Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 26–Memulai Pencarian


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


Mizuki duduk di samping Akihiro, lalu kembali mengetik ponselnya. Ia ingin mengirim pesan pada seseorang. Pesan pertama, ia kirim untuk Rei.


[ Jika kau masih hidup, tolong balas pesan ini. ]


Lalu pesan yang kedua, Mizuki berikan untuk Rashino. Karena Rashino dan Nashira itu adalah teman satu-satunya yang dapat diandalkan. Mizuki memberikan pesan yang sama seperti yang ia kirimkan pada Rei. [ Jika kau masih hidup, tolong balas pesan ini. ]


TING!


Mizuki langsung mengirim ke dua orang tersebut. Setelah Mizuki selesai dengan ponselnya, Akihiro bertanya, "Kenapa... kau mengirim pesan seperti itu?"


"Agar mereka berdua ingin cepat membalasnya saja. Aku tidak sabar ingin menunggu." Jawab Mizuki.


"Lalu... sekarang apa yang ingin kau lakukan?"


"Aku akan pergi untuk mencari Rei dan yang lainnya."


"Eh? Kau... sungguh?" Akihiro terkejut mendengarnya. "Ah, aku tidak salah dengar, nih?"


"Aku serius."


"Lalu bagaimana kau bisa menemukan mereka? Apa kau tahu mereka itu ada di mana?" tanya Akihiro lagi.


"Aku tahu. Mereka pergi ke hutan."


"Lo–loh? Emang iya?"


Mizuki mengangguk. Lalu sebelum Akihiro bertanya lagi, nada dering ponsel Mizuki berbunyi selama 1 detik. Ada orang yang membalas pesannya. Dengan cepat, Mizuki pun langsung membuka ponselnya. Ternyata Rashino yang membalasnya.


[ Aku masih hidup. Makanya aku balas_- Kau ada perlu apa? ]


[ Alihkan perhatian Bu Mia. Aku dengan Akihiro ingin pergi ke hutan, tempat Dennis dan Rei berada. ] Balas Mizuki.


TING! TING! TING!


[ Eh? Mau ngapain? ]


[ Untuk apa? ]


[ Apa kau yakin mereka ada di sana? ]


[ Mizuki kau gila ]


[ Jangan bertindak ceroboh ]


[ Kalau mereka tidak ada di sana bagaimana? ]


[ Nanti ada hantu hitam itu, loh! ]


Rashino menyepam. Mizuki tidak membalasnya sampai Rashino berhenti mengirim pesan. Tapi setelah pesan terakhir tadi, Rashino baru berhenti dan Mizuki kembali mengetik.


[ Jangan khawatir. Aku tahu sesuatu. ]


TING!

__ADS_1


[ Oh, oke. Sekarang aku harus apa? ]


[ Alihkan perhatian Bu Mia. Jangan sampai dia melihat kami pergi ke jalan kecil ke hutan itu. ]


TING!


[ Lalu bagaimana dengan anak lainnya? ]


[ Usahakan mereka jangan sampai melihat kami juga. ]


[ Aku dengan Akihiro akan membawa Dennis dan Rei pulang. Serta bersama dengan Adel juga. ]


TING!


[ Baiklah! Aku mengerti. ]


[ Terimakasih Rashino. ]


TING!


[ Tidak masalah. ]


"Baiklah," Mizuki menutup ponselnya, lalu berdiri kembali. Ia menoleh ke belakang, menatap Akihiro dan mengangguk. "Sekarang ayo kita pergi!"


Akihiro tersenyum senang. Ia mengangguk. Sekarang giliran Mizuki dan Akihiro yang akan pergi untuk mencari ketiga teman mereka yang hilang. Sementara si kembar akan mengurus yang lainnya.


****


"Bu Mia! Bu Mia!" Rashino berteriak sambil melambai tinggi. Bu Mia melirik ke arahnya lalu menyahut Rashino. "Bu," Rashino berjalan ke arah papan selfie. "Apakah nanti kita bisa berfoto di sini?"


Bu Mia dan semuanya menoleh ke arah papan yang ditunjuk Rashino. Sementara di arah sebaliknya, ada Mizuki dan Akihiro yang sedang berlari ke arah Jalan kecil menuju hutan. Selagi Bu Mia tidak melihat, kesempatan bagus untuk Mizuki dan Akihiro pergi ke hutan tanpa diketahui oleh siapapun.


Tapi... saat Mizuki dan Akihiro berlari, Yuni melirik. Ia sempat melihat mereka berdua. Yuni tidak ingin mengikuti, tapi ia tetap berdiam diri lalu bergumam, "Begitu, ya?"


"Anu... tadi Mizuki dan Akihiro kan pergi mencari Rei dengan Dennis. Kira-kira saat ini mereka ke mana, ya?" tanya Bu Mia.


Nashira menjawab, "Oh! Mereka pergi ke warung yang ada di turunan bawah sana itu, Bu! Kata Mizuki, Rei ada di sana sedang nongkrong."


"Oh begitu, kah? Kalau begitu...."


"Ah, lebih baik, kita cepat mulai permainannya saja, Bu! Kalau menunggu nanti malah jadi lama." Ujar Rashino menyela Bu Mia.


"Ah, baiklah kalau begitu. Tapi sekarang, kita masuk dulu ke Villa, yuk!"


"Iya, Bu!"


Semuanya menurut. Bu Mia dan anak muridnya pergi memasuki Villa. Rashino menghembuskan nafas lega, lalu setelah itu Nashira berjalan dengan tongkatnya mendekati Rashino lalu berbisik, "Hei! Sebenarnya ada apa, sih? Tadi Mizuki mengirim pesan padaku. Kata-katanya agak aneh."


"Akan aku ceritakan nanti. Tapi untuk sekarang... aku ingin menyusul Mizuki dan Akihiro. Kau tetap di sini! Karena kau kan tidak bisa berlari, jadi diam saja, ya?"


Setelah berkata seperti itu, Rashino langsung berlari ke arah jalan kecil. Ia ingin mengikuti Mizuki dan Akihiro juga sebagai bantuan tambahan, jika kedua temannya itu dalam bahaya.


Nashira hanya terdiam. Ia sedikit bingung dengan perkataan Rashino. Tak lama setelah Rashino pergi, Yuni datang menghampiri Nashira dan berkata, "Sekarang kau harus sembunyikan masalah ini pada Bu Mia dan anak lainnya."


"Eh? Sebenarnya ada masalah apa, sih?"


"Ketiga anak yang disebut Bu Mia tadi sebenarnya menghilang di dalam hutan. Makanya sekarang, Mizuki dan Akihiro ingin pergi untuk mencari mereka." Jelas Yuni.


"Eh? Itu akan sangat berbahaya! Bagaimana kalau kita susul mereka saja! Ayo Yuni!"


"Jangan. Akan sangat berbahaya jika kita susul mereka. Jika semuanya tahu banyak anak yang telah hilang di sini, maka mereka akan segera pergi dari tempat ini tanpa mempedulikan keadaan dan keberadaan kita nanti. Bisa-bisa kita akan berada di sini terus dan tidak akan pernah kembali ke sekolah." Jelas Yuni lagi.

__ADS_1


"Lalu... sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Nashira bingung.


"Kita harus menjadi pengganti bagi anak-anak yang menghilang itu!"


****


"Mizuki, bagaimana kau bisa tahu kalau Rei dan Dennis pergi ke tempat ini?" tanya Akihiro saat ia dengan Mizuki sudah sampai di depan pintu masuk hutan.


Mizuki belum menjawab. Ia berjalan mendekati satu pohon, lalu menunjukan sebuah pita merah yang terikat di pohon itu pada Akihiro. "Aku tahu karena ini. Dugaanku benar. Pita ini pasti dipasang oleh Dennis atau Rei sebagai tanda agar tidak tersesat."


"Oh! Kau pintar juga gak seperti biasanya!" Akihiro menepuk tangan senang, lalu berjalan mendekati Mizuki.


"Memangnya aku seperti apa kalau biasanya?!" Mizuki membentak.


"Hehe... tidak apa-apa." Akihiro tertawa, lalu ia meninggalkan Mizuki dengan berlari masuk ke dalam hutan. "Sekarang ayo kita cari mereka!"


"Akihiro! Ikut petunjuk pita yang terpasang, ya?"


"Tenang saja! Aku tahu, kok!"


****


"Ngh...," Mata Dennis mengernyit. Ia menggerakkan jari tangannya, lalu secara perlahan ia membuka matanya. Pandangannya masih buram dan berbayang. Sampai akhirnya pandangan buram itu pun menghilang. Kembali melihat dengan jelas.


Langit-langit suatu ruangan yang terbuat dari papan kayu, dengan gantungan lampu kuning tepat di atas kepalanya. Dennis merasa kepalanya sedikit sakit karena selama tidur, kepalanya tidak diberikan bantal. Dan sepertinya saat ini, ia sedang berbaring di atas papan kayu yang entah di mana.


Tapi saat Dennis mencoba untuk bergerak, ia tidak bisa. Benda lain telah menahan seluruh tubuhnya agar tidak bisa digerakkan. Saat Dennis melirik ke arah tangannya, ia terkejut karena ada banyak tali yang telah melilit tangan dan tubuhnya. Ikatan itu juga tersambung dengan papan yang saat ini sedang ia tempati, sehingga dirinya tidak akan bisa bergerak ke mana-mana.


Tapi saat Dennis melirik ke sekelilingnya, ia akhirnya tahu tempatnya saat ini. Ternyata ia masih ada di dalam gubuk yang penuh dengan darah dan potongan daging manusia. Dan tempat yang ia tiduri saat ini adalah meja panjang yang sebelumnya pernah ia lihat untuk membunuh manusia di dalam gubuk. Dennis sedikit takut dengan tempatnya yang penuh dengan bangkai sejenisnya di mana-mana.


Tubuhnya tidak bisa digerakkan. Tapi ia beruntung kakinya tidak terikat juga. Saat ini, apa yang harus ia lakukan untuk bisa bebas dari tempat yang ia anggap meja eksekusi itu. Mumpung lagi tidak ada orang di dalam gubuk selain dirinya, Dennis harus membuat dirinya terbebas dari ikatannya dulu. Setelah itu, ia harus kabur dari gubuk dan kembali ke Villa untuk memberitahu tentang apa yang ia lihat dan alami.


Tidak ada rasa sakit yang ia rasakan. Tubuhnya juga tidak ada yang terluka. Hanya beberapa bercak darah saja yang menempel di bajunya. Tapi jelas itu bukan darah milik Dennis.


"Apakah orang tadi belum bisa membunuhku? Atau dia memang tidak ingin membunuhku? Apa jangan-jangan... dia akan membiarkan aku mati dengan sendirinya karena kelaparan dan kehabisan oksigen di sini?" pikir Dennis dalam hati sambil mencoba untuk menggerakkan tubuhnya dengan paksa.


Tempatnya memang agak sempit dan tidak ada jendela di dalam gubuk itu. Jadi sangat sulit untuk angin dan udara dari luar masuk. Rasanya sesak juga. Ditambah dengan bau yang tidak enak dalam gubuk tersebut. Dennis sampai ingin muntah. Tapi ia tidak bisa dan terus menahannya. Bernafas juga agak sulit saat beberapa tali yang mengikat tubuhnya itu menekan perutnya. Jadi terpaksa, secara perlahan Dennis mencoba untuk bernafas dengan dadanya.


Sambil mencoba untuk membebaskan dirinya dengan terus bergerak, Dennis memikirkan sesuatu dalam hatinya. "Sial, sebenarnya orang tadi itu si Hantu Hitam atau bukan? Saat kuingat kembali, wajahnya ditutupi kain hitam dan ia juga memakai pakaian serba hitam. Apa jangan-jangan hantu yang sebelumnya kulihat dengan Rei itu adalah... si pembunuh pemilik gubuk ini? Dia bukan hantu, kan?"


"Kalau hantu, dia tidak mungkin bisa bicara. Apalagi memegang senapan untuk melumpuhkan aku seperti tadi. Ah, aku sudah tertangkap di sini juga karena kesalahan aku sendiri yang ceroboh."


"Dan Kak Rei... Eh! Tunggu! Di mana Kak Rei?"


"Oh iya. Dia kan... terjatuh ke dalam jurang yang ada dibalik pintu itu. Ikh! Setelah bebas dari sini, aku akan memberitahu Bu Mia untuk meminta bantuan anak lain, lalu bersama-sama aku akan mencari Kak Rei dengan ... ah! Iya! Adel juga terjatuh ke dalam sana!"


"Tidak. Pembunuh itu." Dennis menggeram. "Kak Rei, semoga kau selamat di bawah sana. Tolong jaga adikku juga. Semoga kalian bisa bertahan hidup. Aku akan segera menemukan–"


"Ah, elah... mentang-mentang kakak tertua, selalu saja menyuruhku yang tidak-tidak."


"Eh? Ada yang datang." Dennis bergumam setelah ia mendengar suara seseorang dari luar gubuk. Lalu tak lama, pintu gubuk pun terbuka. Cahaya luar masuk ke dalam. Dennis menyipitkan matanya karena silau. Lalu akhirnya, orang yang datang itu dapat terlihat jelas. Dia adalah....


"Itu kan... Kakaknya Cahya!"


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2