Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 7–Penyelidikan


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


****


"Percayalah padaku! Semua berita itu tidak ada. Kita akan baik-baik saja saat mengikuti ujian nanti. Tapi jika memang benar ada, aku... akan berusaha untuk melindungi kalian semua!"


Seketika semuanya langsung tersentak karena Rei mengatakan itu. "Ti–tidak, kok, Kak Rei! Kakak tidak perlu melakukannya." Ujar Dennis sambil menyentuh pundak Rei.


Akihiro pun datang dan langsung merangkul tubuh Rei. "Iya, tuh! Kami tidak akan takut lagi, kok! Hehe... kita kan anak pemberani. Sudah banyak kejadian-kejadian aneh yang menimpa kita semua. Tapi sampai sekarang, kita bisa menyelesaikannya secara bersama-sama, kan?"


"Nah, benar, tuh! Jadi, Rei? Janganlah kau mengorbankan dirimu hanya untuk melindungi kami semua." Timpal Mizuki.


"Kita bisa menghadapinya bersama-sama." Ujar Yuni dengan wajah datarnya. Tapi kalau dilihat lebih jelas lagi, baru saja Yuni mulai mengeluarkan senyumnya walau agak terlihat samar.


"Tidak akan ada yang bisa menghentikan kita, Wuuhuuu!" Adel juga ikut-ikutan.


"Ganbatte, Onii-chan!" Sachiko akhirnya membuka mulut. Ia memberi semangat pada semuanya dan bertingkah seperti Adel. Melompat-lompat kegirangan.


*( Ganbatte\= Semangat. Onii-chan\= Kakak (Laki-laki))


Mendengar semua teman-temannya berkata seperti itu, telah membuat Rei jadi terharu bukan main. Ia terlihat senang sekali karena memiliki teman-teman yang tidak mudah menyerah walau bahaya dan masalah menghadang.


"Iya... baiklah kalau begitu. Tapi setidaknya, kita akan terus bersama dan aku sangat menyayangi kalian semua. Jika kalian dalam bahaya, aku akan selalu sial untuk menjadi tameng hidup kalian." Ujar Rei sambil tersenyum manis pada semuanya.


Setelah Rei mengeluarkan senyumnya itu, seketika wajah Mizuki langsung blush. Lagi-lagi ia melihat senyuman Rei yang jarang sekali Rei keluarkan. Menurut Mizuki, senyuman Rei itu sangatlah manis.


"Ah, kau tidak perlu repot-repot seperti itu. Kita semua bisa menjaga diri, iya, kan?" tanya Akihiro.


"Iya, tuh!" Semuanya menjawab serontak.


Akihiro melepaskan rangkulannya, lalu berkacak pinggang. Ia tersenyum sambil memejamkan matanya. "Nah, lagipula sekarang ini, kami sudah tidak takut untuk menghadapi Ujian itu! Haha... aku sudah mulai kuat sekarang. Jika Terror web atau apalah itu namanya, aku tidak usah takut lagi. Hanya Ujian biasa aja. Kecil itu..."


TRINING! TRINING!!


"Eh?"


Tak lama setelah Akihiro berkata seperti itu, tiba-tiba saja Rei merasakan getaran di dalam saku celananya. Ia pun merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku.


Setelah itu, Rei membuka ponselnya, lalu melihat ke arah layar ponsel. Terlihat di sana ada dua notifikasi message di ponsel Rei. Ternyata pesan Message itu dari Bu Mia, wali kelas 3-C.


Rei menekan kedua notifikasinya, lalu membaca pesan yang dikirim oleh Bu Mia padanya itu. Pesannya tertulis, [ Rei, tolong bilangin ke semua teman-teman sekelasmu. Hari Senin kita sudah mulai bisa kembali ke sekolah. Masuk jam 8 pagi. Seminggu penuh semua murid akan memulai bimbel setiap pulang sekolah. ]


[ Ingat, ya, Rei? Hari Senin! ]

__ADS_1


"Eh, Rei? Itu pesan apa telepon?" tanya Mizuki.


"Pesan." Jawab Rei sambil menutup kembali ponselnya.


"Pesan dari siapa?" tanya Mizuki lagi.


"Ini dari Bu Mia. Dia memberitahu kita kalau waktu masuk sekolah sebentar lagi. Hari Senin kita sudah harus kembali ke sekolah."


Seketika semuanya terkejut. Termasuk Akihiro yang sedari tadi terus memakan cemilannya. "APAAA?! ITU BERARTI, 2 HARI LAGI, DONG!"


"KENAPA MENDADAK SEKALIII?!"


Mereka semua berteriak pada Rei karena mereka tidak sepenuhnya percaya dengan perkataan Rei. Rei langsung menutup kedua telinga dengan telapak tangannya. Lalu ia pun membalas teman-temannya dengan berteriak juga. "MANA AKU TAHU? ITU KAN BU MIA SENDIRI YANG BERITAHU AKU!"


"Hei... hei... kalian ini pada kenapa, sih?!" Tiba-tiba Ibu Dennis datang dan langsung membentak mereka semua. "Berisik sekali dari tadi!"


"Begini, Ibu... baru saja kami dapat pesan dari wali kelasku. Katanya, sekolah akan dimulai kembali hari Senin. Kan diberitahu pengumuman itu mendadak sekali. Apalagi, aku juga belum siapkan apapun." Jelas Dennis dengan keluhannya.


"Tenang saja. Itu mudah. Nah, sekarang kalian katanya ingin ke rumah Rei, kan?" tanya Ibunya Dennis.


Semuanya mengangguk.


"Nah, lebih baik ke rumah Rei besok saja. Sekarang ini, kalian siapkan barang-barang yang ingin kalian bawa ke sekolah." Usul Ibunya Dennis.


Semuanya mengangguk paham. "Ya... benar juga. Tapi... nanti...."


"Itu berarti... sekarang ini hari Adel mengucapkan selamat tinggal sama Ibu, dong!" ujar Adel dengan wajah imutnya.


"Iya. Tapi tidak untuk selamanya, kan? Nah, setelah kalian kembali ke sekolah, Ibu dengan Ayah juga ingin kembali ke Kota untuk bekerja."


"Berarti... rumah nenek akan sepi lagi, dong, Bu?" tanya Dennis.


"Iya... sepertinya begitu."


"Hmmm... baiklah. Sekarang Dennis ingin menyiapkan barang-barang Dennis dulu." Ujar Dennis dan langsung pergi ke kamarnya. Semuanya juga melakukan hal yang sama.


Barang-barang mereka yang sebelumnya berada di rumah Neneknya Dennis, akan mereka masukan kembali ke dalam tas mereka. Lalu saat waktunya masuk sekolah tiba, mereka akan meletakan semua barang mereka ke kamar masing-masing.


****


BRRMMM... CKITTT....


Mobil Bus yang ditumpangi Nashira dan Rashino pun berhenti tepat di depan halte Bus. Tempat tujuan mereka. Akhirnya sampai.


Setelah Bus berhenti sempurna, Rashino dan Nashira pun turun dari dalam Bus. Setelah itu, mereka berdiri di depan halte sampai Bus itu pergi meninggalkan halte.


Setelah Bus itu berjalan kembali, Rashino dan Nashira pun langsung pergi ke tempat kejadian. Tak jauh dari halte itu, mereka melihat ada sepasang garis kuning polisi yang sudah dipasang di sekitar tempat kejadian. Lebih tepatnya, garis polisi itu mengelilingi tempat ditemukannya korban yang terkubur di dalam hutan.


Tapi ada juga garis polisi di pinggir jalan. Karena di dalam garis polisi itu terdapat beberapa bercak darah yang sebelumnya telah tertutup tanah.

__ADS_1


Sudah tidak ada siapapun di tempat itu. Sepertinya semua orang telah pergi meninggalkan tempat kejadian dan para polisi pun mencari pelaku yang telah membunuh korban itu dan mungkin saja mereka juga sedang mencari tahu penyebab dari kematian si korban.


Rashino dan Nashira berjalan ke mendekati garis kuning polisi yang ada di pinggir jalan itu terlebih dahulu. Mereka ingin mengecek sesuatu.


"Lihat, Nash! Di sini dekat sini ada beberapa bercak darah juga." Kata Rashino sambil menunjukkan beberapa bercak darah kering yang ia temukan.


"Iya. Dan juga jejak ban mobil yang bergesek di sana." Nashira menunjuk. Rashino langsung menarik pundak adiknya itu agar tidak melangkah ke tengah jalan.


"Iya, aku tahu. Nah sekarang, bagaimana menurutmu? Apa kau mengetahui satu hal setelah kau melihat semua ini?" tanya Rashino pada Nashira.


"Hmm... kalau kata di tv, mereka bilang katanya ada kecelakaan di sini. Diduga korban tertabrak oleh mobil pengangkut barang. Kemungkinan besar, itu pasti mobil truk. Dan korban yang telah tertabrak oleh mobil truk itu katanya juga telah dikubur secara asal untuk menghilangkan jejak." Nashira mulai berpikir. "Tapi ada satu hal lagi yang masih membuatku bingung."


"Apa itu?" tanya Rashino penasaran.


"Nih, apakah pemilik truk yang telah menabrak si korban di sini adalah... si korban bunuh diri di rumahnya itu?"


"Eh? Iya... mungkin saja... eh! Oh iya juga, ya! Kemungkinan besar, darah yang kita temukan di bumper mobil yang ada di foto itu adalah darah dari korban yang tertabrak di sini." Jelas Rashino.


"Nah itu dia! Lagipula, mobil yang ada bercak darahnya itu juga mobil truk, kan?"


"Eh? Iya juga! Sepertinya kita akan berhasil memecahkan misteri ini!"


"Tapi tunggu, kak! Jangan senang dulu. Ada satu hal lagi yang harus kita pikirkan."


"Apa itu?"


"Nih, jika si pemilik truk itu telah menabrak si korban kecelakaan lalu menguburnya begitu saja untuk menghilangkan jejak, sudah pasti si pemilik truk akan berpikir kalau ia sudah aman karena telah menyembunyikan mayat itu dan tidak ada saksi yang melihat kecelakaannya. Tapi... anehnya, kenapa si pemilik truk itu juga meninggal?"


"Mungkin dia terlalu memikirkan kesalahannya. Ia takut kalau kelakuannya diketahui dan dirinya akan masuk penjara. Makanya ia mengakhiri hidupnya." Jawab Rashino.


Nashira menepuk tangannya sekali, lalu tersenyum lebar. "Nah, itu dia! Kau benar juga!"


"Nah! Jadi sepenuhnya... misteri ini telah kita pecahkan, dong?"


"Iya! Kita kan Detektif Twins. Apa yang tidak bisa kita lakukan? Hehe... kerja bagus, kak!" ucap Nashira sambil mengangkat tangannya untuk meminta tos pada Kakak kembarnya.


"Iya! Kita benar-benar hebat, ya?"


"Eh, Hei?! Sedang apa kalian di sana?! Siapa kalian?"


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2