Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 21–Rumah Rei, part 2


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


Seorang wanita paruh baya berdiri di depan pintu rumah. Wanita itu melirik ke arah Rei setelah ia mendengar ada seseorang yang bergumam memanggil namanya dengan panggilan "Ibu".


Wanita itu membesarkan matanya karena terkejut melihat ada sosok Rei di dalam rumahnya. Ia membuka topi jeraminya, lalu menjatuhkannya ke lantai. Lalu setelah itu, wanita itu melangkah secara perlahan ke depan.


"Ri–Rhino? Kamu... beneran Rhino, kan?" tanya wanita itu pelan sambil berjalan secara perlahan untuk menghampiri Rei.


"Rhino? Siapa itu? Pfftt!" Akihiro berusaha untuk menahan tawa karena mendengar nama lain dari Rei itu. Lalu dengan cepat Dennis pun memukul pundak Akihiro. "Kak Dian diam dulu." Bisik Dennis sedikit geram.


Melihat wanita yang Rei panggil Ibu itu berjalan dengan terbata-bata, Rei pun menghampiri wanita itu dengan cepat lalu memeluknya. "Ibu! Iya! Ini aku. Aku sudah pulang!"


Ibunya Rei itu membalas pelukan anaknya. Kemudian beliau tersenyum pada Rei dan berkata, "Ibu senang kamu bisa pulang, Rhino! Kamu dari mana saja? Ibu sangat mencemaskanmu, Nak!"


"Maafkan aku." Ucap Rei lirih. "Saat itu aku pergi... karena aku... ingin menyelamatkan teman-temanku yang sedang dalam bahaya!"


"Oh benarkah?!" Ibunya Rei terkejut. "Ta–tapi kamu baik-baik saja, kan, Nak? Apa ada yang luka?"


"Ah, tidak ada, Bu! Aku baik, kok. Ini semua berkat bantuan dari teman-temanku yang selama ini telah melindungiku juga." Ujar Rei. Lalu ia menarik tangan Ibunya secara perlahan sampai ke depan sofa dan berkumpul dengan semuanya di sana.


Rei menyediakan sofa satu khusus untuk Ibunya. Setelah Ibunya duduk di sofa yang sudah disediakan Rei itu, seketika semuanya langsung menghampiri Ibu Rei dan memberi salam. Mereka mencium tangan kanan Ibunya Rei yang sudah terlihat keriput itu dengan lembut. Lalu setelah itu, mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing.


Rei duduk di samping Dennis. Lino duduk di samping Adel di sofa yang berbeda. Ibunya Rei terlihat senang. Bukan hanya karena anaknya kembali, tapi merasa senang juga pada semua teman-temannya Rei itu.


"Untuk kalian semua, saya mengucapkan banyak terima kasih karena telah membantu dan menemani anak saya selama dia berada di dunia luar sana." Ucap Ibunya Rei lirih. Semuanya mengangguk senang.


"Sebagai balas budi dari saya, bagaimana kalau Ibu buatkan makanan untuk kalian?" lanjut Ibunya Rei.


Semuanya menggeleng sambil mengibaskan tangan mereka. "Ah, tidak usah, Bu! Jadi merepotkan!" ujar mereka semua serontak.


"Eh, beneran? Apa kalian tidak ada yang lapar?"


Semuanya mengangguk cepat. "Iya, iya! Lagi pula, baru saja tadi Kak Rei telah membuatkan kami makanan." Ujar Dennis cepat.

__ADS_1


"Eh? Rei itu siapa? Rhino? Apa kau punya teman lainnya?" tanya Ibunya Rei bingung.


"Oh, tidak, kok! Ibu belum tahu, ya? Nama panggilanku itu Rei, Bu. Teman-temanku memanggilku dengan nama "Rei" itu." Jawab Rei. Lalu setelah itu, ia melirik pada semuanya. "Dan nama Rhino itu adalah nama asli yang diberikan oleh orang tuaku." Lanjut Rei.


Dennis dan yang lainnya mengangguk. Mereka baru tahu kalau sebenarnya, nama Asli Rei adalah Rhino.


"Oh, pantas saja kamu selalu mau dipanggil dengan nama 'Rei' saat itu. Memangnya, kamu mendapatkan nama 'Rei' itu dari mana?" tanya Ibunya.


Rei tersentak. Ia berusaha untuk mengingat. Sebenarnya ia agak lupa dengan orang yang telah memberikan nama itu padanya. "Ehm... nama itu aku dapatkan dari sekolah, Bu! Nama panjangnya Rei Alfathir. Tapi... aku tidak ingat dengan orang yang telah memberikanku nama itu."


"Oh iya. Kamu kan dibesarkan di sekolah." Ibu Rei mengangguk paham. Lalu ia kembali mengeluarkan senyumnya pada Rei. "Tapi sekarang, Ibu senang kamu sudah kembali ke keluargamu yang sebenarnya, Rei. Boleh Ibu memanggilmu Rei juga?"


Rei senang mendengarnya. Ia pun tersenyum pada Ibunya, lalu mengangguk. "Iya, tentu saja boleh, Bu!"


"Nah! Ekspresi itulah yang Ibu mau lihat dari tadi. Eh, apa selama ini si Rei itu tampangnya selalu jutek atau cuek gitu, ya? Kadang kalau tampang seperti itu suka galak anaknya." Tanya Ibunya Rei.


Seketika Rei pun tersentak. "Eh? Eh! A–aku tidak mungkin galak, kok, Bu! Eh? Memangnya tampang ku selama ini seperti apa? Kan aku ini anaknya baik-baik, loh!" Tiba-tiba saja Rei jadi salah tingkah gitu.


"Wah! Ibu mau tahu? Dia itu kalau di sekolah suka sok jadi jagoan, tahu! Dia kan jadi ketua OSIS di sekolah. Kan tahu lah... tampangnya OSIS itu seperti apa." Ujar Akihiro. Ia senang sekali kalau saat mendeskripsikan tentang Rei pada seseorang.


"E–eh?! Benarkah begitu? Jangan ngaco ya, kalau ngomong?!" geram Rei tiba-tiba.


"Haha~ Ternyata anak Ibu bisa lucu juga, ya?" Ibunya Rei tertawa dengan mulut tertutup.


"Ah, sudahlah!" Rei mendesah berat. Iamelipat tangannya ke depan sambil memejamkan matanya dan mengerutkan keningnya.


Lalu tak lama kemudian, ia bergumam dengan nada menyindir. "Daripada kau sendiri, punya sikap aneh sekali. Pantas saja Mizuki tidak mau denganmu. Begitu juga dengan anak perempuan lainnya. Aku sumpahin jomblo seumur hidup!"


Akihiro terkejut. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Di dalam hatinya ia malah jadi panik. "O–oh tidak! Jangan sampai hal itu terjadi. Tidak! Tidak! Terkadang... omongan anak indigo itu suka benar! Haduh... gawat!"


"Ha? Anak indigo?" pikir Yuni setelah ia berhasil membaca pikiran Akihiro barusan. "Haduh... Kak Rei hanya anak biasa saja yang memiliki kemampuan khusu. Belum tentu dia itu Indigo, bodoh!" lanjut Yuni menggerutu di dalam hatinya.


Di waktu yang sama, mereka semua selalu bercanda bersama sambil menikmati makanan yang dibuat oleh Rei tadi.


Sampai akhirnya, malam pun tiba....


Dennis dan temannya yang lain diperbolehkan tinggal di rumah Rei untuk satu malam saja. Kedua orang tua Rei benar-benar sangat baik. Bahkan, saat Ayah Rei pulang tadi sore, Rei langsung memperkenalkan teman-temannya pada ayahnya itu. Lalu setelah itu, Ayahnya Rei memeluk semuanya satu per satu.


Lalu setelah itu, para anak laki-laki diajak pergi memancing bersama dengan Ayahnya Rei. Sementara para anak perempuan berada di dapur untuk diajarkan caranya memasak makanan yang enak oleh Ibunya Rei. Memang hari yang menyenangkan!

__ADS_1


****


Malam ini pukul setengah sepuluh malam. Semuanya belum pada tidur. Dennis dan teman-temannya saat ini sedang berkumpul di teras depan sambil memandangi bintang di langit malam.


Tapi Dennis sendiri tidak melihat bintang. Ia hanya duduk di kursi kayu depan jendela sambil melihat nama-nama teman sekelasnya yang ia lihat lewat buku absen yang diberikan oleh Ayahnya kemarin malam itu.


Lalu tak lama kemudian, Rei menghampiri Dennis. Ia duduk di kursi kosong samping Dennis. "Buku absen itu... kau membawanya?" tanya Rei mengejutkan Dennis.


Dennis mengangguk. "I–iya. Tentu saja aku membawanya. Kan besok kita akan pergi ke sekolah. Jadi sekalian saja aku membawa buku absen ini untuk aku kembalikan ke tempatnya."


"Oh... lalu sekarang apa yang kau lakukan dengan buku absen itu?" tanya Rei lagi.


"Hmm... aku hanya ingin menghapal nama-nama teman sekelas kita. Dan juga kelas 3 lainnya. Karena kelas 3 itu dibagi menjadi 3 kelas. Yaitu kelas 3-A, 3-B dan yang terakhir kelas kita, 3-C." Jelas Dennis. Lalu ia melirik ke arah Rei yang ada di sampingnya. "Jika aku sudah menghapal nama mereka, aku hanya tinggal mengetahui wajah mereka. Jadi lama kelamaan, aku bisa kenal dengan mereka semua deh! Aku juga bisa semakin akrab." Lanjut Dennis.


Rei mengangguk. "Oh, oke. Terserah kau saja."


"Kak Rei pasti sudah kenal dan akrab dengan semua orang di sekolah, kan? Apalagi dengan para anak perempuan. Hehe...."


"Eh, tidak juga. Ada satu anak yang paling menyebalkan menurutku."


"Eh? Itu pasti Kak Dian, ya? Hehe...."


"Bukan dia. Tapi anak yang lain. Dia ada di kelas kita. Dia itu... ah! Anaknya sulit untuk dijelaskan. Intinya dia benar-benar anak yang nakal. Melebihi dari nakal. Tapi ia bisa menjadi anak terpintar di kelas."


"Ah? Melebihi dari kakak?!" Dennis terkejut.


"Iya... gitulah. Tapi karena kepintarannya itu, telah membuat anak itu menjadi sombong. Kepintarannya tidak akan bisa membuat dia menjadi anak populer. Dia juga memiliki sifat yang egois. Ia tidak akan membiarkan anak lain melebihi kepintarannya. Jika anak itu lebih pintar darinya, maka dia akan melenyapkan anak itu sampai orang yang telah mengalahkannya dalam kepintaran itu akan lupa bagaimana caranya belajar!" jelas Rei serius.


"Tidak mungkin..." Dennis bergumam tidak percaya. "Eh? Dia ada di kelas kita? Tapi siapa anak itu?" tanya Dennis penasaran.


"Namanya adalah... Maulan Aditia. Atau biasa kami panggil dengan nama, Adit!"


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @Pipit_otosaka8


__ADS_2