Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 42–Ujian Matematika, part 4


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Makanan baru... hi hi hi~"


Rubah kecil itu melompat tinggi ke arah Rei berada. Lalu dengan cepat, ia membuka mulutnya dan siap untuk memakan Rei. Tapi saat gigi-gigi tajam rubah itu hampir menyentuh kepala Rei, tiba-tiba saja ada seseorang yang telah mendorong Rei untuk menghindar dari sana.


Ternyata orang yang telah menyelamatkan Rei itu adalah si Dennis!


Dennis telah mendorong Rei sampai terjatuh. Dan saat mereka berdua saling bertubrukan, Rei sempat mendengar suara teriakan kesakitan dari Dennis. Dengan cepat, Rei kembali bangun dan langsung menoleh ke arah Dennis yang terjatuh di samping tubuhnya.


"De–Dennis! Kau baik-baik saja?" tanya Rei sambil membantu temannya bangun kembali. Dennis menggeleng pelan. Merintih kesakitan sambil menggenggam kaki kirinya. "Ka–kak Rei... baik-baik saja, kan?"


"Eh, kenapa kau malah bertanya balik?!" Rei melirik ke arah tangan Dennis yang sedang menggenggam kakinya itu. Rei terkejut. Karena ia melihat kaki Dennis mengeluarkan darah sampai menetes. Luka di kakinya itu Dennis tutupi dengan telapak tangannya.


"I–ini kakimu... kenapa bisa begini?" tanya Rei sambil mencoba untuk membuka luka yang Dennis tutupi itu.


Dennis menggeleng. Ia tidak ingin membicarakan Rei melihat lukanya itu. Karena Dennis takut kalau Rei bakal cemas dengan keadaannya. "Jangan, kak! Aku... aku baik-baik saja, kok! Sungguh! Ini hanya luka gores sedikit saja."


"Hanya sedikit, tapi kok darahnya sampai menetes seperti itu? Tidak mungkin! Pasti lukanya besar, kan? Itu kau kenapa?"


"Tidak, kak! Aku baik-baik saja. Tolong jangan dilihat! Aw! Aw!"


"Ah, maaf!" Rei melepaskan tangannya dari Dennis setelah ia mendengar suara rintihan kesakitan yang Dennis keluarkan. "Aku tidak sengaja menyentuh lukamu. Pasti sakit, kan?"


"Iya... tidak apa–"


"KALIAN BERDUA! CEPAT PERGI DARI SANA!!"


Dennis dan Rei terkejut. Tiba-tiba Akihiro berteriak pada mereka berdua. Karena tepat di hadapan Dennis dan Rei si rubah kecil itu kembali datang dan mengejar mereka semua.


"Eh? Dennis! Kita harus lari!" Rei mengajak Dennis untuk berdiri kembali. Tapi karena kaki Dennis terluka, ia tidak bisa bangun apalagi berlari. Jadi terpaksa Rei harus menggendong dan membawa Dennis di punggungnya.


"Ka–kak Rei?"


"Tahan Dennis! Aku... akan melindungimu! Kita harus menghindar dari si rubah sialan itu!"


"Tidak bisa." Dennis bergumam di dalam hatinya. "Aku... yang harus melindungi Kak Rei. Karena... si rubah itu hanya mengincar Kak Rei saja sepertinya." Dennis menengok ke belakang. Matanya membuka lebar karena ia terkejut si rubah kecil dengan mulutnya yang sudah terbuka lebar itu tiba-tiba saja sudah muncul di belakangnya dan terus mengejar.


"Kak Rei... dia ada di belakang kita." Dennis berbisik.


"Aku tahu! Sebenarnya rubah itu bergerak sangat lambat. Yang membuatnya menjadi makhluk yang berbahaya adalah mulut dan ekornya yang ia gunakan untuk menyerang kita!"


"Jadi karena pergerakannya itu, makanya kita bisa terus menghindar dan berlari darinya? Berarti si rubah itu tidak bisa menangkap kita, dong."


"Tapi tetap kita harus berhati-hati. Karena... rubah itu tidak akan berhenti sebelum dia mendapatkan tubuh kita. Rubah kecil itu benar-benar kelaparan." Kali ini, Rei sedikit menengok ke belakang untuk melihat keadaan rubah itu. Langkahnya masih terus mengayun dengan cepat untuk berlari dan menghindar dari setiap serangan dari rubah itu.


"Kak Rei... tolong jangan bilang 'kita'. Karena sebenarnya... rubah itu hanya mengincar Kak Rei saja, loh!" Batin Dennis lagi. "Aku harus menolong Kak Rei. Tapi bagaimana caranya?"

__ADS_1


"Dennis!" Rei menyeru. Dennis tersentak dan langsung menyahut, "A–apa kak?"


"Aku percaya padamu! Hanya kaulah yang bisa menolong kita berdua dari kejaran rubah itu."


Dennis terkejut. "Eh? Aku?! Bagaimana caranya?!"


"Aku telah memikirkan sesuatu. Cara untuk menghentikan rubah itu adalah dengan cara menyelesaikan soal matematika itu. Kita harus menjawabnya dengan benar!" Rei menjelaskan rencananya pada Dennis. "Kau harus menjawab soal itu, Dennis!"


"A–apa?! Bagaimana? Aku saja tidak tahu jawaban yang benar itu apa!" Dennis menggeleng cepat. Ia menolaknya. Karena ia takut. Jika dia salah jawab, maka bisa bahaya juga. Dennis akan kena incaran monster itu juga.


"Kak Rei... aku tidak mau. Jika aku salah jawab, maka kita berdua juga akan kena masalahnya."


"Dennis! Percaya padaku. Aku telah mengetahui jawaban lainnya. Aku sudah yakin kalau jawaban kali ini bakal benar!!"


Dennis tidak menjawab. Ia berpikir sejenak. Pada awalnya, ia tidak yakin, tapi untuk kali ini dia akan mempercyai perkataan Rei. "Baiklah! Ini kesempatanku untuk bisa melindungi Kak Rei!"


"Katakan padaku. Apa jawabannya, kak?" tanya Dennis.


"Nih! Menurut pemikiran ku tadi, aku sudah menemukan jawaban yang tepat. Kan ada satu soal yang tersembunyi dibalik soal angka satu itu. Hanya ada satu soal yang tersembunyi! Nah, setelah kau menggeser angka satu yang menutupi si angka tersembunyi tersebut, maka akan terlihat ada 3 angka 1 yang tertera di layar. Ada dua angka 1 yang tertulis di samping tanda plus (+) atau tanda tambahnya itu. Nah kalau dilihat, dua angka 1 itu akan membentuk angka 11. Jadi... soal yang sebenarnya adalah... sebelas ditambah satu sama dengan?"


[ 11+1\=? ]


"Sebelas ditambah satu adalah..." Dennis bergumam sambil berpikir. Lalu setelah ia menemukan jawabannya, Dennis menjawab, "Dua belas!"


"Oke! Bagus! Itulah jawaban yang sebenarnya. Sekarang kau harus mengisi angka 12 itu di kolom jawaban."


"Tapi Rei... aku ingin meminta sedikit bantuanmu."


"Apa itu?"


"Baiklah! Setelah aku menurunkanmu di sana, kau harus cepat menjawab, ya? Aku... akan terus mengalihkan perhatian rubah itu!"


"Oke, Kak!"


Rei sampai di sudut ruangan. Ia berbalik badan. Lalu untuk sementara, ia menghentikan langkahnya sambil menunggu si rubah kecil itu semakin mendekat ke arah Rei.


"Ka–kak Rei... apa yang kau lakukan?!"


"Tenang Dennis." Rei masih menunggu. Menunggu si rubah kecil itu semakin datang dan mendekat. Rubah itu melompat dan kembali membuka mulutnya lebar-lebar.


"Kak Rei!" Dennis berteriak. Ia semakin memeluk Rei karena ketakutan.


"Sekarang!"


Setelah rubah itu menjatuhkan tubuhnya ke arah Rei dan Dennis, Rei dengan sigap langsung menghindar dan kembali berlari lagi. Rubah itu menabrak tembok, sementara Rei dan Dennis berhasil lolos dari si mulut maut itu.


Sampai akhirnya, Rei berlari mendekati layar soal. Lalu saat sudah sampai di depan layar itu, Rei menurunkan tubuh Dennis dalam keadaan berdiri.


"Sekarang lakukan, Dennis!" suruh Rei setelah ia menurunkan Dennis dari punggungnya.


"Aku... tidak bisa berdiri."


"Aku akan membantumu." Mizuki datang dan langsung merangkul tubuh Dennis dan membantunya berdiri kembali.

__ADS_1


"Dan sekarang, aku akan membantu Rei!" Akihiro juga datang. Rei mengangguk dan tersenyum samar. Lalu Rei dan Akihiro kembali berlari menghampiri si Rubah kecil itu.


"Sekarang apa yang ingin kau lakukan, Dennis?" tanya Mizuki.


"Aku... harus menjawab soal ini dan semuanya akan berakhir. Rubah itu tidak akan mengejar Kak Rei lagi." Jawab Dennis.


"Tapi... apa kau tahu jawabannya?"


"Iya. Jawabannya adalah 12. Aku harus menekan tombol angka 1 dan 2 di sana. Tolong bantu aku, Kak Zuki!"


Mizuki mengangguk. Lalu ia mengarahkan tubuh Dennis sedikit lebih dekat dengan layar soal. Setelah itu, Dennis mengangkat tangannya dan siap untuk mengetik. Dennis menekan tombol angka 1 secara perlahan, lalu ke angka 2. Dan sekarang yang terakhir... Dennis akan menekan tombol enter untuk mengkonfirmasi jawabannya itu. Ia juga berharap, semoga jawabannya benar!


Dennis agak ragu untuk menekan tombol enter itu. Ia takut dengan jawabannya sendiri. Takut salah. "Kak Mizuki, apakah jawabannya benar?" tanya Dennis.


"Aku tidak tahu. Kan kau sendiri yang mengetahui jawabannya."


"I–iya. Ini jawaban dari Kak Rei sendiri. Dia ingin aku yang menjawabnya."


"Kalau jawaban itu berasal dari Rei, ya sudah kau jawab saja. Rei tidak pernah salah. Kau tahu itu, kan?"


"I–iya. Aku tahu. Tapi...."


"DENNIS! Apa kau sudah menjawab soal itu?" teriak Rei dari kejauhan. Ia dengan Akihiro sedang sibuk untuk melawan si rubah kecil itu.


"I–iya baiklah! Maafkan aku kalau aku salah menjawabnya!" Dengan cepat, Dennis menekan tombol enter. Dan seketika soal di layar itu menghilang. Semuanya jadi tegang. Mereka menunggu jawabannya.


Dan hasilnya....


TRING!


Cahaya hijau muncul dengan terang di layar itu. [ Anda Benar! ]


Ternyata jawaban yang Dennis masukan itu benar! Ia bisa memecahkan soal pertama itu. Ia senang sekali. Begitu juga dengan semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Mereka bersorak gembira.


Rei dan Akihiro menghentikan pergerakan mereka karena si rubah kecil itu juga menghentikan serangannya. Lalu setelah cahaya hijau di layar itu menghilang, si rubah pun juga ikut menghilang.


Semuanya menghembuskan nafas lega karena sudah menyelesaikan satu soal. Dan sekarang... giliran soal berikutnya!


Rei dan Akihiro akan kembali menghampiri teman-temannya. Tapi tiba-tiba saja, cahaya di seluruh ruangan itu berubah menjadi warna merah gelap. Mereka semua yang ada di dalam ruangan itu pun terkejut. Ditambah lagi dengan suara lonceng yang berbunyi keras dan mengganggu.


Lalu tak lama kemudian, suara Bob terdengar kembali. [ Wah! Wah! Waktu kalian sudah habis. Kalian sibuk menyelesaikan satu soal, tapi tidak ingat dengan waktunya. Sekarang karena waktu yang telah ditentukan telah habis, maka... perjalanan kalian hanya sampai di sini saja! ]


"Oh tidak! Aku lupa dengan waktunya!" Rei menggerutu. Lalu tiba-tiba saja ia merasakan getaran di tanah yang ia injak. Lalu ada suara langkah kaki dari belakangnya. Rei dan Akihiro menengok ke belakang mereka dan kembali dibuat terkejut oleh sosok si rubah kecil itu yang tiba-tiba muncul. Kali ini... si rubah terlihat lebih menyeramkan. Ukurannya juga terlihat lebih besar. Tampang dari rubah itu terlihat seperti orang yang kelaparan. Air liurnya menetes dan hawa nafsu akan daging manusia semakin membara.


[ Rubah itulah yang akan membunuh kalian semua! Jadi... untuk Ujian pertama ini, tidak akan ada yang bisa selamat! ]


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2