Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 39– Ujian Matematika


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


[ Ujian pertama adalah mata pelajaran Matematika! Sebelum mulai, dengarkan aku dan simaklah, bagaimana kalian bisa bertahan di Ujian pertama ini... khu~ khu~ ]


"Oh, apakah Ujian ini ada peraturannya juga?" tanya Dennis.


"Tentu saja. Kalau tidak, bagaimana bisa kita memainkannya." Jawab Akihiro.


"Tapi... ini Ujian matematika kan, katanya? Lalu di Ujian dalam keadaan seperti ini, bagaimana caranya? Dan ujian matematika itu maksudnya apa?" Rei mulai berpikir kembali. Ia juga penasaran dengan Ujian matematika yang Bob maksud itu.


[ Dengarkan aku semuanya! Di Ujian matematika ini, kalian semua harus pergi ke tempat Ujian itu terlebih dahulu. ]


PSSSSHHH....


[ Tutup hidung kalian jika tidak ingin mencium bau dari bunga raksasa ini. ]


"Oh iya. Kalau menurut buku yang aku baca, Raflesia Arnoldi adalah bunga raksasa asal Indonesia yang jumlahnya sangat langka. Dia termasuk bunga terbesar dan aromanya sangat bau seperti bunga bangkai." Jelas Dennis pada semua teman yang ada di dekatnya.


[ Sekarang kalian semua akan pergi ke tempat itu! ]


Tiba-tiba saja bunga raksasa itu mengeluarkan asap dan kabut berwarna merah muda yang sangat banyak. Asap-asap itu berkumpul dan menghalangi pandangan orang yang ada di dekat bunga itu.


Semuanya menutup hidung, menahan nafas dan menutup mata mereka. Lalu tak lama kemudian, asap-asap itu pun menghilang dan pandangan para murid kembali lagi. Mereka semua terkejut. Karena tempat mereka berada saat ini telah berubah!


Bunga Raflesia itu menghilang. Dan sekarang, seluruh tempat itu telah dipenuhi oleh warna biru dengan pepohonan yang banyak. Hutan berwarna biru? Ya! Sudah banyak pohon, tanah yang gembur dengan banyaknya daun di mana-mana dan... semuanya berwarna biru!


Semuanya jadi kebingungan dengan tempat baru mereka. Mereka ingin bertanya pada teman sebelahnya, tapi akan percuma saja karena mereka semua yang ada di sana tidak mungkin tahu tentang tempat aneh itu.


"Hah, ini di mana lagi, sih?" tanya Dennis pada teman sekelompoknya. Semuanya juga tidak tahu. Jadi mereka hanya bisa menjawab dengan menggeleng sambil terus memperhatikan tempat sekitar mereka. Semuanya juga harus selalu waspada dengan daerah asing itu.


[ Semuanya sudah berpindah tempat sekarang! ]


Semua murid terkejut karena di saat mereka sedang tegang, tiba-tiba saja suara Pak Bob muncul kembali. Tapi sekarang mereka tidak bisa menemukan asal suara itu. Tidak ada objek lain di sekitar mereka yang dapat menghasilkan suara Pak Bob.


[ Kalian jangan ribut lagi, ya? Sekarang ini kalian sedang berada di tempat Ujian yang sebenarnya. Ujian pertama itu adalah Matematika. ]


[ Hanya sehari saja, kan? Jika kalian berhasil keluar hidup-hidup dan menyelesaikan Ujian ini, maka kalian bisa kembali ke dunia asal kalian. Yaitu kembali ke sekolah! ]


"Tidak usah banyak bicara!"


"Cepatlah mulai, dasar!"


"Aku mau pulang saja!"


"Ayo cepat mulai!"


[ Wah~ Ternyata kalian semua sangat bersemangat sekali, ya? Baiklah kalau begitu kita mulai sekarang. ]

__ADS_1


[ Dengarkan instruksi dariku jika kalian ingin keluar dari dunia ini hidup-hidup. ]


Semuanya terdiam. Mereka akan mendengarkan suara Pak Bob yang datang entah dari mana. Dengan perasaan tegang dan penuh ketakutan, mereka akan siap untuk mendengarkan cara-cara dari Pak Bob demi bisa keluar dari dunia itu.


[ Dari sini, kalian silahkan jalan lurus ke depan terlebih dahulu sampai kalian bisa melewati celah besar di antara dua pohon yang besar di depan sana. ]


[ Ke arah barat. Setelah itu, kalian akan bertemu dengan 3 gua besar. Pilih salah satu gua yang ingin kalian masuki. Setiap gua memiliki tingkatan dan Ujian yang berbeda. Jangan sampai kalian mendapatkan gua yang sulit. Setelah kalian semua masuk, kalian bisa memulai Ujiannya. ]


[ Untuk penjelasan selanjutnya, silahkan kalian berjalan dulu ke arah barat dan bertemu dengan dua pohon besar itu. Tenang saja, tidak ada sesuatu yang mengerikan, kok! Untuk awal ini, kalian akan aman-aman saja. ]


Setelah menjelaskan semua itu, suara Pak Bob pun menghilang. Semuanya langsung pergi ke arah yang ditunjukan oleh Pak Bob. Sampai akhirnya, mereka bisa menemukan dua pohon besar yang dimaksud Pak Bob itu.


"A–apakah ini pohonnya?" tanya seorang anak perempuan yang ada di samping Dennis.


"Terlihat menyeramkan. Apa kita harus pergi ke sana?"


Dennis menengok ke sampingnya. Ia menatap kedua anak perempuan yang sedari tadi terus berbisik itu. "Kalian ingin keluar dari sini, kan?" tanya Dennis.


Kedua anak perempuan itu melirik ke arah Dennis. Mereka meneleng lalu menjawab, "Tentu saja aku ingin keluar."


"Iya aku juga!"


Dennis tertawa kecil sambil mengangguk. "Oh, bagaimana kalau kita berjuang bersama? Kalian dari kelas mana?"


"Eh? aku dadi kelas 3-B. Namaku Danti."


"Aku Lany. Dari kelas 3-B juga."


Mereka berdua memperkenalkan diri mereka masing-masing. Dennis mengangguk lagi dan ia juga ikut memperkenalkan diri dengan memberitahukan nama dan asal kelasnya. "Kalau aku Dennis dari kelas 3-C. Salam kenal, ya?"


"Oke! Kalau begitu, kalian berdua boleh ikut dengan kelompok kami."


"Eh? Kelompok?" Danti dan Lany meneleng. Dennis mengangguk sambil tersenyum. Lalu ia menoleh ke belakang. Ia menepuk pundak Rei. Dan langsung saja karena merasa terangsang, Rei pun menengok ke arah Dennis.


"Ada apa, Dennis?" tanya Rei.


"Aku menemukan teman baru. Bolehkah mereka masuk ke kelompok kita?" tanya Dennis meminta izin pada Rei agar si Danti dan Lany bisa ikut bersama dengannya.


Rei melirik ke arah kedua anak perempuan yang ada di belakang Dennis. Danti dan Lany terkejut saat mereka melihat sosok Rei yang ada di depan Dennis. Lalu, mereka berdua saling berbisik. "Astaga! Kita mau masuk ke dalam kelompoknya Kak Rei, kah?"


"Tidak bisa dipercaya! Aku senang sekali jika kita memang benar bisa masuk ke kelompoknya! Kyaaaa!"


"Iya! Kita bisa lebih dekat dengan Kak Rei. Uuuh! Ini menyenangkan."


Rei masih sempat mendengar bisikan mereka. Seketika ia pun memasang wajah biasanya dengan perasaan yang tidak enak. Lalu mata Rei melirik kembali ke Dennis. "Kau ingin mengajak mereka?" tanya Rei.


Dennis mengangguk cepat. "Iya! Mereka terlihat ketakutan. Jadi apa salahnya kalau kita membantu mereka? Boleh, kan?"


Rei sebenarnya tidak ingin mengajak anak perempuan ke dalam kelompoknya karena satu alasan. Tapi karena itu permintaan dari Dennis, maka Rei akan mengizinkannya. "Hah, baiklah. Mereka boleh ikut. Tapi, untuk kedepannya kau tidak boleh mengajak anak perempuan lainnya!"


"Oke, baiklah, Kak Rei!" Dennis mengangguk. Lalu ia berbalik badan. Kembali menghadap ke arah Danti dan Lany lagi. "Kalian boleh ikut bersama dengan kelompokku. Ayolah!"


"Eh? Benarkah?" tanya Danti tidak percaya.

__ADS_1


Dennis mengangguk sambil tersenyum.


"Wah! Terima kasih banyak. Mohon bantuannya!" Kedua anak perempuan itu membungkuk kecil, lalu setelah itu mereka berdua menghampiri Dennis dan berdiri di sampingnya.


"Selamat datang. Mohon bantuannya juga! Kita akan keluar dari sini bersama-sama, ya?"


"Iya!"


Setelah perkenalan itu, Dennis mengajak kedua teman barunya untuk ikut bersama dengan kelompoknya untuk melewati celah dibawah pohon besar itu.


Setelah mereka berhasil, semuanya melihat ada 3 buah gua besar yang dibilang Pak Bob itu. "Oh? Jadi ini gua yang katanya untuk Ujian kita, ya?" gumam Dennis.


"Tapi... kenapa di dalam gua? Ada apa di dalam sana?" Rei bertanya pada Dennis. Dennis menggeleng dan menjawab, "Aku tidak tahu."


"Kalau begitu, untuk mencaritahu, kita harus masuk ke dalam satu gua bersama-sama, ya?"


Dennis dan yang lainnya mengangguk. Mereka paham kalau mereka harus tetap bersama dan tidak boleh berpisah.


Lalu tak lama setelah semuanya sampai di depan pintu gua, tiba-tiba saja suara Pak Bob itu terdengar lagi. [ Baiklah! Karena sekarang kalian sudah sampai, bagaimana kalau kita mulai? Dengarkan instruksi dariku, ya? ]


Semuanya akan mendengarkan dengan ekspresi wajah ketakutan yang mereka pasang itu. [ Di dalam gua ini adalah tempat kalian untuk memulai Ujian matematika. Di dalam gua ini berisi beberapa pertanyaan rumus, hitungan dan apapun yang bersifat matematika. Dan di setiap gua memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Jadi... jangan sampai kalian salah memilih gua dan mendapatkan gua dengan isi pertanyaan yang sulit, ya? ]


"Ehmmm... bagaimana kita tahu kalau gua ini berisi pertanyaan sulit atau tidak?" tanya seorang anak dari kelas 2-C.


[ Hmm... bagaimana, ya? Ah! Tentu saja tidak akan kuberitahu. Jika aku kasih tahu, nanti kalian memilih gua dengan pertanyaannya tergampang. Kan tidak boleh begitu. Kalian harus memilih! ]


"Lalu... siapa yang akan membimbing dan memberikan soal di dalam gua itu?" tanya Rei.


[ Itu masih rahasia. Aku akan memberikan kalian kejutan! Sekarang... silahkan masuk. Pilih gua yang kalian suka. Ingat! Jangan sampai kalian salah pilih, maka akibatnya bisa fatal! ]


TEEET!


[ GAME START! ]


[ Selamat berjuang semuanya! Aku akan kembali setelah Ujian ini selesai dan menghitung jumlah kalian yang masih bisa selamat. ]


"Menghitung jumlah yang masih selamat? Apa kita semua bisa kembali ke sekolah setelah menyelesaikan Ujian ini?" pikir Dennis dalam hati.


"Rei! Semua ini kau yang memutuskan saja. Kita harus mendapatkan gua dengan soal termudah, Rei!" ujar Akihiro sedikit panik. Ia ingin sekali mendapatkan gua dengan soal termudah. Karena semuanya tahu, kan? Kalau soal-soal Matematika itu adalah pelajaran tersulit dalam semua pelajaran di sekolah.


Rei berpikir sejenak. Sesekali ia juga melirik ke sekitar tanpa menggerakkan kepalanya. Ia melihat sudah banyak anak telah memilih keputusannya dan segera masuk ke dalam guanya.


"Hmm... kalau sesuai instingku, lebih baik kita semua masuk ke dalam gua yang ada di tengah. Karena biasanya, sesuatu yang dibilang mudah itu pasti selalu ada di depan." Pikir Rei dalam hati. "Tapi... bisa saja gua yang ada di tengah itu adalah jebakan. Siapa tahu saja gua dengan soal termudah itu ada di samping kiri atau ada juga yang di samping kanan. Oh tidak. Aku tidak bisa memilih. Aku takut. Jadi... bagaimana kalau kita masuk ke dalam gua yang...."


"Sebelah kiri saja!" Rei menunjuk ke arah gua yang ada di sebelah kiri. Semuanya mengangguk. Jadi mereka ikut dengan Rei saja. Semoga saja pilihan Rei itu benar!


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2