Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 34– Penjelasan


__ADS_3

Keesokan harinya–


PIP PIP! PIP PIP! PIP....


Denni menggerakkan tangannya untuk mematikan alarm yang berisik di ponselnya. Ia membuka mata, melihat langit-langit kamarnya. Kamarnya yang saat ini ia tempati adalah kamar di dalam rumah Neneknya. Ia akan tinggal di sana untuk sementara bersama dengan kedua orang tuanya juga.


Semenjak kejadian yang kemarin di sekolahnya, untuk sementara sekolah diliburkan dan semua murid di dalamnya diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya masing-masing.


"Pada akhirnya... kembali tidur dengan aman. Tapi... pagi ini seperti ada yang kurang." Gumam Dennis. Lalu ia mengangkat lengannya dan meletakkannya ke atas dahinya.


Lalu mata Dennis melirik ke sampingnya. Di dalam matanya, ia bisa melihat bayangan sosok Rei. Biasanya... setiap pagi Rei suka membangunkan Dennis dengan paksa, kadang mengajak bercanda, lalu mengajak Dennis pergi mandi bersama dan pergi ke kelas.


Kenangan yang menyenangkan. Tapi saat ini, Rei sudah tidak ada di dekatnya lagi. Dennis merasa sedih karena sahabat dekatnya itu dan juga sama larangan orang tuanya.


Karena kesehatan Dennis yang masih belum pulih, Dennis dilarang untuk keluar rumah. Padahal dia ingin menjenguk sahabatnya itu di rumah sakit.


"Hah, maaf aku belum bisa menemuimu, Kak Rei." Dennis bergumam, lalu ia pun bangun terduduk. "Aku harap kau bisa baik-baik saja, kak!"


Dennis akan beranjak dari tempat tidurnya. Tapi saat baru saja Dennis melangkah, tiba-tiba saja ia menginjak sesuatu yang mengeluarkan suara teriakan seseorang.


Karena terkejut, Dennis kembali melompat naik ke atas tempat tidurnya. Lalu secara perlahan, ia melirik ke bawah tempat tidurnya.


"Si–siapa di bawah sana?"


"Siapa lagi?! Ini aku... aduh sakit tau kakiku."


"Eh?! Ka–kak Dian?"


Seseorang muncul dari bawah tempat tidur. Ya. Lelaki berambut coklat itu. Dia teman seumuran Dennis yang selalu mengaku dia lebih tua dari Dennis. Dia Akihiro Daisuke atau nama lainnya Dian Syahputra.


"Eh! Kak Dian kenapa ada di kamarku?" tanya Dennis.


"Kenapa apanya? Aku sudah semalaman di sini. Kau sudah tahu belum? Diana sudah mati, loh!"


"Eh? Benarkah?! Dia berhasil dibunuh oleh siapa?"


Akihiro berdiri, lalu ia duduk di pinggir tempat tidurnya. Dennis juga duduk di samping Akihiro.


"Dia... eh, sebenarnya aku juga tidak tahu, hehe..." Akihiro tertawa kecil sambil memainkan rambutnya.


"Lah?!"


"Tapi... yang kudengar dari Mizuki, katanya kalau Diana itu mati bukan karena dibunuh. Tapi dia sendiri yang bunuh diri." Jawab Akihiro.


"Oh jadi begitu. Lalu kenapa... kenapa kakak tidak tahu kematiannya Diana itu bagaimana? Kan kakak sendiri juga melihatnya, bukan?" tanya Dennis lagi.


"Aku hanya melihat Diana sekilas. Tapi karena aku diserang oleh hantu-hantu yang Diana keluarkan, eh aku malah kalah duluan. Jadinya aku tidak tahu. Itu juga gara-gara kecerobohan aku lagi, sih, hehe...."


"Oh... lalu luka itu kenapa? Kakak diserang sama Diana, kah?" Dennis bertanya kembali sambil menunjuk ke dahi Akihiro yang diperban.


"Oh ini? Ini yang ku ceritakan tadi. Aku kan sudah bilang kalau aku diserang oleh Hantu-hantu milik Diana itu."

__ADS_1


"Kenapa kakak tidak menghindar dan melawan mereka?"


"Haduh... saat itu keadaanya sedang sulit. Karena para hantu itu mirip sekali dengan teman-teman kita yang sudah meninggal dulu. Para hantu itu membuat halusinasi yang parah di otaku. Tapi tak lama kemudian, aku berhasil terbebas dari hasutan hantu itu. Karena aku melihat Mizuki telah berhasil menjatuhkan Diana." Jelas Akihiro.


"Oh? Mizuki juga ikutan? Wah dia hebat sekali!"


"Iya. Tapi saat aku ingin membantunya, tiba-tiba saja para hantu yang tadinya diam, langsung pada menyerangku. Mereka terus mendorong dan sesekali memukulku dengan tabrakan tubuh mereka. Lalu saat aku terjatuh, tiba-tiba saja salah satu dari mereka malah menjatuhkan rak loker ke arahku. Saat di situ aku tidak bisa apa-apa. Dan kejadian itu, aku memang tidak berguna. Aku tidak bisa membantu banyak orang."


"Eh... tidak, kok! Bukan seperti itu...."


"Kan aku memang tidak bisa apa-apa. Aku hanya bisa melihat orang lain menjadi korban akibat kecerobohan aku. Kadang juga, mereka malah mengorbankan nyawanya demi aku. Seperti si Lisa dulu." Setelah menjelaskan, Akihiro menundukkan kepalanya dan terdiam. Ia benar-benar diam dan tidak mengatakan apa-apa lagi.


"Aku juga sama, kok!" Dennis berujar. "Aku juga tidak bisa membantu banyak orang. Saat kejadian itu, aku malah semakin memperburuk keadaan. Kak Rei juga sakit itu karena ulahku sendiri."


"Tidak! Semua ini gara-gara si gadis sialan itu! Ah! Aku menyesal sudah memuji kecantikannya! Gadis payah! Untung dia bisa mati juga akhirnya!" Akihiro berteriak kesal.


Lalu tak lama kemudian, ada yang membuka pintu kamar Dennis dengan cepat. Dennis dan Akihiro pun terkejut dengan kehadiran Ibunya Dennis yang tiba-tiba muncul dibalik pintu.


"Eh? Ada masalah apa ini? Kenapa kalian berdua malah teriak-teriak? Berisik tahu!" Omel Ibunya Dennis dengan nada yang sedikit membentak.


"Maafkan kami."


"Kami hanya bercerita, kok!" ucap Dennis dan Akihiro bersamaan.


Ibu Dennis menggeleng pelan sambil tersenyum. Lalu beliau pun masuk ke dalam kamar Dennis sambil membawa sebuah piring yang berisi beberapa makanan. Lebih tepatnya itu cemilan.


Lalu Ibu Dennis meletakan piring berisi cemilan itu ke atas meja di samping tempat tidur Dennis.


"Untuk sementara kalian mengisi perut dulu dengan ini, ya? Karena Ibu tahu, dari kemarin kalian tidak makan apapun, kan?"


"Ahaha... Ibu tahu saja!"


"Kalau begitu makan ini dulu, ya?"


"Wah! Boleh dimakan, nih? Beneran kan?" Akihiro terlihat sudah tidak sabaran untuk menyentuh cemilan itu. Dia sudah terlihat seperti kucing yang tidak makan selama 3 hari saja, hehe....


"Iya boleh lah! Untuk apa Ibu membawakannya ke sini?"


"Yeay! Baiklah kalau begitu aku ambil!" dengan cepat, Akihiro mengambil satu Biskuit coklat itu. Lalu setelah Akihiro, Dennis juga mengambilnya dan mereka memakannya bersama.


Ibu Dennis akan pergi. Tapi sebelum itu, ia berkata, "Baiklah kalau begitu, Ibu akan melanjutkan masak lagi bersama dengan Mizuki, ya?"


Dennis tersentak. "Eh? Kak Zuki juga ada di sini, kah?"


"Iya. Apa kau baru tahu? Semua temanmu menginap di sini, loh!"


"Iya lah! Hanya untuk sementara saja. Kau tidak keberatan dengan kehadiranku, kan, Dennis?" Akihiro menimpali.


Dennis terdiam, lalu tak lama ia pun tertawa dan menjawab. "Bagus sekali! Tidak apa-apa, lah! Aku malah senang bisa dapat teman sekamar di sini, hehe...."


"Baiklah kalau begitu, Ibu kembali ke dapur, ya? Jika makanannya sudah siap, nanti Ibu akan memanggil kalian, oke?"

__ADS_1


"Baik!"


****


Saat di Rumah Sakit di ujung Desa–


Di Rumah sakit itu, saat ini dihuni oleh Rei juga. Tepatnya di dalam kamar no.105. Selain ada Rei di dalam kamar itu, di sana juga ada Yuni yang sedang menemani Rei semalaman di sana.


Pagi tadi, sekitar pukul 5, Rei akhirnya siuman. Dan sekarang sudah pukul 8 pagi. Saat ini, Rei dan Yuni sedang berbincang bersama. Membahas tentang kejadian kemarin di sekolah mereka itu.


"Begini, Kak Rei? Apa kau sudah mulai baikan? Jika aku memberitahu ini, nanti kakak malah jadi ingin berpikir keras." Ujar Yuni.


"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya perlu istirahat sedikit. Kau kalau mau cerita, cerita saja. Aku juga merasa penasaran dengan kejadian selanjutnya." Jawab Rei lirih.


Yuni mengangguk. Ia akan bercerita dengan suara yang pelan. "Oke. Jadi kemarin... saat kakak berhasil mengalahkan makhluk jahat yang ada di dalam tubuh Kak Dennis itu, aku melihat ada sosok bayangan hitam yang keluar dari dalam tubuhnya."


"Oh, mungkin itu roh jahat yang telah merubah Dennis menjadi kejam, kali. Kan kemarin sudah aku bereskan."


"Tidak. Bukan hanya itu. Kalau Roh jahat yang milik Diana itu, dia sudah keluar duluan sebelum kalian berdua pingsan, kan?"


"Eh? Benarkah? Ah, entahlah. Aku mulai lupa. Memangnya, ada dua roh yang keluar dari dalam tubuh Dennis?"


"Jawabannya adalah Iya."


Rei terkejut. "Eh? Bagaimana bisa?"


"Itulah yang membuatku bingung. Jadi selama ini, si Dennis sudah dirasuki roh jahat lainnya sebelum roh milik Diana itu masuk ke dalam tubuhnya?"


"Tapi... apa tujuan si roh jahat pertama itu merasuki tubuh Dennis? Apa dia ingin balas dendam pada seseorang juga?"


Yuni menggeleng. "Entahlah. Setelah roh itu keluar, aku bisa melihat bentuk tubuhnya. Roh itu berbentuk seperti wanita berambut panjang. Tak lama. Hanya sekejap saja, setelah itu, roh itu pun lenyap."


"Haduh... pantas saja Dennis kemarin jadi terlihat kuat sekali. Dia punya dua roh sekaligus ternyata. Dan kalau boleh jujur, sebenarnya kemarin aku tidak bisa mengalahkan dia. Tapi untunglah... semua sudah berakhir."


"Ya... tapi kita juga harus mengetahui pengirim roh pertama itu. Siapa tahu saja, orangnya masih mengincar Kak Dennis. Kan bisa bahaya."


"Iya juga. Hmmm... aku sudah tidak apa-apa, sih. Nanti sore aku mau pulang saja, deh!"


"Jangan! Kakak harus banyak istirahat lagi. Pulihkan semuanya. Jangan sampai membuat kami khawatir lagi. Dan jangan lupa untuk meminum obatmu, lalu...."


bla... bla... bla....


Yuni akhir-akhir ini jadi banyak bicara. Dia tidak seperti dulu lagi, kalau bicara pasti tidak sampai 5 kata lebih.


Yah... semoga saja, Yuni bisa menjadi anak yang ceria seperti temannya. Karena, Yuni selama ini selalu memasang wajah datar. Kan seram jika kita menatapinya terus....


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


__ADS_2