Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 38– Menyusun Rencana Dennis


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Mereka... sengaja bergentayangan seperti itu agar membuat kita merasa tidak nyaman dengan kehadiran mereka. Jadi karena ketakutan, beberapa anak lain pasti akan minta pulang. Dengan begitu, mereka tidak akan bisa menjadi korban oleh si keluarga kanibal itu." Jelas Yuni.


"Jadi begitu..." Dennis bergumam. Ia kembali melirik ke arah Yuni, lalu bertanya, "Apa kau bentuk mereka seperti apa?"


"Intinya sangat mengerikan. Mereka muncul dengan memperlihatkan kematian mereka juga. Dan semua hantu itu adalah korban keluarga kanibal itu yang pernah menginap di Villa ini juga." Jawab Yuni.


"Ah, boleh kau memberitahu aku bagaimana dengan ciri-cirinya?" tanya Mizuki penasaran. Yuni sedikit melirik ke arah Mizuki. Ia melihat Mizuki sudah memegang buku tulis kecil yang entah dari mana dengan pulpen yang terselip di kertas buku tersebut.


"Untuk apa?" tanya Yuni.


"Aku ingin mencatatnya. Ah, untuk apa saja boleh." Jawab Mizuki sambil tertawa.


"Hantu ya hantu biasa. Kau tau lah seperti apa jika mereka dibunuh oleh seorang kanibal? Pasti kejam, kan?" Akihiro yang menjawabnya.


"Ooh," Mizuki mengangguk sambil menulis kata-kata yang ia dengar. Lalu ia kembali bertanya pada Yuni, "Kalau tanda dan jenis hantu itu? Apa kau mengetahuinya?"


"Palingan kepala buntung yang suka menggelinding dan–"


PUK!


"Aku tidak bertanya padamu!" bentak Mizuki pada Akihiro sambil memukul wajahnya dengan buku kecil yang ia pegang sebanyak 3x. Mizuki terlihat agak kesal saja. Dia bertanya pada Yuni tapi kenapa Akihiro yang menjawabnya? Mizuki tahu jawaban Akihiro tidak akan benar!


"Biasanya... kalau yang bisa kita lihat dengan mata, kehadiran mereka itu seperti muncul potongan tubuh di mana-mana. Begitu." Jawab Yuni.


Mizuki mencatat semuanya sambil mengangguk.


Akihiro melirik ke langit-langit kamar sambil memonyongkan bibirnya. Mode berpikir Akihiro. Setelah itu ia berujar pada Yuni. "Eh? Muncul potongan tubuh itu bukannya kehadiran hantu Teke-teke, ya?"


PUK!


Mizuki memukul wajah Akihiro lagi dengan bukunya lalu menggerutu, "Sudah kubilang kau itu sok tahu jadi orang! Jadi diam saja."


"Jadi sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Akihiro sambil mengelus hidungnya yang habis kena pukul oleh Mizuki.


"Kita hanya tinggal menunggu keputusan dari Bu Mia saja." Jawab Dennis. "Jika Bu Mia ingin kita segera pergi dari sini, maka rencana kita berhasil. Tapi jika tidak, maka aku akan meluncurkan rencana B."

__ADS_1


"Sebenarnya ada berapa banyak rencanamu, Dennis?" tanya Nashira heran. "Apakah rencanamu berurutan?"


"Ada 3 rencana!" Jawab Akihiro sambil menunjukan ketiga jarinya. "Yang pertama adalah... Dennis saja yang melanjutkan, hehe...."


Dennis tertawa kecil, lalu ia melirik ke arah Nashira. Ia menjelaskan, "Rencana pertama itu adalah membujuk Bu Mia untuk pergi dari Villa dengan masalah bohongan. Seperti yang kami lakukan tadi. Kami berpura-pura bilang kalau ada binatang buas. Dengan begitu, Bu Mia pasti akan mau pergi dari Villa ini karena masalah bahaya itu."


"Ya! Yang tadi itu kami hanya berpura-pura. Sekarang tinggal menunggu Bu Mia mendapatkan keputusannya. Apakah dia mau mengajak muridnya untuk pergi atau tidak." Akihiro menimpali.


"Nah, Kak Dian benar. Sekarang kalau rencana kedua atau rencana B itu adalah rencana untuk memberitahu Bu Mia tentang masalah yang sebenarnya. Tapi untuk sekarang bukan saatnya," Jelas Dennis. "Kita akan menggunakan rencana ini saat Bu Mia tidak percaya dengan berita bohong kami kalau binatang buas itu tidak ada di tempat ini."


"Iya begitulah." Akihiro tertawa seakan ia yang telah merancang rencana yang dijelaskan Dennis itu. Sekali lagi Mizuki memukul kepalanya untuk membuat Akihiro diam.


"Nah, kalau rencana ketiga atau rencana C, adalah... pergi melawan ayah tertua saja!"


"Iya... eh! Tunggu, apa?!" Akihiro terkejut mendengarnya. Begitu juga dengan Mizuki. Kalau Natsuki hanya diam saja, karena ada beberapa kata yang masih belum ia mengerti saat Dennis menjelaskannya.


"Kenapa kau mengubah rencana ketiga itu, Dennis?!" tanya Mizuki dengan raut wajah kaget.


"Setelah kupikir-pikir, akan sangat beresiko jika kita menggunakan rencana sebelumnya itu." Jawab Dennis sambil menyentuh dan memainkan rambutnya. Memainkan rambutnya, memang sudah menjadi kebiasaan Dennis jika dia sedang berpikir.


"Eh? Memangnya rencana sebelumnya itu seperti apa?" tanya Nashira.


"Kalau yang sebelumnya itu sangat mudah, Nashira." Jawab Mizuki. "Setelah Bu Mia mengetahui masalah yang sebenarnya, Bu Mia pasti akan mengajak anak muridnya untuk segera pergi dari Villa. Tugas kita pada saat itu hanya harus menggiring teman-teman kita pergi ke bawah bukit lalu masuk ke dalam Bus untuk pergi. Setelah itu, masalah kita selesai!"


"Ilmu kebal, Dian!" Mizuki membentak.


"Nah iya itu! Kan akan sangat sulit jika kita melawan manusia seperti itu."


"Tapi tunggu dulu." Nashira menyela. Matanya menatap ke Dennis lalu bertanya, "Apa alasanmu untuk mengubah rencana ketiga itu?"


"Oh, ini yang aku ingin beritahukan. Akan sangat beresiko karena ... kita gak boleh membiarkan keluarga kanibal itu tahu kalau kita ingin pergi karena sifat asli mereka. Apalagi saat di rencana B itu, awalnya kita hanya memberitahu Bu Mia saja dan tidak untuk anak lainnya. Jika teman-teman kita tahu, maka akan mengundang kepanikan dan ketakutan untuk mereka. Jika itu terjadi maka keadaan akan menjadi tambah buruk." Jelas Dennis. "Bisa-bisa nanti ... Ayah Tertua itu bisa menyerang dan membunuh teman-teman kita."


"Iya juga. Kata Kakak Tertua tadi... ayah mereka membutuhkan makanan dan darah untuk ilmunya setiap hari ketujuh. Dan hari itu akan terjadi..." Akihiro menghitung hari dengan jarinya, lalu kembali berujar. "Sekarang saja hari rabu. Berarti... masih ada 4 hari lagi kesempatan kita untuk kabur dari sini."


"Kenapa harus menunggu 4 hari kalau kita bisa pergi besok?" ujar Dennis. Lalu ia berdiri dari atas kasur, lalu berjalan ke arah pintu depan. Dennis melirik ke arah jalan turunan menuju ke bawah bukit. "Besok... kita bisa pergi bersama ke bawah sana. Jika kita beruntung."


"Tapi... kenapa kita tidak meminta teman-teman untuk tenang setelah mereka tahu sifat asli Keluarga pemilik Villa?" tanya Mizuki. "Dengan begitu, kita bisa pergi melarikan diri dengan tenang tanpa ada yang bersikap ceroboh karena kepanikan mereka."


Dennis menghela nafas, lalu memainkan rambutnya lagi. Ia bergumam memikirkan sesuatu. Lalu setelah ia mendapatkan jawaban untuk pertanyaan Mizuki, Dennis berujar, "Teman-teman sekolah kita masih bisa dipercaya karena mereka sudah pernah berpengalaman dalam bahaya seperti ini dulu. Tapi... bagaimana dengan anak-anak dari sekolah lain itu?"


"Eh? Apa kau ingin membantu mereka juga?" tanya Nashira bingung. Ia terlihat tidak terima jika Dennis ingin membantu anak dari sekolah Adiwata itu. Karena menurut Nashira, anak-anak itu terlihat agak menyebalkan dan susah untuk diatur. "Apa mereka bisa dipercaya?"


"Kita belum tahu jika kita belum mencobanya." Jawab Dennis.

__ADS_1


"Lalu jika kita sudah mencobanya, dan mereka itu malah bertindak seperti yang kita tidak ingin terjadi, maka kau akan menyesali keputusanmu untuk membantu mereka." Oceh Nashira. Ia melipat tangannya ke depan, lalu kembali menggerutu, "Itu terserahmu saja, Dennis. Tapi jika anak-anak yang menyebalkan itu tidak ingin menurut dengan kita, maka hal itu bisa menjadi kesalahan terbesarmu, Dennis."


"Eh, em..." Dennis menunduk. Ia menurunkan tangannya dari atas kepala, lalu memasukan kedua tangannya ke dalam saku. Untuk kali ini, ia berpikir tanpa menyentuh rambutnya. Ia pastinya berpikir dalam hati. Setelah Dennis memilih keputusannya, ia kembali mendongak lalu memberitahu keputusannya itu. "Aku akan menolong anak-anak dari sekolah lain juga. Karena kita harus pergi dari sini bersama-sama!"


Nashira tersenyum. "Oke. Terserah padamu. Aku hanya bisa membantumu saja."


"Ya. Kita percayakan semuanya pada Dennis saja. Kita pasti bisa keluar dari sini bersama-sama!" tegas Akihiro. Semuanya bersorak senang. Dennis hanya mengangguk sambil tersenyum samar.


Tapi di dalam, ia menggigit bibir bawahnya karena ia mencemaskan sesuatu. Lagi-lagi ia mendapat firasat yang tidak enak. "Apakah rencanaku akan berhasil nanti?"


****


Malam harinya–


Bu Mia dan Ibu Villa sedang berbincang bersama di dalam satu kamar di Villa. Bu Mia duluan yang mengajak Ibu Villa untuk mengobrol bersama dan membahas masalah tentang binatang buas yang dikatakan Dennis itu. Tapi sebelum dimulai, Bu Mia ingin menunggu seseorang yang datang. Yaitu teman seperguruannya—Pak Wija.


"Selamat malam, Bu," Salam Pak Wija pada Bu Mia dan Ibu Villa setelah ia datang ke ruangan tersebut. Setelah itu, beliau duduk di kursi samping Bu Mia. "Ngomong-ngomong di sini ada masalah apa, ya?"


"Begini, saya ingin melaporkan beberapa keluhan." Jawab Bu Mia. Matanya menatap ke arah Ibu Villa yang memiliki rambut pendek dengan bibir tebal yang berwarna merah. Badannya juga agak gemuk, tapi pakaiannya sopan, tidak seperti anak keduanya.


"Apa ada yang membuat anda tidak nyaman?" tanya Ibu Villa.


"Iya pastinya. Ibu bilang saat di telepon, katanya kalau Villa ini akan aman untuk murid-murid saya. Tapi sekarang apa?! Saya mendapat banyak keluhan dari para murid. Katanya ada yang melihat hantu, ada muridnya Pak Wija yang menghilang, lalu murid saya juga menghilang. Dan sekarang saat siang hari tadi, saya dapat laporan lagi kalau murid-murid saya habis diserang oleh binatang buas!" bentak Bu Mia. "Ibu ini bagaimana, sih?"


Pak Wija menenangkan Bu Mia. Ia mengangguk, lalu ikut menimpali juga. "Saya juga merasa tidak nyaman, Bu! Haruskah kita pergi dari sini saja?"


"Iya! Saya juga memutuskan seperti itu." Bu Mia menggebrak meja yang ada di depannya, lalu mengulurkan tangan pada Ibu Villa untuk meminta sesuatu. "Sekarang kembalikan uang yang sudah saya berikan untuk anda sebagai bayaran Villa ini! Saya menyesal sudah menyewa tempat ini."


"Iya saya juga. Bisa-bisa murid saya nanti jadi ketakutan semua." Pak Wija berdiri dari tempatnya. Tadinya ia ingin pergi untuk memberitahu murid-muridnya untuk segera bersiap untuk kepergian mereka besok.


Tapi saat ingin beranjak pergi, tiba-tiba saja ada pisau yang melayang dengan cepat dan langsung menusuk ke leher belakang Pak Wija sampai tembus. Setelah serangan pisau yang tiba-tiba itu, Pak Wija pun terjatuh di depan meja. Bu Mia langsung berdiri dan berteriak karena terkejut.


"Sebaiknya kalian jangan membentakku dan jangan pernah main-main denganku."


Bu Mia melirik cepat ke arah Ibu Villa yang baru saja berujar padanya dengan nada yang menyeramkan. Ibu Villa itu tersenyum, dan menyipitkan matanya. Mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu berujar pelan, "Kalian ... tidak boleh ada yang pergi dari tempat ini."


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2