
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
"Hah... hah... teman-teman! Kakakku... akan datang ke Indonesia!"
"Loh? Memangnya kenapa kalau dia mau datang?" tanya Akihiro sambil mengucek matanya dan sesekali menguap karena mengantuk.
"Bisa gawat! Kau tau, tidak?! Onii-chan mau ke sini cuma ingin memberikan aku Poky saja, tahu!" Mizuki menjatuhkan tubuhnya ke lantai, duduk dengan melipat kakinya ke arah berlawanan lalu memasang ekspresi wajah yang hendak merengek. "Aaaahhh... kasihan Onii-chan! Kalau dia ke sini cuma mau ngasih aku Poky kan kasihan dia. Dia nanti bulak balik. Kan Jepang itu jauh tauuu...!"
"Yaa... kenapa kau tidak bilang saja pada kakakmu untuk jangan datang kemari?" tanya Rei.
"Aku sudah bilang gitu. Tapi katanya, di rumah lagi banyak persediaan Poky dan tidak ada yang memakannya. Lalu daripada terbuang sia-sia, dia mau ngasih semua Poky itu untukku. Makanya dia mau tetap ke sini." Jelas Mizuki.
Dennis tertawa kecil. Ia memainkan rambutnya lagi dan berkata, "Emm... biarkan saja dia datang. Kan dia sendiri yang mau."
"Iya. Aku juga tidak keberatan dia mau datang. Tapi masalahnya... dia tidak bisa berbahasa Indonesia dan satu hal lagi. Jika dia mau ke sini, nanti dia tinggal di mana? Di sekolahan? Kan sekolah lagi libur. Tidak ada siapapun di sana! Aaahh...."
"Oh, iya juga. Emm..." Dennis bergumam. Lalu ia melipat tangannya ke depan dan menunduk untuk berpikir. Tak lama, Dennis menyentakan matanya, lalu menoleh ke arah Mizuki lagi. "Kak Zuki! Bagaimana kalau kakakmu tinggal di rumahku saja."
"Rumah yang ada di desa?" Mizuki menyahut.
"Bukan. Rumahku yang di kota ini!"
"Eh? Apakah boleh?"
"Iya... kita semua juga akan ke sana, kan? Ibuku meminta kalian untuk datang nanti sore. Beliau senang sekali dengan kedatangan kalian. Apalagi menginap di rumahku seperti saat itu." Jelas Dennis. Semuanya agak ragu. Mereka juga merasa tidak enak karena selalu menumpang di rumah Dennis. Sampai akhirnya... Rei berkata kalau dia lebih memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya. Lalu begitu juga dengan Rashino dan Nashira.
"Ehhh? Jadi kalian tidak ingin menginap bersamaku lagi? Berarti kita akan pisah, dong?" Dennis memasang wajah sedih. Rei dan si kembar akan kembali ke desa untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Tapi kalau Mizuki dia mau tinggal di rumah Dennis. Akihiro juga begitu, karena dia tidak ingin pulang ke rumahnya. Lalu kalau Yuni....
"Yuni, ngomong-ngomong di mana rumahmu?" tanya Dennis lirih.
Yuni hanya diam saja. Mengangkat kepala sedikit, menatap Dennis dengan wajah biasanya dan tidak menjawab sama sekali. Tapi eh, dia menjawab dengan menggeleng pelan saja. Dennis meneleng dan bertanya kembali, "Kau tidak tahu di mana rumahmu?" tanya Dennis.
Yuni menggeleng lagi. Dennis menghela nafas, lalu tiba-tiba saja Rei mendekat ke arahnya dan membisikan sesuatu. "Yuni dari dulu sudah ada di sekolah. Katanya... dia dibuang oleh kedua orang tuanya. Jadi... kau jangan bertanya seperti itu lagi. Nanti bisa menyakiti perasaanya loh."
"Ah, benarkah?" Dennis bergumam. Ia tidak tahu sebelumnya. Di dalam hati, Dennis merasa menyesal telah mengatakan itu pada Yuni. "Maaf, Yuni! Maafkan aku! Ah... aku tidak tahu."
Yuni membuang pandangannya dari Dennis lalu berkata, "Aku akan ikut tinggal di rumah Adel."
Dennis tersentak. "Ah, dia pasti marah padaku. Kenapa dia tidak menyebut namaku juga, ya?" gumam Dennis dalam hati. "Hah... ini salahku. Aku payah."
"A–anu... lalu Rei, Rashino dan Nashira tetap ingin kembali ke desa?" tanya Dennis ragu. Mereka bertiga yang disebutkan nanya oleh Dennis pun mengangguk. Dennis menunduk dan bergumam, "Yah... padahal aku ingin mengajak mereka semua jalan-jalan."
__ADS_1
Setelah mendengar kata "jalan-jalan", Rei melebarkan matanya lalu bertanya, "Apa kita akan pergi ke Mall itu?"
"Eh? Kak Rei mau pergi ke Mall?"
"I–iya... aku mau ke sana. Tapi... apakah akan merepotkan jika kita ke Mall itu. Nanti kebanyakan orang."
"Ah, tidak, kok! Di Mall banyak sekali orang yang berbelanja di sana. Kalau Kak Rei mau, aku bisa ajak Kak Rei besok ke Mall. Mau?"
"Ah, iya! Aku mau saja kalau kau mengajakku."
"Ah, baiklah." Dennis mengangguk, lalu ia melirik ke arah semua temannya. "Kalian semua juga akan aku ajak besok. Jadi... untuk hari ini, kita ke rumahku dulu, ya?"
Semuanya mengangguk senang. Mereka tidak sabar menunggu sore hari. Dan ngomong-ngomong, hari ini juga Akihiro sudah boleh keluar dari rumah sakit. Karena keadaanya sudah membaik. Kalau soal pembayarannya, biarkan sekolah yang urus. Bisa saja uang pembayarannya dari wali kelas 3-C, yaitu Bu Mia.
****
Pukul 4 sore–
Dennis dan teman-temannya baru saja berjalan meninggalkan rumah sakit. Akihiro juga sudah tidak memakai baju rumah sakit lagi. Ia mengganti pakaiannya dengan Hoodie miliknya uang sebenarnya sudah robek pada bagian perut. Tapi biarkan saja. Mizuki sudah mencucinya dan menghilangkan bekas darah yang menempel di baju Akihiro.
"Bersih juga kau mencuci bajuku, Mizuki!" ujar Akihiro sambil memeluk dirinya sendiri. Lalu ia menarik bagian bawah bajunya dan dengan tangan lain, Akihiro memasukan tangannya ke dalam lubang di bagian perut. "Tapi... kenapa kau tidak menjahit yang robeknya, sih?"
"Eh! Masih mending aku mau membersihkan bajumu yang kotor itu, huuh!" bentak Mizuki. Lalu ia menggerutu, "Dasar tidak tahu diri!"
Mendengar Mizuki menggerutu, Akihiro malah tertawa. Lalu ia mencubit pipi Mizuki dengan gemasnya. "Haha... aku bercanda, Mizuki! Kau cepat sekali marah, sih...."
"Jangan sentuh aku, ah!" Mizuki menghempaskan tangannya. Lalu membuang muka. Akihiro terkejut. Tapi ia malah mengeluarkan senyumnya dan perasaannya semakin gemas saja dengan tingkah Mizuki yang sedang marah.
Mizuki juga ikut berbicara dengan dirinya sendiri di dalam hati. "Dian itu orangnya asik dan suka tersenyum. Membuat wajahnya semakin tampan saja. Dia juga tinggi dan... bisa dibilang pintar juga. Tapi dia itu anaknya nyebelin banget, ah!"
"Dian sama Mizuki itu cocok juga, ya?" bisik Rashino pada adik kembarnya. Nashira tertawa, lalu membalas bisikan Rashino, "Kalau mereka berpacaran pasti romantis banget"
"Hei! Kami tidak berpacaran tahu!" Tiba-tiba saja Mizuki dan Akihiro membentak si kembar bersamaan. Lalu mereka saling menunjuk. "Aku tidak menyukainya! Eh?"
Seketika wajah Mizuki dan Dian memerah. Mereka menurunkan tangannya lalu menyembunyikan tangan yang baru saja menunjuk itu ke belakang. Mereka berdua saling membuang muka lagi, tapi langkah mereka tetap bergerak maju ke depan.
"Kan... kalian berdua tersipu." Nashira tertawa kecil. "Iya! Kalian juga jadi salah tingkah tuh!" Rashino menimpali. Lalu setelah itu, si kembar melajukan langkahnya sambil tertawa.
"Di belakang ribut banget kayaknya, haduh..." Rei menghela nafas, lalu menggerutu. Dennis tertawa kecil dan menjawab, "Hehe... mereka sedang masa pubertas, Kak Rei. Biarkan saja."
Rei tersenyum sambil melirik ke arah Dennis. "Kau juga sedang masa pubertas, kan? Apa kau masih belum menemukan perempuan yang kau sukai?"
Dennis tersentak mendengarnya. Lalu dengan cepat ia menggeleng, "Ah! Pastinya belum, kak! Aku... tidak ada orang yang aku sukai."
"Oh, begitu, ya?"
"Emm... kalau Kak Rei?"
__ADS_1
"Aku tidak ada juga."
"Hmm..." Dennis mengangguk pelan. Lalu setelah itu ia terdiam. Sambil berjalan santai di pinggir jalan raya, Dennis dan teman-temannya tidak saling berbincang, apalagi mengeluarkan suara mereka sedikit saja.
Sampai akhirnya, mereka tiba juga di rumah Dennis....
****
"WOA! JADI INI RUMAHMU, DENNIS?!" Akihiro berteriak tepat di depan halaman Dennis yang luas. Semuanya juga terkejut. Mereka pada awalnya tidak percaya kalau rumah Dennis akan sebesar itu, tapi setelah melihat ibunya Dennis keluar dari dalam rumah, mereka baru percaya.
Setelah Dennis menginjak halaman rumahnya, dengan cepat ia langsung berlari menghampiri ibunya. Memberi salam dulu, lalu setelah itu ia langsung masuk ke dalam rumah.
"Eh? Ada apa dengan Dennis?" tanya Rei pada ibunya Dennis yang ada di depan teras setelah Rei mencium tangan Ibunya Dennis.
Ibunya Dennis tertawa kecil dan menjawab, "Ah~ itu biasa. Dennis takut dengan ****** milik tetangga sebelah. Karena dulu, dia pernah kegigit sama binatang itu. Makanya tiap masuk ke rumah, dia selalu terburu-buru karena tidak ingin melihat ****** itu lagi." Jelas Ibunya Dennis.
Semuanya mengangguk. Lalu Adel membawa Yuni masuk ke dalam rumahnya. Setelah itu, Ibunya Dennis membuka pintu depan lebar-lebar untuk membiarkan teman-temannya Dennis masuk. "Anggap saja rumah sendiri, ya? Kebetulan ada banyak kamar untuk kalian."
"Ah, terima kasih, Bu!" ucap Rei. Ia akan melepas sepatunya, lalu meletakkannya di rak sepatu yang sudah disediakan di samping pintu. Semuanya juga melakukan hal yang sama seperti Rei. Lalu setelah itu, mereka masuk secara perlahan ke dalam rumah Dennis.
"Dalamnya lumayan luas juga." Rei bergumam. "Rumahku beda sekali dengan ini."
Setelah Ibunya Dennis menutup pintu, beliau menuntun teman-temannya Dennis sampai di ruang tamu. Saat sampai di sana, mereka dipersilahkan duduk di atas sofa yang terbuat dari busa super lembut yang pasti harganya mahal.
"Nyaman sekali~" Dian menyandarkan kepalanya di sofa itu, lalu matanya melirik ke arah meja kaca yang ada di depannya. Dian melebarkan matanya karena ia melihat ada... beberapa cemilan enak di dalam kemasan yang tersedia di atas meja itu.
"Cemilannya...."
"Kalau Kak Dian mau, ambil saja." Ujar Dennis. Ia muncul dari dapur sambil membawa sebuah nampan yang diatasnya ada beberapa gelas berisi minuman segar. Dennis menaruh nampan itu di atas meja kaca, lalu setelah itu ia duduk di samping Rei.
"Maaf, ya? Cemilannya hanya ada segini." Ujar Dennis.
"Maaf kau bilang? Hei, ini banyak sekali, loh! Am~" Dian terkejut mendengarnya. Memangnya mau sebanyak apalagi cemilan yang akan disediakan oleh Dennis? Ah, intinya, kalau sudah ada Dian, pasti cemilan itu akan habis.
"Pelan-pelan kalau makan, tuh! Ini rumah orang. Tidak sopan!" bentak Mizuki setelah ia menepuk punggung Akihiro dengan kasar. Akihiro hampir tersedak dengan makanannya sendiri.
Dennis tertawa. "Ah, makan saja. Di sini juga tidak ada yang ingin memakannya."
"Kan? Kalau pemiliknya sudah mengizinkannya, jadi santai saja, sih...."
Akihiro kembali melanjutkan makannya. Semuanya tertawa senang kerena bisa berkumpul bersama di dalam rumah Dennis. Dan keesokan harinya, mereka akan pergi jalan-jalan bersama. Tapi untuk malam ini, mereka akan menginap di rumah Dennis terlebih dahulu sampai... Sekolah dimulai kembali!
*
*
*
__ADS_1
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8