Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 3– Mimpi Buruk


__ADS_3


****


"Dennis, itu Ibumu, ya?" tanya Diana yang tiba-tiba muncul di samping Dennis. Dennis sangat terkejut dengan kehadiran gadis berambut putih itu. Sungguh! Benar-benar terkejut.


"Uwaaa! Di, Diana... A, apa yang kau lakukan di sini?" Dengan cepat Dennis mematikan telponnya dan langsung menutup ponselnya. Sesegera ia pun menjaga jarak dari Diana.


"Eh? Kenapa kaget begitu? Memangnya aku seram, ya?" Diana menelengkan kepalanya karena bingung. Lalu, ia melangkah secara perlahan untuk mendekati Dennis yang masih gemetar ketakutan.


"Pe, pergi kau! Eh! Tidak... maksudku... menjauh dariku!" Dennis membentak Diana.


"Eh? Jadi kau memang ingin aku pergi? Ku kira... kau bakal ingat denganku. Sudah kuduga kalau kau itu memang orang yang kucari." Kata Diana dengan nada pelan.


"Ka, kau mencariku untuk apa?! Aku... aku...."


"Tenanglah dulu. Aku tidak akan apa-apakan kamu, kok, Den~nis..." Diana semakin mendekat ke arah Dennis. Sementara, Dennis nya sendiri hanya berdiam diri saja di tempatnya. Diana semakin dekat. Gadis itu mendekatkan kepalanya ke hadapan Dennis. Memegang pundak Dennis yang membuatnya tersentak, lalu menyelipkan kepalanya di samping telinga kanan Dennis.


"Kau harus mengakui kesalahanmu. Atau aku akan memulai permainanku." Bisik Gadis itu tepat di telinga Dennis.


Bisikan itu telah membuat Dennis jadi semakin merinding dengan kehadiran Diana. Apalagi saat ini, gadis itu sangat dekat dengannya. Entah kenapa dengan dirinya (Dennis) saat ini?


"Tidak! I, itu bukan salahku!" bentak Dennis pad Diana. Lalu, dengan cepat ia kembali menjauh dari gadis itu.


"Kakak, ada apa?" tanya Adel cemas saat melihat keadaan kakaknya.


"Ah, tidak ada apa-apa. Sekarang, ayo kita masuk lagi." Jawab Dennis pelan. Lalu, ia mengajak adiknya kembali ke Kantin dan menemui temannya yang lain. Diana ditinggal di tempatnya.


Saat Dennis pergi, Diana sempat bergumam, "Begitu, ya?" sambil tersenyum miring dan menatap Dennis dengan sinis.


****


Malam harinya–


Dennis sedang membaca buku di atas tempat tidurnya. Duduk bersila dengan buku yang ada di pangkuannya. Itu buku mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dennis sedang belajar untuk Ujian Nasional yang waktunya tak akan lama lagi tiba.


Sedangkan, Rei?


Dia sedang tidur-tiduran sambil memainkan ponselnya. Ternyata dia tidak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Dennis. Pikir Dennis, Rei terlalu santai.


"Huh, punya otak seperti Kak Rei memang enak. Menjadi anak pintar itu mudah. Tidak perlu belajar juga bisa mendapat nilai bagus." Gerutu Dennis dalam hati. Setelah melihat beberapa tulisan di dalam buku yang ia pegang, mata Dennis pun beralih melirik ke Rei yang ada di depannya.


"Ka, kak Rei? Kakak tidak belajar, kah?" tanya Dennis ragu.


"Untuk apa aku belajar?" Rei bertanya balik.


"Emm... biar pintar." Jawab Dennis singkat.


"Coba kutanya lagi. Kau selalu belajar, memangnya bisa pintar?"


"Bisa saja kalau rajin."


"Kutanya lagi. Pelajaran apa yang paling kau bisa?"


"Bahasa Indonesia."


"Itu saja? Hmm... sekarang ini kau sedang belajar apa?"


"Yah, mapel Bahasa Indonesia."


"Oh. Jika kau hanya belajar mapel yang kau suka, itu berarti sama aja kamu masih kurang pintar. Orang yang dianggap pintar itu, berarti dia dapat menguasai semua mata pelajaran. Bukan hanya satu pelajaran. Jadi percuma saja kamu belajar hari ini. Tidak bakalan bisa membuatmu menjadi pintar." Rei terdiam sejenak. Mengatur nafasnya, lalu kembali membuka mulut. "Sedangkan aku tidak bisa dibilang anak pintar. Karena tidak ada mata pelajaran yang ku bisa."

__ADS_1


Rei pun akhirnya diam. Dia kembali memainkan ponselnya lagi. Sementara, dari tadi si Dennis hanya diam saja. Entah dia mendengarkan perkataan Rei atau tidak.


"Kan aku hanya bertanya tentang dia ingin belajar atau tidak. Kok ujung-ujungnya, aku malah kena ceramah sih sama dia?" batin Dennis sedikit kesal. "Bukannya semangati aku belajar, kek, gitu!"


Tanpa mempedulikan Rei lagi, Dennis pun kembali fokus dengan buku Bahasa Indonesia-nya sendiri.


****


Sudah lama Dennis membaca buku Bahasa Indonesia itu. Lalu karena sudah merasa bosan, Dennis pun menjauhkan buku itu dari hadapannya. Lalu, matanya melirik ke arah tempat tidur Rei.


Dennis sedikit kaget karena ia melihat Rei sudah terlelap di kasurnya. Dan... eh? Ponselnya Rei tergeletak begitu saja di atas wajahnya. Sedikit menutupi wajah Rei.


"Hah, dia pasti ketiduran." Gumam Dennis setelah ia menghembuskan nafas pelan. Lalu kepalanya menengok ke sebelah kanannya. Ia melihat ke arah jam dinding yang tertempel di tembok dekat dengan rak buku.


Dennis membesarkan matanya. Ia terkejut saat melihat angka jarum panjang dan jarum pendek di jam itu. Karena saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.


Dennis ternyata sudah belajar lama sekali dari tadi. Sudah berapa jam Dennis menatapi buku yang ia pegang tadi sampai ia tidak sadar kalau waktu semakin larut? Bahkan ia juga tidak tahu kalau sebenarnya Rei sudah tertidur dari tadi.


"Aku belajar sampai selarut ini? Tidak seperti biasanya." Dennis kembali bergumam. "Hoaaamm... yah... sekarang juga sudah waktunya jam tidurku."


Dennis menaruh buku Bahasa Indonesia-nya di atas meja di samping tempat tidurnya. Lalu ia membaringkan tubuhnya kembali ke tempat tidur. Meletakan kepalanya di atas bantal. Menghadap ke tembok, lalu memejamkan matanya sampai ia tertidur tanpa sadar.


****


"Sayang, aku sudah lama tidak berjalan bersamamu lagi..."


"Ya... beruntung kan kamu aku ajak jalan hari ini?"


"Iya! Aku senang sekali, waw!"


"Haha... apa aja untuk kamu. Aku akan membuatmu bahagia, kok!"


"Ya, tidak sia-sia juga aku dapat gadis secantik dirimu."


-Kelihatanya memang romantis. Tapi, apakah kisah cinta mereka akan berakhir bahagia? Atau akhir cinta mereka malah sebaliknya? Sepertinya, ending dari kisah cinta mereka akan lebih dari sekedar 'kebalikannya' ....


Pada suatu hari....


"Eh, ****? Kita mau ke mana? Katanya kamu mau mengantarku pulang? Tapi ini bukan jalan ke rumahku, loh!"


"Siapa yang bilang kita ingin ke rumahmu?"


"Eh?"


"Aku akan mengajakmu ke tempat yang lebih menyenangkan."


"Tapi ****, aku ingin pulang! Ini sudah larut. Nanti orang tuaku akan mencariku."


"Biarkan mereka mencarimu. Karena... setelah mereka menemukanmu, mereka akan menangis melihatmu."


"Eh? Apa maksudmu, ****?"


"Tunggu dan lihatlah...."


BRMMM....


Mobil mereka memasuki hutan. Sang gadis cantik itu semakin khawatir dengan keadaanya. Bahkan, saat ini perasaannya telah dibuat takut dengan lelaki yang ada di sampingnya itu.


"Sayang, kenapa kau membawaku ke sini?"


"Karena hanya ini lah tempat yang sepi untuk kita bersenang-senang bersama."

__ADS_1


"Eh? Bersenang-senang? Kita mau ngapain?"


"Kalau aku beritahu, nanti kamu pasti menganggapnya tidak menyenangkan...."


"Eh?!"


"Hahahaha...."


"TIDAK! JANGAN, JANGAN! KYAAAAA!"


*** ~


"Ah!"


Dennis membuka matanya dengan cepat, lalu ia langsung bangun terduduk. Nafasnya agak terengah-engah. Masih di posisi yang sama, Dennis mengusap-usap wajahnya.


"Tadi itu... kenapa... kenapa tadi..." Dennis bergumam-gumam. "Mimpi buruk."


Ia berusaha untuk tenang. Lalu dirinya melirik ke arah tempat tidurnya Rei. Di sana, tidak ada lelaki dingin itu. Eh? Rei sudah pergi duluan?


Dennis pikir, ia bangun kesiangan. Lalu, matanya langsung melirik cepat ke arah jam dinding. Tapi ternyata waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi. Masih ada banyak waktu untuk bersiap-siap. Tapi... kenapa Rei bangun lebih awal hari ini?


"Eh?"


Tiba-tiba Dennis mendengar suara seseorang yang sedang berbicara di depan kamarnya. Bukan hanya satu orang, tapi sepertinya ada banyak. "Ada apa ribut-ribut di luar sana?" pikir Dennis dalam hati.


Lalu karena penasaran, Dennis turun dari tempat tidurnya. Lalu berjalan mendekati pintu. Ia memutar kenop pintunya, lalu membuka pintu.


Ternyata benar. Di depan kamarnya sudah ada banyak orang yang berkumpul. Mereka semua mengerumuni sesuatu. Tepat di depan pintu kamarnya, ia melihat ada Adel di sana.


"Eh, Adel? Apa yang terjadi di sini?" tanya Dennis pada adik kecilnya itu.


"Ah, kakak pasti baru bangun, ya?"


"Eh? Dari mana kau tahu?"


"Rambut kakak acak-acakan tuh!"


"Eh? Ah lupakan. Apa yang terjadi di sini?" tanya Dennis lagi. Ia semakin penasaran.


"Entahlah. Adel juga baru keluar kamar tadi."


"Oh. Eh, biasanya kau bersama anak itu. Di mana Yuni?"


"Oh, Yuni? Dia di sana.. ada di depan." Adel menunjuk.


Dennis sedikit menjinjitkan kakinya untuk melihat ke dalam kerumunan itu. Ia pikir, dia bisa melihat ke dalam kerumunan itu. Tapi ternyata tidak bisa. Dia hanya bisa melihat... eh? Ada Rei juga di dalam kerumunan paling depan itu.


"Sebenarnya ada apa, sih?" Dennis semakin penasaran ternyata.


Tadinya ia akan menerobos kerumunan itu. Tapi sebelum itu, dirinya telah dibuat terkejut dengan noda berwarna merah yang ada di tembok dekat Rei berdiri.


Noda berwarna merah itu seperti... Darah?


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


__ADS_2