
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
Malam harinya–
Seperti biasa, saat ini di rumah tempat tinggal keluarga Dennis, semuanya sedang berkumpul di ruang Televisi untuk menonton film bersama.
Semuanya duduk di bawah sofa dengan karpet lembut berbulu itu. Kecuali Rei dengan Dennis yang sedang duduk bersama di atas sofa. Tapi yang tidak ada di sana hanya Ibunya Dennis dengan Yuni. Entah mereka berdua sedang ada di mana saat ini.
Malam ini, semuanya sedang menonton film horror yang ada di channel bernama BTv. Biasanya, setiap jam lewat 9 malam, channel itu selalu menayangkan film horror apapun. Mau dari dalam negeri atau dari luar negeri.
Malam ini, BTv sedang menayangkan film horror tentang hantu yang ingin balas dendam karena semasa hidupnya ia selalu disiksa. Hantu itu masih ada di dunia karena ia ingin mencari barang miliknya yang tertinggal di dunia semasa hidupnya dulu.
Menurut Dennis dengan yang lainnya, film itu lumayan seram. Tapi kalau menurut Rei... biasa saja. Dia tidak bersikap seperti yang lainnya.
Selama menonton film horror itu, semuanya selalu menutupi setengah wajah mereka dengan bantal. Kalau Dennis bersembunyi dibalik tubuhnya Rei. Sementara Rei hanya bisa diam saja selama Dennis selalu menarik-narik tubuhnya itu.
[Jadi selama ini, kamu menyembunyikan ini dariku? Tidak bisa dibiarkan! ]
"UWAAA! Seharusnya kau kabur, bodoh! Hantu itu mengejarmu, tau!" Akihiro berteriak pada film yang ia tonton itu. Adegan saat ini memperlihatkan sesosok hantu yang sedang mengejar si pemeran utamanya. Yang membuat Akihiro kesal itu karena si pemeran utamanya diam saja dan tidak mau kabur.
"Ah! Dasar drama! Lari woy! Udah tau ada bahaya!" Akihiro Kembali berteriak. "Eh, kok ngeyel, sih!? Lari! Nanti ketangkap sama hantu itu, loh! Gak liat apa? Dia mau bunuh kamu tau!"
"Dian! Jangan berisik!" bentak Mizuki yang sudah merasa geram dengan ocehan Akihiro yang mengganggu itu.
"Habisnya film ini bikin kesal saja. Pemeran utamanya payah!"
"Itu kan sudah diatur oleh sutradaranya! Biarkan saja. Film horror memang suka memancing emosi para penontonnya!"
Akihiro terdiam. Lalu ia kembali fokus menonton film horror itu. Sebenarnya Akihiro sedikit takut saat adegan itu sedang berlangsung. Ia selalu menutup wajahnya dengan bantal, karena ia tidak ingin melihat adegan itu. Tapi ia juga penasaran dengan cerita horror di film itu. Bagaimana, sih?! Takut tapi bikin penasaran. Biasa... namanya juga film horror!
[ Tidak! Jangan mendekat! Kumohon! Jangan mendekat! ]
__ADS_1
[ BUNUH! BUNUH! HIII~ HI HI HI HI.... ]
Hantu di film itu mulai menunjukan sosoknya. Seketika, film horror itu telah membuat takut dan merinding untuk para penontonnya. Karena wajah hantu itu benar-benar mengerikan.
Saat ini, hantu dengan mulut besar yang terbuka dengan bibirnya yang terlihat robek karena lebarnya rongga mulut hantu itu sudah memojokkan korbannya untuk ia makan. Sangking besarnya mulutnya itu, mungkin hantu itu bisa melahap kepala manusia sekaligus.
Hantu itu mulai membuka mulutnya lebar-lebar. Menganga dan terlihat jadi sangat menyeramkan dengan banyaknya darah yang terdapat pada gigi-gigi taring dan gerahamnya.
[ KYAAAAA! ]
KRAUKS! KRAUK!
Darah bermuncratan ke mana-mana. Kamera tv nya dipenuhi darah yang keluar dari dalam mulut hantu itu. Adegannya benar-benar mengerikan. Hantu itu benar-benar telah menggigit korbannya dengan mulutnya yang besar. Lalu dengan cepat, hantu itu menarik kepala si korban sampai terpisah dari tubuhnya.
"Ukh!" Akihiro masih terlihat kesal dengan tokoh yang tidak mau lari saat ia sedang dalam bahaya itu. Dan akhirnya, si pemeran itu malah terbunuh oleh hantunya.
"Auww... i–itu sangat menjijikan!" Mizuki merasa ingin muntah dan tubuhnya jadi merasa merinding setelah melihat adegan yang mengerikan tanpa sensor itu.
"Huwaaa! Kasihan wanita itu jadi kena makan sama hantunya!" Adel sedikit mengeluarkan air mata karena ia merasa sedih. Karakter yang ada di dalam film itu mati karena dibunuh oleh hantunya.
"Tidak! Aku tidak melihat itu. Aku tidak lihat!" Dennis terus menarik-narik tubuh Rei yang ada di sampingnya untuk menutupi pandangannya itu agar tidak bisa melihat ke arah Tv.
"Ya ampun... temanku ini kenapa?" geram Rei dalam hati. Kalau Rei terlihat biasa saja. Karena ia tidak ada rasa takut apapun saat menonton film horror itu. Yang ia rasakan adalah perasaan sedikit kesal karena Dennis selalu menarik-narik tubuhnya itu.
"Bisa gak sih aku nonton film ini dengan tenang?" Lanjut Rei dalam hati. Dengan sabar, ia pun membiarkan Dennis memainkan tubuhnya itu.
"Film yang membosankan. Entah apa yang telah membuat mereka semua jadi lebay seperti ini? Ketakutan mereka terlalu berlebihan. Padahal film itu tidak seram sama sekali, loh!" gerutu Rei dalam hati lagi.
Lalu tak lama setelah ia puas menggerutu karena kekesalannya itu, Rei menengok ke samping kanannya karena ia merasa ada yang menyentuh pundaknya.
"Mereka ini pada kenapa, ya? Dari tadi berisik amat."
Rei melebarkan matanya, lalu dengan cepat ia pun melompat dari atas sofa. Ia terlihat terkejut bukan main. Karena saat Rei menengok, tiba-tiba saja di sampingnya itu muncul sosok Yuni yang sedang menatap Rei dengan wajah datarnya yang dianggap menyeramkan itu.
Dennis juga ikut terkejut karena tiba-tiba saja Rei melompat dari sofa. "Kak Rei? Kau kenapa?" tanya Dennis heran.
Rei terduduk di bawah sofa sambil mengelus dadanya secara perlahan untuk menenangkan dirinya itu. "Sial! Ternyata tampang Yuni itu lebih mengerikan daripada film horror yang sekarang ini aku sedang tonton." Katanya dalam hati.
__ADS_1
Yuni yang masih menatap Rei pun terkejut ketika Rei berkata seperti itu di dalam hatinya. "Eh? Memangnya aku menyeramkan, ya?" tanya Yuni datar.
Rei tersentak. "O–oh iya! Aku lupa kalau dia bisa membaca pikiranku!"
"Emm... tidak juga. Tadi aku hanya terkejut sedikit saja." Jawab Rei sambil kembali berdiri lalu duduk di tempatnya kembali.
"Kalau sedikit, kok tadi sampai terjatuh seperti itu?" tanya Yuni lagi.
"Ah, tidak! Aku hanya ingin berwaspada saja. Aku pikir tadi ada hantu yang ingin menyerangku. Makanya dengan cepat aku siap siaga dan langsung melompat dari sofa ini. Begitu." Jelas Rei dengan gayanya.
"Oh begitu." Yuni mempercayainya. Lalu ia mengibaskan tangannya untuk memberi isyarat pada Rei kalau Rei itu harus ikut dengannya.
Rei menelengkan kepalanya. "Ada apa?" bisiknya.
"Ikut aku sebentar. Ada yang ingin kuberitahu." Yuni mengajak. Rei mengiyakan ajakan Yuni. Lalu ia pun beranjak dari sofa dan ikut pergi bersama Yuni.
"Ka–kak Rei mau ke mana?" tanya Dennis. "Aku boleh ikut?"
"Tidak usah. Kau di sini saja. Ini urusan kami berdua." Jawab Yuni pelan. Lalu setelah itu, Yuni dan Rei kembali berjalan memasuki ruang menuju dapur. Entah apa yang akan mereka lakukan di sana.
"Mereka berdua mau ngapain, ya?" pikir Dennis dalam hati.
"Haduh... kalau Kak Rei pergi, aku ingin minta perlindungan sama siapa, nih?" Dennis melirik ke sekitar. Lalu lirikannya terhenti saat ia menatap Akihiro yang sedang duduk di atas karpet tak jauh dari tempatnya berada.
"Oh, aku bisa berlindung dibalik tubuh Akihiro saja!"
Dennis... seharusnya kalau kau takut, lebih baik kau tidak usah menonton film horror itu lagi, deh!
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8
__ADS_1