Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 13– Pukul 8-9 PM


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


Pukul 8 malam–


Setelah makan bersama berakhir, semua orang pergi keluar dari Villa. Mereka berkumpul dan bermain-main di beberapa pondok kecil dan tempat lainnya pada malam hari. Ada juga yang pergi ke kamar mereka.


"Yeay! Asik! Kita main malam-malam, haha..." Akihiro melompat kegirangan saat ia mendapat waktu bebas sampai jam 9. Walau hanya se-jam, tapi Akihiro akan memanfaatkan waktu itu untuk melakukan hal yang ingin sekali ia lakukan.


"Eh? Bukannya jam 8 itu jadwalnya untuk memulai acara hiburan, ya?" tanya Dennis sambil melihat daftar kegiatan di ponselnya.


"Acaranya diundur lagi. Kata Bu Mia, bagian itu akan diadakan besok malam saja. Sekarang kita punya waktu bebas selama se-jam, lalu setelah itu kita semua diwajibkan pergi ke kamar untuk tidur dan mempersiapkan energi untuk jam 12 malam nanti." Jelas Rei.


"Haduh..." Dennis memeluk dirinya, lalu mengelus lengan kanannya beberapa kali. "Belum permainan Uji Nyali itu saja, aku sudah merasa merinding."


"Tenang saja! Kelompok permainannya bebas, kok! Kita akan tetap bersama." Akihiro memeluk Dennis dan Rei dengan senangnya. "Kita bertiga pasti akan bermain Uji Nyali itu bersama. Karena kita..."


"Sahabat yang tidak pernah terpisahkan." Dennis dan Rei melanjutkan.


"Iya! Kalian benar sekali! Uuh~ Aku sayang kalian." Akihiro mengeratkan pelukannya. Seketika Rei dan Dennis langsung berusaha untuk melepaskan pelukan Akihiro karena merasa tidak nyaman.


"Tapi sebenarnya satu kelompok itu harus ada berapa orang?" tanya Dennis.


Rei menggeleng. "Entahlah. Belum ditentukan."


"Oke... sekarang kita mau ngapain?" tanya Dennis lagi.


Akihiro tersenyum, lalu ia mendekat ke arah Dennis dan berbisik, "Kita godain anak cewek, yuk!"


Dennis terkejut sekaligus jijik saat mendengar Akihiro berkata seperti itu. Lalu dengan cepat, ia menjauh dari Akihiro dan bersembunyi di belakang Rei. "Kalau yang begituan, lebih baik Kak Rei saja sana! Aku... mau tetap di sini."


"Ah, sudah kuduga kau bakal menolaknya. Ya sudah... aku mau sama Zein saja, ya? Haha... dia kan asik. Kebetulan juga aku memang diajak sama dia, sih." Akihiro melambai, lalu pergi mendekati kumpulan anak-anak dari sekolah lain yang sebagiannya sedang berkumpul di satu pondok kecil dekat dengan kolam renang.


Setelah Akihiro pergi, Rei pun mengajak Dennis untuk pergi ke suatu tempat. Dennis terheran. "Kita mau ke mana, Kak?"


"Kita lihat hutannya yang akan kita jelajahi saat jam 12 malam." Jawab Rei.


"Eh? Kan kita tidak boleh pergi tanpa pengawasan dari orang tua."


"Hanya melihatnya sebentar saja. Aku penasaran. Ayolah!"

__ADS_1


"Oke, Kak Rei! Aku juga penasaran, sih... haha...."


"Kalau begitu ayo cepat!"


****


Dennis dan Rei pergi ke belakang bangunan Villa dengan lewat jalan kecil di belakang pondok di samping kolam renang. Sebelum mereka memasuki jalan kecil itu, mereka sempat ditanya oleh anak-anak yang berkumpul di pondok dekat jalan itu. Tapi Rei dan Dennis hanya menjawab kalau mereka ingin berkeliling saja.


Setelah itu, Dennis dan Rei kembali melangkah. Mereka masuk melewati jalan kecil dengan batu lumut yang besar di pinggir jalannya. Suasananya biasa saja. Tidak menyeramkan dan tidak pula gelap. Karena setiap 5 meter di pinggir jalan kecil itu diberikan lampu tiang yang bersinar terang. Jadi... Dennis dan Rei tidak perlu menggunakan cahaya dari ponsel mereka untuk melihat jalan. Lampu tiang itu saja sudah lebih dari cukup untuk menyinari jalan kecil.


Setelah jalan kecil itu berujung sampai jalan yang berumput, Dennis dan Rei sedikit mendongak. Mereka melihat ada lapangan besar di hadapan mereka setelah mereka melewati jalan kecil tersebut. Dan... tepat di dekat lapangan itu, mereka bisa melihat hutannya yang gelap dan menyeramkan. Banyak pohon besar dan daun-daun merambat yang terlihat seperti ayunan monyet.


"Seram sekali. Kak Rei... kita kembali saja, yuk!" ajak Dennis yang sudah mulai merinding dengan tempat menyeramkan yang ia lihat.


"Baiklah... kita kembali." Rei mengangguk. Mereka berdua akan berbalik badan dan kembali ke tempat terang di depan Villa. Tapi sebelum itu Dennis sempat melihat ada bayangan manusia yang berlari masuk ke dalam hutan. Karena terkejut, Dennis tidak sengaja berteriak sambil menunjuk ke arah orang itu.


Karena teriakan Dennis, Rei juga jadi ikut kaget. Ia bertanya pada Dennis, "Kau kenapa?"


"I–itu Kak Rei. Apa kau melihatnya? Itu apa? Orang itu, tuh!" Dennis menunjuk. Rei menyipitkan matanya dan melirik ke arah objek yang Dennis tunjuk. "Ada apa di sana?"


"Eh?" Dennis kehilangan sosok hitam itu. Ia pun mencarinya, lalu tak lama Dennis melihat orang itu lagi. Ada orang lainnya yang juga berlari membawa sesuatu ke dalam hutan. Dengan cepat, Dennis kembali menunjuk untuk memberitahu Rei tentang bayangan yang ia lihat agar Rei bisa percaya. "Itu di sana!"


Rei melirik lagi dan terkejut. Akhirnya ia bisa melihatnya juga. "Eh?"


"Iya, kan? Kakak melihatnya! Itu apa, ya?" tanya Dennis.


"Apa mungkin mereka itu adalah pengawas yang akan menjaga kita saat kita pergi ke hutan itu juga?" tanya Dennis.


"Mungkin saja begitu. Tapi... kok orang yang aku lihat tadi, dia seperti membawa karung yang ia gendong di pundaknya." Rei berpikir dan mengingat kembali sosok yang baru saja ia lihat.


"Mungkin di dalam karung itu, mereka membawa peralatan untuk keselamatan, Kak Rei."


"Oh iya. Kau ada benarnya juga." Rei mengangguk. "Nah, sekarang ayo kita kembali!"


"Oke!"


Dennis dan Rei pun berbalik badan. Mereka akan meninggalkan lapangan berumput itu dan kembali ke jalan kecil menuju ke Villa. Tapi setelah mereka berbalik badan, tiba-tiba saja ada Cahya yang sudah berdiri di belakang dan mengejutkan Dennis dan Rei.


Terkejut. Benar-benar terkejut bukan main. Mereka berdua sampai terjatuh duduk ke tanah karena kehadiran Cahya yang tiba-tiba muncul tanpa sepengetahuan Dennis dan Rei.


Setelah Dennis dan Rei terjatuh dengan ekspresi wajah terkejut dicampur dengan ketakutan mereka, Cahya tertawa terbahak-bahak. Ia tidak tahan melihat ekspresi ketakutan yang Dennis keluarkan. "Haha... kalian kagetnya terlalu berlebihan!"


Karena merasa kesal, Dennis dan Rei kembali berdiri dengan cepat, lalu membentak Cahya, "Jangan muncul tiba-tiba, dong!!" Lalu keduanya mengelus dada mereka dan berusaha untuk menenangkan jantung mereka yang masih berdetak kencang.


"Untung aku tidak sampai melayang." Dennis menggerutu.

__ADS_1


"Hehe... maaf, ya?" Cahya melipat tangannya ke belakang, lalu tersenyum sambil mengeluarkan lidahnya. Ekspresi senang sambil meledek gitu.


"Ah, lain kali jangan seperti itu." Rei berujar dingin. Ia paling benci kalau dikagetkan dengan kemunculan orang lain secara tiba-tiba. Apalagi yang telah mengagetkannya itu adalah seorang perempuan.


"Iya! Aku minta maaf." Cahya mengeluarkan ekspresi biasa, lalu kembali berujar. Ia memperingati sesuatu pada Dennis dan Rei. "Seharusnya kalian berdua tidak boleh ada di tempat ini. Karena kalian bisa mengganggu penghuni yang ada di tempat ini, loh!"


"Eh? Penghuni?" Dennis dan Rei bergumam bersama.


"Iya. Penghuninya. Aku akan menceritakan. Tapi jangan di sini."


"Ah, baiklah!"


Cahya mengajak Dennis dan Rei kembali ke depan Villa dengan melewati jalan kecil yang penuh dengan cahaya. Lalu setelah sampai di tempat yang terang dan dipenuhi banyak orang yang sedang bersenang-senang, Cahya akan mengajak Dennis dan Rei ke satu pondok yang kosong.


Pondok itu terletak di samping papan selfie yang dekat dengan jurang. Pondoknya memang curam dan terlihat berbahaya karena letaknya dekat dengan jurang. Tapi tenang saja, karena pondok yang satu itu sudah dipastikan akan aman dan... sangat sepi.


"Apa tidak apa-apa kita ada di sini?" tanya Rei agak ragu dengan tempat yang akan ditempatinya.


"Tidak apa-apa. Selagi tidak ada banyak orang yang menempati pondok ini, maka akan aman, kok!" Cahya duduk di dalam pondok itu. Lalu tersenyum sinis pada Denni dan Rei. "Kan kalau mau cerita seram... kita harus ke tempat yang sepi, ya, kan?"


Dennis tersenyum kecil dan seketika tubuhnya jadi merinding saat Cahya bilang kalau ia akan bercerita tentang cerita yang seram. Dennis tidak ingin mendengarnya, tapi ia merasa penasaran saja.


Dennis dan Rei masuk ke dalam pondok, dan duduk di dekat Cahya. Saat mereka sudah berkumpul, Cahya akan memulai ceritanya.


"Kalian. Dengarkan ini baik-baik, ya? Apa tadi kalian melihat bayangan hitam yang mirip seperti manusia itu?" tanya Cahya dengan berbisik.


Dennis dan Rei hanya mengangguk. Sebenarnya mereka berdua sudah merasa ketakutan sedari tadi.


"Itu bukan orang seperti yang kalian duga," Cahya melanjutkan.


"Eh?"


"Sosok itu adalah... hantu penunggu Villa yang katanya pernah mati di tengah lapangan itu. Mati karena dibunuh oleh warga di dekat daerah ini."


"Loh? Kenapa?" Dennis bertanya. "Kenapa dia harus dibunuh?"


"Karena... orang itu adalah manusia pemakan manusia. Alias kanibal!"


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2