
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
"CA–CAHYAAAA!!" Dennis kembali menurunkan tangannya lalu mengepal keduanya dengan kuat. Ia menggeram dan bergumam kesal. "Kurang ajar, kau!"
Dennis menatap tajam pada Bapak Tertua yang berdiri membelakangi dirinya itu. Ia mengelap darah yang ada di bibirnya, lalu menggunakan kedua tangan untuk mengangkat tubuhnya. Setelah itu, dilanjut dengan kedua kakinya yang ikut membantu tubuhnya berdiri.
Selagi Bapak Tertua tidak melihatnya, Dennis akan menggunakan kesempatan itu untuk menyelamatkan Cahya.
Ia berlari tanpa terdengar suara langkah kaki, lalu saat dirinya sudah dekat dengan Bapak Tertua, Dennis mendorong orang besar itu ke samping sampai dia terjatuh.
Dennis sengaja melakukannya karena dia tidak bisa memukul Bapak Tertua. Maka dari itu, ia mendorongnya saja.
Setelah terjatuh, Dennis menggunakan kesempatan itu untuk membantu Cahya berdiri kembali. Ia sedikit terkejut melihat darah dari luka Cahya yang terus-menerus keluar.
Dennis tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang dengan luka itu. Tapi untuk saat ini, ia harus menjauhkan Cahya dari ayahnya yang gila itu.
Dennis mengangkat dan menggendong tubuh Cahya dengan kedua tangannya di depan. Setelah itu, Dennis kembali melangkahkan kakinya dengan cepat untuk berlari menjauh dari Bapak Tertua sebelum orang itu kembali bangkit lagi.
"Berhenti kau! Jangan lari!!"
Dennis mendengar suara Bapak Tertua yang berteriak padanya. Untuk mengecek keadaan sekitarnya, Dennis memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.
Betapa terkejutnya dia setelah melihat Bapak Tertua yang sudah kembali berdiri. Wajahnya terlihat menyeramkan, ditambah dengan golok yang ia genggam di tangan kanannya.
Tak lama setelah berdiri, Bapak Tertua itu juga ikut berlari untuk mengejar Dennis dan Cahya.
Sekarang ini, di dalam hutan yang gelap, Dennis harus menggunakan matanya dengan baik dan hati-hati untuk melihat jalan di depannya. Dia juga harus mencari tempat persembunyian untuk Cahya dan juga dirinya.
Sambil berlari, Dennis juga memikirkan sesuatu untuk mencegah Bapak Tertua itu mengejarnya lagi.
****
"Apa sekarang sudah berkumpul?" tanya Rei dengan nada tegas pada orang-orang yang berbaris di hadapannya itu.
Rei sengaja meminta semua orang yang tersisah di Villa untuk berkumpul bersama di depan kolam renang karena sebelumnya, Dennis yang meminta Rei untuk melakukan itu.
Pesan terakhir yang Dennis kirim mengatakan kalau semuanya harus segera bersiap-siap untuk pergi ke mobil bus yang terparkir di bawah bukit. Dennis juga menyuruh beberapa anak lainnya untuk menghubungi tim penyelamat dari luar sana.
"Ah, aku akan menjemput Mizuki di kamarnya, Rei!" ujar Akihiro setelah ia meminta para teman wanitanya ikut berkumpul juga. Setelah itu, ia berlari masuk ke dalam Villa untuk pergi ke kamar Mizuki di dalam sana.
Setelah Akihiro pergi, Rei bergumam di dalam hati sambil melirik ke arah jalan kecil menuju ke lapangan berumput dan hutan yang dapat ia lihat dari tempatnya berdiri. "Apa Dennis baik-baik saja saat ini? Kok perasaanku tidak tenang, ya?"
Rei menggeleng cepat. Ia sangat mencemaskan Dennis. Rei akan pergi ke hutan untuk menemui temannya itu. Karena pesan terakhir, Dennis berkata, [ ... Aku dan Cahya akan memulai rencana kami di dalam hutan. Aku akan kembali secepatnya jangan khawatir, ya? ^^ ]
__ADS_1
Dennis bilang "Jangan khawatir". Tapi sekarang ini, kalau Dennis tidak cepat kembali malah membuat Rei semakin khawatir dengan keadaannya.
Sekarang juga, Rei akan pergi ke hutan untuk mencari Dennis. Tapi sebelum ia pergi, Rei ingin mengajak dua orang untuk menemaninya. Karena tidak mungkin dia bisa pergi sendirian.
Hanya orang-orang yang ia percayai saja dan memiliki kekuatan untuk ikut pergi bersama dengannya mencari Dennis. Orang yang Rei panggil itu adalah Ethan dan Adit. Tapi... jika Ethan pergi, pastinya selalu ada Zainal di sampingnya.
Sekarang ini juga, saat Zainal tidak ikut dipanggil untuk pergi bersama Ethan, perasaannya jadi tidak enak. Ia ingin membantu juga jika ada masalah.
Tapi saat Zainal meminta izin untuk ikut bersama Ethan, Rei tidak memperbolehkannya karena alasan, Zainal harus tetap di sini untuk membimbing teman-temannya ke bus dan lagi Zainal tidak akan memiliki kekuatan lebih untuk menghadapi bahaya yang akan muncul nanti. Intinya Rei tidak mengizinkannya saja. Dia ingin Zainal tetap tinggal bersama dengan si kembar, Adel dan Yuni.
"Ku serahkan pada kalian. Mohon bantuannya juga, Zain!" ujar Rei dengan nada tegas sebelum ia pergi berlari meninggalkan kelompoknya. Ethan dan Adit ada di belakang Rei untuk mengikutinya.
Sebelum Rei menjauh, Adel sempat berteriak padanya, "Kak Rei! Tolong bawa Kak Dennis kembali dengan selamat, ya? Aku mohon!"
"Tenang saja! Aku tidak akan kembali sebelum bertemu dengan Dennis." Rei hanya menoleh ke belakang untuk menjawab, lalu ia kembali berlari dengan Ethan dan Adit.
"Dennis, bertahanlah! Jika kau dalam bahaya, maka aku akan datang untuk membawakan bantuan." Batin Rei dengan penuh harapan. Ia berharap Dennis baik-baik saja tanpa dirinya saat ini.
****
Sementara itu di dalam hutan, Dennis menghentikan langkahnya dibalik pohon besar. Ia sudah tidak mendengar suara langkah kaki dari Bapak Tertua. Ia pikir mungkin saat ini dirinya akan aman untuk sementara. Bersembunyi dibalik pohon dengan wajah penuh luka dan kedua tangannya menggendong seorang gadis yang terluka.
"Cahya, bertahanlah." Ujar Dennis dengan nada cemas pada Cahya. Dennis bisa merasa tubuhnya Cahya itu gemetar. Entah karena gadis itu kedinginan atau dia sedang menahan sakit saat ini.
"De–Dennis... kenapa... kenapa kau mau menolongku disaat... dirimu sedang terluka seperti ini?" tanya Cahya dengan nada bicara yang lemah. Secara perlahan ia mengangkat tangannya, lalu menyentuh pipi Dennis dengan lembut dan perlahan agar Dennis tidak merasa sakit saat Cahya menyentuh luka lebam di wajahnya itu.
Setelah Cahya menyentuh wajahnya, Dennis hanya mendesis sedikit. Ia merasa sakit, tapi ia berusaha untuk menahannya. Tenaganya juga hampir habis. Tapi ia tidak akan duduk sekarang ini sampai dia tahu kalau Bapak Tertua itu telah kehilangan jejaknya.
Cahya hanya tersenyum, lalu membalas perkataan Dennis dengan suara yang lembut. "Bodoh. Aku memang sudah terluka, hehe...."
"Ah, iya. Itu semua gara-gara aku. Aku harap kau bisa menahannya sebentar lagi. Aku akan mencari sesuatu untuk menutup lukamu itu. Mungkin dengan daun besar bisa untuk menghentikan pendarahannya."
"Tidak usah sampai sepanik itu, Dennis. Kau kan juga terluka. Malah lebih parah dari aku. Tapi kenapa kau tidak memikirkan dirimu sendiri, sih?"
"Seperti yang aku bilang tadi, Cahya." Dennis menggeleng pelan. "Aku lebih peduli dengan gadis terluka sepertimu ini daripada keadaanku sendiri!"
Cahya terdiam. Dennis menatap mata abu-abu milik Cahya yang terlihat indah saat cahaya bulan memantul di matanya itu. Tapi tak lama kemudian, secara perlahan mata indah tersebut mulai menutup. Dennis terkejut.
Tangan Cahya yang masih menyentuh wajahnya tiba-tiba saja terjatuh. Mata Cahya menutup sepenuhnya dan badannya tidak bergerak lagi. Dennis hanya melebarkan matanya sambil terus menggoncangkan tubuh Cahya. Dia tidak berani teriak memanggil namanya karena takut si Bapak Tertua akan menemukannya.
"Aku harus mencari tempat untuk menyembuhkan Cahya dengan pertolongan pertama." Gumam Dennis pelan. Ia ingin melangkahkan kakinya perlahan untuk pergi dari balik pohon besar itu.
Menurut Dennis, bersembunyi dibalik pohon tersebut tidak mungkin bisa melindungi dirinya dan Cahya. Dennis ingin pergi untuk mencari tempat lain yang lebih luas dari sekedar batang pohon.
Tapi baru saja satu langkah pergi, tiba-tiba saja Dennis mendengar suara benda yang menancap. Lalu ada beberapa helai rambut yang jatuh melewati wajahnya.
Dengan cepat, Dennis mendongak dan terkejut. Ia langsung menjauh dari pohon besar itu. Apa yang ia lihat saat ini benar-benar telah membuatnya ketakutan.
Karena tanpa ia sadari, mendadak mata pisau golok itu menancap dan menembus batang pohon yang tipis. Gesekan sedikit saja telah memotong beberapa helai rambut Dennis tadi. Yang tadi itu nyaris saja.
__ADS_1
Dennis mundur ke belakang. Ia akan berlari kembali sambil membawa Cahya yang sudah tak sadarkan diri sejak tadi.
Setelah Dennis berlari menjauh dari pohon, wajah dan tubuh Bapak Tertua itu muncul dari balik pohon. Kepalanya mengintip dengan wajah dan ekspresi marah yang menyeramkan. Ia mencabut goloknya, lalu kembali berlari mengejar Dennis yang baru saja pergi.
Dennis berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang mulai kelelahan. Tapi tak lama setelah ia berhenti, tiba-tiba saja suara petir muncul. Suaranya sangat keras. Membuat Dennis kaget dan ketakutan.
Lalu tak lama kemudian, hujan deras turun ke bumi. Seketika, tubuh Dennis langsung basah kuyup karena terguyur oleh air hujan yang lebat dan dingin. Tubuhnya mulai menggigil. Dia tidak tahan dengan udara dingin seperti saat ini. Apalagi setelah air hujan tersebut mengenai luka-lukanya, membuat Dennis kembali merasakan sakit perih yang menyiksa.
Ia tidak akan bisa bertahan lama.
Selagi masih sempat sebelum Bapak Tertua itu muncul di dekatnya, Dennis akan mencari tempat berteduh. Ia tahu kalau Cahya juga masih merasa sakit dengan luka tusuk di perutnya itu.
Tapi saat Dennis melangkah maju, tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu yang licin. Ia terpeleset dan jatuh ke daratan rendah yang ada di sampingnya.
Dennis membiarkan tubuhnya berguling dan kotor. Sementara ia terus memeluk Cahya agar tidak ikut membentur tanah yang basah.
Setelah sampai di bawah, Dennis kembali bangun. Ia membersihkan bajunya dari dedaunan yang menempel. Lalu kembali menggendong Cahya dengan merangkulnya.
Sepertinya Dennis mendapat sebuah keberuntungan. Ia terlihat senang saat melihat ada gua kecil yang terbentuk dari batang pohon besar yang sudah lapuk dan membentuk lubang besar. Dennis akan menggunakan tempat itu untuk bersembunyi dan berteduh.
Walau di dalamnya kotor, tapi setidaknya Dennis dan Cahya bisa berlindung untuk sementara.
Ia menyandarkan tubuh Cahya di batang pohon, lalu menengok ke luar lubang untuk melihat keadaan. Ia tidak melihat tanda-tanda dari Bapak Tertua yang datang. "Sepertinya dia agak lambat dalam berlari. Lagipula tangan kirinya sudah tidak ada. Ada kemungkinan besar kalau dia tidak bisa menggunakan senjatanya dengan baik kalau hanya dengan satu tangan." Pikir Dennis dalam hati.
Ia ingin menyentuh dan memainkan rambutnya seperti biasa. Tapi sekarang ini, rambutnya telah basah dan layu. "Ah, ini sebabnya aku tidak suka hujan-hujanan. Rambutku jadi lurus dan tidak acak seperti sebelumnya." Gerutu Dennis. Ternyata ia benci kalau rambutnya basah tanpa ia sengaja.
"Umm... Dennis?"
"Eh?" Dennis tersentak. Dengan cepat ia menoleh ke belakang. "Cahya! Kau baik-baik saja?"
Cahya hanya mengangguk. Tubuhnya terlihat lemas dan wajahnya pucat. Dennis jadi semakin khawatir dengan keadaannya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa disaat seperti ini.
"Dennis... Dennis..." Cahya memanggilnya sekali lagi dengan lembut. Dennis pun mendekat pada Cahya. Ia pikir, gadis itu kedinginan. Kalau begitu, Dennis akan membuatnya hangat dengan duduk di sampingnya dan memeluknya.
Tapi tak lama kemudian, tiba-tiba saja Cahya menoleh ke arahnya. Pandangan mereka saat ini dekat sekali. Lalu mendadak, tanpa tanda, tiba-tiba saja Cahya mendekatkan wajahnya pada Dennis dan langsung....
Cup~
Cahya mencium pipi Dennis. Membuat Dennis terkejut bukan main. Tak lama setelah itu, Cahya menjauhkan wajahnya dari Dennis, dan berkata jujur dengan ekspresi wajah malu.
"Dennis. Aku... menyukaimu!"
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8