Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 57– Memeriksa Bus Pariwisata


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


Dennis, Rei dan Mizuki yang akan melanjutkan tugas mereka yang terakhir sebelum mereka mulai membunuh si Bapak Tertua. Yaitu, mencari kunci mobil bus pariwisata.


Untuk pencarian pertama, mereka akan memeriksa ke dalam bus yang terparkir tak jauh dari bukit Villa. Kata Rei, di dekat bus itu juga ada warung yang menyediakan makanan. Warung yang tidak dijaga. Karena orangnya telah ikut terbunuh bersama dengan kedua sopir bus.


"Mungkin di warung itu kita bisa mendapatkan makanan yang lebih pantas untuk kita." Ujar Mizuki.


"Ya. Tapi sekarang ini tidak ada waktu untuk makan. Kita harus mencari kunci itu dulu lah...."


"Ah, iya! Kita juga tidak boleh membiarkan kakek menunggu lebih lama."


Sang Kakek memutuskan untuk ikut pergi dari rumahnya jika Dennis berhasil dengan rencananya. Tapi kakek tidak dibiarkan Dennis untuk ikut dengannya karena takut rencana berbahayanya itu juga akan melukai kakek.


Sekarang ini, kakek sedang menunggu di rumahnya. Rei akan menjemputnya jika semuanya sudah aman. Intinya setelah mereka berhasil membunuh Bapak Tertua, Rei akan pergi ke rumah Kakek Raden.


Di pertengahan jalan turunan, Rei melirik ke arah Dennis yang sedang sibuk dengan ponselnya. Ia mengetik beberapa kata. Dennis ingin mengirim pesan ke grup untuk memberitahu semua temannya kalau dirinya telah berhasil membunuh Rina.


Tak lama Dennis mengirim pesannya itu, ada beberapa teman lainnya yang membalas. Semuanya terlihat senang karena Dennis berhasil. Padahal dia seorang diri saja.


[ Tapi Dennis, sekarang ini Bapak Tertua itu telah kembali ] Yuni mengirim pesannya.


"Eh? Bapak Tertua telah kembali?!" Dennis terkejut. Tapi tidak dengan Rei dan Mizuki. Karena mereka berdua telah mengetahui hal itu.


"Saat kami ke sini juga... Bapak Tertua itu sudah ada di jalan tanjakan bukit itu." Ujar Rei santai.


"La–lalu bagaimana cara kalian bisa ke sini tanpa harus melewati jalan tanjakan itu dan bertemu dengan Bapak Tertua?" tanya Dennis.


Mizuki tertawa kecil lalu menjawab. "Kami punya jalan pintas, walau agak susah untuk dilewatinya. Tapi kau tenang saja. kami baik-baik saja dan sekarang ini Cahya akan mengurus si Bapak Tertua itu."


"Intinya sekarang, ini adalah tugas terakhir kita. Kalau kita sudah menemukan kunci itu, kita akan kembali ke Villa dan bekerja sama untuk mengepung Bapak Tertua. Itu kan rencana terakhirmu, Dennis?"


Dennis hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah itu, ia menjalankan sumpahnya di dalam hati. "Aku tidak akan membiarkan orang lain menjadi korban lagi. Aku akan menyelamatkan semuanya!"


****


Saat sampai di dekat jalan tanjakan bukit, mereka langsung pergi ke tempat parkir mobil bus pariwisata yang mereka cari.

__ADS_1


Saat di samping bus, mereka melihat pintu dari kedua bus yang terparkir tersebut telah terbuka entah sejak kapan.


Lalu tanpa menunggu lama, Dennis, Rei dan Mizuki langsung masuk ke bus sekolah mereka untuk meriksa ke dalamnya.


Di dalam bus terlihat kacau. Terdapat dua bekas robekan di kursi penumpang paling depan. Ada beberapa bercak darah di kaca jendela dan banyaknya darah yang berceceran di lantai bus.


Darah di jendela sudah mengering. Tapi darah yang berkumpul di tengah-tengah badan bus samping kursi barisan kelima itu masih terasa basah dan kental saat Rei menyentuhnya untuk memeriksanya.


Sementara Rei memeriksa darah tersebut, Dennis akan memeriksa kemudi mobilnya. Kalau Mizuki selalu keluar masuk bus untuk memeriksa keadaan luar.


Tak lama kemudian, Rei kembali berdiri setelah ia memeriksa darah itu. Ia dapat menyimpulkan kalau darah tersebut milik si sopir bus pribadi mereka yang telah dibunuh oleh Kai.


Ia akan ikut memeriksa bagian bus lainnya bersama Dennis. Tapi sebelum ia meninggalkan darah itu, mata Rei sempat melihat suatu benda yang terlihat di belakang kursi barisan kelima.


Rei mengambil benda yang ia lihat itu. Saat ia mengetahui benda apa itu, ia sedikit melebarkan matanya lalu mengambil benda tersebut dan menunjukkannya pada Dennis dan Mizuki.


"Hei, coba lihat ini. Aku menemukan potongan tangan manusia di sini."


"Re–Rei jorok ih!!" bentak Mizuki tiba-tiba setelah ia melihat sesuatu yang dipegang Rei itu. Kalau Dennis hanya diam saja karena ia juga merasa jijik dengan apa yang Rei pegang.


Sebuah tangan manusia yang terpotong sampai siku. Tangan yang masih utuh dan sudah kehilangan darah. Hanya saja dagingnya masih berwarna merah pucat.


Rei akan meletakan potongan daging manusia itu ke suatu tempat di luar bus. Sementara di dalam, Dennis dan Mizuki akan memeriksa keadaan mobil..Apakah masih bisa untuk dikendarai atau tidak?


"Nah! Keberuntungan untuk kita!" Dennis mengambil kunci itu dengan perasaan senang.


"Wah, apa itu?! Apa yang kau temukan?" tanya Mizuki.


"Ini!" Setelah mengambil kunci itu, Dennis kembali berdiri lalu menunjukkannya pada Mizuki. Mizuki jadi ikut senang. Mereka berdua berhasil menemukan benda yang mereka cari.


Sekarang saatnya tahap kedua. Yaitu mengecek kegunaan kunci tersebut.


Dennis memasukan kunci itu ke dalam lubangnya untuk menyalakan mesin. Tapi di kunci pertama, Dennis tidak bisa memasukan kunci tersebut.


"Ah, mungkin kunci yang lain." Dennis akan mencoba kunci lain yang tergantung dalam satu gantungan kunci itu.


Saat kunci kedua itu dimasukan, ternyata berhasil. Lubang kuncinya pas dan bisa diputar. Setelah itu, mobil bus gemetar. Dennis dan Mizuki pikir, mobilnya masih bisa aktif. Hanya saja... mereka memerlukan bahan bakar untuk mobil Busnya.


"Tenang saja! Ada warung di sana. Siapa tahu saja dia menjual bensin, hehe..." Usul Mizuki.


"Tapi... apakah di sana benar-benar ada?" Dennis merasa tidak yakin. "Mungkin saja di warung itu hanya ada minyak tanah dan bensin untuk motor."


"Kan belum dicoba periksa, kita belum tahu!"

__ADS_1


****


Di Villa–


"Apa ayah yakin tidak ingin kembali ke tempat tadi?" tanya Cahya sambil mengelus tangan ayahnya yang sudah keriput.


"Iya. Ayah ingin istirahat di dapur."


"Akan Cahya hantarkan!"


Saat sampai di dapur yang terletak di samping bangunan Villa, Cahya membantu ayahnya untuk duduk di kursi goyang kesukaannya.


"Aduh, lelah sekali~" keluh ayahnya setelah ia menyenderkan tubuhnya di kursi.


"Emm... mau Cahya ambilkan air?"


"Tidak usah." Ayahnya menolak. Ia lebih memutuskan untuk tidur siang sebentar. Tapi sebelum menutup mata, ayah Cahya atau Bapak Tertua itu sempat melirik ke sekeliling dapur untuk memeriksa kalau persediaan makanannya masih banyak.


Makanan yang ia maksud itu adalah daging manusia untuk tenaganya dan meningkatkan kekuatan ilmunya untuk bertahan hidup.


Tapi saat matanya melirik ke arah kumpulan senjata yang ditaruh di atas meja, ayah Cahya menyentakan matanya karena terkejut. "Eh? Ke mana perginya?!"


Cahya terlihat terkejut dan ketakutan. Ia takut kalau ayahnya telah menyadari hilangnya beberapa senjata yang ada di dapur.


Ayah Cahya turun dari atas kursi goyangnya, lalu berjalan mendekati meja yang sebelumnya penuh dengan senjata itu. Cahya benar-benar gemetar ketakutan.


Saat di depan meja, Ayah Cahya berjongkok untuk mengambil sesuatu. Saat Cahya meliriknya, ternyata ayahnya itu sedang mengambil potongan kaki manusia yang tergeletak di depan meja.


"Haduh haduh... ini kenapa bisa jatuh? Nanti kotor kan tidak enak." Gumam ayahnya Cahya setelah ia mengambil kaki manusia itu dan meletakkannya kembali ke atas meja. Setelah itu, lirikan matanya mengarah ke beberapa senjata tajam seperti pisau, golok, keris, dan kapak yang tergerak di atas meja.


Cahya sempat menghembuskan napas lega saat ia mengetahui ayahnya itu hanya ingin mengambil makanannya yang terjatuh. Tapi sepertinya tidak sepenuhnya bernapas lega.


Cahya kembali dibuat tegang dengan gumaman ayahnya yang baru ia ucapkan.


"Sepertinya saat kita pergi, ada yang masuk ke dalam dapur ini."


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2