
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
"Bu–bukannya dia itu... Ibu Villa yang katanya sudah mati?!" gumam Akihiro sambil menunjuk ke arah wanita yang berdiri di samping mayat Kai itu.
Rashino dan Adit langsung menoleh ke Akihiro dengan tampang terkejut mereka.
"Eh? Jadi dia si Ibu Villa itu?!" tanya Adit. Sebelumnya ia tidak pernah bertemu dengan Ibu Villa. Saat pertemuan pertama dengan keluarga pemilik Villa juga si Adit tidak datang karena dia lebih memilih duduk bersama Natsuki di depan daripada harus ikut berkumpul di dalam Villa.
Dalam kelompok Study Tour, hanya Adit saja dengan umur tertua. Makanya ia memutuskan untuk terus bersama Natsuki agar dianggap sebagai orang dewasa.
"Kau tidak tahu?" Rashino bertanya balik.
"Kan aku tidak pernah bertemu sebelumnya!" Adit tiba-tiba saja membentak Rashino dengan nada suara keras. Akihiro yang ada di samping Adit langsung bergegas menutup mulutnya agar tidak berisik lagi.
Tapi terlambat. Ibu Villa itu sempat mendengar suara Adit. Ia bergerak, lalu berbalik badan dengan cepat. Akihiro, Rashino dan Adit sangat terkejut dengan pergerakannya yang cepat.
Saat menengok, tatapan si Ibu Villa itu terlihat menyeramkan. Wajahnya penuh luka dengan kedua mata bolongnya yang terus mengalirkan darah. Lebih tepatnya, Ibu Villa itu sudah tidak memiliki mata lagi semenjak Zainal menusuk kedua matanya saat sedang menyiksanya.
"Ma–matanya..." Rashino terlihat ketakutan. "Apakah... dia masih bisa melihat kita dengan mata seperti itu?!"
"Entahlah. Sepertinya dia sudah seperti Zombie. Merasa buta, tapi pendengaran dan penciumannya masih tajam." Jelas Adit.
"Apa seharusnya kita bunuh dia sekarang?" Akihiro bertanya.
"Ta–tapi sekarang... di mana Zainal dengan yang lainnya? Kan mereka tidak menemukan Ibu Villa di kamar yang mereka bilang. Seharusnya mereka kemari untuk membantu kita, dong!" ujar Rashino.
"Aku tidak tahu." Akihiro menggeleng. Ia mulai bersiap di posisinya. Akihiro berniat akan merebut senapan yang Ibu Villa itu pegang. "Tapi sekarang, kita tidak bisa mengandalkan kedatangan mereka, kan? Seharusnya kita melawannya saja karena itu sudah tugas kita!"
"Ya! Aku ikut saja." Adit terlihat senang. Ia juga ingin ikut dengan Akihiro untuk melawan Ibu Villa yang terlihat sudah tidak berdaya itu.
"Ah, a–aku... aku juga... sepertinya... tidak bisa membantu... akh!"
__ADS_1
BRUK!
Akihiro dan Adit terkejut. Dengan cepat mereka langsung menoleh ke arah Rashino yang tiba-tiba jatuh tersungkur di depan mereka.
Dengan cepat, Akihiro berjongkok lalu membalikkan tubuh Rashino. Ia melihat ada sesuatu yang panjang menancap di dada Rashino. Akihiro mencabut benda yang menancap itu lalu memeriksanya. Bentuknya seperti Dart dengan ujung yang tajam yang dapat menusuk apa saja. Terlihat di dalamnya juga ada cairan bening yang Akihiro tidak ketahui cairan apa itu.
Tapi sebelum itu, ia berusaha untuk membangunkan Rashino yang tiba-tiba pingsan di depannya. Tapi tidak bisa. Rashino benar-benar sudah pulas dengan tidurnya.
"Eh, apakah ini..." Adit merebut Dart yang dipegang Akihiro itu. "I–ini kan... peluru bius–"
COK!
Adit tersentak. Tiba-tiba saja ada benda yang sama menancap di lengannya. Dengan cepat, Adit langsung melepas Dart yang menancap pada tubuhnya itu.
Seketika Adit merasakan pusing di kepalanya dan pandangannya jadi buram. Walaupun Adit sudah menjauhkan peluru yang menancap di lengannya, ia masih tetap merasakan pusing.
Tapi ia akan berusaha untuk menahannya. Ia berjongkok sambil menggenggam kepalanya untuk tetap menjaga kesadarannya.
Melihat serangan yang tiba-tiba muncul, Akihiro kembali berdiri. Ia melirik ke arah Ibu Villa yang sedari tadi selalu mengangkat senapan Laras panjang milik Kai itu.
Akihiro pikir, senapan itu memiliki peluru yang mematikan. Tapi ternyata hanya peluru yang dapat melumpuhkan lawannya seketika. Tapi walaupun begitu, Akihiro tidak boleh anggap enteng.
Kedua temannya sudah tidak bisa bergerak. Hanya dirinya saja yang dapat diandalkan untuk membunuh Ibu Villa sampai dia benar-benar mati.
Akihiro merasa ragu untuk maju. Ia tidak tahu apakah di dalam senapan itu masih ada peluru yang tersisah atau tidak. Jika ada, maka bisa saja Akihiro terkena peluru itu jika dia maju. Tapi kalau tidak ada, maka Akihiro bisa aman. Walau tidak akan mudah untuk mendekati Ibu Villa dan membunuhnya.
TRING!
Di saat dirinya sedang tegang, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Akihiro sangat terkejut. Bukan karena ponselnya yang berbunyi. Tapi karena pergerakan dari Ibu Villa itu.
"Eh?!" Akihiro melihat Ibu Villa itu mengarahkan senapannya ke Akihiro lalu menarik pelatuknya dan seketika peluru di dalamnya melesat dengan cepat. Akihiro akan menunduk untuk menghindar. Tapi terlambat.
Akihiro masih berdiri tegak. Matanya terpejam karena ia tidak ingin melihat peluru itu menancap di tubuhnya. Tapi tak lama, ada yang menyentuh pundak Akihiro dari belakang.
Dengan cepat, Akihiro langsung membuka matanya kembali dan melihat ada peluru bius itu yang nyaris ingin menancap di lehernya. Tapi tidak bisa karena ada tangan seseorang yang berhasil menangkap peluru tersebut.
Bukan menangkap, tapi orang itu membiarkan tangannya terkena peluru bius untuk melindungi Akihiro.
__ADS_1
Tak lama setelah peluru itu menancap, orang di belakang Akihiro itu langsung menjatuhkan tangannya ke bawah. Akihiro sangat terkejut karena tangan yang melindungi dirinya itu tiba-tiba saja terjatuh ke bawah dan berubah menjadi tangan buntung yang penuh dengan darah!
Akihiro terlihat tidak berekspresi setelah ia melihat tangan buntung yang jatuh itu. Tiba-tiba matanya jadi kosong dan wajahnya sedikit membiru seperti hendak ingin muntah dan pingsan.
Tapi hal itu sempat tertahan sejak Akihiro mengetahui siapa orang yang sebenarnya telah menyelamatkan itu.
"Kau baik-baik saja, Dian?" tanya Zainal yang muncul di belakangnya. Ternyata temannya itu!
Zainal, Ethan dan Davin akhirnya datang. Tangan yang digunakan Zainal tadi adalah tangan palsu yang ia temukan di dalam kamar berdarah tempat ia pernah membunuh Ibu Villa tapi tidak berhasil.
"Maaf, kami terlambat! Tadi ada sesuatu yang ingin kami periksa." Ucap Zainal pada Akihiro sambil membungkuk. Tak lama ia kembali berdiri tegak, lalu melirik tajam dengan mata kanannya ke arah Ibu Villa yang sedang berdiri diam di tengah lapangan.
"Ethan! Berikan tembakannya padaku!" perintah Zainal.
Ethan menurut. Ia menurunkan kotak yang ia bawa lalu mengeluarkan sebuah senapan api berupa pistol yang sudah diisi dengan peluru berukuran kecil.
Ethan melemparkan pistol itu pada Zainal, dan Zainal bisa menangkapnya. Walau sedikit berat, tapi ia bisa mengangkat senjata itu dan membibiknya dengan tepat.
Ia mengarahkan pistol itu ke kepala Ibu Villa dan berharap setelah orang itu terkena tembakannya, dia bisa segera mati.
"Kau yakin bisa menggunakan senjata itu, Zain?" tanya Akihiro pada teman di sebelahnya yang sudah fokus membibik sasarannya.
"Iya. Tenang saja."
"Ta–tapi nanti setelah peluru ditembakkan, kau akan terdorong ke belakang jika tidak kuat menahannya, loh!"
"Ah, sudahlah! Aku bisa melakukannya." Zainal tidak peduli. Ia sudah siap dengan senjatanya itu. Sekarang yang harus ia lakukan hanyalah menekan pelatuknya dan....
DOR!!
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8