Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 32– Tetap Tenang Disaat Dalam Bahaya


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Kau akan menjadi makan malam teman-temanmu, loh~"


Rashino tidak terlihat terkejut. Setelah mendengar itu, ia malah bergumam, "Oh gitu, ya? Sudah aku duga."


Yang ada, si Rina yang terkejut dengan gumaman Rashino. "E–eh?! Jadi apa kau tidak takut?!"


Rashino memutar matanya malas, lalu menghela nafas. Ia menjawab sambil memejamkan mata dan menunduk, "Untuk apa aku takut? Dari dulu aku memang berniat ingin mengakhiri hidupku dengan cara yang ekstrim."


"Loh? Kenapa kau tidak bunuh diri saja? Memangnya apa masalahmu?" tanya Rina pelan.


Rashino kembali membuka matanya, lalu melirik sinis ke arah Rina sambil tersenyum. "Aku sudah bosan hidup di dunia. Banyak polusi di mana-mana. Manusia sudah menjadi seperti binatang saja. Mereka nyaris kehilangan akal."


"Eh? Kamu ngomong apaan, sih?" Sepertinya Rina tidak mengerti dengan perkataan Rashino.


Rashino masih dengan ekspresi yang sama. Ia menyandarkan tubuhnya di kotak-kotak kayu yang ada di belakangnya. Berhenti memberontak untuk melepaskan diri, lalu menjawab dengan santai. "Apa kau tahu? Semakin tuanya Bumi, semakin banyak manusia berhati sampah di dunia ini. Mereka lebih suka bertindak tanpa berpikir, selalu mau menang sendiri, tidak manusiawi, berhati kejam seakan mereka tidak memiliki dosa."


"Eh, tunggu dulu! Apa kau menyindir keluargaku, ya?!" Rina sedikit mengerti. Ia pikir dengan perkataan "Manusia berhati sampah, dan manusia yang tidak manusiawi, berhati kejam" itu adalah ciri-ciri dari kebiasaan keluarganya yang suka membunuh manusia. Rina jadi agak kesal mendengarnya.


"Akhirnya kau menyadarinya juga." Dengan santai, Rashino tertawa. Berhenti sejenak dengan tertawaannya, lalu kembali bicara, "Tapi sebenarnya perkataan itu buat siapa saja. Introspeksi diri saja. Aku tidak berniat untuk membuat hati keluargamu terluka dan menghentikan kebiasaan kalian seperti ini, kok. Aku hanya ingin kalian sadar saja dengan perbuatan kalian hanya dengan mendengarkan perkataanku."


Rashino kembali menunduk, lalu mengeluarkan senyum lebarnya dan berkata, "Aku ingin tahu. Apa enaknya membunuh orang itu?"


"Eh? Jadi selama ini kau tidak pernah membunuh orang, ya?" tanya Rina sambil tertawa. Ia anggap aneh pertanyaan Rashino itu. Rina merasa lucu pada Rashino karena perkataannya yang tidak pernah membunuh orang. "Tidak mungkin kau tidak pernah membunuh siapapun, haha...."


"Sungguh. Aku memang belum pernah." Ujar Rashino dingin.


"Oh, benarkah?"


"Iya. Jadi sekarang... aku ingin lihat bagaimana caramu untuk membunuh orang."


"Jadi kau ingin melihatnya?" Rina kembali berdiri, lalu berjalan mendekati meja. Ia mengambil satu pisau yang terletak di atas meja itu, lalu berjalan kembali mendekati Rashino. Rina menjambak rambut Rashino, lalu mendekatkan mata pisau yang ia pegang di hadapan wajah Rashino. "Aku bisa saja menunjukannya padamu sekarang juga."


Rashino tidak terlihat ketakutan sama sekali saat ujung mata pisau itu sudah menyentuh keningnya. Ia malah tersenyum, lalu berkata, "Seharusnya jangan aku yang kau bunuh. Orang lain saja. Nanti kalau aku yang mati duluan, aku jadi tidak bisa melihat bagaimana diriku akan disiksa olehmu."

__ADS_1


"Jadi... aku harus bunuh siapa?" tanya Rina sambil menelengkan kepalanya. "Jangan bilang kalau aku harus membunuh diriku sendiri."


Rashino melirik ke sampingnya sambil tertawa, lalu kembali melirik Rina. "Haha... tidak mungkin aku memintamu untuk membunuh dirimu sendiri. Aduh, bodoh. Kan aku meminta kau bunuh orang lain bukan dirimu sendiri."


Rina terlihat malu setelah mendengar perkataan Rashino itu. Ia membuang muka sambil senyum-senyum sendiri dengan pipinya yang sedikit memerah. Setelah itu, Rina melepaskan rambut Rashino dan meletakan pisau yang ia pegang tadi di samping tubuhnya.


Rina kembali melirik ke Rashino lalu bertanya, "Ja–jadi kau meminta aku untuk membunuh orang lain, gitu?"


Rashino mengangguk cepat. "Iya! Aku ingin kau melakukannya. Aku hanya ingin lihat saja bagaimana caranya keluargamu membunuh orang banyak begitu." Jawab Rashino. Ia sedikit menunduk, lalu bergumam, "Aku juga ingin melihat ekspresi kalian saat sedang membunuh orang."


"Oh baiklah!" Rina mengangguk. Ia kembali berdiri dengan cepat. Tadinya ia ingin pergi, tapi....


"Ah, tapi... aku tidak memiliki korban hidup selain dirimu di sini. Bagaimana, dong?"


Rashino tidak menjawab. Ia hanya mengangkat kedua bahunya dan pura-pura saja tidak tahu. Rina berpikir sejenak. Lalu ia berjalan mendekati kulkas besar yang ada di dalam ruangan itu.


Setelah Rina membuka kulkasnya, Rashino dapat melihat isi dari kulkas itu. Semuanya penuh dengan daging, daging, dan daging yang mereka simpan di sana.


"Yah... tidak ada tubuh utuh yang tersimpan." Rina bergumam. Setelah itu ia menutup kembali kulkasnya, lalu berjalan melewati Rashino untuk pergi ke lemari penyimpanan. Setelah Rina membuka lemari itu, seketika ada tiga ekor lalat yang keluar dari dalamnya. Rashino tidak bisa melihat isi dari lemari itu karena terhalang oleh tubuh Rina.


Sementara Rina sibuk mencari sesuatu yang Rashino tidak ketahui, Rashino melirik ke sekitar ruangan tempat ia berada. Di pojokan terdapat dua buah kompor di atas meja. Di atas kompor itu ada panci besar yang biasanya digunakan untuk merebus air. Lalu saat Rashino melirik ke arah lain, ia melihat banyak lemari yang terbuat dari kayu yang tertempel di tembok.


Terdapat 4 jendela panjang di ruangan. Ada dua di depan pintu keluar, satu di dekat kompor, dan satu lagi di samping lemari yang tertempel di dinding. Setelah melihat keempat jendela itu, Rashino mengangguk pelan sambil tersenyum.


Tak lama setelah itu, tiba-tiba saja Rina berteriak senang. Mungkin karena ia sudah menemukan apa yang ia cari. "Nah! Ini dia! Haha...."


Rina mengambil sesuatu dari dalam lemari kayu, lalu ia berbalik badan dan memperlihatkan sesuatu yang ia temukan pada Rashino. Ternyata potongan tubuh manusia yang masih utuh. Hanya kepala dan kaki kirinya saja yang menghilang. Tadinya saat di dalam lemari, kedua tangan dan kaki kanan itu ditekuk dengan paksa agar muat dimasukan ke dalam lemari.


"Nah, ini saja kali, ya?" tanya Rina senang. Ia meletakan tubuh manusia itu di atas kursi agar Rashino bisa melihatnya.


Posisi Rashino saat ini sedang duduk di bawah sambil menyandarkan tubuhnya di kotak-kotak kayu yang entah isinya apa. Kedua tangannya terikat ke belakang dengan kakinya juga. Hanya itu saja. Seharusnya Rashino masih bisa untuk melepaskan diri sendiri. Tapi entah kenapa dia tidak ingin melakukannya, karena ia ingin melakukan sesuatu di dalam ruangan itu.


"Kau bisa lihat, kan?" tanya Rina lagi setelah ia menggerakkan kursi ke hadapan Rashino. Di atas kursi itu ada tubuh manusia yang akan jadi bahan percobaan dan contoh yang akan Rina beritahukan saat ia sedang membunuh orang.


"Sebenarnya ini... sarapan yang baru dibersihkan Ibu kemarin. Tapi tidak apa, lah!" Rina tertawa, lalu ia mengambil kembali pisau yang ia letakan di lantai. Setelah itu, Rina mengarahkan pisau itu ke tubuh manusia yang ada di sampingnya. Ia akan memberikan tutorial cara untuk membunuh orang. "Perhatikan, ya?" Rina tersenyum.


Rashino mengangguk untuk mengiyakan. Setelah itu, Rina menusuk bagian dada dengan pisau, lalu menariknya kembali. Tidak ada darah yang keluar karena semua darah dalam tubuh manusia itu telah dikeluarkan dan tidak ada yang memompa darahnya lagi. Tentu saja, kan jantungnya sudah tidak bekerja!


"Kau lihat? Cara pertama... eh! Sepertinya aku salah, deh, hehe..." Rina tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya.


Rashino meneleng bingung, lalu bertanya, "Apa yang salah?"

__ADS_1


"Emm... seharusnya kan aku menyiksa orang yang ingin kau bunuh dulu. Seharusnya jangan langsung tusuk jantungnya. Kan bisa langsung mati. Jika korban cepat mati, maka tidak akan seru." Jelas Rina. Lalu ia mengelus bagian tubuh yang baru saja ia tusuk tadi. Seolah ia sedang menutup kembali luka tusuk di tubuh tersebut. Setelah itu, Rina akan mengarahkan pisaunya di lengan kiri.


"Seperti ini. Dalam membunuh korban mu, seharusnya kau tidak membiarkan dia mati terlalu cepat. Kau harus membuat dia merasakan sakitnya yang berlebih dulu. Dari awal, kita mulai dengan sayatan kecil." Jelas Rina lagi. Ia menggores kulit lengan di tubuh itu dengan pisau, lalu menggoresnya lagi di bagian tubuh lainnya. Dari dadanya lagi, ke lengan lainnya dan kaki. Berkali-kali.


Setelah Rina berhenti, ia kembali menjelaskan, "Kan kalau korban sudah penuh luka seperti ini, bakal jadi sakit, kan? Nah, aku suka melihat ekspresi wajah korbanku yang selalu saja ketakutan. Apalagi jika mereka sudah merasakan sakitnya, haha...."


Rashino memasang wajah melas, lalu menguap pelan. Ia berujar pelan, "Hei, sepertinya ini terlalu membosankan."


"Eh? Kenapa memangnya? Apakah ada yang kau tidak mengerti?" tanya Rina sedikit terkejut.


"Bukan tidak mengerti. Lebih tepatnya lagi, aku melihat ada yang kurang! Kau tidak memperlihatkan ekspresi wajah dari korban yang kau siksa saat ini. Ditambah dengan... darahnya juga tidak ada. Bunuh-bunuhan tanpa adanya darah yang mengalir itu tidak seru, loh!"


"Eh, iya benar juga. Hmm... Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak memiliki korban hidup saat ini." Ujar Rina sambil berpikir. Ia ingin sekali menunjukan keahliannya dalam membunuh orang untuk menunjukannya pada Rashino kalau membunuh makhluk hidup itu adalah hal yang menyenangkan.


"Kenapa kau tidak menangkap korban lainnya saja?" tanya Rashino. Ia ternyata memberikan usul yang disetujui oleh Rina.


"Ya! Kau benar juga. Aku akan menangkap manusia lain, ya?" Rina mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu setelah itu ia meletakan kembali pisau yang ia pegang tadi ke atas meja. "Kau tunggu di sini. Jangan mencoba untuk kabur! Awas saja kau!"


Rashino tertawa kecil lalu menjawab, "Hah, tenang saja. Kan aku tidak ingin melewatkan adegan ini. Aku sangat ingin melihat keahlian mu dalam menyiksa korban mu. Pasti seru."


Rina tersipu lagi mendengarnya. Ia jadi merasa lebih semangat dan senang. Rina melompat sekali, lalu berkata, "Kau jangan pergi, ya? Tunggu di sini saja! Aku akan segera kembali. Aku tidak akan membuatmu menunggu lama!"


Rina berlari keluar ruangan. Tidak lupa juga ia menutup pintunya lagi.


Setelah Rina pergi, Rashino tersenyum senang. Dengan tangannya yang masih bisa digerakkan, Rashino merogoh kantung celana belakangnya untuk mengambil sesuatu. Setelah Rashino mengeluarkan kembali tangannya, ternyata sebuah pecahan kaca yang Rashino ambil.


"Rencana dan sandiwaraku berhasil."


"Hehe... untuk apa aku menunggu di sini? Aku akan segera meninggalkan tempat ini, kok~ Jangan mencariku, ya?"


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8


*Adegan tadi dan berikutnya bukan untuk dijadikan contoh, ya? Pembaca yang baik~^^

__ADS_1


__ADS_2