Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 80– Rei vs Bob


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


Pukul 11 malam–


"Rei, apa kau sudah siap?" tanya Bob dengan senyum sinisnya. Dilihat dari tampangnya, sepertinya Bob sangat meremehkan kemampuan Rei.


Rei mengangguk untuk mengiyakan. Lalu setelah itu, ia menyiapkan gerakan tangannya untuk menyerang, lalu kakinya mulai melangkah lebar dan berlari menghampiri Bob karena ia berniat untuk menyerang duluan. Untuk pukulan pertama, Bob masih bisa menangkisnya, lalu pukulan kedua Rei mengincar perut lawannya. Tapi ternyata serangan itu masih bisa ditangkis oleh Bob. Karena belum ada kesempatan untuk mengenai tubuh lawannya, maka Rei akan mundur terlebih dahulu.


Rei tidak mungkin mundur terlalu jauh. Ia mengatur nafas sejenak, lalu bergumam di dalam hatinya. "Dia bisa menang saat dia ada di rumahku dulu. Tapi saat itu, aku memang sudah dalam keadaan mengantuk, makanya tidak fokus dengan serangan yang ia lontarkan padaku. Makanya, untuk kali ini aku masih memiliki banyak energi untuk menyerangnya."


"Biasanya, titik yang paling diincar saat sedang melawan seseorang itu adalah... bagian mata, hidung dan memukul lehernya. Bahkan bagian bawahnya juga bisa membuat lawan jadi lemah. Mungkin akan lebih mudah jika aku mengenai beberapa titik tersebut. Tapi... aku tidak bisa karena dia paling ahli dalam menangkis serangan ternyata. Tapi... bagaimana kalau...."


Rei kembali berlari menghampiri lawannya untuk menyerang. Matanya mengarah ke titik yang akan ia incar, yaitu bagian lutut dan kalau bisa tulang kering si Bob akan Rei tendang.


Setelah dekat dengan lawannya, Rei menekuk kedua lututnya, lalu melompat tinggi untuk menendang kepala lawannya. Tapi ternyata, kedua lengan Bob sempat menghalangi wajahnya sendiri dan setelah kaki Rei menekan lengannya itu, dengan cepat Bob langsung mendorong Rei sampai menjauh darinya.


Tapi tidak hanya itu. Setelah Rei mendarat ke tanah, ia kembali menyerang dengan kecepatan yang ia bisa. Kali ini, Kaki lawannya lah yang akan menjadi sasarannya. Rei memutar tubuhnya, lalu mengayunkan kakinya ke arah Bob. Tetap saja tidak berhasil. Bob bisa menahannya.


Rei akan mencobanya lagi. Ia memutar tubuhnya ke arah sebaliknya, lalu kembali mengayunkan kakinya untuk menendang kepala si Bob.


Karena tidak berhasil lagi, Rei membungkuk, dan berniat akan menendang kakinya Bob. Tapi ternyata Bob malah melompat mundur dari Rei. Rei yang melihat lawannya melompat itu pun terkejut. "Oh, jadi seperti itu. Jika aku menyerang bagian bawah, dia akan menghindar dengan cara melompat, ya? Aku mengerti."


Rei kembali berdiri, lalu dengan santainya, ia malah mengeluarkan gaya yang dianggap anak perempuan itu keren. Padahal hanya memasukan kedua tangannya ke dalam saku dan menelengkan kepalanya dengan ekspresi wajah datar yang dikeluarkan Rei. Tapi untunglah, anak-anak yang selalu meneriaki Rei itu sudah tidak ada. Dan anak-anak yang masih hidup itu, bukanlah penggemar Rei.

__ADS_1


Dengan kematian beberapa anak perempuan telah membuat Rei sedikit senang karena ia tidak merasakan gangguan apapun lagi dari para penggemarnya itu.


Ah, masih dengan gaya yang sama. Rei membuka mulutnya dan bertanya, "Jadi hanya itu saja kemampuanmu? Kau hanya bisa menghindar dan menangkis, begitu?" Rei menaikan alis kanannya. Ekspresinya telah membuat Bob jadi semakin geram.


"Eh! Jangan sombong dulu, anak kecil! Aku hanya ingin mencari strategi yang bagus. Nanti juga aku akan menyerang."


Rei mengeluarkan senyumnya sedikit, lalu mengangkat tengkuknya dan menyipitkan matanya. Masih menatap sinis ke Bob. "Oh begitu? Jadi... apakah strategimu itu adalah terus-menerus menangkis dan menghindar dari serangan ku sampai aku kelelahan, gitu ya? Lalu jika aku sudah merasa tidak berenergi lagi, baru kau akan menyerang."


Rei menurunkan kepalanya sedikit, lalu kembali melanjutkan perkataannya karena Bob tidak berani untuk menjawabnya. "Jika seperti itu, berarti kau itu pengecut! Berani menyerang disaat lawannya sedang tidak berdaya. Payah!"


Bob terkejut setelah ia mendengar kata "pengecut" yang dikeluarkan dari mulut Rei. Rei bisa melihat wajah terkejut lawannya itu dari ekspresinya yang sudah mulai ketebak. Rei akan terus berbicara yang tidak enak untuk mengganggu perasaan Bob dan terus memancing emosinya sampai si Bob mau menyerangnya.


"Jadi kau itu memang lemah, ya? Sudah dilihat dari caramu bertarung, tahu! Aku sudah melihatnya. Disaat kau menyerangku di depan rumahku sendiri, kau pasti tahu diriku sudah tidak berenergi lagi karena malam itu aku sudah merasa kantuk dan tidak akan fokus untuk melawanmu. Maka dari itu, kau menggunakan kesempatan itu untuk terus-menerus menyerangku sampai aku kalah. Saat itu juga, kau bergaya sekali sepertinya. Sampai berniat untuk membunuhku. Sungguh! Aku tidak habis pikir ternyata lawanku adalah orang seperti dirimu."


"Ka–kau! Tutup mulutmu. Bicara yang sopan pada orang tua, anak kecil!" Bob membentak sambil menunjuk dengan kasar ke arah Rei. Rei tersenyum samar. Ia sangat menunggu kata-kata itu keluar dari mulut Bob.


"Oh, jadi kau ini adalah orang yang lebih tua dariku, ya? Apa kau tahu? Di dalam pertarungan ini, tidak ada peraturan untuk menghormati orang tua. Jadi... maaf saja, ya? Kalau aku ingin berkata kasar ya... biarkan saja,"


Rei meneleng lagi dengan ekspresi wajah melas-nya. "Eh? Kau mau marah tinggal marah saja. Mau serang aku? Ayo! Aku ladeni. Lagipula, siapa yang mulai duluan ingin ribut seperti ini?"


"Bu–bukannya kau yang ingin bertarung denganku, ya?!" Bob membentak.


"Oh, iya, kah? Ah, aku lupa." Rei membuang muka untuk menggaruk kepalanya saja dan mengacak-acak rambutnya, lalu setelah itu kembali melirik ke arah Bob dengan mata kuningnya yang terlihat menyala di dalam kegelapan.


Dari tatapan matanya saja sudah membuat Bob merinding. Tapi ia berusaha untuk kuat dan tidak menunjukan sifat aslinya pada Rei. Bob tidak tahu harus berkata apa, jadi tanpa berpikir panjang, ia pun akhirnya menggerakkan kakinya untuk berlari cepat ke arah Rei.


"Ini dia. Akhirnya dia menyerang juga!" batin Rei senang. Ia akan menunggu Bob mendekat ke arahnya untuk mengetahui serangan apa yang akan dikeluarkan oleh Bob.


BUK!

__ADS_1


Ah ternyata hanya pukulan biasa saja. Ia mengincar perut Rei, tapi karena gerakannya terlalu lambat, maka Rei bisa menangkisnya dengan telapak tangannya. Ia menggenggam kepalan tangan Bob yang hendak memukulnya tadi.


"Jadi hanya ini saja?" Rei tersenyum lebar. Semuanya terkejut saat melihat ekspresi Rei yang seperti itu. Senyum yang ia keluarkan bukanlah senyum manis yang disukai oleh penggemarnya. Senyum manis itu malah membuat semuanya jadi merinding. Apalagi dengan lawannya yang telah melihat senyuman Rei dari dekat itu.


Rei telah mengeluarkan senyuman mematikannya. Itu berarti, dia mulai menjadi anak yang super santai, tapi sangat kuat dan mematikan dalam berkelahi.


Bob berusaha untuk menarik kepalan tangannya yang digenggam erat oleh Rei. Tapi ternyata tidak bisa. Padahal Rei hanya menggunakan satu tangan saja. "Le–lepaskan aku!" Bob membentak.


Setelah mendengar bentakan itu, Rei yang masih belum mengubah eskpresi nya itu langsung memutar lengan Bob ke arah berlawanan. Lalu setelah terdengar suara "KREK!" dari dalam tulang lengan Bob, Rei baru berhenti dan langsung menendang tubuh Bob untuk menjauhkan lawannya itu dari hadapannya.


Semuanya terkejut setelah melihat Rei berhasil menyerang Bob dengan tendangannya. Tapi serangan Rei baru sekali dan Bob masih bisa bangkit kembali. Setelah ia berdiri tegak, Bob mengeluarkan sebuah cutter dari dalam saku celananya. Ia mendorong cutter itu untuk mengeluarkan mata pisaunya, lalu setelah itu ia berlari sambil menodongkan senjata kecilnya ke arah Rei. "Aku akan membunuhmu!"


JLEB!!


"Yakin mau bunuh aku?" Rei berbisik setelah ia berhasil menangkap tangan Bob yang sedang memegang Cutter. Lalu setelah itu, dengan cepat Rei mengarahkan lengan Bob yang ia genggam ke arah samping tubuhnya Bob. Sampai akhirnya... Bob malah menusuk lengannya yang satunya itu dengan cutter yang ia pegang sendiri.


Bob berteriak kesakitan sambil menggenggam lengannya yang sedikit mengeluarkan darah itu. Walau hanya tertusuk oleh mata pisau kecil, tali tetao saja rasa sakitnya tidak bisa dihindarkan.


Bob sudah jatuh terduduk, tapi Rei ternyata masih belum selesai dengan lawannya itu. Ia menginjak kepala Bob yang ada di bawahnya, lalu mengambil cutter milik Bob yang sudah terjatuh ke tanah.


Setelah itu, Rei mendekatkan cutter itu ke arah wajah Bob, lalu berbisik, "Pertarungan ini tidak akan selesai sebelum salah satu dari kita mati, kan? Kalau begitu... boleh kan aku membunuhmu?"


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2