
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
Semua murid kembali ke dunia mengerikan, tempat mereka akan memulai Ujian di hari kedua mereka. Mata pelajaran hari ini adalah, IPA. Tantangan apa yang akan diberikan oleh Pak Bob?
****
"Huwaaa~ Tadi pagi aku belum sempat sarapan. Aku lapar, tahu!" Akihiro mengeluh sambil mengelus-elus perutnya. Lalu ia menengok ke arah Mizuki dan bertanya, "Zuki... kau membawa cemilan Poky-mu, tidak?"
Mizuki menggeleng. "Tidak untuk di sini."
"Eh, apa maksudmu?"
"Ya... untuk di tempat seperti ini, aku tidak membawanya. Tapi sebenarnya... ada satu bungkus Poky yang belum kubuka di bawah mejaku."
"Haaah?! Kenapa kau tidak membawanya ke sini? Kan kalau kau tidak mau buat aku saja."
"Apaan sih?! Mana bisa aku bawa ke sini!"
"Huuh~"
Akihiro terdiam dan berhenti merengek. Lalu setelah itu, Mizuki berlari kecil mendekati Rei agar dirinya tidak bisa diganggu oleh ocehan Akihiro lagi.
Saat ini, semua murid sedang berjalan menuju ke tempat ujian yang sudah diberitahukan oleh Pak Bob. Mereka hanya tinggal lurus ke depan jalan sana saja. Lalu tak lama kemudian, mereka semua melihat ada banyaknya kumpulan kabut yang tebal. Untuk sementara, mereka semua berhenti sejenak karena mereka tidak tahu kabut itu aman untuk dilewati atau tidak.
Saat Pak Bob melihat semua peserta ujian itu berhenti di tengah jalan, ia langsung mengumumkan sesuatu. [ Kalian harus terus lurus saja ke depan. Tenang saja. Belum ada apa-apa kok di sana! ]
Pada awalnya semua agak ragu untuk melewati kabut itu. Tapi... karena arahan dari salah satu anak yang bernama Ethan dari kelas tertua, yaitu kelas 3-C, akhirnya mereka semua mau mengikuti si Ethan itu.
Karena... tampang Ethan memang seperti orang yang terlihat tegas dan penuh tanggung jawab. Ia juga dikenal memiliki sifat kepemimpinan yang kuat.
"Perhatian! Kalian semua, jangan takut! Kita bersama-sama akan melewati jalan ini! Jadi tolong jangan ada yang berpisah! Tetap dekat dengan teman kalian!" teriak Ethan memperingati semua teman-temannya. Semua murid mengangguk paham. Mereka saling mendekat dengan teman sebelah yang mereka kenal. Lalu setelah itu, mereka semua kembali melangkahkan kaki untuk pergi mengikuti arahan dan langkah dari Ethan yang sedang memimpin di depan.
__ADS_1
Saat ini, Dennis berada dekat sekali dengan Rei. Ia selalu berusaha untuk melupakan mimpi buruknya. Tapi ternyata sulit sekali. Dan ada sesuatu yang membingungkan di dalam mimpinya itu.
Di dalam mimpinya, Dennis melihat seorang perempuan berambut pendek yang tiba-tiba saja menarik dirinya ke belakang saat Dennis ingin menyelamatkan teman-temannya yang sedang dalam bahaya.
"Gadis berambut pendek itu..." Dennis bergumam sambil mengerutkan keningnya. Ia menggenggam tangannya erat dan terus berpikir tentang gadis itu.
"Eh? Gadis berambut pendek?" tanya Rei mengejutkan Dennis. Sontak Dennis langsung menengok ke arah Rei. "Eh? Kak Rei tahu tentang gadis itu?"
"Tunggu! Apa kau melihat gadis itu juga?" tanya Rei balik.b
"Eh? Entahlah. Dia muncul di mimpiku. Memangnya kenapa?"
"Ada yang aneh dengan gadis itu. Aku juga melihat dia. Tapi aku tidak mengenal dirinya. Kau tahu? Kenapa aku masih bisa selamat saat diriku terjebak di dalam duri-duri tajam yang kemarin itu?" tanya Rei.
Dennis tersentak. Ia menggeleng pelan. "Oh iya. Kenapa? Apa ada hubungannya dengan gadis itu?"
Rei mengangguk ragu. Ia merasa tidak yakin, tapi Rei akan menjelaskannya. "Saat aku sedang berlari menghampiri kalian semua, kan aku tidak sempat sampai ke tempat kalian karena waktu habis. Tapi... saat waktu di detik ke-4, tiba-tiba saja ada yang membisikan aku sesuatu. Orang itu berkata, 'Berhentilah!'. Suaranya tepat di depan telingaku. Aku pun menurutinya. Aku langsung menghentikan pergerakanku dan tetap berposisi seperti orang yang sedang berlari. Hanya saja, aku tetap berdiri dengan dua kaki untuk keseimbanganku."
"Oh, benarkah? Siapa yang telah membisikan kakak untuk berhenti?" tanya Dennis penasaran.
Rei menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi setelah posisi berhenti kulakukan, tiba-tiba saja semua duri-duri tajam itu muncul. Salah satunya tepat berada di depan wajahku. Dan ajaibnya, seluruh tubuhku tidak terkena duri-duri itu. Tapi... yang ada malah lenganku saja yang terkena duri itu. Aku berusaha untuk tidak bergerak sambil menahan rasa sakitnya. Dan tak lama kemudian, aku melihat ada sosok seorang gadis berambut pendek itu berdiri tak jauh di depanku. Aku agak bingung dengan gadis itu. Dia siapa? Dan... kenapa dia tidak terkena duri-duri itu? Padahal... dirinya masih berdiri di lingkungan yang tidak aman." Jelas Rei.
"Entahlah. Tapi... yang sedang ada di pikiranku saat ini, sepertinya gadis itu adalah penghuni asli dunia ini yang memiliki hati yang baik. Karena... tanpa bisikan dari dia, mungkin aku sudah...."
Dennis melebarkan matanya. Lalu ia kembali menundukkan kepala dan berpikir. "Yakin gadis itu adalah si penolong di dalam dunia ini? Tapi... kenapa di mimpiku, gadis itu malah mencegahku untuk menyelamatkan teman-temanku?"
"Eh? Semuanya berhenti! Kita sudah sampai!" Ethan kembali berteriak pada semua. Saat ini, tempat mereka berada sudah tidak tertutupi oleh kabut dan akhirnya jarak pandang pun dapat terlihat kembali.
Mereka semua berhenti karena di depan mereka ada sebuah terowongan yang gelap. Selain terowongan itu, tidak ada jalan lain. Apakah mereka harus melewati terowongan itu? Apa jangan-jangan... tempat itulah yang akan menjadi tempat Ujian mereka dimulai?
[ Wah~ Sepertinya semua sudah sampai, ya? ]
"Iya! Sekarang apa yang harus kami lakukan?!" teriak Ethan.
[ Tentu saja kalian akan memulai Ujian kalian yang sebenarnya di dalam... terowongan itu! ]
[ Selamat datang di Tunnel Park. Sesuai dengan namanya, terowongan ini bukan berisi taman yang menyenangkan seperti yang ada di dalam pikiran kalian. Tapi... di dalam kamar itu terdapat beberapa tanaman yang indah. Syaratnya, kalian hanya harus bisa melewati terowongan itu sampai ujungnya. Jika berhasil, maka kalian bisa kembali ke kelas. ] jelas Pak Bob.
__ADS_1
Semuanya mengangguk paham. Mereka agak menganggap remeh ujian yang kali ini. Karena... menurut mereka, hanya dengan harus melewati terowongan yang gelap itu saja pasti mudah. Tapi... mereka tidak tahu bahaya apa yang akan ada di dalam terowongan itu. Tidak mungkin Pak Bob memberikan jalan keluar dari dunianya dengan mudah.
"Semuanya! Kita pergi bersama. Jangan ada yang berpisah, ya?" tegas Rei pada semua kelompoknya. Dennis, Adel, Yuni, Akihiro, Mizuki, Rashino dan Nashira mengangguk paham. Mereka berdelapan berjalan dengan jarak yang cukup dekat karena mereka akan terus bersama dan saling melindungi.
Semuanya sudah masuk ke dalam terowongan. Kecuali kelompoknya Dennis. Karena mereka memutuskan untuk bergerak paling terakhir.
Setelah semuanya masuk, Rei meminta semuanya untuk masuk juga ke dalam terowongan itu. Tetap bersama, selalu waspada dan hati-hati. Karena... mereka tidak tahu bahaya apa yang akan muncul di depan atau di belakang mereka.
Semakin masuk ke dalam, semakin gelap saja. Yang terlihat hanya cahaya kecil yang ada di depan mereka. Semuanya pikir, itu adalah cahaya dari ujung terowongan. Yaitu jalan keluar mereka. Tapi ternyata... saat diperhatikan baik-baik... cahaya itu seperti bergerak sendiri.
Seorang gadis dari kelas terbawah, tiba-tiba saja berlari dengan cerobohnya pergi menghampiri cahaya itu. Ethan sudah berusaha untuk mengingatkan gadis itu agar jangan mendekati cahaya itu. Tapi gadis itu tidak mau mendengarkan dan terus saja berlari.
"Cahayanya indah sekali dan semakin besar! Aku yakin itu pasti pintu keluarnya! Kita bisa keluar dari–"
JLEB!
Semuanya terkejut. Begitu juga si gadis kecil yang malang itu. Dia tiba-tiba saja terjatuh dan... kepalanya mengeluarkan darah karena tertusuk oleh sesuatu. Saat gadis itu berbalik badan dan kembali menghadap ke arah teman-temannya semuanya langsung terkejut dan merasa ketakutan.
Karena sesuatu yang telah menusuk kepala si gadis itu dari belakang telah menusuk sampai menembus kepala si gadis kecil itu. Benda yang telah menusuk kepalanya itu terlihat seperti tentakel yang berwarna coklat dan menggeliat.
Tentakel coklat itu semakin menusuk kepala si gadis itu semakin dalam. Lalu tak lama kemudian, bagian belakang tentakel itu menggeliat dan secara perlahan tiba-tiba saja tubuh si gadis itu jadi keriput dan semakin mengecil. Gadis kecil itu sudah tidak bisa berbicara. Bahkan kalau diperhatikan, dia sepertinya sudah mati.
Tubuhnya semakin kurus dan kempis. Sampai akhirnya... yang terbentuk di tubuh gadis itu hanya tengkoraknya saja. Semuanya menduga kalau tentakel itu telah menghisap darah dan daging si gadis malang itu.
Setelah tentakel itu menjatuhkan tubuh si gadis yang sudah tidak berisi itu ke tanah, tiba-tiba saja ada seseorang yang berteriak ketakutan. Dan seketika... tanah pun bergetar dan mereka melihat sesuatu yang bergerak di dekat mereka.
Semuanya langsung membuka ponselnya masing-masing untuk mendapatkan penerangan dari layar ponsel. Saat itulah... mereka bisa melihat makhluk aneh yang sudah muncul di depan, samping serta di belakang mereka.
Beberapa tanaman raksasa yang tumbuh dan dapat bergerak. Wujudnya seperti monster yang haus darah dan pemakan daging. Entah mereka jenis tanaman apa. Tapi di mata Dennis, nama tanaman itu tidak asing. Ia juga terkejut melihatnya.
"Bu–bukankah mereka semua ini adalah jenis tanaman karnivora?! Dan... kenapa semuanya berukuran raksasa?!" panik Dennis dalam hati.
*
*
*
__ADS_1
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8