Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 67– Dian Syahputra, part 4


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Ya, ya! Itu bagus, Pak! Segera akan saya bawakan, kok."


[ Nah iya, lebih baik tolong langsung dikirim dengan cepat, ya? Saya tidak mau menunggu lama. ]


"Tentu, Pak! Ini sedang dalam perjalanan tenang saja."


Suara ayahnya Akihiro yang berbicara keras lewat telepon. Karena suaranya dan tertawaanya itu telah membuat Akihiro yang duduk di kursi belakang kembali terbangun setelah 4 menit dibuat tertidur oleh ayahnya sendiri.


"A–ayah..." panggil Akihiro pelan. Tapi tiba-tiba saja ada orang lain yang menutup mulut Akihiro. Karena terkejut, Akihiro pun langsung menengok ke sampingnya. Ia melihat ibunya sendiri yang sedang duduk di samping dirinya.


"Jangan berisik. Ayahmu sedang menelepon seseorang." Ujar Ibunya dingin. Tatapannya tidak memandang wajah Akihiro.


"Ibu... kita mau ke mana?" tanya Akihiro. Lalu ia melirik keluar jendela mobil yang ada di sampingnya. "Ini bukan jalan pulang ke rumah kita, Bu." Lanjut Akihiro.


"Iya memang bukan."


"Eh?"


"Ini kan jalan menuju ke rumah baru kamu." Jawab Ibunya masih dengan ekspresi wajah yang sama. "Kamu akan menghasilkan uang untuk Ibu. Kita akan pergi di desa karena ada seseorang yang ingin memiliki dirimu. Makanya, Ibu ingin menjualmu untuk membuatmu mendapat keluarga baru. Karena di keluargamu yang sekarang, kau sudah tidak akan berguna lagi." Jelas Ibunya.


Akihiro terkejut mendengarnya. Ia menggeleng cepat dan merengek, "Tidak, Bu! Aku tidak mau pisah dari ibu. Tidak. Aku tidak mau keluarga baru. Sekarang aku ingin pulang. Aku mau pulang! Kalau ibu tidak mau sama Dian lagi, ibu boleh menurunkan aku di jalan ini sekarang juga. Ibu... aku tidak mau bertemu keluarga baru. Tidak mau!"


"BERISIK! Yang di belakang bisa diam dulu, tidak?!" bentak Ayahnya menyela Akihiro. Akihiro melihat ekspresi ayahnya yang menyeramkan. Menatap tajam ke arahnya. Sementara Ibunya Akihiro tetap diam saja dengan tatapan dinginnya melirik ke Akihiro.


Akihiro pun terdiam. Ia kembali duduk dengan tenang sambil melirik keluar jendela. "Aku... akan dijual oleh keluargaku sendiri. Sungguh kejam. Aku tidak ingin pulang karena kakakku. Tapi... aku juga tidak ingin berpisah dengan ibu. Dan sekarang... apa yang harus aku lakukan agar bisa keluar dari mobil ini. Aku... mau keluar dari dalam mobil!" batin Akihiro.


Ia melebarkan mata, dan mengecilkan pupilnya, lalu melirik tajam ke arah ayahnya yang sedang menelepon sambil menyetir. "Ayah itu! Dia... dia bukan ayahku. Lebih tepatnya, sebenarnya dia itu ayah tiriku! Aku... aku benci dia."


Akihiro mengepal tangannya erat-erat. Ia mulai bersiap. "Aku benci dia. Aku benci. Benci. Sekarang juga... aku akan membunuh dia!"


Akihiro berteriak, lalu dengan cepat ia mendekati ayahnya yang sedang menyetir, lalu menggenggam erat leher ayahnya. Akihiro benar-benar berniat untuk membunuh ayahnya sendiri. "Mati, mati, mati, mati..." Akihiro bergumam-gumam sambil mencekik leher ayahnya.

__ADS_1


Ibunya terkejut. Ia berusaha untuk menarik tubuh Akihiro untuk menyelamatkan suaminya. Tapi ternyata sangat sulit. Karena Akihiro sudah menahan kakinya dan genggamannya di leher ayahnya itu semakin kuat.


Ayahnya berusaha untuk melepaskan diri dari tangan Akihiro. Tapi ternyata sulit, karena ia hanya menggunakan satu tangan untuk melepaskan tangan Akihiro dari lehernya. Dan tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk menyetir.


"Dian! Hentikan!!" Ibunya berteriak. Akihiro tidak mempedulikannya. Ia tidak akan berhenti sebelum ayahnya benar-benar mati.


Tak lama, Akihiro tidak merasakan pergerakan dan perlawanan dari ayahnya itu. Lalu secara perlahan, ia melonggarkan genggaman tangannya dan melirik ke wajah ayahnya.


Wajah ayahnya pucat dan mata mata melototnya itu telah menandakan kalau ayahnya sudah tidak bernafas. Akihiro melepaskan tangannya, lalu melirik ke arah jendela kaca mobil yang ada di depan pengemudi.


Ia terkejut karena tiba-tiba saja mobil jadi oleng dan tidak terkendali. Lalu tiba-tiba saja mobilnya berbelok ke arah kanan dan masuk ke semak, lalu menabrak pohon.


Akihiro masih bisa menahan dirinya agar tidak terjatuh. Setelah mobil menabrak pohon, ia masih bisa selamat. Sementara ayahnya... sudah berdarah-darah di depan setir mobil. Bagian depan mobil jadi penyok. Bukan penyok lagi, tapi sudah setengahnya nyaris rusak parah. Ini kesempatan Akihiro untuk pergi dari mobil itu.


Akihiro kembali ke pintu belakang. Ia melihat ibunya dalam keadaan tak sadarkan diri di kursi. Ia masih hidup dan tidak terluka. Akihiro akan meninggalkan ibunya. Ia membuka pintu belakang mobil, lalu secepatnya pergi dari sana.


Tapi saat baru saja selangkah ke depan, tiba-tiba saja ada yang menahan tangan Akihiro dari belakang. Akihiro menengok ke belakang dan terkejut. Karena ibunya itulah yang telah menahan tangan Akihiro. Dan... yang membuat Akihiro semakin ketakutan saat ia melihat tangan ibunya yang satu lagi ternyata sedang menggenggam sebuah pisau kecil. Atau biasa disebut dengan Cutter.


KREEK... KREK....


Ibunya mendorong dan mengeluarkan mata pisau cutter tersebut. Lalu setelah itu, ia mengangkatnya dan langsung menusuk Cutter itu tepat di pergelangan tangan Akihiro.


Akihiro berteriak kesakitan. Lalu dengan cepat, ia langsung menarik tangannya dari genggaman ibunya. Setelah ia berhasil bebas dari ibunya yang sudah ia anggap gila itu, tanpa ragu Akihiro langsung saja pergi berlari meninggalkan ibunya.


Sambil mengangkat cutter yang ia bawa, Ibunya Akihiro berlari cepat mengejar anaknya yang berlari masuk ke dalam hutan yang ada di pinggir jalan.


Di malam yang sepi dan gelap, Akihiro dan ibunya saling kejar mengejar. Walau Akihiro sudah setengah kehilangan tenaganya, ia tetap berusaha untuk kabur dari ibu yang ingin membunuhnya itu. Dengan jalan sepetak yang gelap, ternyata Akihiro masih bisa melihat jalan yang ia injak. Lalu setelah lama berlari masuk ke hutan semakin dalam, ia menemukan cahaya di depannya.


Akihiro tersenyum senang. Ia akan mendekati cahaya itu dan berharap kalau seseorang yang membawa cahaya itu bisa menyamarkan dirinya.


Tapi saat Akihiro mendekati cahaya itu, ternyata dugaannya salah. Cahaya itu bukan berasal dari orang yang membawanya, tetapi cahaya itu berasal dari sebuah lampu minyak yang menggantung di dahan pohon.


"Walau bukan orang, tapi setidaknya aku beruntung. Karena aku bisa mengambil lampu ini untuk membantuku berjalan." Ujar Akihiro senang sambil mencoba untuk meraih lampu minyak itu yang tergantung di dahan pohon yang lebih tinggi dari tubuhnya.


Setelah Akihiro berhasil mendapatkan lampu minyak itu, ia pun bisa melihat lingkungan sekitarnya. Dan sekarang ini, ternyata ibunya sudah tidak mengejar dirinya lagi. Akihiro menghembuskan nafas lega karena ibunya telah terhenti dan menghilang dari hadapannya.


"Sekarang, aku harus ke mana?" gumam Akihiro sambil mendongak menatap langit malam yang penuh bintang yang terang. Serta tepat di tengah-tengah langit malam itu, Akihiro bisa melihat bulan yang bersinar terang.


Tes....

__ADS_1


Akihiro terkejut. Tiba-tiba saja air bening jatuh ke wajahnya. Lalu tak lama, ada beberapa tetesan air lainnya yang juga turun semakin deras. "Oh tidak, hujan!"


Akihiro jadi panik. Bukan karena ia takut kebasahan, tapi takut karena jika hujan, maka api yang ada di dalam lampu minyak tersebut akan mati. Tapi... saat Akihiro memperhatikan bentuk lampu itu, ia pun tahu kalau apinya tidak akan mati karena api kecil tersebut telah ditutupi oleh lapisan kaca yang kuat dan pastinya tahan air.


"Huh, untung saja..." Akihiro mengangkat sedikit lampu minyak yang ia bawa itu untuk menerangkan jalan di depannya. Lalu setelah itu, ia kembali berjalan perlahan ke jalan sepetak yang ada di depannya.


"Aduh..." Akihiro mengeluh sakit karena luka-lukanya yang terkena tetesan air hujan. Darahnya masih tetap mengalir dan menetes semakin banyak karena tercampur oleh air hujan.


Ia kembali berjalan, lalu tak lama Akihiro mendongak. Ia melihat ada sebuah patung berbentuk seorang anak kecil di hadapannya. "Apa ini?" gumam Akihiro sambil memandang jelas patung itu. Lalu setelah memandang patung itu, Akihiro melihat patung lainnya dengan bentuk yang sama, sampai akhirnya ia melihat sebuah pintu gerbang besar di hadapannya.


Akihiro mendekati pintu itu. Suara cipratan air dari langkahnya selalu terdengar. Dan juga suara derasnya air hujan. Saat di depan pintu, Akihiro ingin mengetuknya. Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja hidungnya terasa gatal dan tanpa sadar malah bersin sebanyak 2x.


"Sepertinya aku demam. Kepalaku juga pusing." Akihiro mengeluh lagi. Lalu dengan ragu, ia mengetuk pintu gerbang sekali. Setelah itu, Akihiro mendongak ke atas. Ia melihat tulisan di papan yang bertulis, "Asrama, Beautiful. D. High School."


"Asrama itu... apa?" gumam Akihiro. Ia masih belum mengerti arti dari tulisan tersebut. "Dan... ini tempat apa, ya?"


Tok...


Akihiro mengetuk pintu pelan lagi. Ia berharap kalau di dari balik gerbang itu, Akihiro bisa menemukan bantuan dari siapa saja di dalam sana.


Lalu Akihiro kembali mengangkat tangan. Ia ingin mengetuk gerbang itu lagi. Tapi sebelum itu, tiba-tiba ia mendengar suara. Lalu tak lama, pintu gerbang yang ada di hadapannya itu terbuka dengan sendirinya.


"Kenapa kamu ada di luar? Lagi main ujan-ujanan, ya?"


Akihiro mendengar suara seseorang. Suara yang lembut. Ia tersentak. Karena ada seorang anak laki-laki yang seumuran dengannya berdiri tepat di depannya.


Akihiro mensipitkan matanya. Lalu tanpa sadar, matanya mengeluarkan air mata. Tapi air yang mengalir melewati pipinya itu tidak terlihat karena tercampur oleh tetesan air hujan yang telah membasahi seluruh tubuhnya.


"Tolong aku. Ibuku mau membunuhku!"


*


*


*


To be Continued-


Untuk episode selanjutnya mungkin akan slow up kembali karena Minggu depan, Author mau jalanin simulasi UNBK. Jadi mohon pengertiannya, ya? ^^ 🙏🙏

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, rating dan komentar kalian yang baik, ya? :)


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2