
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
Malam harinya–
DRRTTT....
“Ngh,” Akihiro membuka mata. Ia yang sudah terlelap dalam mimpi, tiba-tiba saja terbangun karena merasakan getaran di bantalnya.
Dengan mata yang masih setengah menutup, Akihiro meraba bagian bawah bantalnya untuk mengambil ponsel miliknya.
Setelah Akihiro mendapatkan ponselnya itu, ia langsung membukanya dan melihat ke layar. Di layar, Akihiro melihat ada satu notifikasi message di ponselnya itu. Seketika ia terkejut. Karena ia pikir, dengan hilangnya sinyal di sekolahnya itu, ia tidak akan mendapat pesan Message di ponselnya.
Dengan cepat, Akihiro langsung menekan pesan Message itu dan membacanya. Ia berharap, pesan itu berasal dari orang luar. Dengan begitu, dia akan bisa mencari bala bantuan. Tapi ternyata....
Pesan Message itu berasal dari orang yang tidak Akihiro kenal. Nomor ponsel orang yang mengirim pesan itu juga tidak Akihiro kenal. Ia tidak memiliki kontak yang bernomor seperti itu. Nomor terakhirnya adalah 0777.
Ah, langsung saja Akihiro membacanya. Ia tidak peduli pesan itu dari siapa. [ Keluarlah dari kamar. Ada yang memberikanmu surat. ] itulah isi pesan yang ia dapat.
Akihiro sedikit bingung. Akihiro bangun terduduk. Lalu tak lama ia terkejut setelah melihat tanda si pengirim pesan. Tertanda kalau pesan itu berasal dari...
“Terror Internet.”
“Te–terror internet ini, kan... Tunggu!” Akihiro bergumam sambil memikirkan sesuatu. “Tadi di sini dikatakan kalau... Aku harus keluar dari kamar, karena ada surat di sana. Hmm....”
Akihiro mengangguk. Ia meletakan ponselnya di samping tubuhnya, lalu setelah itu Akihiro turun dari tempat tidurnya dan langsung beranjak dari sana. Ia mendekati pintu kamar.
Pada awalnya ia agak ragu dan merasa takut untuk membuka pintu kamarnya sendiri. Tapi karena dia penasaran, maka langsung saja Akihiro membuka pintu yang ada di depannya itu.
KRIIEEETT....
Setelah pintu terbuka, Akihiro tidak melihat siapapun di dekat kamarnya. Semuanya kosong dan sangat sepi. Tapi lampu di lorong kamarnya itu masih menyala. Akihiro menunduk dan melirik ke bawah. Ia menemukan sesuatu.
Sebuah kertas putih yang tergeletak di dekat kakinya. Secara perlahan, Akihiro mengambil kertas itu dan merabanya dengan jempol. “Ini suratnya? Tapi dari siapa?” gumam Akihiro.
Tanpa membuang waktu lagi, Akihiro kembali berdiri dan berbalik badan. Ia masuk ke dalam kamarnya lagi dan tak lupa juga menutup pintu. Setelah itu, ia kembali duduk di pinggir tempat tidur sambil membuka amplop yang berisi surat itu.
Saat Akihiro membuka lipatan secarik kertas di tangannya itu, ia melihat tulisan yang tertulis di kertas. Kertas itu ditulis dengan huruf kapital semua. “Wah~ ini yang nulis kayaknya orangnya suka nge-Gas deh.” Gumam Akihiro sambil membaca kata-kata yang ada di surat itu.
Tapi saat ia membaca di pertengahan kata, tiba-tiba saja Akihiro terkejut. Lalu tanpa sengaja, ia menjatuhkan kertas yang ia pegang ke lantai. Padahal dia belum selesai membacanya.
Ada apa dengan surat itu? Kenapa Akihiro terlihat sangat takut saat membacanya?
__ADS_1
"Ke–kenapa...?! Kenapa?! Bagaimana dia bisa tahu? Oh tidak! Ini gawat!!" Akihiro panik. Ia berusaha untuk menyingkirkan kertas yang ada di bawah kasurnya itu dengan cara menendangnya jauh-jauh.
Setelah itu, Akihiro kembali menaiki tempat tidurnya. Ia duduk dipojokan. Masih dengan tampang wajah terkejut yang Akihiro keluarkan. Ia masih memikirkan soal tulisan yang ada di dalam kertas yang ternyata dikirim langsung dari....
"Kakak dan Ibuku. Apa yang harus aku lakukan? Mereka tidak boleh tahu aku ada di sini! Tapi..." Akihiro menunduk. Ia menjambak rambutnya sendiri dan mengacak-acak rambutnya itu. "Tapi mereka... sudah tahu letak sekolah ini dan mereka akan datang!"
"Aku harus bagaimana? Aku tidak ingin bertemu dengan mereka. Aku tidak mau! Tidak...."
Setelah lama bergumam-gumam sendiri, tanpa sadar, Akihiro kembali menutup mata dan tertidur dalam posisi masih duduk di pojokan. Entah apa yang telah membuat dirinya jadi ketakutan seperti itu....
****
Pagi harinya–
TOK! TOK!
Suara ketukan pintu kamar Akihiro. Suara ketukan itu terdengar dari depan kamar. Ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah Rei. Rei dan Dennis datang untuk menyampar temannya.
TOK TOK TOK!
"Dian! Hei... kau sudah siap belum? Kita akan pergi sekarang!" teriak Rei dari depan kamarnya. Tapi ternyata tidak ada jawaban dari dalam kamar Akihiro.
Dennis menggeleng pelan, lalu melirik ke arah jam tangannya. Ia sedikit melebarkan mata karena terkejut. Lalu ia memperlihatkan jam tangannya itu pada Rei. "Kak Rei! Kita sudah hampir mau terlambat, loh! Sudah mau jam 7. Mana Kak Dian?"
Rei menggeleng. "Entahlah. Kok tidak ada jawaban, ya?" gumam Rei.
"Ah, benarkah? Benar-benar tuh anak! Tidak mau menunggu temannya. Akan ku telpon dia sekarang!" gerutu Rei sambil mengetik-ngetik ponselnya. Setelah ia menemukan nomor Akihiro, langsung saja dia menghubungi temannya itu.
TUUUT~ TUUUT~~
Tulisannya sudah "menghubungkan". Sekarang tinggal menunggu Akihiro mengangkat telepon dari Rei itu. Rei dan Dennis masih menunggu di depan kamar Akihiro. Tadinya mereka ingin pergi meninggalkan kamar Akihiro. Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja....
TRINING! TRINING!
Rei dan Dennis mendengar suara nada dering ponsel Akihiro dari dalam kamarnya. "Loh? Kak Dian tidak membawa ponselnya, kah?" tanya Dennis pada Rei.
"Atau jangan-jangan... anak itu masih ada di dalam kamarnya?" Rei melebarkan matanya. Tiba-tiba saja perasaan tidak enak tentang Akihiro muncul di benaknya. Lalu dengan cepat, langsung saja Rei mendobrak pintu Akihiro sampai terbuka.
Rei dan Dennis masuk ke dalam dan terkejut. Mereka melihat Akihiro terduduk di pojokan dalam keadaan tak sadar. Rei menghampiri Akihiro untuk memeriksa keadaannya. Tadinya Dennis juga ingin begitu, tapi ia menginjak sesuatu di bawah kakinya.
Dennis melirik ke bawah, lalu membungkuk untuk mengambil benda yang ia injak itu. Ternyata sebuah kertas dengan tulisan kapital. Itu surat yang semalam dibaca Akihiro. Dan sekarang, Dennis yang akan mencoba untuk membaca surat itu.
"Dian! Dian! Kau kenapa? Hei, bangunlah!" Rei terus menggoyangkan tubuh Akihiro untuk membangunkannya. Ia semakin cemas dengan keadaan temannya itu. Wajah Akihiro memerah dan suhu tubuhnya terasa sangat panas. Ia sakit, kah?
"Eh, kok ngomongnya kasar begini?" Dennis bergumam setelah ia membaca semua tulisan di dalam kertas yang ia pegang itu. Rei sempat mendengar gumaman Dennis. Ia menengok ke belakang dan bertanya, "Kertas apa yang kau pegang itu?"
Dennis tersentak. Ia menunjukan kertas yang baru saja ia baca pada Rei dan menjawab, "Entahlah. Tapi di sini tertulis nama Kak Dian."
__ADS_1
Rei sedikit meneleng dan menyipitkan matanya. Ia meminta kertas itu. Dennis memberikannya. Langsung saja Rei membaca kertasnya. Ia membaca di dalam hati.
"Sudah lama Lo kabur dari rumah. Berani juga, lu! Lu tau gak sih? Gw udah nyari lu ke mana-mana dan akhirnya gw bisa juga nemuin lu. Selama ini lu ternyata ada di sekolah baru, ya? Hebat juga bisa nyari tempat persembunyian yang bagus. Tapi sekarang, lu ga bisa sembunyi dari gw lagi. Lu harus pulang sekarang juga, atau gw yang akan datang ke tempat lu! Tunggu di sana dan jangan ke mana-mana. Karena gw bakal bawa lu pulang dan kita... bisa bermain bersama lagi, ya?~ Dian... anak perempuan ibu... Ibu akan datang menjemputmu, ya?"
Rei mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti dengan tulisan yang ia baca dalam secarik kertas yang ia pegang itu. Tanpa sengaja, matanya melirik ke arah Akihiro dan terkejut. Ia mengingat sesuatu.
"Kenapa kamu ada di luar? Lagi main ujan-ujanan, ya?"
"Tolong aku. Ibuku mau membunuhku!"
"Akh!" Rei tiba-tiba saja berteriak. Ia mencengkram kepalanya sendiri. Dennis terkejut. Ia menghampiri Rei dan bertanya, "Ka–Kak Rei kenapa?!"
"Ah, tidak apa-apa. Aku... hanya mengingat kejadian saat Dian datang ke sekolah ini."
"Eh, memangnya apa yang terjadi?"
"Dulu... saat aku masih berumur 11 tahun, Akihiro datang ke sekolah ini dalam keadaan yang penuh luka. Ia mengaku kalau dirinya telah disiksa oleh keluarganya sendiri."
Dennis terkejut mendengarnya. Ia tidak berani untuk menjawab. Rei pun melanjutkan. Ia melirik ke arah kertas surat yang ia pegang lalu berkata, "Kertas ini adalah surat yang dikirim langsung dari keluarga Dian. Di sini diberitahu kalau keluarganya telah berhasil menemukan Dian dan... mereka ingin... membawa Dian kembali pulang ke rumahnya."
"Oh tidak! Jangan sampai. Jika Akihiro kembali pada keluarganya, maka ia akan–"
"Dian akan merasakan penderitaannya lagi. Dia tidak akan tahan dengan hal itu." Rei menyela. Ia melirik ke arah Akihiro dan bergumam, "Dian sakit karena memikirkan hal ini. Dia pasti sangat ketakutan."
"Eh, dia sakit? Perasaan kemarin masih sehat-sehat saja."
"Kau tidak tahu penderitaannya. Dia sangat membenci keluarganya. Makanya, sampai sekarang dia enggan untuk berpergian jauh dan sedari dulu, Dian tidak pernah ingin mengambil foto dirinya sendiri. Bukan karena dia tidak gaul. Tapi... tujuan dia membenci foto adalah untuk menyembunyikan dirinya dari dunia luar. Dengan begitu, semua keluarganya yang ada di luar tidak akan bisa melacak keberadaan Dian." Jelas Rei.
Dennis mengangguk paham. Lalu ia kembali bertanya pada Rei, "Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan pada Kak Dian? Meninggalkannya? Kan kita juga harus ke kelas!"
"Kita bawa dia ke UKS. Dan untuk hari ini, dia tidak boleh ikut Ujian untuk hari ini. Kita bisa minta–"
"Tidak. Aku... ingin terus mengikuti Ujian ini."
Rei dan Dennis terkejut. Akihiro kembali membuka mata walau tidak sepenuhnya. Ia kembali tersadar dan berkata kalau dirinya tetap ingin ikut Ujian dalam keadaanya yang tidak sehat.
"Tidak bisa! Stamina mu kurang! Dan fisikmu akan melemah jika ikut Ujian ini!" tegas Rei.
Akihiro menggeleng pelan. "Tidak. Aku ingin tetap mengikutinya. Agar... Kakak dan Ibuku tidak bisa menemukan aku di sini."
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8