
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
"Persiapkan diri kalian!" tegas Dennis. Semuanya terkejut mendengarnya. Tiba-tiba saja Dennis ingin memulai rencananya sekarang juga!
"Dennis? Apa kau yakin kita akan melakukannya sekarang?" tanya Akihiro.
"Melakukan apa?" tanya Rei. Dia belum mengetahui rencananya Dennis. Jadi agar Rei ikut paham juga, Dennis akan memberitahu rencana yang sudah ia susun itu. Dennis mulai menjelaskannya dari rencana 1 sampai 3.
Saat Dennis memberitahu rencana ketiga itu, seketika Rei pun terkejut. "Eh? Kau berniat untuk melawan Bapak Tertua?! Yang kutahu orang itu memiliki ilmu hitam yang sulit untuk dikalahkan, loh!"
"Tapi hanya itu saja satu-satunya jalan untuk kita. Kita bisa mengalahkannya dengan bekerja sama." Jawab Dennis.
"Hmm... oke." Rei mengangguk paham. Lalu ia kembali bertanya, "Apa rencana kedua itu sudah kau laksanakan?"
"Belum," Dennis menggeleng. "Aku dari tadi belum bertemu dengan Bu Mia."
"Ah, iya ya. Ngomong-ngomong Bu Mia kok gak kasih pengumuman makan malam sama kita, ya?" gumam Akihiro. Lalu ia mengeluarkan ponselnya. Membuka grup dan melihat daftar kegiatan yang telah dibentuk. "Kalian ingat kegiatan kita hari ini? Di sini ditulis, seharusnya kita sedang makan malam. Tapi sekarang apa? Kenapa Bu Mia membiarkan kita kelaparan?"
Semuanya terkejut. Mereka mulai menyadarinya kalau sedari tadi mereka juga tidak melihat kehadiran dan keberadaan Bu Mia sejak siang tadi saat Dennis, Akihiro, Mizuki dan Natsuki kembali di Villa.
"Kira-kira Bu Mia ke mana, ya?" gumam Mizuki. Ia juga mulai memikirkannya. "Yuni juga tidak ada di sini."
"Ah, iya, Yuni! Aku lupa dengan anak itu." Rei tersentak. "Kalau Yuni ke mana, Mizuki?" tanya Rei.
"Oh, dia memilih untuk menetap di kamar sambil... berbicara dengan makhluk tak kasat mata itu." Jawab Mizuki pelan. "Makanya aku tidak mengajaknya ke sini."
"Ah, kalau ada Yuni di sini, kita pasti bisa tahu keadaan di sekitar kita. Kan kalau ada bahaya, biasanya Yuni suka mengetahuinya." Ujar Dennis. Rei mengangguk. "Iya kau benar juga."
"Ah, apa kita susul Yuni saja ke kamarnya?" tanya Adel.
__ADS_1
"Sebaiknya nanti dulu. Sekarang ini kita bahas rencana saja untuk besok." Kata Dennis.
"Besok? Besok kita mulai beraksi, nih?" Akihiro terlihat bersemangat. Ia tidak sabar ingin menunjukkan kemampuannya dalam bertarung. Tapi ia juga sedikit takut dengan lawannya saat ini. Karena mereka semua itu adalah pembunuh yang handal.
"Baik, kita bicarakan sekarang." Dennis mulai mendekat ke kerumunan. Ia ingin membisikan rencananya. Tapi sebelum membahas itu, Dennis ingin mengetahui sifat yang tersimpan dari masing-masing musuhnya. Yang baru ia ketahui hanya Rina dan kakaknya si penembak itu.
Untuk mengetahui sisahnya, Dennis akan bertanya pada Cahya. "Cahya, apa kau tahu karakteristik keluarga kanibal itu? Bukankah kau tinggal bersama mereka?"
Cahya sedikit menunduk lalu menjawab, "Aku tahu, tapi tidak sepenuhnya yakin. Aku tidak tahu banyak tentang mereka. Tapi yang aku ketahui, kelemahan orang-orang itu ada di leher mereka."
"Lehernya?" Dennis meneleng.
"Iya." Cahya mengangguk. Lalu ia mengambil garpu bekas ia makan Mie tadi. Ia mengangkat garpu itu sambil menjelaskan sesuatu. "Anggap garpu ini adalah pisau." Cahya mendekatkan garpu itu ke lehernya, lalu menggosoknya pelan. "Ingat. Kelemahan mereka ada di leher. Jika kau membuat leher mereka terluka maka mereka akan memberontak kesakitan. Jika itu terjadi, kau bisa langsung membunuhnya. Kalau ingin langsung membunuh, lebih baik penggal langsung kepalanya!"
Semuanya mengangguk paham. Tapi Zainal sedikit mual mendengarnya. Ia tidak ingin membunuh orang. Tapi kalau terpaksa demi keselamatan semuanya, maka akan ia lakukan.
"Tapi... untuk membunuhnya, kita bisa dapat senjata dari mana?" tanya Zainal.
"Oh iya, senjatanya."
"Emm... apa tidak ada yang lebih dekat selain di hutan?" tanya Zainal lagi.
"Ada. Alat-alat itu berada di dapur Villa. Tapi tidak akan mudah untuk ke sana karena ayah selalu duduk di bangku goyang miliknya di dapur. Anggap saja dia sebagai orang yang menjaga dapur itu, si penjaga peralatan yang kita butuhkan."
"Ah, jadi agak sulit, ya?" Akihiro mengeluh sambil menggaruk kepalanya sampai acak-acakan dan beberapa rambutnya jadi rontok.
"Tentang saja. Aku tahu apa yang harus kita lakukan." Ujar Dennis dengan senyumnya. Ia kembali melirik ke Cahya, lalu berkata, "Kau. Kau kan sudah biasa pergi ke dapur itu. Jadi... kumohon kau ambil senjata itu. Atau... kau bisa mencari perhatian Bapak Tertua itu untuk pergi dari dapur. Ajak dia ke suatu tempat."
"Idemu bagus, Dennis. Tapi terlalu beresiko. Kenapa harus Cahya sendirian?" Rei menyela.
"Dia tidak sendirian, kak," Dennis menyipitkan matanya. Tangannya mulai terangkat, mengepal dan mengeluarkan telunjuknya. Ia akan menunjuk beberapa orang yang akan ikut bersama dengan Cahya.
Dennis mulai mengayunkan tangannya. "Kak Natsuki, Kak Dian, Rashino. Kalian tolong temani Cahya, ya?"
Ketiga orang yang ditunjuk itu pun mengangguk. Pada awalnya mereka terkejut. Tapi setelah Dennis memberitahu tugas mereka, mereka bertiga akan mencoba yang terbaik. Kata Dennis, mereka bertiga yang ditunjuk itu hanya harus menunggu di belakang dapur secara diam-diam untuk menunggu sampai Cahya berhasil membawa Bapak Tertua itu pergi dari dapur. Setelah dapur kosong, mereka bertiga akan masuk ke dalamnya dan mencuri beberapa benda tajam yang ada. Setelah itu, mereka harus kembali ke kamar untuk menyembunyikan alat yang mereka bawa kembali ke kamar. Jangan sampai ketahuan oleh keempat orang yang sangat diwaspadai.
__ADS_1
Tidak lain, keempat orang itu adalah Rina, kakaknya yang bernama Kai, Ibu dan Ayahnya yang suka Dennis panggil dengan Bapak Tertua.
"Oh, baiklah. Aku tahu bagaimana caranya membuat ayahku keluar dari dapur. Tenang saja semuanya. Serahkan padaku." Ujar Cahya. Semuanya bisa mengandalkan Cahya untuk permulaannya.
Sekarang Dennis akan melanjutkan rencana lainnya. Ia akan menunjuk beberapa anak sebagai penyerang dan pelindung teman lainnya. Tapi setelah Dennis pikir-pikir, akan lebih mudah kalau semuanya ikut bekerja sama juga. Karena teman sekolah yang lainnya itu pernah mengalami bahaya yang lebih daripada ini.
"Sepertinya orangnya akan kurang." Dennis bergumam setelah ia selesai berpikir. Dennis ingin sekali mengajak semua temannya yang lain untuk ikut bergabung juga. Tapi bagaimana cara memberitahu mereka, ya?
"Kenapa kurang?" tanya Rei pada Dennis.
"Hmm... Bukan kurang. Aku hanya memikirkan tentang kerja sama tim. Bagaimana kalau kita ajak teman kita yang lainnya? Beberapa teman kita juga ada yang bisa berkelahi. Seperti Ethan, Arya dan bahkan anak perempuan juga ada. Seperti Rasya." Ujar Dennis yang mulai menjelaskan. Semuanya akan menyimak. "Kita harus mengajak beberapa teman lainnya agar pekerjaan kita bisa berjalan lancar. Usahakan semuanya saling melindungi. Jangan sampai ada yang terbunuh. Kita bisa mempercayai yang lainnya karena mereka adalah anak-anak berpengalaman dari sekolah kita."
"Ah, iya Dennis benar juga." Rei mengangguk. "Kita memang harus mengajak banyak orang dalam misi ini."
"Tapi... bagaimana kita menyebarkan berita ini kepada anak lainnya?" tanya Akihiro heran. Mizuki mengerutkan keningnya, lalu menjambak rambut Akihiro dan membentaknya, "Kita kan punya ponsel! Hubungi mereka satu persatu lah!"
"Nah! Ide Mizuki bagus juga." Dennis mengeluarkan ponselnya. Ia tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya. "Sebenarnya aku tadi masih belum tahu cara untuk menyebarkan beritanya."
"Ah, biar lebih mudah, ayo kita bikin grup saja! Aku akan membuatnya agar kita bisa saling berhubungan." Ujar Akihiro sambil mengetik. Ia ingin memuat grup baru lagi ternyata.
Tapi Rei sempat mencegahnya karena di ponselnya Rei sudah memiliki banyak grup. Ia tidak ingin ada grup baru lagi yang datang. "Hah, begini saja. Bagaimana kalau masing-masing anak pergi ke kamar masing-masing. Kalian pasti sekamar dengan teman dari sekolah kita, kan? Nah! Kalian yang ada di sini, beritahu lah pada teman kalian yang belum tahu tentang rencana kita ini. Eh, tidak. Sebaiknya, kalian beritahu saja berita soal keluarga kanibal itu pada mereka. Kau soal rencana, nanti biar Dennis yang menjelaskannya di grup. Mengerti?" jelas Rei.
"Kalau soal grup, mending tidak usah bikin lagi. Kita kan sudah ada grup Study Tour itu. Kita pakai grup itu saja. Sekalian Bu Mia juga akan tahu pesan dari kita. Karena ada dia juga di dalam grup."
"Setelah semuanya mengetahui berita ini dan mereka bersedia ikut bersama kita untuk melawan keluarga kanibal itu, maka mereka boleh menyimak di dalam grup dan mengikuti rencana yang telah dibentuk Dennis."
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8
__ADS_1