
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
"Pada akhirnya... kau akan datang menemuiku, kan? Kau tidak bisa jauh dariku, Mizuki."
"Cih, apaan sih! Ini gara-gara kamu, tau. Aku disuruh keluar dari toko itu karena terlalu berisik, huuh! Menyebalkan!" gerutu Mizuki. Ia melipat tangannya ke depan sambil menatap sinis ke arah Akihiro.
"Oh... haha... bagus, deh. Itu juga gara-gara kamu kenapa berisik di sana."
"Kamu yang selalu membuatku jadi kesal."
"Oh~ Sebenarnya aku sengaja agar kau bisa melepaskan aku dari toko membosankan itu. Haha...."
"Jangan tertawa!" Mizuki membentak, lalu ia menghela nafas panjang, lalu berbalik badan. "Aku akan melihat-lihat toko buku ini saja."
"Eh? Bagaimana kalau kita baca komik bersama?" tanya Akihiro sambil memberikan satu komik yang baru saja ia baca itu. "Bukankah kau suka komik juga?"
"Hah, aku sudah keseringan baca komik jadi bosan lama-lama. Kau tahu? Di Jepang aku punya satu rak besar yang penuh dengan buku komik."
Akihiro terbelalak kaget setelah ia mendengar perkataan Mizuki. Melihat komik-komik yang dijual di toko buku itu saja sudah membuat dirinya ingin membaca semua komik itu, apalagi jika memiliki setengah besar dari beberapa komik yang dijual di toko buku. Kalau dibayangkan, jumlah komik milik Dennis saja kalah dengan yang dipunyai Mizuki itu.
"Hei, Mizuki! Apa semua komik di rumahmu itu selalu kau baca?" tanya Akihiro.
"Aku jarang membacanya. Karena semua komik itu milik Onii-chan."
"Oh begitu. Apa kakakmu juga membacanya?"
"Dia juga jarang. Bahkan semua komik itu sudah berdebu dan tidak terawat lagi."
"Eh? Kenapa kau tidak memberikannya padaku saja? Kan sayang kalau dibiarkan."
"Memangnya kau bisa membaca tulisan Jepang?"
Akihiro tersentak lalu terdiam. Mizuki benar juga. Komik yang ada di rumahnya itu asli dari Jepang dan belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Pastinya semua komik milik Mizuki itu berbahasa Jepang. Jadi percuma saja jika Akihiro membacanya jika dia tidak mengerti artinya.
"Ah, sudahlah kalau begitu." Akihiro menunduk, lalu membuka buku komik yang ia pegang. Setelah Akihiro diam, Mizuki melangkahkan kakinya pergi menjauh dari Akihiro. Tapi tidak terlalu jauh. Mizuki cuma pergi ke tempat lain yang letaknya tak jauh dari tempat khusus buku komik.
Di sana, Mizuki melihat berbagai macam buku novel. Lalu ia melihat ada satu buku non-fiksi yang nyasar di tempat buku novel itu. Mizuki mengambil buku yang mungkin berisi 400 lembar lebih. "Buku... kamus bahasa Indonesia?" Mizuki membaca judul buku tersebut.
Akihiro melirik ke arah Mizuki. Ia menaruh kembali komik yang ia pegang ke tempatnya, lalu setelah itu dirinya beranjak menghampiri Mizuki. "Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Akihiro.
"Emm... ini, aku menemukan kamus bahasa Indonesia." Jawab Mizuki.
"Di tempat khusus novel?"
"Iya. Emm... aku ingin membelinya."
"Eh, bukankah kau sudah mahir berbahasa Indonesia-nya?" tanya Akihiro heran.
__ADS_1
"Bukan aku. Buku ini ingin aku kasih ke Onii-chan biar dia bisa belajar saat dia ingin berkunjung ke negara ini." Jelas Mizuki. Akihiro mengangguk paham. "Oh, oke. Kalau begitu beli saja."
"Emm... berapa harganya, ya?"
"Kau tidak tahu letaknya? Kalau harga buku itu biasanya tertempel di belakang cover, di pojokan bukunya." Akihiro membantu Mizuki membalik buku kamus tebal itu. Lalu menunjuk ke arah harganya. "Eh, harganya Rp120.000,00 ternyata."
"Kok mahal banget, sih?"
"Eh? Jangan tanya aku. Buku ini memang sudah ditentukan harganya dari penerbit. Sekarang, apa kau tetap ingin membelinya?" tanya Akihiro. "Buku ini mahal karena memang lembarannya yang banyak dan kualitasnya juga ori."
"Emm... aku mau beli, tapi uangku–"
"Biar aku yang belikan, Mizuki!"
Akihiro dan Mizuki terkejut saat mereka melihat Dennis yang tiba-tiba muncul dibalik rak. Ia tidak sendirian. Ada Rei, Adel, Yuni dan si kembar juga. Semuanya sudah berkumpul kembali.
"De–Dennis?! Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?" tanya Akihiro.
"Sosok kalian terlihat dibalik jendela besar toko ini. Dan dari awal juga kami sudah menduga kalau kalian akan pergi ke tempat ini. Ternyata benar, kan?" jelas Rei dan kembali bertanya. Akihiro dan Mizuki mengangguk, lalu tertawa kecil.
Dennis menyentuh buku kamus yang dipegang Mizuki, lalu berkata, "Aku akan membayar buku ini."
"Eh? Ah! Tidak usah." Mizuki menggeleng cepat. Ia tidak percaya, dengan santainya Dennis berkata ia ingin membayar buku yang mahal itu.
"Ah, tidak apa-apa."
"Memangnya kau bawa uang berapa, Dennis?" tanya Akihiro.
"Kebetulan, ibuku memberi aku uang 2 juta." Jawab Dennis santai. Semuanya terkejut mendengarnya. Dennis tertawa, lalu ia mengeluarkan dompetnya yang terlihat nyaris tebal itu. Saat dibuka, ternyata benar saja. Isinya uang dengan warna merah muda kemerahan semua. Uang itu bernilai Rp100.000 yang banyak ditaruh di dalam dompet Dennis sampai kepenuhan.
"De–Dennis! Tungguuu! Aaaa-....!"
****
Tap... tap... tap....
"Dennis... aku merasa tidak enak. Kau baik sekali mau beliin aku buku kamus ini. Dan yang satu lagi, kau juga membelikan aku novel romantis ini." Ujar Mizuki ragu sambil memeluk dua buku tebal yang dibungkus dengan plastik di dadanya.
"Ah, tidak apa-apa, Mizuki! Kan aku sudah bilang, kalian mau beli apa saja, nanti aku belikan, kok, hehe..." Jawab Dennis dengan perasaan senang. Mizuki mengangguk sambil tersenyum.
Tak lama Akihiro tertawa, "Hahah... makasih banyak, loh, Dennis! Aku sudah dibeliin dua seri komik yang seru ini!"
"Hah?!" Mizuki terkejut. Lalu dengan cepat ia langsung menengok ke arah Akihiro yang sedang membaca komik sambil berjalan. "Kau membeli dua seri buku komik?! Satu seri berapa buku itu?"
"Ahaha... cuma 12 buku saja, kok. Dan seri yang satunya lagi ini cuma 24 buku. Jadi... semua total buku yang kubeli adalah... 36 buku kalau tidak salah."
"Kau bilang 'cuma'?! Dasar tidak tahu diri! Kau membeli itu semua dengan uang orang lain, tahu!!" Mizuki membentak. Dennis menghentikan amarah Mizuki itu dengan membalas perkataannya dengan lembut. "Mizuki... tenang saja. Kan aku yang mau membelikan Dian komik itu. Jadi santai saja, haha...."
Akihiro memunculkan sosoknya di belakang pundak Dennis sambil tertawa. "Kan? Kalau Dennis sudah mengizinkannya, jadi santai saja! Haha...."
"Cih! Dian... kau benar-benar tidak tahu malu, ya, dari tadi!" Mizuki menggeram. Lalu setelah itu, Dennis dan teman-temannya kembali berjalan lagi. Karena semuanya sudah puas dengan apa yang ingin mereka lihat, jadi karena kelelahan, mereka merasa lapar. Jadi kali ini mereka akan pergi ke....
****
__ADS_1
JRENG!
"RE–RESTORAN BINTANG TIGA?!"
"Eh, tidak! Lebih tepatnya, ini restoran bintang empat, loh!"
"Tidak mungkin! Pasti bintang lima!"
"Sudah! Ini mah bintang sepuluh, woy!"
Akihiro, Mizuki, Rashino dan Nashira berteriak karena mereka terkejut setelah Dennis mengajak mereka ke tempat yang terlihat besar hanya untuk membeli makanan saja. Mendengar keributan keempat temannya itu, Dennis jadi malu. Ia tertawa kecil dan berkata, "Te–teman-teman... kalian terlalu berlebihan. Ini hanya restoran biasa. Makanannya saja cuma daging ayam dan sapi. Lalu masa ada nasi uduknya, haha...."
"Oh, benarkah?"
"Ah, kalian terlalu berisik." Ujar Rei dingin. Ia menunduk sambil memejamkan mata, lalu kembali bergumam. "Bagaimana kalau kita langsung masuk saja dan makan? Daripada kita... berdiri di depan pintu terus. Menghalangi orang lain yang mau masuk, tahu!"
"Ah, oke! Kalau begitu, ayo kita langsung masuk saja, semuanya!" Dennis membuka pintu. Ia yang masuk duluan, lalu diikuti dengan teman-temannya yang lain juga.
Saat di dalam, tempat makan itu terlihat modern. Tapi menunya berisi makanan tradisional semua. Tidak terdapat banyak orang yang datang di sana, dan sepertinya makanannya terlihat enak-enak. Karena saat masuk ke dalam tempat itu, seketika semuanya mencium aroma yang sangat menggiurkan bagi yang sedang kelaparan. Apalagi dengan Akihiro.
Mereka menemukan tempat yang masih kosong yang kebetulan juga terdapat 6 kursi dalam satu meja besar. Mereka duduk di sana, lalu tak lama kemudian ada seorang pelayan yang datang menghampiri untuk menerima pesanan.
"Selamat siang. Anda ingin pesan apa?" tanya pelayan itu dengan suara yang lirih. Kemudian ia meletakan satu buku dengan cover yang lebar tapi sangat tipis. Buku itu berisi semua menu yang ada di tempat makan tersebut. Ia juga memegang sebuah buku note kecil yang biasa digunakannya untuk mencatat pesanan.
Dennis dan teman-temannya akan mencari makanan yang enak untuk mereka pesan, sementara si pelayan tetap berdiri dan menunggu dengan sabar sambil mengerutkan pulpen yang ia pegang ke buku note-nya.
Tak lama kemudian, akhirnya Dennis dan teman-temannya selesai memilih makanan yang mereka inginkan. Lalu setelah itu, Dennis membacakan semua makanan dan minuman yang akan ia pesan. Sementara sang pelayan mencatat pesanan itu.
Setelah selesai mencatat, si pelayan kembali mengambil buku menu, lalu pergi meninggalkan meja Dennis untuk pergi mengirim pesanan yang sudah ia catat ke kasir. Agar kasir tersebut bisa memberikan kertas pesanan itu ke kokinya langsung.
Lalu tak lama setelah pelayan itu pergi, tiba-tiba saja Rei merasa ada yang bergetar di saku celananya. Saat dicek, ternyata ponselnya yang berdering. Hanya beberapa detik saja, lalu setelah itu berhenti bergetar.
Rei membuka ponselnya. Di layar, ia melihat ada notifikasi pesan yang masuk. Ada 2 pesan. Saat dilihat, ternyata pesan itu dikirim dari Bu Mia–wali kelasnya sendiri.
Rei membuka pesan itu dan membacanya. [ Rei. Besok pergi ke sekolah, ya? Ada yang ingin ibu bicarakan dengan semua anak yang selamat di kelas 3-C. ]
[ Jangan lupa juga bawa teman-temanmu. Hubungi mereka juga jika kau memiliki nomor telepon mereka. Terima kasih. Ibu tunggu besok. ]
"Ada apa, kak Rei?" tanya Dennis.
"Ini pesan dari Bu Mia. Besok, kita semua disuruh pergi ke sekolah."
"Eh? Mau ngapain? Ini kan belum hari Senin."
"Ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Bu Mia."
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8