Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 5– Persiapan


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


CUIT~ CUIT~


Burung berkicau di atas pohon mangga besar yang ada di samping rumah Dennis. Dari dahan pohon, tempat burung bertengger, bisa terlihat jendela rumah Dennis.


"APAAA?!" Seketika setelah mendengar Mizuki berteriak, burung-burung yang sedang ada di pohon mangga itu pun langsung pergi terbang. "Kalian kan sudah aku bilangin, woy!"


DUK! DUK!


Dennis dan Akihiro bersujud di depan Mizuki sambil membenturkan kepala mereka berkali-kali ke lantai. "Maafkan kami! Maafkan kami!" Mengucapkan kalimat maaf juga bersamaan.


"Kami tidak akan mengulanginya lagi!" Dennis berujar dengan posisinya yang tidak berubah. Lalu dilanjut dengan Akihiro, "Ya... lagipula ini kan hari Minggu! Hanya sekali saja, kok!"


"Haduh... kalian ini." Mizuki menggerutu. "Sudah tidak bisa dibilangin, berisik, nakal sekali. Hah... terus tadi kalian ngapain itu berduaan kayak begitu, hah?!" bentak Mizuki lagi.


Dennis dan Akihiro mengangkat kepala dan menatap dengan wajah penuh ampun ke Mizuki. "Tadi kami... berebutan stik PS." Jawab Dennis dan Akihiro bersamaan.


"Tapi kenapa harus posisi yang kayak begitu, sih?"


"Ah, habisnya..." Akihiro melirik ke arah Dennis, lalu menunjuknya. "Dia tidak mau meminjamkan aku stik PS-nya! Dia menyembunyikan stik punyaku ke dalam bajunya. Jadi aku mau mengambilnya dong!"


"Eh? Kok aku?" Dennis terkejut. Lalu ia membentak Akihiro balik sambil menunjuknya juga. "Itu karena Kak Dian sendiri yang tidak bisa menggunakannya."


"Aku kan baru belajar menggunakan game itu!"


"Tapi kita kalah terus kalau kakak yang memainkannya!"


"Bodo amat! Kan yang duluan ngajak itu kamu!"


"Ah! Kan aku sedang bosan saja. Kalau bisa aku main sendiri. Kan Kak Dian juga yang mau ikutan."


"Aku juga mau main bersama, dong!"


"Kakak ternyata tidak bisa main game! Kita kalah terus tau dari tadi!"


"Sudah, ah kalian berdua!" Mizuki membentak. Mengakhiri pertengkaran Dennis dengan Akihiro. "Ini sebabnya aku tidak mengizinkan kalian bermain game itu. Kan tadi pagi aku sudah bilang untuk kemasi barang kalian untuk besok. Waktunya sebentar lagi. Apa kalian sudah menyiapkannya?"


Dennis dan Akihiro menggeleng. Mizuki melanjutkan, "Maka dari itu, sekarang tidak ada game lagi dan cepat berkemas! Banyak yang harus kita lakukan!"


"Hei, memangnya kau sendiri sudah membereskan barangmu?" tanya Akihiro dengan wajah melas. Dennis tertawa kecil, lalu menimpali, "Ah, iya. Kak Zuki juga kerjaannya main terus, kan?"

__ADS_1


"Eh, tidak!" Mizuki menyangkal. "Aku memang belum berkemas, tapi aku masih ada urusan lain. Aku harus mengajarkan kakakku dulu untuk belajar bahasa Indonesia."


"Eh... benarkah? Ah, nanti bohong lagi."


"Iya, ih! Batu amat!" Mizuki membentak.


"Oh, iya... nanti saat kita liburan, kakakmu mau tetap tinggal di sini, Kak Zuki?" tanya Dennis.


Mizuki tersentak. "Oh, iya juga, hmm... mungkin Onii-chan akan di sini saja menemani ibumu."


"Eh, nani? A–aku kenapa?"


Mizuki terkejut. Ia mendengar suara kakaknya dekat sekali di belakangnya. Mizuki berbalik badan dan ternyata benar. Natsuki telah berdiri di dekat adiknya itu. "Onii-chan... udah bisa bahasa Indonesia?" tanya Mizuki ragu.


"Yosh! Demo... emm..." Natsuki terhenti. Ia tidak tahu bahasa Indonesia yang ingin ia ucapkan. "Ah, chotto!" Natsuki menjeda ucapannya, lalu ia berbalik badan. Natsuki berjalan cepat menaiki tangga. Kembali ke kamarnya untuk mengambil buku kamusnya. Kamus buatan dan tulisan tangannya sendiri yang ingin ia ambil. Setelah itu, Natsuki kembali ke ruang tamu.


Ia menunjukan kamus miliknya yang ia tulis di dalam buku sketsa. Kamus simpel, bisa dibawa ke mana saja dan sudah berisi banyak kosakatanya. Natsuki membulak-balikan halaman, lalu membacanya. Ia menemukan beberapa kata yang akan ia ucapkan.


"Ehm... A–aku... bisa... bahasa... Indonesia... sedikit... eto... sedikit-sedikit! Hehe...." Ucapannya masih kaku, tapi cara berbicaranya itu sudah benar. Mizuki senang, kakaknya sudah bisa belajar bahasa asing sedikit-sedikit.


"Uwah! Sugoi ne!" Akihiro bertepuk tangan. Begitu juga Dennis. "Keren! Semangat belajarnya, Kak Natsu!"


"Haik! Haik! Arigatou... eh? Terima kasih banyak!"


"Bahkan kata-katanya semakin lancar!" Akihiro dan Dennis bersorak lagi. "Semoga bisa lancar, ya?"


"Ah! Kenapa tidak mengajak Kak Natsu ikut bersama kita besok?" tanya Dennis senang. "Kan kalau ada dia bakal seru!"


"Ke–ke mana?" Natsuki menyahut.


"Study Tour kami." Mizuki menjawab kakaknya. Lalu pandanganya mengarah ke Dennis. "Eh, memangnya tidak apa-apa jika kita membiarkan Onii-chan ikut bersama?"


"Tidak apa-apa kali!" Dennis mengangguk. "Iya! Nanti di sana kan kita bisa bersenang-senang bersama. Bu Mia juga tidak akan keberatan." Timpal Akihiro.


"Hmm... tapi... apakah Onii-chan mau?"


"Eh? Pergi jalan-jalan, ya?" Natsuki berpikir sejenak. Lalu tak lama ia tersenyum dan mengangguk. "Iya, baiklah! Aku ikutan juga tidak apa-apa, kan?"


"Wah! Semakin lancar!" Dennis dan Akihiro terkagum lagi.


"Iya, hehe... aku lihat dari... kamus ini." Natsuki tertawa. Mizuki tersenyum menatap kakaknya, lalu setelah itu ia kembali membuka mulut, "Oke. Kakak bisa ikut bersama kita."


"YEAY! KAKAKNYA MIZUKI IKUT SAMA ADEL JUGA! HOREEE..." Adel tiba-tiba muncul dan berteriak gembira. Semuanya sangat terkejut dengan kehadirannya. Apalagi saat Yuni dengan tampang menyeramkannya juga ada di dekat mereka.


"Oh iya, ngomong-ngomong dari tadi kalian ke mana aja, sih?" tanya Dennis pada adiknya.


"Adel dari tadi di kamar sama Yuni." Jawab Adel.

__ADS_1


"Oke!" Mizuki menepuk tangannya sekali. "Sekarang ayo kita siapkan barang yang akan dibawa besok!"


"Yaa!"


Mereka semua ke kamarnya masing-masing. Mereka mengambil tasnya sendiri untuk membawa barang-barang yang ingin mereka bawa sebagai bekal untuk Study Tour mereka besok.


Sebelum menyiapkan barangnya, mereka melihat pesan yang dikirim Bu Mia di dalam grup terlebih dahulu untuk melihat daftar barang-barang yang harus dibawa. Setelah mengetahui barang apa saja yang harus dibawa, mereka langsung menyiapkannya.


****


Di desa–Rumah Rei


Di rumahnya, Rei juga sedang melakukan hal yang sama. Menyiapkan perlengkapan yang akan ia bawa. Dimulai dari pakaiannya, buku-buku penting, dan... tidak banyak. Tapi yang diharuskan bawa oleh Bu Mia, ia bawa semuanya.


"Kakak..." Lino mengintip dari depan kamar Rei. Rei terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu depan. "Kakak pasti akan memerlukan ini." Masih di tempat yang sama, Lino memberikan sebuah Walkie Talkie berwarna biru pada Rei.


Rei berdiri, lalu berjalan menghampiri adiknya yang terlihat ketakutan dari depan pintu. Lino masih takut pada kakaknya semenjak Rei membentaknya kemarin.


Rei menerima pemberian adiknya itu dan tersenyum. Melihat sejenak bagian Walkie Talkie yang ia pegang itu, lalu bertanya, "Ini... untuk apa, ya?"


"Ah... itu..." Lino menunduk karena malu. Ia melanjutkan, "Jika kakak mau menghubungiku, kakak tinggal pakai benda itu saja. Nanti kita bisa berkomunikasi."


Rei terkejut mendengarnya. Ternyata Lino memberikan alat komunikasi kecil itu pada Rei agar dirinya bisa terus berbicara dengan kakaknya walau jarak mereka tidak berdekatan lagi. Rei tahu Lino belum memiliki ponsel, tapi... Walkie Talkie yang diberikan Lino itu hanya sebuah mainannya saja dan tidak berfungsi apapun.


Rei jadi kasihan pada adiknya. Tapi ia punya cara lain untuk tetap bisa mendengar suara adiknya lewat ponsel saat dirinya berada jauh dari adiknya nanti. Rei terima saja mainan dari adiknya. Ia akan menyimpannya di tas dan akan ia bawa juga.


Rei mengelus kepala adiknya lalu menjawab, "Aku... akan membawanya. Kita pasti bisa mengobrol bersama lewat telepon kecil ini, ya?" Senyuman yang Rei berikan untuk adiknya itu telah membuat hati kecil Lino jadi senang. Ia mengangguk cepat, lalu memeluk Rei. "Kakak pulang cepat, ya? Hati-hati di sana!"


"Iya, kau juga."


"Kakak jangan sedih lagi. Lino tidak suka lihat kakak kayak kemarin. Apalagi dengan Ibu."


"Eh?" Rei terkejut mendengarnya. Tapi ia berusaha untuk menahan dan tidak memikirkan soal ibunya yang sudah tiada lagi. Sekarang yang harus ia pikirkan adalah kebahagiaan keluarganya yang masih tersisah dan jangan lupa juga dengan teman-temannya.


Rei akan bersikap seperti biasa di depan teman-temannya nanti. Seolah tidak terjadi apa-apa. Dan ia juga tidak akan membicarakan soal kematian ibunya pada teman-temannya nanti. Karena bisa menyakiti hatinya jika terus membicarakan soal ibunya.


Sekarang karena semuanya sudah siap, Dennis dan teman-temannya hanya tinggal menunggu hari esok. Hari Senin, saatnya mereka berangkat untuk bersenang-senang bersama!


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2