Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 37–Kembali ke Villa dan Cerita Tentang Hantu


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Kau tidak akan membocorkan hal ini pada keluarga itu, kan?" tanya Rashino.


Cahya pun menjawab dengan tegas, "Tentu saja tidak. Kan aku sudah bilang, aku akan membantu kalian untuk melarikan diri dari Villa itu!"


"Hoooh? Ada apa ribut-ribut di sini?" tanya Pak Raden yang datang dengan jalan membungkuk ke dalam kamar. Dia baru saja merapihkan kayu bakar di dapur. Tapi mendengar suara Cahya yang keras, Pak Raden pun datang untuk memeriksa keadaan cucunya.


"Ah, kakek! Tidak ada apa-apa, kok!" Cahya mengibaskan kedua tangannya ke depan sambil tertawa.


Pak Raden mengangguk, lalu melirik ke arah Rei, ke Rashino lalu ke Adel. Ia melihat raut wajah mereka bertiga agak tegang. Karena penasaran, Pak Raden pun kembali bertanya, "Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian berdiri semua?"


"Ah, sebenarnya kami ingin pergi kembali ke Villa," Jawab Rei jujur. "Bisakah anda menunjukan jalannya?"


"Iya, tolong tunjukan jalannya!" Kata Rashino.


"Adel mau ketemu kakak lagi." Adel juga ikutan.


"Jadi kalian benar-benar ingin kembali? Kan di tempat ini kalian akan aman." Ujar Pak Raden. Sebenarnya beliau tidak ingin Rei, Rashino dan Adel pergi. Karena jika mereka pergi, rumah Pak Raden jadi sepi kembali.


"Kami tidak ingin menginginkan keamanan ini untuk kami saja. Karena teman kami yang lainnya juga sedang dalam bahaya diluar sana." Jelas Rei dengan tegas. "Kami memang tidak tahu banyak tentang keluarga itu. Tapi setelah kami kembali, kami ingin mengajak teman-teman kami untuk segera pergi meninggalkan Villa. Itu saja. Karena kami tidak ingin melawan mereka."


"Jangan sampai mereka memakan teman kita juga." Rashino menimpali. "Aku tidak ingin kehilangan temanku dan juga di sana ada saudara kembarku."


"Iya. Terima kasih untuk bantuan kakek selama ini. Kami sangat menghargainya. Tapi untuk saat ini kami benar-benar harus kembali ke sana." Adel ikutan lagi. "Tolong tunjukan jalannya!"


Mendengar penjelasan ketiga anak-anak di depannya telah membuat hati Pak Raden sedikit sakit. Tapi jika mereka ingin pergi, maka Pak Raden akan mengizinkannya. Beliau tersenyum pada mereka berdua, lalu menjawab, "Baiklah. Akan saya beritahu. Cahya yang akan mengantar kalian."


"Eh, aku kakek?"


"Iya. Lewat jalan depan saja. Jangan lewat hutan karena bisa berbahaya."


"Berbahaya karena apa?" tanya Rei.


"Karena di hutan, keluarga kanibal itu selalu berkeliaran. Entah itu anak mereka atau ibu dan ayahnya. Jika kalian tertangkap kan bisa gawat." Jawab Pak Raden.


"Kalau begitu... lewat jalan mana saja. Yang penting cepat!" tegas Rashino.


"Baiklah aku tahu jalannya! Akan aku tunjukan." Ujar Cahya. Ia akan mengajak temannya untuk pergi kembali ke Villa. Tapi sebelum mereka pergi, mereka memberi salam perpisahan dulu pada Pak Raden, dan Pak Raden juga tidak lupa untuk memperingati anak-anaknya untuk selalu berhati-hati.


Rei, Adel, Rashino dan Cahya pasti akan berhati-hati. Mereka pergi keluar rumah meninggalkan Pak Raden sendirian. Beliau berdiri di depan pintu sambil menatapi cucunya yang secara perlahan mulai menghilang dari pandangannya.


"Semoga kalian berhasil."

__ADS_1


****


"Eh?! Mereka ini kenapa?!" tanya Bu Mia panik saat melihat keadaan Dennis dan temannya yang terlihat penuh luka dan darah di tubuh mereka.


Natsuki juga ikut terluka. Saat ini ia sedang menggendong Dennis yang sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri di punggungnya. Kalau Akihiro merangkul Mizuki yang kakinya terluka. Mereka benar-benar terlihat kacau.


"Ah, saat mendengar mereka menghilang, aku langsung pergi untuk mencarinya. Saat aku menemukannya, mereka sedang diserang oleh binatang buas," Jelas Natsuki dengan nafas yang terengah-engah. "Hah... untung kami berhasil kabur dari terkaman binatang itu."


"Memangnya di hutan ada binatang buas?!" tanya Bu Mia tidak percaya.


"Ah, ada harimau di dalam hutan. Aku hampir saja mati, Bu!" tegas Akihiro. Lalu Mizuki juga ikut menjelaskan, "Seharusnya kita pergi dari sini. Tempat ini sudah tidak aman. Mungkin saja binatang itu akan datang kemari karena mereka mencium bau darah dari kami."


"Kumohon, Bu! Kami ingin pergi." Akihiro memohon. Lalu ia melirik ke semua teman-temannya yang ikut mengerumuni dirinya. "Kalian semua juga takut kan jika binatang itu benar-benar akan datang kemari? Maka dari itu sebelum terlambat, kita harus cepat pergi dari sini! Kita kembali ke sekolah yang aman saja yuk, Bu!"


Semua murid langsung berkata demikian. Mereka juga takut karena binatang buas yang dikatakan Akihiro dan Mizuki. Mereka membujuk dan memaksa Bu Mia untuk segera pergi meninggalkan Villa. Tidak ada arti kesenangan jika nyawa mereka terancam dalam bahaya.


Setelah murid-murid itu merengek untuk minta pulang, Dennis sedikit membuka matanya lalu tersenyum. Dalam hatinya ia bergumam, "Rencana pertama, berhasil!"


"Yu–Yu–Yuni... bagaimana ini? Apakah benar binatang itu akan datang ke sini?" tanya Nashira dengan tubuh gemetar ketakutan. Ia benar-benar takut kalau binatang buas itu benar-benar akan datang.


Tapi ternyata Yuni tidak percaya. Ia menyangkal perkataan Akihiro dan Mizuki karena Yuni tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Untuk menenangkan Nashira, Yuni berbisik padanya, "Jangan khawatir. Mereka hanya berpura-pura saja."


"Pura-pura, eh? Kenapa?"


"Karena mereka punya rencana yang hebat. Lagi-lagi berkat Dennis."


"Baiklah, baiklah! Besok kita pergi." Bu Mia menjawabnya. Ia berusaha untuk membuat semua muridnya untuk tenang dulu. Setelah semuanya diam, Bu Mia pun menggerutu dalam hati, "Sepertinya tempat ini benar-benar sudah tidak aman. Tidak sesuai dengan yang orang-orang itu bilang. Kata mereka tidak ada bahaya, tapi ini apa?! Aku akan bicara pada mereka malam ini."


****


"Malam ini sukses, Dennis! Kau sudah boleh membuka matamu. Mereka semua sudah pergi." Ujar Akihiro dengan senangnya.


Dennis tersenyum, lalu membuka matanya kembali. Setelah itu, Dennis bangun terduduk lalu mengeluarkan ponselnya. Ia merogoh tasnya untuk mengambil charger ponsel agar baterainya bisa terisi kembali.


"Berpura-pura pingsan dan nyaris sekarat versimu benar-benar hebat, Dennis!" Mizuki menepuk pundak Dennis lalu memujinya sambil tertawa.


Dennis hanya membalasnya dengan senyum. Setelah itu ia bertanya kepada Mizuki tentang luka asli di kakinya itu. Mizuki tertawa lagi lalu menjawab, "Sudah baik-baik saja, kok! Tadi aku sempat ke kamar untuk mengambil tas obatku. Onii-chan baru mengobati kakiku tadi."


"Oh syukurlah," Dennis menghela nafas lega. Ia senang Mizuki baik-baik saja dan luka tembak di kakinya itu masih bisa diatasi sebelum infeksi dan kehabisan banyak darah.


"Jadi yang tadi itu kalian hanya main-main saja?!" tanya Nashira terkejut setelah ia mendengar cerita dari Akihiro dan Dennis. "Dan darah-darah yang menempel di tubuh kalian itu ternyata hanya cairan dari buah Berry?!"


"Mulberry."


"Ah terserah apa namanya. Tapi kenapa kalian melakukan hal seperti itu?! Kan membuatku jadi ketakutan tahu!" geram Nashira.


"Kau tenang saja dulu." Akihiro menepuk-nepuk punggung Nashira pelan, lalu mengajaknya duduk di samping Dennis agar dia tidak merasa kelelahan jika terus berdiri. Untung Nashira mau menurut.


Setelah Nashira duduk dengan tenang, Dennis akan menjelaskan. "Jadi begini. Untuk Nashira dan Yuni, kami berempat mendapat berita mengerikan tentang keluarga pemilik Villa ini."

__ADS_1


"Eh? Kabar mengerikan apa itu? Jangan mencoba untuk menakutiku, ya?!" ucapan Nashira terdengar mengancam. Tapi Dennis meminta Nashira untuk diam dulu.


"Jangan takut. Tapi berita ini memang beneran, loh! Apa kau tahu kalau–"


"Keluarga pemilik Villa ini adalah manusia kanibal, kan?" Yuni tiba-tiba menyela. Dennis bertanya padanya, "Jadi kau sudah tahu?"


"Iya." Mizuki mengangguk.


"Eh? Dari mana kau mengetahuinya, Yuni?!" tanya Nashira tidak percaya. "Kenapa selama ini kau tidak pernah memberitahuku?"


"Jika aku beritahu, nanti kau jadi panik." Jawab Yuni dingin dengan ekspresi biasanya menatap Nashira dengan mata kosong.


"Emm... sebenarnya kau tahu tentang itu dari mana?" tanya Dennis. Lalu ia mendekat ke arah Yuni dan berbisik, "Apa kau pernah melihat aksi mereka yang mengerikan itu? Apa jangan-jangan ada korban yang hilang lagi?"


Yuni menggeleng. "Aku tidak melihatnya. Tapi aku tahu dari korban yang sudah meninggal."


"Eh? Korban yang sudah meninggal?"


"Iya. Seperti yang Kak Mizuki bilang, katanya dia pernah diganggu oleh sesuatu yang janggal saat ia mandi. Lalu Kak Rei juga pernah cerita padaku kalau dia juga melihat hantu wanita yang mengikuti dirinya." Jelas Yuni.


"Oh, kau pasti juga tahu saat Arya dan Lania sedang duduk di atas panggung sambil menyandarkan tubuh mereka pada malam hari. Apa kau tahu kejadian itu? Saat kata mereka berdua, mereka mendengar ada orang yang mengetuk kaca jendelanya dari depan. Saat dilihat tidak ada siapa-siapa." Jelas Nashira. "Kau tahu kejadian tadi malam itu! Kan kita juga lagi duduk di bangku bambu dan terkejut saat tiba-tiba saja Lania teriak setelah ia mendengar suara ketukan yang muncul di kaca jendela besar."


"Iya. Di sana aku melihat ada manusia setengah kepala." Jawab Yuni.


"Manusia setengah kepala? Bagaimana bentuknya? Kok kedengarannya lucu, ya? Hehe..." Akihiro terkekeh. Mizuki menepuk kepala Akihiro untuk menghentikan tertawaan Akihiro yang tidak enak di dengar.


"Hantu itu memiliki kepala, tapi hanya setengah saja. Seperti dari bagian tengah kening sampai dagunya, terbelah!" jawab Yuni sambil memperagakan bentuk hantu yang ia lihat.


"Lalu... apakah ada hantu lain yang kalian temukan selama kami tidak ada di sini?" tanya Dennis.


"Banyak. Aku dapat banyak laporan dan kepanikan dari beberapa murid. Ada yang melihat penampakan di ponsel mereka sehabis mereka ber-selfie di luar, ada juga yang menyentuh tubuh mereka tapi tidak ada siapapun di belakangnya, ada juga hantu yang memunculkan wujudnya langsung di hadapan mereka." Jelas Nashira. Ia sendiri sedikit merinding saat menjelaskannya.


"Apa itu benar, Yuni?" tanya Mizuki. "Kira-kira kenapa hantu-hantu itu bergentayangan dan mengganggu mereka seperti itu?"


"Oh, hantu itu hanya ingin memberikan peringatan pada kita. Niat mereka baik, bukan ingin menakut-nakuti kita." Jawab Yuni.


"Maksudnya?"


"Mereka... sengaja bergentayangan seperti itu agar membuat kita merasa tidak nyaman dengan kehadiran mereka. Jadi karena ketakutan, beberapa anak lain pasti akan minta pulang. Dengan begitu, mereka tidak akan bisa menjadi korban oleh si keluarga kanibal itu."


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2