
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
TOK! TOK! TOK!!
"Ng?" Dennis membuka matanya. Ia menguap sambil mengucek matanya. Lalu setelah itu, Dennis bangun terduduk. "Eh? Tadi aku mendengar suara... apa, ya?" gumam Dennis.
TOK! TOK!
"Nah! Suara itu. Suara ketukan pintu. Tapi sepertinya ketukan pintu itu agak jauh, deh! Apa mungkin pintu depan?" gumam Dennis lagi. Lalu ia mengambil ponselnya yang ia letakan di samping bantalnya.
Ia membuka ponselnya itu, lalu melihat layarnya. "Masih jam 6 pagi. Siapa yang sudah datang pagi-pagi begini?" Dennis masih bergumam. Lalu ia menengok ke samping kanannya dan tersentak. "Eh? Kak Rei sudah tidak ada di sini. Dia... di mana?"
Setelah Dennis tahu kalau Rei sudah tidak ada di dekatnya, ia pun turun dari tempat tidur, lalu beranjak dari sana secara hati-hati agar tidak membangunkan Akihiro yang masih tertidur lelap.
Dennis membuka pintu sedikit, lalu mengeluarkan kepalanya lewat celah pintu yang terbuka. Ia celingak-celinguk mencari seseorang. "Kok sepi sekali, ya? Di mana Kak Rei dan semuanya?" gumam Dennis.
"Ya ampun, Rei?! Apa yang telah terjadi padamu?"
Dennis terkejut. Tiba-tiba saja ia mendengar suara Ibunya Rei yang berteriak histeris. Lalu dengan cepat, Dennis langsung membuka pintu kamar semakin lebar dan segera beranjak dari sana. Ia akan menghampiri Ibunya Rei yang mungkin saat ini sedang berada di ruang tamu dekat dengan pintu depan.
Saat sampai di sana, Dennis melihat ada Rei yang sedang terduduk di sofa sambil menundukkan kepalanya. Sementara Ibunya berdiri tepat di depannya sambil terus menanyai tentang keadaan anaknya itu.
"Kak Rei... kenapa? Eh?!" Dennis tersentak saat matanya melirik ke arah Rei. Rei yang sedang duduk di atas sofa itu terlihat agak kacau. Rambutnya acak-acakan, ada luka lebam di pipinya, ditambah dengan wajah Rei yang terlihat sedikit pucat. Dia kenapa?
Dengan cepat, Dennis menghampiri Rei. Ia berdiri di samping Ibunya Dennis dan langsung bertanya dengan pertanyaan yang sama seperti Ibunya Rei. "Kakak! Kak Rei kenapa?"
Rei mendongak. Ia melirik ke arah Dennis sambil memegang bagian belakang lehernya. "Itu... tadi malam aku habis mengejar pencuri yang masuk ke dalam rumah kita." Jawab Rei lemas.
Dennis dan Ibu Rei pun terkejut mendengarnya. "Apa?! Lalu sekarang di mana pencuri itu?" tanya Dennis.
"Apa kamu berhasil menangkapnya?" tanya Ibunya Rei.
"Aku tidak berhasil, aduh..." Rei menggelengkan kepalanya yang sedikit pusing, lalu kembali melanjutkan perkataanya. "Semalam aku berusaha untuk menangkapnya. Tapi ternyata, pencuri itu berhasil mengalahkanku."
"Oh, pantas saja kau terkunci di luar!" ujar Ibunya Rei. "Tapi tunggu dulu. Bagaimana caranya kau bisa keluar dari rumah, Rei?"
Dennis mengangguk, lalu matanya kembali melirik ke arah Rei. "I–iya, kak! Kak Rei bisa keluar dari rumah untuk mengejar si pencuri itu, tapi kenapa kakak tidak bisa kembali masuk?" Dennis juga bertanya.
"Aku keluar lewat jendela kamar. Pencuri itu mengalahkanku dengan Stun Gun. Aku dibuat tertidur oleh senjata itu. Makanya pencuri itu berhasil kabur. Tapi aku kembali terbangun saat jam 4 pagi tadi. Aku ingin kembali ke dalam kamar. Masuk kembali lewat jendela kamar karena aku tahu kalau pintu depan masih terkunci. Tapi ternyata... jendela kamarku juga malah terkunci dari dalam. Entah siapa yang telah mengunci jendela itu." Jelas Rei.
__ADS_1
Seketika Dennis terkejut mendengarnya. "Eh?! Jadi jendela yang kulihat tadi malam itu terbuka karena Kak Rei yang telah membukanya untuk ia berlari keluar mengejar pencuri? Oh tidak! Ini semua salahku!" panik Dennis dalam hati. "Ah... aku harus berkata jujur. Aku akan bertanggung jawab!"
"A–anu... Kak Rei? Maafkan aku! Maaf!" Dennis membungkuk dengan cepat sambil mengucapkan kata "maaf" dengan keras pada Rei. "Semalam itu, aku yang telah mengunci jendela kamar. Kesalahanku telah membuatmu jadi bermalam di luar rumah. Aku tahu di luar itu dingin dan kakak pasti akan sakit. Sekali lagi maaf! Aku tidak tahu kalau kakak ada di luar sana." Lanjut Dennis tanpa membalikan posisi tubuhnya. Ia terus membungkuk sampai Rei menjawab permintaan maafnya itu.
Rei melebarkan matanya. Lalu ia tersenyum pada Dennis. Tangan Rei pun terangkat. Ia mengelus kepala Dennis dengan perlahan. Dennis tersentak saat ia merasakan elusan tangan Rei di kepalanya.
"Tidak apa-apa. Kau tidak salah, kok! Ini semua salahku juga karena aku yang lupa mengunci jendela, makanya pencuri itu bisa masuk ke dalam." Ujar Rei lirih pada Dennis.
Dennis melebarkan matanya, lalu dengan cepat ia mendongak. Menatap wajah Rei yang masih mengeluarkan senyumnya pada Dennis itu. Mata Dennis sedikit berkaca-kaca. Lalu ia menggeleng cepat dan berkata, "Kak Rei tidak salah! Ini gara-gara aku, Kak Rei jadi terluka. Pokoknya, jika Kak Rei merasa ada yang sakit, aku akan merawat Kak Rei sampai sembuh untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku!"
"Ah, sudahlah... kau tidak perlu melakukan itu. Aku baik-baik saja, kok!" Rei menggeleng. Lalu ia kembali mengelus kepala Dennis dengan lembut.
Dennis menyukai elusan tangan Rei itu. Ia pun melirik ke arah Rei. "Apa benar tidak apa-apa?" tanya Dennis ragu.
"Iya tidak apa-apa."
Dennis kembali berdiri tegak. Ia mengerutkan keningnya dan berkata dengan nada tegas. "Jika kakak sakit! Aku akan bersedia untuk menjaga dan merawat kakak! Pokoknya, aku akan melindungi kak Rei juga!"
Rei menghembuskan nafas berat sambil menggaruk kepalanya. "Hah... seharusnya kau tidak perlu melakukan itu padaku."
"Tidak, Rei! Aku bersungguh-sungguh. Aku akan melindungi Kak Rei!"
"Ah, tidak usah. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Tidak bisa. Pokoknya aku ingin menjadi tameng untuk Kak Rei!"
"Tapi aku ikut dengan kakak, ya?"
"Eh, ke mana?"
"Ke kamar mandi! Kita akan mandi bersama. Dengan begitu, aku bisa terus dekat dengan Kak Rei agar bisa melindungi Kak Rei juga!"
Rei terkejut mendengarnya. "E–eh! Jangan sampai seperti itu juga, kali! Ah sudahlah...."
"Kalau begitu, aku tunggu kakak di depan kamar mandi, ya?"
"Tidak usah. Kau tunggu di dapur saja."
"Tidak! Kan aku sudah berniat ingin melindungi kak Rei."
"Aaaah! Kau terlalu berlebihan!"
"Haha... intinya aku ingin melindungi Kak Rei!"
Dennis dan Rei pergi ke dapur bersamaan. Di belakang mereka masih berdiri sosok wanita paruh baya yang terlihat senang. Sangking senangnya, beliau sampai mengeluarkan air mata hanya karena melihat anaknya (Rei) yang selalu tersenyum itu. Dan juga... Rei sudah memiliki teman terbaik yang dapat diandalkan.
__ADS_1
Tapi saat Ibunya Rei teringat dengan hari Senin ini, rasanya jadi sesak sekali. Karena... Rei akan pergi lagi dari rumah untuk pergi ke sekolah dan mengejar mimpinya di sana. Tanpa kehadiran Rei di rumah itu, rasanya akan sangat menyedihkan. Sepi dan sunyi.
****
Pukul 7 pagi, semuanya sudah siap dan mereka pun langsung berangkat menuju halte Bus. Mengangkat beberapa barang bawaan yang agak berat, mereka pergi meninggalkan rumah Rei, lalu melewati jalan kecil yang ada di tengah sawah untuk sampai ke jalan raya.
Hanya butuh waktu 3 menit saja untuk sampai ke halte Bus. Sekarang ini, Dennis dan teman-temannya duduk di bangku yang ada di dekat halte itu untuk beristirahat sejenak. Tapi Dennis tidak duduk. Ia berdiri di depan halte itu sambil menunggu dan melihat datangnya Bus itu.
Sementara Akihiro sedang memakan cemilan yang ia bawa dari rumah Rei. Sebenarnya, Ibu Rei yang membaginya, karena beliau tahu kalau Akihiro menyukai beberapa cemilan di rumah. Jadi... daripada tidak ada yang makan, kan lebih baik dibagikan dengan orang yang doyan makan seperti Akihiro.
Adel dan Yuni sedang berbincang bersama sambil sesekali menghitung jumlah kendaraan yang lewat di jalan beraspal yang ada di depan mereka itu.
Kalau Rei... dia sedang duduk terdiam sambil memikirkan sesuatu. "Pencuri yang tadi malam itu... apakah dia... hmm... aku jadi curiga. Sepertinya, setelah aku melihat wajahnya itu, aku jadi teringat dengan sesuatu. Wajahnya benar-benar tidak asing di mataku. Siapa dia, ya?"
Setelah berpikir seperti itu, tiba-tiba saja Rei teringat dengan pesan Ibunya sebelum ia pergi meninggalkan rumah. "Rhino sayang... kamu jangan melupakan keluarga kecilmu ini, ya? Jangan lupakan Ibu dan Ayah. Juga dengan adikmu. Jika ada waktu, cepatlah kamu kembali pada kami, ya? Karena... Ibu berharap, kau bisa kembali di pelukan Ibu sebelum Ibu pergi meninggalkanmu."
"Kamu tahu, kan? Umur Ibu tidak akan lama lagi."
"Maka dari itu, Ibu ingin kamu berada di pelukan Ibu sebelum Ibu pergi meninggalkan dunia ini."
"Tolong do'akan Ibu juga, ya, Nak?"
"Semoga Ibu... bisa terus bersamamu di sini...."
"Ugh! Aku... aku akan segera kembali padamu, Ibu! Aku janji. Setelah aku menyelesaikan Ujian sekolah ini, aku pasti akan pergi untuk memeluk dirimu lagi, Bu." Gumam Rei sambil menundukkan kepalanya. Seketika rasanya jadi sesak saat Rei mengingat perkataan Ibunya tadi. Apalagi saat Ibunya bilang kalau beliau tidak akan memiliki sisah hidup yang banyak lagi. Semua manusia pasti akan meninggalkan dunia mereka, walaupun para manusia tidak mau meninggalkannya.
BRRRMMM....
Dennis tersenyum senang. Karena dari arah kirinya, Dennis melihat ada mobil Bus yang datang menghampirinya. Lalu dengan cepat, Dennis pun berbalik badan. "Kak Rei! Lihat... Busnya sudah datang!"
Rei tersentak. Lalu dengan cepat, ia pun mendongak dan mengangguk. Lalu semuanya kembali berdiri dan membawa barang bawaan mereka masuk ke dalam Bus yang sudah berhenti di depan halte.
"Sekolah lama, aku akan kembali ke sana!" batin Dennis dengan penuh percaya diri. Pada akhirnya, sekolah pun kembali dibuka. Saat di perjalanan, mereka juga melihat ada anak lain yang sedang berjalan kaki dengan menggendong tas mereka di belakang, di samping dan ada juga yang digenggam. Mereka semua itu pasti adalah murid dari Sekolah Beautiful Death High School!
Hari Senin! Saatnya kembali ke sekolah. Dan para guru pun akan menyambut para muridnya yang akan datang!
WELCOME BACK TO SCHOOL!
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @Pipit_otosaka8