
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
"Bu–bukankah mereka semua ini adalah jenis tanaman karnivora?! Dan... kenapa semuanya berukuran raksasa?!" panik Dennis dalam hati.
"Dennis! Awas!" Rei berteriak dan langsung menarik tangan Dennis untuk menghindar dari serangan beberapa akar pohon yang melayang.
"Dennis jangan melamun! Aku tahu kau merasa panik karena munculnya monster-monster ini. Tapi dalam keadaan seperti ini, kau harus selalu waspada!" tegas Rei setelah ia menarik Dennis. Dennis mengangguk paham. Lalu mereka berdua menoleh ke arah monster yang ingin menyerang Dennis tadi.
Monster besar yang berbentuk seperti tumbuhan karnivora dengan nama latin Dionaea muscipula atau yang biasa disebut dengan tumbuhan Flytrap si pemakan lalat. Kini tumbuhan itu telah berubah menjadi monster mematikan yang memakan daging manusia dan bukan serangga lagi.
Tanaman itu tidak bisa bergerak untuk berpindah tempat. Tapi... dia bisa menyerang dengan cara menangkap mangsanya dengan menggunakan akar pengikat kuat yang merambat. Dan jika akar itu menusuk bagian tubuh, maka dengan cepat dari lubang-lubang kecil di batang akar itu akan menghisap darah serta daging halus yang ada di dalam tubuh sampai tubuh si mangsanya menjadi kurus kering tanpa isi. Benar-benar tanaman yang mematikan!
"Dennis! Kau berhati-hatilah! Jangan sampai tertangkap oleh akar-akarnya itu!" Rei sudah memperingati Dennis. Sekali lagi, Dennis hanya bisa mengangguk saja. Tapi sebenarnya, di dalam hatinya Dennis selalu bergumam ketakutan.
"Ini mirip! Inis sangat mirip." Itulah gumamannya. "Kejadian ini... kenapa mirip sekali dengan yang ada di mimpiku?" Dennis malah terdiam. Berdiri dan tidak bergerak seperti batu. Ia memikirkan sesuatu. Dan sekali lagi, jantungnya berdetak kencang dan kuat. Dennis... merasakan sesuatu yang akan mengancam nyawanya itu!
"Ti–tidak mungkin, kan?" Ia bergumam. Lalu menundukkan kepala sambil menggenggam dadanya yang terasa sakit. Ia masih berdiri di tempatnya, sementara semua teman-temannya berusaha untuk menghindar dari serangan tanaman yang berbahaya itu.
"Dennis! Dennis, ada apa?!" Rei berteriak dari kejauhan. Dennis tidak menyahut. Menengok saja tidak. Ia sedang fokus dengan pikiran dan kata hatinya sendiri. Rei terlihat agak cemas setelah melihat keadaan teman dekatnya yang terlihat kurang sehat.
Lalu untuk memastikan keadaan Dennis, Rei pun berlari menghampiri temannya dengan bantuan penerangan dari layar ponselnya. Adel melihat Rei berlari menghampiri kakaknya. Adel juga ingin ikut. Tapi tiba-tiba saja kakinya tersandung sesuatu dan terjatuh. Ponsel milik Adel mati. Dan saat itu juga, Adel berteriak minta tolong.
Rei sempat mendengar suara Adel. Ia menghentikan langkahnya, lalu menengok. Rei melihat Adel sudah tersungkur di tanah. Rei ingin membantu Adel bangkit kembali. Tapi... dia juga ingin pergi memeriksa Dennis. Haduh... dia jadi kebingungan sendiri.
"Rei! Kau pergilah! Tolong yang lain!" Seseorang berteriak dari tempat Adel berada. Saat disorot dengan layar ponsel, Rei akhirnya tahu siapa yang telah berteriak padanya. Ternyata itu Akihiro.
"Temui Dennis! Anak itu memang tidak beres dari tadi! Periksa dia!" teriak Akihiro lagi sambil membantu Adel berdiri kembali.
Rei mengangguk paham. Lalu ia kembali berlari menghampiri Dennis. Setelah Rei pergi, Akihiro memungut kembali ponsel Adel yang terjatuh dan langsung memberikan ponsel itu pada pemiliknya.
Adel memeriksa ponselnya dan ternyata masih berfungsi dan masih bisa menyala. Dia bisa melihat lagi lewat penerangan di ponselnya itu. Lalu secara tidak sengaja, Adel malah memencet kamera ponsel. "Ah, aduh... kepencet, hehe–eh?!" Adel terkejut.
__ADS_1
Akihiro tersentak saat tiba-tiba saja Adel berteriak. "A–ada apa Adel?!"
"I–itu... di... di belakang... di belakang ada...."
Akihiro melebarkan matanya. Lalu secara perlahan, ia menengok ke belakang. Begitu juga dengan Adel. Tapi belum saja mereka melihat sesuatu yang ada di belakang mereka, tiba-tiba saja ada yang menarik kaki Akihiro dengan cepat dan mengangkat tubuhnya. Begitu juga dengan Adel.
Ponsel mereka terjatuh ke tanah. Dan tubuh dari pemilik ponsel itu sudah melayang ke langit-langit terowongan itu. Apa yang terjadi pada mereka?
Kembali ke Rei. Saat berada dekat dengan Dennis, Rei langsung menepuk tubuh temannya itu dan menegurnya. "Hei! Kau ini kenapa dari tadi?! Apa kau benar-benar sakit?"
Dennis tersentak kaget. Ia kembali tersadar dari lamunannya itu. Lalu dengan cepat, Dennis menengok ke arah Rei dan menjawab, "A–aku baik-baik saja!"
Rei mengerutkan keningnya. Lalu ia menggeleng pelan. "Jangan bohong padaku, Dennis. Aku tahu kau pasti sedang memikirkan sesuatu yang membuat perasaanmu tidak enak, kan? Cepat beritahu aku! Apa masalahmu?!" tanya Rei dengan nada tegas.
"Ah itu... em... ini hanya soal mimpiku yang tadi malam." Jawab Dennis pelan dan agak kaku.
"Tentang mimpimu lagi? Sebenarnya... masalah apa yang ada di dalam mimpimu itu?" tanya Rei cepat. Ia benar-benar sudah tidak sabar dengan jawaban dari Dennis, karena ia juga ingin kembali pergi untuk membantu temannya yang lain.
"Ti–tidak ada sesuatu yang penting. Hanya saja... kejadian ini seperti–Eh? Aaaaa! Ka–kak Rei! Di–di belakangmu!" Secara tidak sengaja Dennis melirik ke arah belakang Rei lewat pundaknya. Rei melihat sesuatu yang telah membuatnya terkejut bukan main. Karena... di belakang Rei itu ada....
"Awas!" Rei telah menyadari sesuatu yang dilihat Dennis itu ternyata ada di belakangnya. Lalu dengan cepat, ia mendorong Dennis sampai terjatuh, lalu setelah itu berbalik badan. Rei sudah menyiapkan ponselnya untuk memberikan penerangan. Karena... Rei tahu kalau kelemahan para tanaman pemakan daging itu adalah cahaya!
Rei menghembuskan nafas lega karena akar-akar yang suka menghisap darah manusia itu sudah pergi mencari mangsanya yang lain. Rei kembali berbalik badan. Ia melirik ke arah Dennis yang masih terduduk di tanah.
"Ka–kak Rei tahu kelemahan monster itu?" tanya Dennis.
Rei mengangguk sambil mengetik beberapa tombol di ponselnya. "Iya. Mereka membenci cahaya. Tadi baru cahaya dari layar ponsel. Tapi... bagaimana kalau cahaya dari flash ponsel?"
PATS!
Rei menyalakan lampu flash (lampu yang muncul di samping lensa kamera) di ponselnya. Cahayanya memang lebih terang dari sebelumnya. Lampu itu juga bisa menyorot seperti senter biasa. Tapi kalau dibanding dengan senter, tentu lebih terang senter daripada lampu flash itu.
"Kan enak kalau seperti ini. Lebih terang dan kita akan lebih mudah keluar dari sini dengan cara menakuti mereka semua. Ayo kita peringati yang lain untuk membuat cahaya agar para monster itu tidak bisa menyerang kita lagi!" tegas Rei sambil mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Dennis berdiri kembali.
Dennis mengangguk dan tersenyum. Ia akan meraih tangan Rei. Tapi sebelum itu, matanya sempat melirik ke arah kaki Rei dan terkejut. Karena... Dennis melihat sesuatu yang bergerak dari dalam tanah yang diinjak Rei itu.
Dengan cepat, Dennis langsung berdiri dan memberitahu Rei tentang apa yang ia lihat itu. "Rei! Pergi dari sana sekarang!" Dennis berteriak.
__ADS_1
Rei menelengkan kepala dan menatap Dennis bingung. Tapi tiba-tiba saja, ia juga merasakan ada sesuatu yang tidak beres di bawahnya itu dan ada yang menyentuh kakinya juga. Rei melebarkan matanya, lalu dengan cepat ia menunduk untuk melihat keadaan kakinya.
"A–apa ini?" Rei bergumam. Ia melihat ada tanaman merambat yang melilit kakinya. Pada awalnya, Rei masih menganggap tanaman itu hanya tumbuh saja dan tidak berbahaya. Maka Rei hanya mengangkat kakinya untuk memutuskan tanaman kecil itu. Tapi ternyata tidak bisa dilepas. Semakin banyak bergerak, maka tanaman itu semakin tumbuh dan merembet ke seluruh tubuh Rei.
"Eh? Hei! De–Dennis! Apa ini?!" Rei berusaha untuk melepaskan kakinya dari tanaman itu. Dennis menggeleng cepat. Ia akan membantu Rei untuk lepas dari tanaman itu. Tapi... saat Dennis menyentuh tanamannya, tiba-tiba saja tanaman itu malah tumbuh menjadi dua bagian dan tumbuh melilit jari sampai tangan Dennis juga.
Dennis terkejut dan langsung menarik tangannya dengan paksa. Dennis masih bisa bebas dari tanaman itu karena hanya beberapa jari Dennis saja yang ditumbuhi oleh tanaman itu, jadi masih mudah untuk lepas. Tapi... kalau Rei....
"Uwaaaaa! Ka–Kak Rei!" Dennis jadi panik saat melihat keadaan temannya itu. Tumbuhan merambat itu semakin lama semakin besar sampai mengikat setengah tubuh Rei.
Rei sudah tidak bisa menggerakkan semua anggota tubuhnya. Ia benar-benar sudah terjebak oleh tanaman yang pada awalnya ia anggap remeh itu. "De–Dennis... lari...." Suara Rei terdengar lemah.
Dennis tersentak. "A–apa?!" Ia tidak percaya. Dalam keadaan yang tidak baik, Rei malah menyuruh temannya itu untuk lari. Ia tidak meminta bantuan dari temannya. "Aku tidak akan lari!"
Dennis mengambil ponsel Rei yang terjatuh di depannya. Lalu dengan cepat, ia langsung menyorotkan lampu dari ponsel itu ke arah Rei. Berharap kalau tanaman yang mengikat Rei itu juga akan pergi dan melepaskan Rei.
Tapi setelah Dennis menyorotkan lampu flash itu, ia kembali dikejutkan oleh sesuatu yang mengerikan. Dengan lampu itu, Dennis dapat melihat teman-temannya yang lain juga ikut terjebak oleh beberapa tanaman lainnya. Keadaan dan kejadian seperti itu... mirip sekali dengan gambaran yang ada di mimpi Dennis!
"Ti–tidak..." Dennis melangkah maju. Ia ingin melihat lebih dekat keadaan teman-temannya yang sudah terjebak oleh banyak tanaman lainnya. Akihiro dan Adel telah tertangkap oleh akar-akar dari tanaman Flytrap. Dan posisi mereka dalam keadaan menggantung di langit-langit. Si kembar masih bisa melawan, tapi mereka tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Mizuki dan Yuni... entah sejak kapan mereka sudah terjebak seperti Rei. Dan sekarang ini, kedua gadis itu sudah tidak bergerak lagi.
Setelah melihat keadaan Mizuki dan Yuni, Dennis jadi teringat dengan Rei yang terjebak dengan cara yang sama seperti kedua teman gadisnya itu. Dennis menengok ke belakang dan terkejut.
"Kak Rei!" Dennis semakin cemas dan terlihat panik. Karena ia melihat Rei sudah tidak bergerak lagi. Dennis ingin menghampiri dan menolong teman terbaiknya itu.
Tapi....
GREP!
Sama seperti yang ada di dalam mimpinya. Seseorang telah menahan dan mencegah dirinya untuk mendekati Rei. Ada orang lain di belakang Rei yang telah menarik tangannya itu. Secara perlahan, Dennis menengok ke belakang. Ia melihat ada si gadis misterius berambut pendek itu di belakang dirinya!
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8