidak berani untuk menyelam seperti yang lainnya. Ia berenang dengan menyelupkan setengah tubuhnya di dalam air dan kedua tangannya itu terus menahan tubuhnya pada pinggiran kolam agar tubuhnya tidak tenggelam dan terus mengambang. Karena ia tahu kalau dirinya tidak bisa berlama-lama di air dan tidak bisa berenang juga.
Ia juga sebenarnya tidak ingin berenang bersama. Tapi karena Akihiro memaksanya untuk ikutan, jadi apa boleh buat. Dennis masih trauma dengan yang namanya berenang. Karena setiap ia mencemplungkan tubuhnya di dalam air, Dennis selalu teringat dengan masa lalunya.
Dia sudah 3 kali tenggelam di dalam air. Yang pertama, saat dirinya sedang ujian praktek renang di sekolahnya. Ia tidak bisa melakukannya dan akhirnya malah tenggelam di kolam renang yang ada di sekolahnya.
Yang kedua, saat ia sedang berlibur ke pantai bersama dengan teman-teman lamanya. Saat dirinya hendak mengambil bola di pinggir pantai, tiba-tiba saja ombak besar datang menimpanya dan membawanya sampai ke air laut yang sudah tidak ada injakan pasirnya. Jadi saat di sanalah, Dennis tenggelam lagi. Dan beruntung dia masih bisa diselamatkan.
Yang ketiga, yaitu saat di Ujian IPS. Saat ia terjatuh dari atas kapal yang ia duduki. Tapi tempat ia tenggelam saat itu adalah di tengah lautan terdalam. Tanpa bantuan dari Rei, bisa saja Dennis mati karena kehabisan nafas dan tenaga. Karena Dennis itu tidak tahu bagaimana caranya untuk berenang. Membuat dirinya mengambang di air saja dia tidak bisa.
PLOK! PLOK!
Bu Mia menepuk tangannya dari atas tangga untuk memanggil para muridnya. "Ayo anak-anak! Yang masih makan, masih bercanda, yang masih nongkrong dan yang masih berenang, ayo cepat berkumpul di dalam Aula. Karena... kita akan mengadakan kegiatan berikutnya!"
"Kegiatan selanjutnya apa, ya?" Dennis bertanya pada Rei.
"Selanjutnya adalah... merapihkan kamar, menunggu waktu menjelang malam, lalu makan bersama dan... persiapan untuk Uji Nyali pada pukul 11 malam."
"Eh?"
*
*
*
__ADS_1
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8