
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
"Itu dia. Inti dari tumbuhan ini pasti adalah kelemahannya!" Rashino tersenyum samar. Ia sudah menemukan kelemahan dari tumbuhan merambat itu. "Ini pasti akan berhasil!"
Rashino menyorotkan cahaya dari ponselnya ke arah gumpalan besar berwarna hijau itu. Tak lama setelah Rashino memberikan cahaya pada gumpalan itu, tiba-tiba saja bagian batang dari tanaman itu menjadi layu dan kekuatannya melemah.
Rashino mengeluarkan senyumnya lagi. Ia akan mempertahankan posisinya. Rashino terus menyorotkan sinar dari ponselnya ke arah gumpalan hijau sampai tanaman itu bisa melepaskan Rei.
Tanaman itu melepaskan leher Rei. Dan... satu tangan Rei juga terlepas. Ternyata berhasil. Rashino senang sekali walau memakan waktu banyak, ia akan tetap melakukannya demi bisa menyelamatkan temannya itu.
"Bagus... Rashi... no..." Suara Rei terdengar lagi. Suaranya terdengar semakin melemah. Rashino harus cepat sebelum si tanaman itu menyerap energi Rei sampai habis. Tapi... ini lama sekali. Apa yang harus Rashino lakukan agar dia bisa menyelamatkan temannya dengan cepat?
"Bunuh... tusuk saja dia... Rashino." Ujar Rei pelan padanya. Rashino paham. Ia akan mencari sesuatu. Sebuah benda yang kuat dan tajam untuk bisa menembus kulit dari gumpalan hijau yang merupakan tubuh inti dari si tanaman itu.
Rashino akhirnya menemukan sesuatu yang berguna. Sebuah batu besar dengan ujungnya yang runcing. Ia bisa menggunakan itu untuk menusuk bagian inti si tanaman. "Sekarang juga..." Rashino berbalik badan. Menatap tajam ke arah bagian inti dari tubuh si tanaman itu. "MAAATIII KAAUU!!"
Rashino mengangkat batu besar itu sekuat yang ia bisa. Lalu dengan cepat, Rashino langsung menghantam batu itu tepat di atas gumpalan hijau. Batu itu berhasil menusuk bagian gumpalan itu sampai mengeluarkan cairan putih kehijauan yang merupakan getah dari tanaman itu.
Setelah semua getah yang ada di dalam gumpalan itu keluar, seketika gumpalan itu pun menjadi kempis dan bagian batang tanamannya menjadi layu dan keriput serta rapuh.
Tangan Rei yang satunya lagi bisa bebas. Dan setelah tanaman itu mati, tubuh Rei langsung terjatuh dan tidak bergerak. Tapi sebelum menyentuh tanah, Rashino sempat menahan tubuh Rei.
"Rashino... terima kasih." Ujar Rei lirih padanya. Rashino mengangguk dan tersenyum. Ia akan mendudukan posisi tubuh Rei ke pinggir dan membiarkan tubuh Rei itu bersandar di tembok.
"Nah, sekarang kau istirahat dulu. Aku... akan membantu teman kita yang lainnya!" Rashino akan pergi. Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung saja melangkahkan kakinya untuk pergi. Tapi saat baru dua kali melangkah, tiba-tiba saja Rashino merasa ada yang telah menarik baju belakangnya. Sontak Rashino langsung menengok. Ternyata Rei lah yang telah menarik baju belakangnya itu untuk mengentikan langkah Rashino sejenak.
"Ada apa, Rei?" tanya Rashino setelah ia menengok ke belakang.
Rei mendongak. Ia menjawab, "Aku akan pergi bersamamu. Karena aku juga ingin membantu teman-temanku juga!"
"Dalam keadaanmu yang seperti ini?!" Rashino terkejut mendengarnya. Ia menggeleng cepat dan menyilangkan kedua telunjuknya ke depan. "Tidak! Tidak boleh. Kau harus berdiam diri di sini terlebih dahulu sampai kekuatanmu pulih kembali!"
Secara perlahan, Rei mencoba untuk menggerakkan kakinya dan berdiri. Walau agak sulit, tapi pada akhirnya ia bisa berdiri kembali. "Tapi... aku sudah memiliki cukup energi untuk membantu. Aku... sudah berjanji akan melindungi semuanya. Termasuk Dennis."
****
"Jangan meremehkan aku, monster jelek! Aku akan membunuhmu!" bentak Dennis sambil terus menusuk-nusuk bagian tubuh si monster Flytrap itu. Dan sesekali juga, Dennis menyorotkan cahaya flash dari ponselnya untuk melemahkan serangan lawan. Ternyata, tidak hanya akarnya saja. Tapi... tubuh monster itu pun juga tidak kuat menahan silaunya cahaya yang datang secara langsung padanya.
"Ini akan berhasil. Tapi... aku harus membebaskan Adel dan Kak Dian dulu. Mereka masih tertahan oleh akar dari si monster ini." Pikir Dennis dalam hati.
__ADS_1
Ia kembali bergerak. Kali ini, sasarannya adalah kedua akar yang telah mengikat teman dan saudaranya itu. Ia akan menghancurkan akarnya dan menyelamatkan adiknya. Tapi untuk saat ini, Dennis masih belum bisa mengaburkan akar-akar itu karena terlaku tebal dan keras.
"Aku seharusnya tidak menyerang dengan tongkat ini saja. Tapi... aku memerlukan senjata lain yang lebih kuat dan tajam dari tongkat ini. Tapi apa?" pikir Dennis lagi. Ia terus menyorotkan cahayanya pada si monster tanaman agar tidak bisa menyerang dirinya.
"Dennis! Gunakan batu saja!" Dennis mendengar suara teriakan Akihiro dari atasnya. Dengan cepat, ia langsung mendongak. "A–apa?!"
"Cari batu yang tajam!! Kau tahu, kan? Bagian akar dari suatu tumbuhan itu tidak kuat. Pasti mudah dipotong!" teriak Akihiro lagi.
"Ba–baik! Aku akan mencari sesuatu. Tapi... apakah adikku baik-baik saja di atas sana?!" tanya Dennis.
"Tenang saja. Dia tidak apa-apa, kok!"
Dennis menghembuskan nafas lega. Ia senang teman-temannya masih bisa bertahan. Dan sekarang, tanpa membuang waktu lagi, Dennis akan mencari benda yang dikatakan Akihiro itu.
"Di mana? Di mana ada batu? Di sini kebanyakan hanya tanah saja!" Dennis menggerutu kesal. Ia tidak bisa menemukan sesuatu yang berguna. Tidak ada batu di sekitarnya.
TUT! TUT!
Dennis terkejut. Ia melirik ke layar ponselnya. Ternyata... ponselnya telah mengeluarkan sebuah bunyi yang sangat Dennis khawatirkan. Apalagi kalau bukan bunyi tanda baterai ponselnya melemah?
Ya. Suara tadi adalah bunyi pertanda kalau baterai ponselnya Dennis harus segera dicharger. "Sial! Baterainya habis. Kalau begini, aku tidak akan bisa mendapatkan penerangan lagi! Aku harus cepat mencari batu untuk memotong."
Dennis akan mencari batu tajam itu lagi. Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja ia merasa ada yang telah menyentuh kakinya. Dennis merunduk. Ia melihat ada beberapa batu besar dengan bentuk yang panjang. Tepat sekali! Kebetulan Dennis juga sedang mencari batu itu.
"Ah, bagus sekali!" Dennis mengambil batu itu dengan perasaan senang. Ia kembali berdiri dan tangannya tetap menyoroti si tanaman monster itu dengan cahayanya.
Dennis melirikkan mata ke samping kirinya dan terkejut. Ia melihat ada si gadis berambut pendek itu lagi yang sedang berjalan pelan untuk menjauh darinya. Tentu saja posisi si gadis itu sedang membelakangi Dennis.
Dennis akan mengejar si gadis karena ia penasaran dengan gadis misterius itu. "Dia muncul lagi! Pasti dia yang telah memberikan batu ini untukku!" Dennis mengejarnya. Tapi tak lama kemudian, si gadis itu menghilang tanpa jejak. Dennis tidak bisa menemukannya lagi. Ia jadi semakin bingung.
"Gadis itu... sebenarnya siapa dia?" pikir Dennis dalam hati.
"Hoy, Dennis! Kau mau pergi ke mana?" teriak Akihiro mengejutkan Dennis yang sedang berpikir. Dennis lupa dengan teman-temannya karena sibuk mengejar gadis itu. Ia pun kembali ke monster yang tadi.
Tapi... saat Dennis kembali, ia melihat si monster itu bisa bergerak kembali karena Dennis tidak memberikan cahaya padanya lagi. Lalu, untuk menghentikan pergerakan monster itu, Dennis kembali mengarahkan cahaya ponselnya ke hadapan si monster.
Tapi tak lama kemudian, cahaya dari ponsel Dennis tiba-tiba saja mati dengan sendirinya. Dennis terkejut. Ia menepuk-nepuk ponselnya agar cahayanya bisa menyala kembali. Tapi ternyata tidak bisa. Sampai akhirnya, ia ingat kalau baterai ponselnya sudah habis dan ponselnya itu sedang mati total saat ini.
Si monster kembali bergerak. Dennis mulai takut. Bagaimana kalau monster itu menyerangnya? Dan yang lebih parahnya lagi, bagaimana kalau si monster itu akan melukai Akihiro dan Adel yang sudah ia tangkap duluan?
"Dennis! Pikirkan sesuatu! Kau harus menyelamatkan teman-temanmu! Ayolah!" Dennis berusaha keras mencari cara untuk mengalahkan monster itu tanpa bantuan dari cahaya.
"Aku sudah menemukan senjata baru ini untuk memotong akarnya. Tapi... percuma saja! Aku akan menyerang tapi aku sendiri tidak bisa melihat objek yang akan ku serang. Tempat ini gelap sekali!" batin Dennis yang semakin panik dengan keadaannya saat ini. Ia harus melakukan apa?!
Dirinya hanya diam saja di tempat. Sementara satu akar si monster itu mengarah cepat ke Dennis. Dennis menghalangi pandangan dengan tangannya. Ia tidak ingin melihat monster itu karena takut dengan sosok besar yang ada di depannya itu.
__ADS_1
"Jangan ganggu temanku!"
BUAK!!
Dennis kembali membuka matanya. Ia sedikit melirik kembali ke arah monster yang ada di depannya. Tapi setelah itu, wajahnya malah kejatuhan sesuatu yang panjang dan sedikit basah.
Dennis menggeleng cepat dan menjatuhkan benda yang ada di atas kepalanya itu. Saat dilihat, ternyata sesuatu yang panjang itu adalah potongan dari akar si monster tanaman. Dennis terkejut melihatnya. Kenapa tiba-tiba saja akar itu bisa terpotong?
"Kau baik-baik saja, Dennis?" Dennis merasa ada yang menyentuh pundaknya dari belakang. Dan ia juga mengenal suara ini. Dengan cepat, Dennis menengok ke sampingnya dan terkejut. Karena seseorang yang ada di dekatnya saat ini itu adalah... si Rei!
"Re–Rei!" Dennis senang sekali karena Rei bisa bebas dan selamat dari bahaya yang sudah menjebaknya. Ia pun memeluk Rei dengan kuat. "Kau berhasil bebas dari tanaman itu! Keren sekali!"
"Hei, sudahlah. Aku tidak akan bisa selamat kalau bukan karena bantuan dari Rashino. Dia yang sudah menyelamatkanku." Ujar Rei lirih. Ia juga mencoba untuk melepas pelukan Dennis secara perlahan karena merasa tidak nyaman.
"Oh iya Rashino! Dia berhasil menyelamatkan Kak Rei? Tapi bagaimana bisa?" Dennis melepaskan pelukannya, lalu menatap serius ke arah Rashino yang ada di belakang Rei.
"Tanah saja. Ada caranya, kok!" jawab Rashino dengan senyumnya. "Tapi untuk sekarang, tidak ada waktu untuk membahas tentang yang lain. Sekarang juga, ayo kita lawan monster ini!"
"Iya. Tentunya dengan bantuan dari teman kita yang lainnya!" Nashira tiba-tiba muncul dari belakang Rashino. Ternyata kembarannya Rashino itu berhasil kembali dan sekarang ini... ia membawa banyak orang untuk saling membantu dan bekerja sama untuk keluar dari terowongan mematikan itu!
"Teman lainnya?" Dennis meneleng.
"Rashino dan Nashira menepi. Dari balik badan Rashino, Dennis bisa melihat anak murid lainnya yang masih bisa bertahan hidup. Mereka semua mau diajak kerja sama dengan semuanya sampai akhirnya mereka bisa keluar dengan selamat dan dapat menyelesaikan Ujian IPA ini!
Sekarang, apa rencana mereka semua?
*
*
*
To be Continued-
**Pengumuman**!
Untuk eps selanjutnya, Chika akan Hiatus dulu, ya?
Berikan waktu author untuk istirahat seminggu saja! Karena... Senin besok, Ujian praktek di sekolahku mau dimulai! Banyak banget hapalannya\+ortu suruhnya belajar mulu 😣 Aku harap, kalian bisa mengerti karena aku masih seorang pelajar SMP. Jadi tugas aku banyak selain bikin novel ini.
Ya, makanya untuk seminggu ke depan, Chika akan Hiatus dulu, ya? Kalau bisa... mungkin akan dilanjut, tapi gak tiap hari. Anggap aja slow up kayak dulu :'\)
Oke, bye! Doakan juga semoga Chika menang di kontes yang akan diumumkan besok! Dah~
__ADS_1
**Follow IG: @pipit\_otosaka8**