Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 60– Yang Terjadi Sebenarnya


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


Cahya menarik tubuh Dennis masuk ke dalam gubuk. Lalu setelah itu, ia menutup pintu. Cahya akan melakukan apa yang ayahnya inginkan. Tapi untuk saat ini, Cahya tidak ingin ayahnya melihat dirinya aksinya dalam menyiksa korban pertamanya.


"Kenapa kau menutup pintunya? Ayah kan juga ingin melihatnya." Ujar ayahnya Cahya dari luar pintu dengan suara keras.


"Ah, ini pertama kalinya dal hidupku. Aku belum bisa banyak. Jadi aku ingin melakukan hal ini tanpa diketahui siapapun." Cahya menjawabnya.


"Oh, kalau pertama kali, seharusnya biarkan ayah membantumu!"


"Tidak usah, ayah! Aku mau belajar sendiri saja."


Di depan pintu ayahnya mengangguk lalu kembali berkata, "Kalau sudah selesai, kau hanya harus memberikan ayah jarinya saja, ya? Sisahnya biar kau urus. Terima kasih, sayang."


"Oke tidak masalah, ayah! Ini... tidak akan lama, kok!"


Dari luar, ayahnya Cahya akan menunggu. Menunggu Cahya kembali membuka pintu untuk memberikannya potongan jari Dennis. Ia tidak memerlukan semua potongan jari. Yang biasanya ia kumpulkan hanya jari tengahnya saja.


Sudah lebih dari 10 menit ayahnya menunggu di depan. Sampai beliau ketiduran di depan pintu. Langitnya juga semakin gelap karena matahari telah terbenam. Keadaan hutan jadi terlihat hitam tanpa cahaya. Yang bisa dilihat hanya tanah dan rumput kecil di dekat gubuk.


Masih ada cahaya dari lampu minyak yang digantung di dinding luar gubuk.


TAK!


Tak lama setelah ayahnya menutup mata, tiba-tiba saja ia mendengar suara pisau yang dihantamkan ke meja. Ayahnya berpikir kalau Cahya sedang memotong bagian jari korbannya itu dengan pisau tajam.


Hanya saja yang membuatnya bosan adalah, tidak ada teriakan dari korbannya. Tapi tak lama kemudian, terdengar suara gesekan pisau, dan sekali lagi pisau itu dihantamkan ke meja.


"AAAAAKH!!"


Hantaman pisau kedua itu dapat terdengar suara Dennis yang berteriak kesakitan. Tak lama suara Cahya yang tertawa gembira dapat terdengar.


Ayahnya jadi penasaran dengan apa yang dilakukan Cahya di dalam sana. Dia ingin membuka pintu, tapi Cahya melarangnya. Jadi terpaksa ia harus diam saja dan menunggu.


Tak lama setelah suara teriakan itu, suara pintu terbuka. Ayahnya Cahya kembali berdiri. Pintu pun terbuka dan munculnya sosok Cahya di sana. Ia memberikan sesuatu untuk ayahnya.


"Ini! Jari tengah yang ayah inginkan!" Cahya memberikannya dengan senyuman. Di pipinya terdapat bercak darah.


"Wah, kau ternyata bisa melakukannya, ya?" Ayahnya ikut tersenyum lalu menepuk kepala Cahya. Setelah itu, ayahnya mendorong Cahya perlahan. Ia ingin masuk ke dalam gubuk untuk melihat Dennis.


Tapi Cahya melarangnya. Ia kembali mendorong ayahnya keluar dari gubuk bersama dengan dirinya. Sebelum pintu kembali ditutup, ayahnya sempat melihat tubuh Dennis yang sedang terbaring di atas meja. Tapi di meja, ia tidak melihat darah sedikitpun.


"Ayah jangan lihat, ya? Cahya malu. Takutnya Cahya melakukan kesalahan." Ujar Cahya setelah ia menutup kembali pintu gubuknya.

__ADS_1


"Tapi Cahya, bukankah seharusnya kau mengikat dia di meja itu? Nanti kalau dia lepas gimana?"


"Ah, jangan khawatir kalau soal itu!" Cahya menggeleng cepat sambil tertawa. "Aku sudah mengatasinya. Dia sudah aku ancam untuk tidak pergi ke mana-mana. Tapi... tadinya dia tetap nekat untuk pergi. Ah, jadi terpaksa aku menusuknya lagi dengan peluru bius terakhir yang aku punya untuk menenangkannya."


"Ah, oke lah kalau begitu. Ayah akan kembali ke Villa. Siapa tahu saja ibumu sudah pulang. Nanti dia nyariin ayah." Ayahnya Cahya berbalik badan membawa sepotong jari tengah yang akan ia isap darahnya.


Sementara di belakang, Cahya masih berdiri sambil senyum-senyum sendiri. Kemudian secara perlahan, ia merogoh kantung jaket yang ia kenakan. Ia mengambil satu peluru bius yang tersisah. Lalu menyembunyikan peluru itu dibalik tubuhnya.


"Sebaiknya ayah jangan kembali ke Villa." Ujar Cahya dengan nada pelan. Tapi ayahnya masih sempat mendengar perkataannya itu. Beliau menoleh ke belakang. "Eh, apa?"


"Ibu tidak ada di Villa."


"Apa maksud– eh?!"


Cahya bergerak cepat untuk menyerang ayahnya. Ia melompat ke atas pundak ayahnya, lalu menusuk leher beliau dari belakang dengan peluru bius tersebut. Setelah itu, Cahya menggenggam kepalanya dan menjatuhkannya ke tanah.


"Maaf. Aku merasa tidak sopan jika memperlakukan orang tua seperti ini. Tapi aku terpaksa demi kebaikan semuanya." Ujar Cahya setelah ia berhasil melumpuhkan ayahnya sendiri. Atau mulai sekarang ia sebut orang itu sebagai "musuhnya".


KRIEET....


Pintu gubuk terbuka secara perlahan. Dari dalam sana muncul kepala manusia yang keluar untuk mengintip. Ternyata itu Dennis!


"Hei, apa kau berhasil?" bisik Dennis dari balik pintu.


Cahya menoleh ke belakang. Menatap Dennis dengan manis sambil tersenyum. "Iya. Tentu saja aku berhasil melakukannya. Ini berkat rencanamu!"


****


Flashback 1 jam yang lalu–


"Hei, Cahya! Ada apa kau memanggilku?"


Dennis sampai di tempat yang dibilang Cahya. Di sana ia melihat Cahya sedang berdiri di depan pohon sambil menundukkan kepala. Saat Dennis mendekat, ia melihat wajah Cahya yang gelisah.


"Hei, ada apa denganmu?" Dennis menyentuh pundak Cahya, lalu bertanya tentang keadaannya.


Cahya masih menunduk dan tidak menjawab Dennis. Dennis sendiri jadi kebingungan. Ia tidak tahu Cahya kenapa. Tapi tak lama kemudian, tiba-tiba saja Cahya menyerang Dennis dengan menendang kaki Dennis tepat di tulang keringnya.


Dennis langsung jatuh terduduk dan menggenggam kaki kirinya yang baru ditendang Cahya itu. Ia tentunya mengeluh sakit. Kemudian ia mendongak menatap Cahya. "Ka–kau ini kenapa, sih? Aw!"


"Dennis, maafkan aku. Apa aku cukup kuat untuk jadi petarung seperti itu?" tanya Cahya. Dennis terkejut melihat ekspresinya. Wajah Cahya terlihat sedih dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Ah," Dennis kembali berdiri lalu ia menghadap ke Cahya. Mereka dekat sekali. Dennis jadi cemas dengan keadaan Cahya. Apalagi setelah ia melihat ekspresinya Cahya seperti ingin menangis itu. "Kau kenapa?! Kalau ada apa-apa, cerita saja padaku!"


"Maaf, Dennis. Aku tidak ingin seperti ini. Tapi... gara-gara aku... gara-gara aku... rencanamu jadi gagal!" Cahya menutup matanya lalu mengernyitkannya. Air matanya mulai mengalir melewati pipinya. Dengan kedua tangannya, Cahya berusaha untuk menutup mata dan ekspresi kesedihannya dari Dennis.


"Tidak. Emm... memangnya ada masalah apa?"


"Ayahku telah mencurigai aku. Aku takut kalau dia mengetahui rencana kita. Dia bisa saja curiga jika aku tidak... menangkap dirimu ke hadapannya." Jelas Cahya.

__ADS_1


"Menangkap ku?" Dennis bergumam. Ia sedikit menjauh dari Cahya lalu memikirkan sesuatu di dalam hatinya. Sambil tidak lupa juga ia memutar, menarik, dan memainkan rambutnya.


Cahya hanya terdiam. Ia menunggu jawaban dari Dennis itu. Ia pikir, Dennis juga sedang mencari cara untuk mencegah masalah Cahya.


Tak lama, Cahya kembali melirik ke arah Dennis sejak ia melihat pergerakan dari tubuh Dennis. Dennis mengambil sebuah peluru bius kosong dari dalam kantung celananya.


Ia menatap peluru itu sejenak, lalu tersenyum dan bergumam, "Terima kasih Mizuki. Kau benar. Benda ini ternyata ada gunanya juga."


"Anu, Cahya!" Dennis memanggil. Cahya hanya menyahut dengan mengangguk saja. "Aku tahu!" Dennis menunjukan peluru kosong itu pada Cahya.


Pada awalnya Cahya terlihat bingung. Tapi setelah ia pikir-pikir, Dennis pasti mendapatkan rencana hebat lainnya. Dia bisa percaya pada Dennis.


"Ah, apa yang harus aku lakukan?" tanya Cahya cepat. Ia merasa senang dan akan menuruti apa yang direncanakan Dennis.


"Seperti ini." Dennis akan menjelaskan. "Coba dari awal, kau harus menangkap ku dengan cara seperti apa?"


"Emm..." Cahya merogoh kantung besar jaketnya. Kemudian ia mengeluarkan sebuah tembakan kecil dengan tiga buah peluru bius yang sudah ia simpan di kantung yang satunya. "Ayah ingin aku memburu manusia dengan caraku sendiri. Dia hanya memberikan aku senjata kecil ini dengan pelurunya."


"Oh jadi begitu, ya? Hmm... Sepertinya aku punya rencana yang mudah untuk dilakukan." Dennis tertawa kecil lalu untuk yang terakhir kali, ia mengacak rambutnya dengan kasar.


"Ah, aku tahu rencanamu akan hebat, Dennis!"


"Tapi aku juga memerlukan sandiwaramu yang hebat juga, Cahya."


"Oke! Sekarang apa saja tugasku?"


"Begini," Dennis mulai menjelaskan rencananya. Tapi tidak di sini. Dennis mengajak Cahya ke tempat yang sepi agar tidak ada yang mendengarnya. Karena Dennis tidak mau perubahan rencananya didengar oleh orang lain, apalagi teman-temannya.


Langsung saja, Dennis dan Cahya pergi ke jalan kecil menuju ke hutan. Sambil berjalan, Dennis mulai menjelaskan. "Untuk permulaan, kau harus mengejarku. Nanti aku akan berlari ke hutan. Saat pengejaran itu, kau juga berpura-pura menyerangku dengan peluru bius yang asli. Kemudian saat aku sampai di tempat pertemuanmu dengan ayahmu, kau berpura-pura memukulku saja. Lalu aku akan memberanikan diri untuk mendekati ayahmu yang katanya... dia menunggu di depan gubuk itu, kan?"


Cahya mengangguk.


"Nah, sekarang aku berikan peluru bius kosong ini untukmu. Inilah yang harus kau lakukan untuk permainan terakhir."


"Saat di dalam hutan, kau tembakan dua peluru bius yang asli. Dan satu lagi, kau simpan. Saat aku sampai di hadapan ayahmu, kau baru bisa menembak ku dengan peluru bius kosong itu. Setelah itu, aku akan berpura-pura pingsan. Dan kau boleh memperlakukan aku seperti yang kau mau tepat di hadapan ayahmu. Tapi saat di dalam gubuk, jangan biarkan ayahmu melihatku, ya? Kau mengerti? Sisahnya akan aku jelaskan nanti."


Dennis berhenti menjelaskan. Ia mengatur napasnya karena terlalu lelah berbicara banyak. Sementara Cahya hanya terdiam. Tapi di dalam pikirannya, ia berusaha untuk mengingat rencana Dennis dan apa saja yang harus ia lakukan.


Sekarang semuanya jelas. Malam ini, rencana Dennis telah berhasil melumpuhkan Bapak Tertua hanya dengan bantuan dari Cahya. Sekarang apa yang akan Dennis lakukan selanjutnya?


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2