Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 21–Orang tua Rei


__ADS_3

"Eh? Kalian mencari Rei? Ada perlu apa kalian dengan anak saya?" tanya Ayahnya Rei mengejutkan Dennis dan Akihiro. Bagaimana tidak mengejutkan? Ayahnya Rei tiba-tiba datang di samping mereka begitu saja.


"Dan itu... sawah milik saya, kok?"


Setelah Ayah Rei datang, Dennis dan Akihiro pun langsung berdiri. Mereka membungkuk sedikit untuk memberi hormat kepada orang yang lebih tua dari mereka.


"Anu... maaf, pak! Kami tidak sengaja. Kami... hanya terjatuh saja. Maaf telah membuat sawah anda rusak." Masih dengan posisi membungkuk, Dennis dan Akihiro mengucapkan kalimat maaf mereka.


Ayah Rei tersenyum sambil memejamkan matanya. Ia menjawab dengan lirih, "Ah, tidak apa-apa. Jika kalian tidak sengaja, itu bukan masalah. Saya bisa membereskan ini."


"Ah, tidak usah, Pak! Biar kami saja yang merapihkan sawah anda! Kami akan bertanggung jawab." Akihiro dan Dennis menggeleng sambil mengibaskan telapak tangan mereka ke depan.


"Tidak apa-apa. Biar bapak saja yang merapihkannya. Kalian... silahkan pergi ke rumah itu saja yang berwarna hijau. Rumah panggung itu adalah rumah saya. Silahkan kalian mampir dahulu untuk membersihkan diri." Ujar Ayah Rei.


"Ah, apa tidak apa-apa?" Dennis masih sungkan dan sedikit ragu.


Ayah Rei menggeleng pelan. "Ah, tidak usah malu-malu. Silahkan saja."


Dennis dan Akihiro tersenyum. Lalu untuk yang terakhir kalinya, mereka kembali membungkuk hormat. "Terima kasih banyak atas bantuan anda!"


"Iya, tidak masalah. Sekarang kembalilah ke jalan. Jika di sana terlalu lama, nanti takut ada lintah."


Dennis terkejut. "Eh?! Benarkah? Iwh!" Dengan cepat Dennis langsung kembali ke jalan tanah kecil yang ia lewati tadi. Begitu juga dengan Akihiro.


"Tuh, yang di sana, ya? Itu rumah saya." Ayah Rei menunjuk ke arah tempat tinggalnya berada.


Dennis dan Akihiro mengangguk paham. Lalu mereka berdua kembali melangkahkan kaki mereka yang sudah becek dan kotor itu di jalanan kecil yang ada di tengah sawah. Adel juga mengikuti kakak-kakaknya dari belakang. Tapi tidak dengan Yuni.


Anak pendiam itu masih berdiri di tempatnya sambil menatap Ayahnya Rei. Lalu tak lama kemudian, ia kembali membuka mulutnya. "Anu... apa Rei itu benar anak Bapak?" Ia bertanya dengan nada datar.


Ayahnya Rei terkejut dan langsung menengok ke arah Yuni. Begitu juga dengan Dennis, Akihiro dan Adel. Mereka bertiga menghentikan langkahnya setelah mendengar pertanyaan Yuni itu.


"Rei? Oh maksudmu si Rhino, ya?" Ayah Rei menjawab. "Iya. Dia memang anak saya."


Seketika semuanya terkejut. Serontak si Dennis, Adel dan Akihiro kembali menghampiri Ayah Rei dengan berlari kecil dan berhati-hati.


"Benarkah itu?!" tanya Akihiro tidak percaya. "Kalau begitu berarti Rei berada di rumah bapak, dong?"


"Eh, eh? Sebenarnya kalian ini siapa? Kenapa kalian mengenal anak saya?" Ayahnya Rei terlihat kebingungan.


"Maaf, kami ini adalah teman-teman dekatnya Kak Rei. Saat di sekolah, dia sempat menghilang begitu saja. Makanya kami mencarinya. Tapi sampai sekarang teman kami masih belum ditemukan." Dennis menjelaskan. "Apa Bapak tahu di mana Kak Rei berada?" Dennis bertanya.


"Kalian teman-temannya Rhino?" Ayahnya Rei terkejut.


"Sahabatku kalau tidak salah, Dennis... Mizuki... lalu... ada banyak lagi, deh!"


Tiba-tiba Ayah Rei teringat dengan jawaban anaknya ketika Rei sedang ditanyai tentang teman-temannya.

__ADS_1


"Dennis..." Ayah Rei bergumam. Lalu ia melirik ke arah Akihiro. "Ah, beritahu saya! Siapa yang namanya Dennis? Apa dia temannya Rei juga?" tanya Ayah Rei.


Dennis terkejut saat namanya disebut. Lalu ia menunjuk ke dirinya sendiri. "Emm... saya? Saya Dennis."


"Jadi kamu Dennis? Kamu temannya Rhino, kan?"


"Rhino? Maksud bapak Rei? I–iya benar. Saya temannya Kak Rei." Jawab Dennis ragu.


"Oh, benarkah? Ah, syukurlah...."


"Eh? Sebenarnya ada apa, Pak?"


"Anak saya sedang mencari dirimu. Ayo ikut bapak! Bapak akan membawa kalian bertemu dengan anak bapak!" Ayah Rei menarik tangan Dennis, lalu membawanya pergi. Semuanya pun mengikuti Dennis dengan Ayahnya Rei itu.


****


Tak lama kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah panggung milik keluarga Rei. Ayahnya Rei melepaskan genggaman tangannya dari Dennis, lalu ia akan mengetuk pintu rumahnya.


Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang keluar dari dalam. Orang itu mendorong pintu dengan cepat sampai menabrak Ayahnya Rei. Untung tidak sampai jatuh.


Ternyata orang yang telah membuka pintu secara tiba-tiba itu adalah Ibunya Rei? Ada apa? Beliau terlihat sangat cemas.


"Ibu? Ibu kenapa? Kenapa terburu-buru sekali?" tanya Ayahnya Rei.


"I–itu... itu... Rhino... dia... hah... hah...."


"Rhino... dia... dia melarikan diri! Saat aku ke kamarnya, dia sudah tidak ada. Dan saat kulihat di kamarnya, jendelanya terbuka. Rhino pergi melewati jendela." Jelas Ibu panik. "Kita harus cari dia, Pak!"


"I–iya Bu! Lagipula, anak itu masih belum sembuh. Ah, kita harus cari sekarang!"


Tadinya Kedua orang tuanya Rei akan pergi dari rumah mereka. Tapi sebelum itu, tiba-tiba Dennis menghentikan langkah mereka.


"Maaf, boleh aku bertanya? Sejak kapan Rei, eh maksudnya Rhino ada di rumah Ibu dan Bapak? Kalian menemukan anak kalian di mana?"


Ibu Rei menjawab dengan cepat. "Tidak ada waktu untuk menceritakan itu semua, Nak. Tapi ngomong-ngomong..." Ia berpikir sejenak, lalu matanya melirik ke arah suaminya itu. "Ayah, siapa mereka ini? Kenapa mereka tahu nama anak kita?"


Ayah Rei tertawa kecil. Ia menjawab, "Oh, mereka ini adalah teman-temannya Rhino, Bu! Mereka ke sini ingin menemui Rhino."


Setelah menjelaskan itu, Ayah Rei melirik ke arah Dennis. "Oh iya, Dennis. Orang yang sedang kami cari itu sudah pergi dari rumah kami. Kami akan mencoba untuk menemukannya kembali. Jadi tunggu saja, ya? Jika kami sudah menemukan Rhino, kami akan memberitahumu."


"Tidak!" Dennis menolak. "Kami ingin ikut mencari Rei. Eh, anak kalian, Kak Rhino itu. Kami akan membantu kalian."


"Tapi kalian harus pulang. Tubuh kalian juga kotor, nanti dimarahin orang tua kalian di rumah."


"Ibu Rei, kami anak-anak dari asrama yang ada di hutan itu. Orang tua kami berada di kota. Dan jika kami pulang, kami akan kembali ke Asrama itu." Jelas Dennis.


"Tapi, Nak–"

__ADS_1


"Kumohon, Bu! Biarkan kami ikut dengan anda pergi mencari Rhino. Kami bisa membantu, kok!" Setelah Dennis berkata seperti itu, semua teman-temannya pun mengangguk yakin.


"Huh, baiklah. Sekarang kita mulai dari mana dulu?" tanya Ibu Rei.


"Oh iya, kalau kalian memang benar-benar teman Rhino, kalian pasti tahu di mana Rhino bisa ditemukan, kan? Biasanya dia suka pergi ke mana?" tanya Ayahnya Rei.


"Sepertinya dia kembali ke sekolah." Yuni yang menjawab. "Dia pasti ingin menemukan orang yang telah menyerangnya itu."


Si Ibu terkejut. "Apa?! Kalau begitu, berarti anak kita dalam bahaya! Ayah, lakukan sesuatu!"


"Ini sulit. Ayo kita ke sekolahannya. Tapi... aku tidak tahu di mana letaknya?"


"Aku tahu! Ayo ikuti kami." Ajak Akihiro. Semuanya mengangguk. Lalu mereka semua berjalan cepat kembali ke jalan beraspal yang ada di sebrang sawah sana. Kembali ke jalan menuju rumah Dennis juga.


Tapi saat di jalan pertengahan sawah, tiba-tiba Dennis merasakan getaran dari saku celananya. Lalu tak lama keluar suara nada dering ponsel Dennis. Dennis menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan beberapa orang yang ada di belakangnya.


Dennis pun merogoh kantung celananya, lalu mengeluarkan ponselnya yang berdering itu. Ia melirik ke arah layar dan terkejut. Karena yang menelponnya itu adalah Mizuki.


Lalu dengan cepat, Dennis langsung mengangkat telepon dari Mizuki itu. "Halo, Mizuki! Ada apa?"


[ Dennis tolong cepat kembalilah! Rumahmu berantakan karena... kyaaaaa! Ah! Tolong... tidak! Jangan kau apa-apakan adikku! Tolong lepaskan dia! ] Itu suara Mizuki yang berteriak tidak jelas. Dia kenapa?


"Mizuki! Kak Zuki! Apa yang terjadi di sana?"


[ Dennis! Cepat kembalilah. Di sini ada makhluk yang tidak bisa aku lihat. Dia melempari semua barang-barang. Aku takut sekali. Dan adikku juga... Kyaaaa! Onee-chan! Tasukete! Tasukete Onee-chan! Aaaaa.... ]


Suara Sachiko berteriak minta tolong pun terdengar. Lalu tak lama kemudian, ponsel Dennis terdengar agak resak dan suaranya terputus-putus.


"Ha–halo! Kak Zuki bisa beritahu aku apa yang sedang terjadi di sana?!"


"Dennis, tidak ada waktu untuk bertanya lagi! Sekarang ayo kita kembali ke rumahmu! Mereka pasti sedang dalam bahaya!" tegas Akihiro.


"Tapi ini–"


[ Zagagagagag... ] Suaranya kembali lagi. Tapi suaranya terdengar tidak jelas. Karena mungkin sinyal di sana error, jadi Dennis memutuskan untuk mematikan teleponnya itu. Tapi sebelum ia menekan tombol merahnya...


[ Zagagag... Zuki! Semuanya ada orang di sini?! Ah, Reeeii! Rei aku di– kyaaaaa! ]


Suara di telepon kembali lagi. Awalnya Dennis mendengar suara laki-laki di sana, tapi setelah ia mendengar Mizuki berkata "Rei", seketika semuanya jadi terkejut. Apakah suara di dalam telepon itu memang benar Rei?


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


__ADS_2