Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 5– Rashino dan Nashira


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


****


Di saat yang sama, Nashira dan Rashino sekarang ini sedang berada di tempat kejadian. Mereka kembali ke rumah orang yang meninggal diduga karena dibunuh itu.


Mereka mendekati mobil truk si korban. Si kembar memperhatikan semua bagian-bagian mobil. Termasuk bercak darah yang ada di bumper mobil itu juga mereka periksa kembali.


“Nashira, menurutmu apakah ini memang benar pembunuhan? Kok aku jadi tidak yakin, ya?” tanya Rashino pada adik beda 5 menitnya itu.


“Hmm... kenapa kau berpikir seperti itu, No?” tanya Nashira balik.


“Yaaa... karena... coba kau lihat ini. Jika si pelaku membunuh korbannya di dalam kamar si korban, lalu bercak darah yang di mobil itu darahnya siapa? Dan satu lagi, katanya si korban ditemukan dalam keadaan sudah bergantung diri di langit-langit kamar mandi. Tanpa luka sedikit pun! Ingat itu. Tanpa luka!” jelas Rashino. Ia terdiam sejenak untuk mengatur nafasnya.


“Nah, jika si korban tidak terluka, lalu dari mana bercak darah ini berasal?” lanjut Rashino.


Nashira tersentak mendengar penjelasan dari Rashino. Ia akan berpikir dulu sebentar. “Hmm... benar juga kata Rashino. Apa mungkin benar kalau si korban itu bunuh diri?” pikir Nashira dalam hati.


“Hmm... mungkin saja kau benar, No! Ah, sia-sia kita menyelidiki kasus ini.” Keluh Nashira.


Rashino menepuk-nepuk pundak Nashira. “Tunggu dulu, Nashira. Jangan sedih. Masih ada satu masalah lagi. Sekarang ada pertanyaan baru.”


“Apa itu?”


“Nih! Kenapa si korban ingin mengakhiri hidupnya seperti itu? Bagaimana kalau kita selidiki sekarang? Ayo!”


Nashira menggeleng pelan. “Tidak ah! Aku tidak tertarik. Kalau soal itu kan urusan keluarganya. Kita jangan ikut campur. Kecuali kalau kasus ini ada hubungannya sama orang luar yang telah menjadi pelaku. Tapi ini kan tidak ada. Mungkin saja karena masalah keluarga, makanya orang itu bunuh diri.” Terang Nashira.


Rashino menghembuskan nafas pelan, lalu Rashino mengajak Nashira untuk pergi dari tempat itu. Mereka ingin pulang ke rumahnya.


Rumah mereka berada tak jauh dari rumahnya Dennis ternyata. Mereka juga masih merupakan warga desa. Rumah si kembar juga dekat dengan beberapa rumah teman mereka lainnya.


Karena semua murid yang bersekolah di Beautiful Death High School itu sebagian besar tinggal di desa ini.


****


Saat sampai di rumah, Nashira dan Rashino langsung pergi ke kamar mereka tanpa menemui Ibu mereka dahulu. Ya. Mereka berdua juga tidak mengucapkan salam kalau mereka sudah kembali ke rumah.


“Eh, anak-anak Ibu sudah pulang?”


Rashino dan Nashira terkejut. Saat mereka menaiki tangga menuju ke kamarnya, tiba-tiba saja Ibunya memanggil mereka dari arah dapur. Dengan malas, si kembar kembali menuruni tangga dan pergi menghampiri Ibu mereka yang ada di dapur.

__ADS_1


“Iya. Baru saja kami kembali.” Rashino menjawab.


"Eh, bagaimana Ibu bisa tahu kalau kami sudah pulang?" tanya Nashira heran.


"Karena... ibu mendengar suara langkah kaki kalian menaiki tangga kayu." Jawab Ibunya sambil tersenyum.


Ibunya si Kembar terlihat sedang masak di dapur. Beliau akan mempersiapkan makan malam nanti. “Bagaimana hari kalian sekarang?” tanya Ibunya sambil mengaduk-aduk sayur yang ia masak.


“Eh? Emm... seperti biasa. Kami bermain dengan teman-teman kami.” Jawab Nashira.


Ibunya si kembar bernama Bu Shifa. Kita panggil beliau dengan namanya saja, ya?


Bu Shifa mengangguk. Ia menyesap kuah sayur dari sendok untuk mencicipi masakannya. “Hmm... sekarang kalian mau ngapain?”


“Kami... mau ke kamar. Ingin tidur saja.” Jawab mereka berdua kompak.


Bu Shifa mengangguk sambil tersenyum. “Oke baiklah. Tapi jangan sampai kalian melewatkan makan malam, ya? Sebentar lagi sore. Ibu sudah buatkan makan malam nanti, nih!”


"Baiklah, Bu!"


****


Di kamar si kembar, saat ini mereka sedang menonton televisi sambil menjalankan hobi mereka masing-masing. Rashino dengan ponselnya. Karena ia gemar bermain game di ponselnya itu. Sedangkan Nashira sedang membaca bukunya sambil tiduran di atas kasurnya.


Rashino memainkan ponselnya di depan televisi. Sambil bermain game, ia juga gemar menonton berita di televisi. Tapi saat ini, siaran di Tv sedang mempertontonkan acara stand up komedi.


[ Berita terkini. Tepat di depan halte Bus nomor 3 yang ada di jalan High School ini telah terjadi kasus pembunuhan. Diduga, pelaku telah mengubur seorang pria di tanah kosong dalam hutan untuk menghilangkan jejak. ] Jelas si wartawan berita yang ada di TV saat sedang siaran langsung di tempat kejadian.


"Eh?! Jalan itu kan..." Rashino sedikit terkejut. Lalu ia memandang adiknya yang ada di belakang.


"Itu jalan yang ada di dekat sekolah, kak!" timpal Nashira.


[ Di sini, saya sudah mendapat laporan dari kepolisian yang menyelidiki kasus pembunuhan ini. Mereka bilang, katanya kalau sebelumnya si korban sudah tertabrak mobil. Mungkin itu mobil si pelaku. Lalu si pelaku itu sengaja menyembunyikan mayat pria yang telah ia tabrak itu ke dalam hutan. ]


"Apa? Tidak mungkin!" SI kembar membentak ke arah Tv yang mereka tonton.


[ Dan seperti yang anda lihat sekarang, di sini kami menemukan adanya gesekan ban mobil di jalan ini. Tak jauh dari tempat kejadian. Terlihat jejak ban ini lumayan besar ukurannya, ya? Mungkin... ini mobil truk atau semacamnya.... ]


"Eh? Mobil truk?" gumam Rashino.


"Tunggu dulu! Apa jangan-jangan... darah yang kita lihat di mobil truk itu adalah...."


"Darah dari si korban tabrak lari itu?!" ucap si kembar bersamaan.


Lalu dengan cepat, mereka berdua langsung mematikan tv-nya dan langsung bergerak cepat keluar dari kamar mereka. Tidak cepat juga, karena Rashino juga harus membantu adiknya untuk menuruni tangga.


"Ayo cepat! Kita harus ada di tempat itu sekarang juga!" tegas Nashira.

__ADS_1


"Iya. Perlahan saja. Kau itu berat tahu!"


"Tapi aku masih bisa berjalan dengan kaki satu, kak!"


"Tetap saja aku harus membimbingmu supaya kau tidak jatuh saat turun di tangga."


Setelah si kembar berhasil menuruni tangga, mereka langsung saja kembali memakai sepatu, lalu membuka pintu dan keluar rumah tanpa meminta izin pada ibu mereka dulu.


Sebenarnya Bu Shifa sempat melihat anak mereka keluar rumah. Tadinya Bu Shifa akan bertanya, tapi sudah terlambat. Bu Shifa menggeleng sambil tersenyum. "Haduh... anak-anakku sudah tumbuh dewasa. Mereka ternyata tidak memerlukan bimbingan dariku lagi. Ah sudahlah... mungkin karena umur mereka yang sudah semakin dewasa, mereka jadi memiliki banyak urusan. Entah itu di sekolah atau di manapun."


Bu Shifa duduk di kursi depan meja, lalu beliau kembali bergumam, "Tapi... kalau mereka pergi begitu saja, aku jadi merasa kesepian. Andai saja ayah mereka masih hidup...."


Ternyata Bu Shifa jadi sedih karena mereka selalu ditinggal pergi oleh kedua anaknya. Karena 3 tahun yang lalu, suaminya telah meninggal dunia. Dan yang tersisah di rumah keluarga si Kembar hanya tinggal mereka bertiga.


Jadi... jika si kembar pergi sekolah dan menginap di sana, berarti Ibunya si kembar bakal selalu sendirian di rumah. Kasihan juga....


Tapi beliau juga merasa senang jika anaknya bisa bermain bersama dan bahagia selalu bersama dengan teman-teman barunya. Karena... Rashino dan Nashira itu adalah murid baru di Beautiful Death High School.


Hanya menetap satu tahun saja. Tapi kalau dibanding dengan kedatangan Dennis, sepertinya yang lebih baru itu adalah Dennis. Hanya beda satu tahun dan satu semester saja.


****


"Kak Rei, kau sudah siap?" tanya Dennis sambil memberikan koper kecil pada Rei.


"Iya." Rei mengangguk.


"Ayolah. Kami akan mengantarmu!" ujar Mizuki senang.


Rei tersenyum samar. Ia merasa senang karena di saat dirinya ingin pulang kembali ke pelukan orang tuanya, teman-temannya selalu ada di dekatnya kapanpun dan di manapun.


Mereka akan berangkat. Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang menelpon lewat ponsel Dennis.


Dennis pun membuka ponselnya dan melihat ke layar. Ternyata yang menelpon dirinya itu adalah si Rashino. Langsung saja Dennis akan mengangkatnya.


"Halo?"


[ Ya, Dennis! Apa semuanya ada di sana? ]


"I–iya. Memangnya ada apa?"


[ Ayo semuanya pergi ke jalan menuju ke sekolah. Karena kami telah menemukan misteri baru lagi! ]


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


__ADS_2