
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
"Kak Rei? Aku boleh kan menjawab soal ini?" tanya Dennis pada Rei yang ada di sampingnya.
Rei berpikir sejenak, lalu ia menggeleng pelan. "Sebaiknya jangan. Karena... aku punya firasat buruk tentang soal ini."
"Loh, kenapa, kak?"
"Karena... dalam keadaan seperti ini, tidak mungkin orang jahat itu memberikan soal anak TK seperti ini. Pasti ini adalah jebakan." Jelas Rei. Lalu ia mengarahkan tangannya ke depan Dennis, lalu tangannya itu mendorong tubuh Dennis dari depan secara perlahan. Ia ingin menjauhkan Dennis dari depan layar soal.
"Kita harus jauh-jauh. Jika kau salah jawab, maka rubah itu akan membunuhmu. Jadi... untuk sementara, kita lihat orang lain yang jawab terlebih dahulu." Ujar Rei memperingati Dennis dan kelompok yang lainnya.
Dennis mengangguk, lalu Adel, Yuni, Akihiro, Mizuki dan kedua si kembar mundur secara perlahan mengikuti langkah Rei. Akihiro juga tidak lupa membawa dua teman cewek barunya Danti dan Lany untuk ikut juga.
"Tenang semuanya! Aku yang akan menjawab pertanyaan ini. Kan mudah sekali, tahu!" Seorang anak laki-laki dari kelas sebelah tiba-tiba saja menerobos kerumunan untuk sampai di barisan paling depan. Ia ingin menjawab soal yang tertera di layar itu.
Setelah lelaki itu mendekat dan menghadap tepat di depan layar, tiba-tiba saja layar itu mengalirkan beberapa tombol angka di bawah soal. Sekarang, yang harus lelaki itu lakukan adalah menekan salah satu angka untuk dijadikan jawaban soal pertama itu.
Ia pikir, 1+1 pasti jawabannya sama dengan 2. Jadi lelaki itu pun menekan tombol angka 2. Seketika soal itu menghilang, dan sekarang saatnya menunggu hasilnya. Semuanya menganggap kalau jawabannya pasti benar. Tapi tiba-tiba saja....
TOOOTT!
Layar yang ada di depan lelaki itu pun berubah menjadi warna merah menyala. Dan di tengah-tengah layar muncul tanda silang dan muncul juga beberapa tulisan berisi dua kata di sana.
[ Anda Salah! ]
"A–apaaaa?!" Lelaki itu terkejut. Ia masih mengingat jawabannya. Jika salah, maka dirinya akan dibunuh oleh rubah itu. Sekarang, tubuhnya mulai bergetar dan tampang lelaki itu jadi terlihat seperti orang yang ketakutan.
"Wah~ Ada makanan baru."
Semuanya langsung mendongak. Karena tiba-tiba saja si rubah kecil itu berada tepat di atas si lelaki yang menjawab soal tadi. Rubah itu menempel di langit-langit ruangan berbatu itu.
Ia membuka mulutnya lebar-lebar, lalu dengan cepat, ia menjatuhkan tubuhnya ke bawah dan....
KRAUKS!
"KYAAAA!"
Semua orang dibuat terkejut oleh si rubah kecil yang tiba-tiba saja jatuh dan langsung melahap habis satu tubuh si lelaki yang ada di depan layar. Seketika tubuh si lelaki itu hancur dan darahnya langsung tersebar ke mana-mana.
Semuanya berteriak ketakutan dan mereka langsung pergi menjauhi layar dan juga rubah dengan mulut besar itu. Saat ini mereka semua sedang berdiri dan berkumpul di sudut ruangan. Perasaan tegang dan ketakutan seketika langsung merayap dan masuk ke dalam tubuh mereka semua yang melihat kejadian mengerikan itu. Lagi-lagi mereka kehilangan satu teman mereka.
"Ru–rubah itu... benar-benar sudah gila." Akihiro bergumam. Ia terus melihat adegan si rubah memakan korbannya dengan rakus, sementara yang lainnya terus menutup mata mereka sambil berteriak karena merasa takut dan tidak kuat melihat rubah itu.
"A–akihiro... jaga omonganmu. Jangan dibawa emosi terlebih dahulu. Karena... bisa saja rubah itu mendengarmu dan dia juga akan membunuhmu nanti." Mizuki yang ada di belakang Akihiro pun berbisik tepat di depan telinga Akihiro.
"Cih!" Akihiro berdecih. Jika bukan karena peringatan dari Mizuki, maka Akihiro akan membunuh dan mencoba untuk menyerang rubah yang ganas itu.
Setelah menghabiskan mangsanya, rubah kecil itu pun melompat cepat dan menempel di dinding bebatuan. Ia menatap tajam semua murid yang ada di pojokan. "Lezat sekali. Aku... menunggu daging kalian yang lainnya. Hi hi hi~"
__ADS_1
Rubah itu kembali menghilang dan entah sekarang dirinya berada di mana. Dia benar-benar monster yang mengerikan!
Setelah rubah itu pergi, semuanya langsung kembali membuka mata lalu menghembuskan nafas lega. Mereka tidak berani untuk menjawab soal itu dan waktunya ternyata tinggal 24 menit lagi! Waktunya semakin sempit dan mereka semua belum menyelesaikan soal matematika itu sama sekali!
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?!"
"Kenapa jawabannya salah?! Ini tidak adil!"
"Apa maksud dari soal itu?"
"Kenapa salah? Apa tidak ada jawabannya kah?"
Semuanya saling bertanya pada teman di sampingnya. Mereka semua benar-benar kebingungan dan lama kelamaan malah jadi panik karena waktunya semakin sedikit.
"Kan benar. Untung tadi aku cegah kamu, Dennis. Kalau tidak, kau bakal berakhir sama seperti anak itu." Ujar Rei sambil menjatuhkan tubuhnya ke posisi duduk. Ia merasa pegal di kakinya karena terlalu lama berdiri.
"Kak Rei... kira-kira jawabannya apa?" tanya Dennis.
"Apa jangan-jangan jawaban itu ada teka teki-nya?" tanya Adel. Semua anggota kelompoknya mendekati Rei. Sambil duduk sila di atas tanah, Rei berpikir.
"Soal itu... saat dijawab dengan jawaban yang benar, yaitu 2, kenapa tetap saja jawabannya masih salah." Gumam Rei. Semuanya mendengarkan.
"Apa mungkin saja ada sesuatu yang tersembunyi di dalam soal itu?" gumam Akihiro yang juga ikut memikirkan cara untuk menjawab soal matematika yang pertama itu.
"Sesuatu yang tersembunyi, ya?" Rei melanjutkan pikirannya. Ia melirik ke sekitarnya untuk mencari petunjuk. Lalu lirikannya terhenti saat ia melihat ada dua orang yang berdiri tak jauh dari Rei.
Rei melihat ada satu anak perempuan dan satu anak laki-laki yang sedang berdiri berdua sambil memainkan sesuatu yang mereka pegang. Saat diperhatikan lebih jelas lagi, ternyata si laki-laki itu memegang sebuah ponsel yang sedang ia mainkan. Sementara si perempuan itu terlihat sedang memberitahu sesuatu pada si lelaki itu.
Karena jaraknya tak jauh dari Rei, ia masih bisa mendengar pembicaraan kedua anak murid itu. Rei akan mencoba untuk mendengar dan fokus pada mereka berdua. Siapa tahu saja, Rei bisa mendapatkan sesuatu yang bisa memberikan petunjuk lain untuk soal matematika itu.
"Ah, berisik! Aku ingin memenangkan permainan ini. Sedikit lagi aku akan mendapatkan item baru dengan menebak teka-teki ini!" Lelaki itu juga membentak sambil terus fokus pada ponselnya.
Si perempuan pun terdiam. Lalu tak lama kemudian, si lelaki itu menunjukan layar ponselnya ke hadapan si perempuan dan bertanya, "Apa kau tahu jawaban ini?"
"Apaan ini?"
"Soal teka-teki di game yang sedang aku mainkan. Apa kau tahu jawabannya?"
"Soalnya apa?"
"Soalnya, 'coba hitung ada berapa boneka beruang ini?'. Di sini hanya ada 4 boneka beruang saja. Tapi... saat aku jawab 4, kenapa tidak bisa dan tetap saja salah?" Lelaki itu menggeleng pasrah karena soal di game nya yang sangat sulit dan tidak jelas baginya.
Perempuan itu merebut ponsel si laki-laki. Ia memperhatikan jelas soal yang ada di game itu. Lalu tak lama kemudian, ia pun tertawa karena telah mengetahui jawabannya. "Haha... ini mudah sekali, bodoh!"
"Eh? Kau tahu jawabannya?"
"Tentu saja! Lihat ini. Kau hanya harus menggeser satu beruang lainnya. Karena... ada beberapa beruang yang bersembunyi di belakang beruang lainnya."
Perempuan itu menggeser beruang yang dimaksud pada layar ponselnya, lalu setelah itu, ia kembali memperlihatkan layar ponsel itu pada teman sebelahnya. "Ini! Ternyata ada dua beruang lain yang bersembunyi. Sekarang coba hitunglah ada berapa beruang sekarang ini?"
"Ada 6." Lelaki itu kembali mengetik angka 6 di ponselnya. Lalu menekan enter dan... jreng!
Ternyata jawabannya benar!
"Wah keren! Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Lelaki itu senang karena ia telah berhasil memenangkan game yang ada di ponselnya itu.
__ADS_1
"Tentu saja. Karena aku pernah memainkan game itu. Semua soalnya sangat menjebak. Kelihatannya susah, tapi kalau sudah tau jawabannya ternyata malah jadi gampang." Jelas perempuan itu.
Setelah mendengar perbincangan dari kedua anak murid itu, Rei jadi terpikirkan sesuatu yang bagus. "Jawaban yang tersembunyi? Apa jangan-jangan... soal itu juga..." Rei melirikkan matanya ke arah layar yang masih tertulis soal pertama itu.
"Ah! Apakah benar begitu?" Rei kembali berdiri. Lalu secara perlahan, ia melangkah maju mendekati layar soal itu. "Untuk mengetahuinya, aku harus mencoba untuk menjawabnya juga!"
"Kak Rei! Kakak mau ke mana?!" Dennis berteriak. Seketika semua orang langsung menoleh ke arah Dennis. Lalu pandangan mereka beralih ke Rei yang sedang berjalan mendekati layar itu.
"I–itu Rei!"
"Dia akan menjawabnya?"
"Apa dia tahu jawabannya?"
"Pastinya dia tahu karena dia kan anak yang pintar nomor satu!"
Semua orang saling berbisik dan membicarakan tentang keberanian Rei yang akan mencoba untuk menjawab soal kematian itu. Jika Rei salah menjawab, maka dia bisa mati!
"Kak Rei! Jangan pergi ke sana. Kau bisa terbunuh!" Dennis berteriak lagi. Lalu Dennis berlari menghampiri Rei dan langsung menarik tangannya Rei. Ia benar-benar tidak mau melihat teman dekatnya itu akan terbunuh oleh si rubah kecil.
Baru saja membicarakan soal rubah itu, tiba-tiba saja sosok kecil berbulu itu pun muncul kembali. Ia berada di depan pintu keluar warna biru. Di sana, ia menjilati bibirnya karena merasa lapar dan tak sabar untuk mendapatkan korban selanjutnya!
"Aku pasti bisa menjawabnya! Jangan halangi aku!" Rei membentak Dennis setelah ia menghempaskan tangannya dari genggaman Dennis yang berusaha untuk mencegahnya itu. Lalu setelah itu, Rei kembali menghadap ke arah layar soal itu.
Sebelum menjawab, ia menarik nafas dalam kalau menghembuskannya secara perlahan. Ia juga berharap kalau jawaban hasil dari pemikirannya tadi bisa benar!
"Soal lain yang tersembunyi. Aku yakin... pasti ada soal yang tersembunyi dibalik angka nomor satu ini." Rei menempelkan telunjuknya pada layar. Ia menekan angka 1 yang ada di soal. Lalu secara perlahan, Rei menggeser angka satu itu. Dan ternyata benar! Ada angka 1 lainnya yang muncul dibalik angka 1 sebelumnya.
Rei tersenyum. "Sudah kuduga." Ia bergumam. Lalu ia menempatkan angka 1 itu di samping angka 1 yang tersembunyi. Lalu setelah itu, Rei kembali menekan angka satu lainnya dan menggesernya. Ternyata tidak bisa. "Berarti, hanya ada satu angka saja yang tersembunyi. Itu berarti... jawabannya adalah...."
Secara perlahan, Rei menekan tombol angka nomor 3. Karena ia tahu kalau jawabannya itu adalah 3 dan bukannya 2.
PIK!
Rei telah menekan angka 2. Dan seketika soal di layar itu pun menghilang. Sekarang tinggal menunggu hasilnya saja. Semuanya sangat tegang saat menunggu hasilnya itu. Begitu juga dengan Rei.
Dan inilah hasilnya....
PATSH!
Semuanya terkejut. Karena tiba-tiba saja layar di hadapan Rei berubah menjadi warna merah dan tepat di tengah layar itu muncul tanda silang dan juga tulisan [ Anda Salah! ]
"Eh? A–aku salah?! Itu berarti..." Rei terlihat tegang dan ketakutan. Secara perlahan, ia melirik ke arah sosok rubah kecil yang ada di depan pintu biru. "Rubah itu akan...."
"Makanan baru... hi hi hi~"
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8
__ADS_1