Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 2– Telepon dari Ibu


__ADS_3

"Ah, kalian akhirnya datang juga. Aku sudah menunggu kalian dari tadi, loh!" ujar Diana sambil tersenyum pada semuanya.


"Untuk apa kau menunggu kami?" tanya Rei.


"Aku belum punya teman. Jadi aku dekati kalian saja, deh! Hehe..."


Rei, Adel dan Yuni kembali melangkah menuruni tangga. Tapi tidak dengan Dennis. Karena lagi-lagi dengan adanya kehadiran Diana, telah membuat Dennis jadi merinding.


Rei berbalik badan. Mata tajamnya itu melirik ke Dennis. "Hei, kenapa kau diam saja di sana? Tadi terburu-buru sekali." Tegur Rei pada Dennis.


Dennis tersentak. Lalu, ia pun berlari kecil menuruni tangga. Langkahnya kembali terhenti saat berdiri di samping Rei.


"Eh, kau kenapa si dari tadi?" tanya Rei dengan berbisik.


"Aku bilang, aku baik-baik saja, kak." Jawab Dennis pelan.


Semuanya terdiam. Lalu mereka semua pergi ke Kantin bersama hanya untuk makan malam dan mengincar makanan enak yang disediakan malam ini.


****


Sesampainya di sana, kantin sudah terlihat ramai oleh murid yang lain. Tapi tenang saja. Kantin di sekolah itu telah diperbesar sejak seminggu yang lalu. Jadi, pastinya semua murid di sekolah itu akan kebagian tempat duduk.


Sekarang juga, Dennis dan yang lainnya akan mencari tempat duduk untuk mereka. Mereka memasuki kantin sekolahnya. Diikuti dengan Diana yang sudah mengikuti Dennis dan yang lainnya dari tadi.


"Hei Dennis, Rei! kalian! Ayo ke sini!"


Dennis dan Rei terkejut saat mendengar ada seseorang yang memanggil nama mereka. Sepertinya Rei mengenal suara orang itu. Matanya pun melirik ke segala arah untuk mencari orang itu.


"Oh di sana dia rupanya." Gumam Rei. Lalu, ia pun berjalan menghampiri orang yang telah memanggilnya itu. Dennis, Adel dan Yuni mengikuti Rei. Diana juga ikut saja.


"Eh, Dian?"


Ya, orang yang telah memanggil mereka itu ternyata si Dian Syahputra. Atau bisa kita panggil dengan nama Akihiro Daisuke.


"Ish, Rei! Sudah kubilang, panggil aku Akihiro saja."


"Ah, kau ini. Akihiro... aku susah menggunakan nama itu. Sudahlah... Dian saja."


"Eh, tapi Dian itu kan namaku, hehe..." Diana menimpali. Ia lagi-lagi memasang senyum manisnya sambil memiringkan sedikit kepalanya.


"Eh, oh iya."


"Whoaa... Rei? Gadis ini ikut denganmu sekarang? Kau beruntung!" ujar Akihiro senang setelah ia melihat gadis cantik yang berada di samping Rei itu.


"Oh, dia? Aku tidak mengajaknya. Dia sendiri yang ingin ikut. Ya sudahlah." Rei menjawab. Lalu, ia pun duduk di tempat duduk yang kosong.


"Waah... dia cantik Rei. Haduh... ternyata ada juga gadis lain seperti dia." Ujar Akihiro lagi.

__ADS_1


"Hei, hei... jangan seperti itu. Nanti, Mizuki marah padamu gimana?"


"Haha... tenang saja. Dia sedang tidak ada di sini, kok!"


TLINING... TLINING....


Tiba-tiba Dennis merasakan getaran dan suara dari dalam saku celananya. Lalu, ia merogoh ke dalam sakunya dan mengambil ponselnya yang bergetar itu. "Eh, tunggu sebentar. Aku dapat telpon. Ah, aku akan segera kembali."


Dennis memilih tempat yang sepi. Ia keluar dari kantin, lalu pergi ke taman yang tak jauh dari kantin itu. Di taman itu, ia duduk di bangku taman yang letaknya berada di bawah pohon besar yang berdaun lebat.


TUT!


Tanpa melihat ke nama orang yang menelpon itu, Dennis langsung mengangkatnya. "Halo?"


[ Waah... Dennis sayang, ini Ibu, nak! Kamu udah lama banget ga telepon Ibu. Apa kamu gak kangen sama Ibu? ]


Ternyata yang menelpon Dennis itu adalah Ibunya sendiri. Dennis terkejut sekaligus senang karena ia bisa mendengar suara Ibunya lagi.


"Ah, ini beneran Ibu? Huwaa... aku kangen Ibu."


[ Kalau kangen kenapa kamu gak menghubungi Ibu duluan? ]


"Maaf, Bu! Aku tidak ada waktu. Hehe...."


[ Hmm... anak Ibu sudah mulai sibuk, ya sekarang? ]


"Ah, tidak juga. Ibu bisa menelpon ku kapan saja, kok,"


"Eh, yang ke dua?"


[ Iya kan yang pertamanya kamu. ]


"Hah, Ibu ini benar-benar, ya?" Dennis bergumam kesal. Hanya sedikit kesal. Lalu, ia pun beranjak dari bangku taman, melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam kantin. "Oh ya, Ibu mau aku panggilkan Adel, kan? Dia ada di dekatku, kok!"


[ Oh, benarkah? Mana anak itu? ]


"Sebentar."


Dennis kembali ke kumpulan teman-temannya. Lalu, ia menepuk pundak Adel. Adel menengok ke sampingnya. Menatap kakaknya. "Ada apa, kak?"


Dennis memberikan ponselnya pada Adel. "Ini ada telepon dari Ibu."


"Oh, benarkah?" Dengan cepat, Adel langsung mengambil ponsel yang diberikan kakaknya itu. Lalu, ia menempelkan ponsel itu ke telinga kanannya. "Ibu! Ini beneran Ibu?"


[ Wah... ini beneran kamu, Adel? Kok suaramu beda, ya? Haha... ]


"Ah, Ibu! Aku tetap seperti dulu, kok. Hah, aku kangen sama Ibu!"

__ADS_1


[ Ibu juga kangen kamu, nak. Kapan kamu bisa balik lagi ke kota? ]


"Mungkin setelah ujian Nasional tahun ini. Kan akan libur. Jika sempat, aku dan Adel akan kembali ke Kota." Jawab Dennis. Dennis duduk di samping adiknya. Mereka berdua berbagi ponsel itu untuk berkomunikasi dengan orang tua mereka.


"Ibu, Ibu! Ayah di mana? Adel juga mau ketemu Ayah." Adel kembali berbicara di pada Ibunya lewat telepon.


[ Oh, Ayah masih bekerja. Pulangnya nanti malam. ]


"Yaah... berarti aku tidak bisa mendengar suara Ayah, dong!"


[ Iya. Maaf, ya? Mungkin nanti... ]


"Oh. Baiklah! Adel akan menunggu."


[ Iya, sayang. Sudah dulu, ya? Ibu ingin–]


BZZZTT....


Suara Ibunya Dennis tiba-tiba putus-putus dan nyaris hilang. Saat Dennis melihat ke layar ponselnya, ternyata simbol sinyalnya hanya ada satu tiang. Eh, kadang nambah satu tiang dan menghilang lagi.


Karena merasa sinyal di tempatnya buruk, Dennis pun kembali beranjak dari tempatnya. Kembali meninggalkan teman-temannya dan pergi keluar kantin untuk mendapatkan tempat yang lebih baik untuk berteleponan. Adel mengikuti kakaknya.


[ Ah, Den? Apa di tempatmu jaringannya tidak bagus? ]


Suara Ibunya kembali terdengar walaupun. sedikit resak dan masih terputus-putus. Dennis menjawab, "Iya. Maaf, Bu! Tapi aku sudah menemukan tempat yang baik sekarang. Oh ya, tadi Ibu mau bilang apa padaku?"


[ Ibu berpesan padamu, jadilah anak yang baik, ya nak? Jangan nakal di sana. Begitu juga dengan Adel. Belajar yang rajin agar dapat sekolah yang tinggi di ke depan hari. Itu saja pesan Ibu sebelum Ibu pergi. Sudah dulu, ya, nak? ]


Entah kenapa, tiba-tiba saja Dennis merasa sedih saat Ibunya berkata "sudah dulu, ya, nak?". Karena, sebenarnya Dennis masih ingin berteleponan lebih lama lagi dengan Ibunya. Tapi ternyata, ia tahu kalau kedua orang tuanya itu selalu sibuk. Entah itu karena pekerjaan atau karena urusan rumah tangga.


****


"Baiklah, sebisa mungkin Ibu akan meneleponmu lain waktu." Ujar Ibunya lagi.


[ Iya, Bu. Dennis akan usahakan untuk selalu menjawab panggilan Ibu dan– Dennis, itu Ibumu, ya? Eh?! Diana kau–]


TUT!


Tiba-tiba saja Dennis mematikan telponnya. Ibu Dennis terkejut. Bukan terkejut karena tiba-tiba anaknya mematikan telpon tanpa salam penutup. Tapi, terkejut karena ia mendengar suara seorang perempuan yang pernah beliau dengar sebelumnya.


"Su–suara itu... tidak mungkin, kan? Suara gadis itu... bukankah dia sudah mati?" Ibunya Dennis bergumam ketakutan.


Ada apa dengan Ibunya Dennis saat ini? Kenapa dia juga merasa takut saat mendengar suara perempuan yang merupakan suara Diana yang tak sengaja ia dengar lewat telepon tadi?


*


*

__ADS_1


*


To be Continued-


__ADS_2